
EPISODE SEBELUMNYA
"AHAHA! Akhirnya aku mendapatkannya!" ujarnya senyum penuh kemenangan.
"AHAHAHA!"
\~Pagi hari\~
Sinar matahari masuk menerangi ruangan dengan seorang laki-laki tampan yang terlelap di atas tempat tidurnya. Terangnya sinar matahari membuat si pria terganggu. Ia menggeliat merasa terusik.
"Emmmh."
Ia menduduki dirinya, mengucek mata sembari mengumpulkan kesadaran. Ia mengedarkan pandangannya mencerna di mana dan apa yang telah terjadi.
/"AGH!"
"Keluarlah kristal berhargaku."
"AGH!"/
Ia memegangi kepalanya, "Agh! Apa yang terjadi? Dimana aku?" Fikram bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Kepalaku...."
Tok! Tok!
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Perhatian Fikram menjadi terfokus ke sana.
"Iya, siapa?" tanya Fikram lemas.
"Ini Siera, Kak" jawabnya.
"Masuklah."
Kriettt ....
Pintu tersibak sempurna, tampak Siera masuk membawa nampan berisi gelas kaca dengan cairan berwarna kuning di dalamnya. Ia menduduki dirinya di tepi ranjang Fikram.
"Bagaimana keadaan Kakak? Apa tidak apa-apa?" tanyanya basa-basi.
"Hmm, ya aku tidak apa." jawab Fikram.
"Syukurlah, oh ini minumlah ini dulu," Siera menyodorkan gelas itu.
"Apa ini?"
"Minumlah dulu."
Fikram menurut, tanpa ragu ia meneguk cairan kuning tersebut.
Glek... Glek....
Cairan itu telah habis Fikram minum. Ia kembali menyodorkan gelas itu kepada Siera, Siera menerima dan meletakkannya kembali ke atas nampan. Tiba-tiba, indra pendengaran Fikram menangkap satu gelombang suara dari arah luar.
"WAHAI RAKYATKU!"
"Ada apa itu di luar?" ia bertanya-tanya.
"Ooh, mungkin itu Mamah kali, Kak" jawab Siera.
"Ibu?" Tiba-tiba Fikram merasa dia harus menemui ibunya.
"Aku merasa ada sesuatu hal yang terjadi semalam, tapi apa?" Fikram mencoba mengingat. "Aku akan bertanya padanya mungkin dia tahu," membatin.
Fikram beranjak turun dari ranjang untuk menempuh tujuannya.
"Eh, Kak mau kemana?" Siera mencoba mengehentikan sang kakak.
"AWW!"
Fikram merasakan nyeri di bagian atas mata kakinya. Iapun melihat, "Kakiku diperban? Kenapa? Apa aku terluka?" pikir Fikram.
"Kakak, mau kemana? Kaki Kakak masih belum sepenuhnya pulih loh, jangan kemana-mana dulu," Siera kelihatan cemas.
"Ah, tidak apa. Kakak cuma mau menemui Ibu saja, kok" Fikram tersenyum ke arah Siera.
Siera membalas senyuman kakaknya, "Ya sudah, sini Siera bantu."
Siera pun menuntun Fikram menuju sang ibunda, Marine.
\~Di Teras Istana\~
"PARA RAKYATKU, HARI INI ADALAH HARI YANG SANGAT ISTIMEWA!"
Marine menghadapkan dirinya melihat luasnya daerah yang ia pimpin saat ini. Terlihat juga Rendi setia mendampingi ratunya.
"Bu...." Panggil Fikram menghampiri Marine.
__ADS_1
Merasa terpanggil, Marine menoleh.
"Ibu sedang apa?" tanya Fikram.
"Ah, tidak. Ibu hanya sedang berbicara di depan rakyat untuk hari yang sangatttt istimewa ini," jelas Marine.
"Hari istimewa? Hari ini? Kenapa?"
"Iya hari ini, nanti kau juga tahu, sebentar" Marine membalik badannya ke posisi semula.
Fikram dan Siera berdiri menyimak di belakang Marine.
"WAHAI RAKYATKU!"
Satu hal yang membuat Fikram bingung adalah ia tidak melihat siapapun di latar istana, kecuali jejeran prajurit yang berdiri saling berhadapan dengan jarak yang cukup lebar di antara mereka.
"Di mana rakyatnya? Apa rakyat kerajaan ini seluruhnya jadi prajurit di sini?" Fikram melongo.
"Tidak, rakyat Ibu itu banyak tahu," kata Marine.
"Banyak? Mana? Atau ooh," Fikram mengambil kesimpulan. "Rakyat Ibu tembus pandang ya? Astaga," Fikram terperanjat dengan pernyataannya.
Siera menepuk jidatnya, "Tentu saja bukan begitu, Kak."
"Hehehe, bukan ya," Fikram terkekeh.
"Ya ampun, Mamah ngidam apa sih ampe punya anak begini," batin Siera.
"Kau akan segera tahu, Nak" ucap Marine kembali memfokuskan pandangannya keluar istana.
"BAWA MEREKA KEMARI!" titahnya.
Fikram bertanya-tanya dalam hati, "Mereka?"
Prajurit membawa satu tiang kayu besar ke tengah-tengah latar. Fikram yang melihat hal itu terkejut bukan main. Ia terkejut bukan karena tiang kayu itu, melainkan makhluk hidup yang diikat mengelilingi tiang tersebut.
"Mereka!" Fikram kaget. "Ibu apa yang kau... mereka, kenapa sahabatku di ikat, Bu?" desak Fikram.
Marine bergeming, tanpa sepengetahuan Fikram, Marine memutar bola matanya malas.
"HARI INI HARI YANG BESAR dan ISTIMEWA."
"Hari dimana kita merayakan setiap tahunnya," Marine menjeda. "HARI KEMATIAN RAJA KITA!" lanjutnya lantang.
"Tapi tahun ini kita kedatangan tamu yang sangat spesial, merekalah tamu itu, berikan tepuk tangan yang meriah!" Marine menunjuk Nadia dan lainnya yang sedang terikat.
Sontak, terdengar suara gemuruh tepuk tangan walaupun para prajurit hanya mematung.
Fikram terperanjat, "S... s... siapa yang bertepuk tangan!"
Marine menyeringai, "MARI KITA BERPESTA!"
Sorak ria tanpa wujud kembali terdengar.
"Ibu, Pesta? Tolong, Bu. Finn tidak mengerti, ada apa ini sebenarnya?" Fikram masih belum mengerti apa yang telah terjadi.
"Tenanglah Finn. Pertunjukan akan segera di mulai," ucap Marine tanpa menoleh ke belakang. "PENGGAL KEPALA MEREKA, AHAHAHA!" Marine tertawa puas.
"Apa!" Mata Fikram membulat sempurna usai mendengarnya.
Kelima manusia itu memberontak, "MMMM!" mereka meronta-meronta ingin segera bebas dari situ.
Tanpa berlama-lama lagi, lima orang prajurit di istana itu maju mengelilingi mereka membawa sebuah kapak besar dan tajam. Mereka hanya menunggu perintah dari sang ratu untuk memenggal kepala lima orang tersebut dalam sekali tebas. Melihat hal itu, Nadia berserta temannya bertambah panik.
Fikram tidak tinggal diam, "Eh-eh! Ibu apa yang kau lakukan? Ini yang Ibu bilang pertunjukan? Ini bukan pertunjukan, Bu. Lepaskan mereka," pinta Fikram.
"Siapa kamu berani memerintahku?" ucap dingin Marine.
Hati Fikram bak tertusuk tombak, "Ibu apa yang...." Fikram menatap Marine dengan tatapan sedikit kecewa.
"SUDAH! KITA MULAI PESTANYA!" kata Marine. "PENGGAL KEPALA MEREKA!"
Prajurit bersiap melaksanakan perintah sang ratu.
"MMM!"
"TIDAK! Ibu hentikan ini! Ibu, tolong jangan bercanda, Bu. Ini tidak lucu sama sekali!" tegas Fikram.
"Siera bawa kakakmu kembali ke kamarnya," ucap Marine serius.
Siera mengangguk, ia kemudian menarik kakaknya menjauh dari posisi sang ibu.
"LANJUTKAN!"
Para prajurit mengambil ancang-ancang. Kelima manusia itu semakin bergidik ngeri.
__ADS_1
"Tidak! Hentikan!" Fikram mencoba melepaskan tarikan Siera. "Lepas!"
"Ayo, Kak!" Siera terus menarik kakaknya kembali ke kamar.
"Tidak!"
"SEKARANG!"
Para prajurit mengayunkan kapaknya.
"TIDAK!" Fikram langsung mendorong Siera dan langsung berlari menuju tempat para teman-temannya di ikat untuk menghentikan kejadian itu.
Mendengar kegaduhan, Marine menoleh ke belakang dan mendapati Fikram tengah berlari meski tersendat-sendat karena luka disalah satu kakinya.
Rendi segera bergerak membantu Siera, lalu ikut mengejar Fikram.
"Mau apa Anak B*doh itu! Kenapa kalian diam saja, kejar dia!" titah keras Marine pada para prajurit yang berdiri di sisi belakang.
Dengan secepat yang ia bisa Fikram berlari menuju halaman depan istana. "Hah, kenapa aku harus terluka di bagian kaki sih!" umpatnya dalam hati.
DRAP! DRAP!
Terlihat di belakang Fikram terdapat beberapa prajurit yang mengerjarnya.
"Apa ini, aku dikejar? Heeh!" malas Fikram, ia terus berlari hingga sampailah di halaman istana.
Ia segera mendekati para teman-temannnya yang diikat.
"Mmmm!"
"CEGAH DIA!" perintah Marine dari atas.
Belum sempat mendekati para temannya, tangan Fikram ditahan oleh dua prajurit dari arah belakang.
"Hey! Apa ini! Lepaskan!" Fikram memberontak.
Siera dan Rendy datang.
"Lepaskan!" Fikram terus memberontak. "Ibu Fikram mohon, Bu. Jangan sakiti mereka," pinta Fikram.
"Hahaha, kau sangat lucu, Anakku" tertawa sinis. "Kau memintaku tidak melukai mereka, tapi kau tahu, kau yang membuat mereka seperti ini! Apa kau sudah hilang ingatan!" kata Marine.
"Ap... apa maksud Ibu? Ya, memang waktu itu aku yang memenjarakan Manda karena aku emosi, tapi aku tidak... aku merasa tidak pernah melukai mereka seperti ini," balas Fikram.
"Ckckck, tidak ada penjahat yang mau mengakui kejahatannya," sindir Marine. "Kau bisa tanya pada teman-temanmu siapa yang membuat mereka seperti ini."
Fikram menatap teman-temannya, seakan bertanya, "Benarkah itu?"
Mereka hanya menunduk diam seribu bahasa.
Fikram seakan mengerti dari bahasa tubuh mereka, ia menghela nafas. "Aku yang melakukan itu, apa yang terjadi padaku?" batin Fikram merenung.
Marine tersenyum miring, "LANJUTKAN PESTANYA!" titahnya.
Para prajurit kembali bersiap memenggal kepala mereka secara serentak.
Fikram mendongak, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. "TIDAK! Lepaskan aku!" ia memberontak, berusaha melepaskan cekalan dua prajurit di sampingnya.
Kelima prajurit itu tidak menghiraukan teriakan Fikram, mereka kembali mengambil ancang-ancang.
"TIDAK! BERHENTI! JANGAN LAKUKAN ITU!" Fikram terus memberontak tapi cekalan para prajurit itu lebih kuat dari yang ia kira.
Namun, tiba-tiba ....
UHUK! UHUK!
"Uhuk!" batuk hebat melanda Fikram.
Dua para prajurit melepas cekalannya.
Kaki Fikram terasa lemas, tidak bisa menopang badannya. Iapun ambruk, bersimpuh di lantai.
"UHUK! UHUK!" dia memegangi mulutnya meredam suara batuknya agar tidak terlalu keras.
UHUK! UHUK!
Semua perhatian kini tertuju pada Fikram. Merasa tangannya kotor Fikram menilik.
"Hah!"
Alangkah terkejutnya ia saat melihat ....
"DARAH!"
Bersambung.
__ADS_1