
EPISODE SEBELUMNYA
Tampaklah seorang wanita yang meminta tolong dan hampir tenggelam.
"Hah?! ternyata dia yang meminta tolong! aku harus membantunya" ujar Fikram.
Tanpa basa-basi Fikram langsung menceburkan diri ke danau. Pria berkaos hitam itu melesat cepat di dalam air. Ya, memang Fikram sangat pandai berenang apalagi ia juga pernah memenangkan lomba berenang ternama di berbagai daerah.
\~Back to story\~
Tolongg!!!..blubbb..blubb
Hap!
Dalam air yang tenang, Fikram berhasil menyelamatkan wanita berparas cantik itu sebelum tenggelam.Ia menyelamatkan wanita itu dalam kehangatan dekapan Fikram dan membawanya ke permukaan.
Byurrrr...hah
"T..t..tolong" ujar wanita itu tak sadarkan diri dalam dekapan Fikram.
Fikram pun menggendongnya dan membantunya untuk sampai ke tepi danau.
Kresek...kresek..
Nadia dan yang lain pun tiba di lokasi asal suara misterius itu.
"Eh, itu Fiki," kata Rio dari tepi danau.
"Disini ada danau ternyata" ucap Manda.
"Iya, tapi siapa yang ia gendong itu?" kata Dina mengamati dari jauh.
"Kayanya itu yang minta tolong tadi deh" kata Gamma.
Fikram mulai menyusuri danau untuk sampai ke tepi. Saat beberapa langkah, tiba-tiba kakinya tidak bisa digerakkan. Langkahnya terasa berat, seakan ada yang melilitnya dari dalam danau yang tenang itu.
"iiii..kenapa tiba-tiba kakiku tidak bisa digerakkan?" heran Fikram.
Dia mencoba untuk melangkahkan kakinya kembali. Namun, hasilnya tetap nihil. Kakinya itu tetap tidak bisa melangkah.
"Ada apa dengannya?" kata Manda merasa ada yang janggal.
"Sepertinya dia dalam kesulitan" ucap Dina menimpali.
"Benarkah?" tanya Manda lagi.
"Kurasa juga seperti itu..secara dia terdiam disitu saja sedari tadi" kata Rio.
"Iiii....kenapa kakiku ngga bisa di...eh!?" kaget Fikram melihat sesuatu di bawahnya.
Tiba-tiba Fikram tertarik dan masuk ke dalam danau bersama wanita yang ia tolong.
"Aaaa!!" teriak Fikram.
"Eh! Fikram kok kaya ketarik ke dalam danau ya?" ucap Manda cemas.
"Iya, jangan-jangan ada apa-apanya ni danau" kata Dina.
"Sebaiknya kita bantu dia sekarang!" kata Rio langsung berlari menuju danau.
"Hemmh, sok pahlawan!" batin Gamma.
Gamma yang melihat hal itu hanya terdiam dan menyilangkan tangannya. Namun, kemudian ia melihat Nadia
"Nadi? pahlawan? aha, sebaiknya aku juga ikut menolong Fikram..walaupun itu tidak penting tapi..ah, apapun akan kulakukan untuk membuatmu kembali padaku, Di.." pikir Gamma.
Ia kemudian berlari menghampiri Rio menuju danau untuk menolong Fikram. Ya, memang awalnya ia tidak mau. Namun, ini ia lakukan semata-mata untuk membuat Nadia terkesan dan kembali padanya. Mengingat akhir-akhir ini Nadia yang ia anggap Putri Nadi telah jatuh dalam pelukan laki-laki lain, yaitu Rio.
Akhirnya Rio dan Gamma pun menuju danau untuk menyelamatkan Fikram.
"Kau!" kata Rio terkejut.
"Apa." balas Gamma datar.
"Ah, sudahlah..makin banyak orang makin baik" kata Rio.
Rio melangkah ke dalam danau terlebih dahulu.
"Eh?"
Rio terkejut saat ia menapakkan kakinya di air danau, mendadak air danau itu surut dari posisi awalnya.Ia mencoba lagi. Tetapi hasilnya tetap sama, air itu lagi-lagi menyurut dan menjauh dari posisi Rio.
__ADS_1
"Hah! gitu doang ngga bisa?" ejek Gamma.
"Bukan ngga bisa tapi in-" ucap Rio.
"Sssttt..udalah kalau takut..ya udah..ngga usah sok pahlawan deh" kata Gamma.
"Nih liat..sang ahli beraksi" kata Gamma membangggakan dirinya sendiri.
Rio memutar bola mata, malas. Sekarang giliran Gamma yang mencoba.
"Eh? kok?"
Ya, tentu hasilnya sama saja. Air itu tetap menjauh saat ada orang yang memasuki danau itu. Mereka seakan tidak diizinkan masuk ke dalam danau.
"Hemm..bagaimana sang ahli?" kata Rio menyilangkan tangannya.
"Iya..iya aku percaya deh" balas Gamma yang masih agak angkuh.
"Dasar!" gumam Rio.
"Lalu bagaimana dengan Fikram?" cemas Manda menghampiri mereka.
"Kalian bagaimana sih! niat nolongin temen ndiri ngga?!" kata Dina menghampiri Rio dan Gamma juga.
Nadia, Manda, dan Ibu Albert juga ikut mendekat.
"Bukannya ngga mau tapi lihat ini" kata Rio melangkahkan kakinya mendekati air danau.
Air danau itu menjauh.
"Lihat?" kata Rio.
"Bagaimana bisa..? kalau kalian tidak bisa mendekati air danau itu? lalu bagaimana Fikram.." kata Dina.
"Hemm" pikir semua.
\~Sementara itu\~
"Hiks..hiks..maafkan orang tuamu ini, nak" ucap seseorang dengan tangan membelai lembut kening seorang bayi kecil di atas keranjang seakan memberi kekuatan pada anak itu.
Tiba-tiba mata Fikram terbuka, di sisi wajahnya tertapat garis melintang indah seperti sebuah riasan wajah namun berwarna putih menyala. Di keningnya tergambar lambang ombak berwarna biru nan indah. Matanya yang cokelat berubah menjadi biru kehijauan, seakan menampilkan warna laut yang begitu indah.
Ia kemudian berenang dengan cepat dan memutus sesuatu yang melingkar di pergelangan kakinya. Itulah yang menyebabkan ia tidak bisa melangkahkan kakinya tadi. Tak lupa, ia juga membawa wanita yang ikut tenggelam bersamanya menuju permukaan agar ia selamat
Ia pun tiba di permukaan dan menyusuri danau itu, membawa gadis itu bak seorang pahlawan super yang menyelamatkan seorang gadis yang hampir tenggelam.
"Oo..mungkin kalian ada apa-apanya ya..sampe-sampe air suci danau ini tidak mau menerima kalian..hayo ngaku" goda Dina.
"Apa maksudmu ada apa-apanya!..jangan sembarangan ya!" seru Gamma dan Rio.
"Hmmm..mencurigakan," ucap Nadia menimpali.
"Di, kau juga! ayolah" kompak Rio dan Gamma lagi.
"Tuh, Nadia aja bilang begitu" kata Dina:
Dina dan Nadia bertos ria.
"Kalian!" kompak Gamma dan Rio.
"😜" (Nadia dan Dina)
"Cukup! di sana Fikram mungkin dalam kesulitan..dan kalian!...apa kalian tidak khawatir?" cemas Manda dengan nada meninggi.
"Hah?" Nadia dan Dina saling melempar pandangan, lalu mereka tertawa.
"Hahaha!!!" tawa Nadia dan Dina.
Rio dan Gamma saling melempar pandangan bingung.
"Eh, apa pandang-pandang!" kata Gamma memalingkan wajah dan menyilangkan tangannya.
"Ih, kau yang pandang dulu" kata Rio memalingkan wajahnya.
"Hah?" bingung Manda melihat reaksi kedua sahabatnya itu.
"Sepertinya sebentar lagi doa Fikram akan terkabul" kata Dina.
"Haha, sepertinya iya" balas Nadia.
"Kalian kenapa!" kata Manda kesal.
__ADS_1
"Itu..hah!" terkejut Dina melihat sesuatu mendekat.
"Eh, itu Fikram" kata Nadia.
Mereka pun menoleh ke arah danau.
Dengan basah kuyup, Fikram menggendong seorang wanita berparas cantik dengan rambut tergerainya yang basah karena air di danau. Namun, ada yang berbeda dari Fikram, raut wajahnya nampak serius dan pandangannya kosong
"Wah..wah..panjang umur kau, Fi.." kata Dina menghampiri.
"Fi, aku ada kabar bagus untukmu..sepertinya sebentar lagi kau akan mendapat jawaban.." goda Dina.
"Dia sudah menunjukkan tanda-tandanya" godanya lagi dengan menyenggol bahu Fikram.
Fikram tak merespon, pandangannya tetap kosong dan wajahnya juga datar dan serius.
"Emm? Fi?..Fikram?" heran Dina, karena Fikram tak merespon, padahal biasanya Fikram cepat sekali merespon.
"Hem..syukurlah kau selamat, Fi!!" kata Manda menghampiri mereka.
Suara Manda yang agak cempreng dan sedikit berteriak berhasil menyadarkan Fikram.
"Hah?! apa?" terkejutnya.
"Eeh!?" kata Fikram seakan akan jatuh tersungkur karena ia menggendong seorang wanita di tangannya.
Dina dan Manda yang berada di sampingnya terkejut dan membantu Fikram agar tidak jatuh.
"Eh!?"
"Ayo..kesana..dibawa kesana dulu" kata Dina.
Mereka pun membantu Fikram membawa wanita itu ke tepi danau. Fikram meletakkan wanita tersebut di daratan tepi danau.
"Iyah"
Mereka mendekat ke arah wanita yang tak sadarkan diri itu. Tiada angin tiada hujan Fikram langsung menarik kedua tangannya.
"Aduh..dia berat sekali...makan apa sih?" ujar Fikram.
"Heh! kau yang kenapa? bukannya yang menolong itu kau..tapi kau malah bilang seperti ini..ckckckc" balas Dina.
"Iya, kenapa kau lama sekali! kau tau..kau membuat kami semua cemas!" bentak Manda pada Fikram di depan wajahnya.
"Eh? sabar bu..sabar" kata Fikram menciut.
"Kami semua apa kami semua?" goda Nadia.
"Maksudnya?" bingung Fikram.
"Hah?!" terkejut Manda sedikit memerah.
Dina pun menghampiri Fikram dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"............." bisik Dina.
Maaf Fikram membulat, ia terbelakak seakan tak percaya dengan apa yang dibisikkan Dina padanya.
"S..s..serius?" ucap Fikram tak percaya.
Dina mengangguk.
"Waaaa!!!" Fikram melompat kegirangan.
"Oh, Tuhan..akhirnya setelah menanti sekian lama...akhirnya.." kata Fikram bersimpuh dan mendongak ke atas.
"Dia kenapa sih?" gumam Manda tak mengerti.
Tanpa Fikram sadari dari dalam danau datanglah sebuah benda melintang seperti tanaman rambat mengincar kaki Fikram secara perlahan dan mengendap-endap.
"Hey! ayo cepat bantu gadis ini..kalau tidak, bisa-bisa dia mati nanti!!" seru Ibu Albert.
"Oh, iya"
Mereka langsung menuruti perintah Ibu Albert dan membawa wanita itu menuju tempat peristirahatan mereka. Begitu pun dengan Fikram yang segera beranjak dari posisinya dan menyusul teman-temannya.
"Hey, tunggu" ucap Fikram.
Alhasil tanaman itu pun gagal dan kembali ke dalam danau.
"Sial! bagaimana dia bisa lolos" umpat seseorang dari dalam danau.
__ADS_1
Bersambung...