
EPISODE SEBELUMNYA
"Ohohoho, sekarang putra sudah kembali, tinggal putri yang dilupakan ya?" seru seseorang secara tiba-tiba.
"Hah!?"
//Skip//
"Woahhhh!" kagum Fikram.
"Nah, ini kamarmu. Sekarang kau tinggal bersama kami, apakah kau senang, Anakku?" tanya Marine yang didampingi Rendi di sampingnya.
'Sekarang kau tinggal bersama kami.'
Entah kenapa, tetapi saat indra pendengaran Fikram menangkap ucapan ibunya barusan mendadak ia menghentikan aktivitas kagumnya.
"T ... t ... tinggal bersama kami?" batin Fikram. "Kenapa aku merasa ragu ya? Lalu ... ah, aku jadi ingat teman-temanku, bagaimana keadaan mereka?" pikir Fikram mematung.
"Finn?" panggil Marine melihat Fikram mematung. "Finn?" panggilnya lagi namun lebih menekan.
"Hah! Ya!" Fikram tersadar dari lamunannya.
"Apa yang kau pikirkan? Apa kau tidak suka kamarnya atau ...." ucap Marine menunduk dengan raut wajah terlihat sedikit sedih.
"T ... t ... tidak-tidak! Finn tidak ...." kilah Fikram gelagapan.
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu," ucap Marine tersenyum dan berlalu pergi bersama Rendi.
Fikram hanya mengangguk pelan seraya tersenyum tipis.
Tap ... tap ... tap ....
"Nah mikirin apa, Kak? Ampe gelagapan gitu jawabnya," tanya seorang gadis menghampiri Fikram seraya menyandarkan salah satu bahunya di batas pintu kamar, serta melipat tangannya di depan dada.
"Emm ... itu ... itu .... Ah, ngga mikirin apa-apaan kok, Putri Siera" bohong Fikram pada gadis di depannya.
Ya, gadis memakai kemeja putih, rambut disanggul sempurna dengan beberapa anak rambut yang terurai di depan wajahnya, memakai celana putih lengkap dengan sepatu boot ketat, itulah Siera. Anak kedua dari Marine setelah Fikram.
"Pffft ... Putri? Putri Siera? Pfffft ...." Siera malah tertawa mendengar penuturan Fikram yang memanggilnya 'Putri'.
Melihat reaksi Siera, Fikram pun mengernyitkan dahinya kebingungan.
"Haha, maaf-maaf. Kakak ... Kakak. Aku ini adikmu loh, Kak. Panggil saja nama, atau Adik, atau ... ya terserah."
"Ya, ber-"
Belum selesai mengucapkan kalimatnya, Siera lebih dulu memotong.
"Kecuali Putri, Nona, atau nama panggilan lainnya yang berbau formal," tutur Siera penuh penekanan.
"Iya-iya, Put ... eh, maksunya Adik?" pasrah Fikram merasa canggung memanggil Siera dengan nama panggilan itu.
"Nah! Begitu," senang Siera tersenyum penuh kemenangan. "Sekarang katakan. Kakak, sedang memikirkan apa?" tanyanya kembali.
"Emm ... itu ...." Fikram merasa ragu ingin mengatakannya pada Siera.
"Katakan saja, Kak. Ada apa?" Tanya Siera sekali lagi
"Emmm ... sebenarnya ...."
"Huff ... ya sudah, kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, Siera pergi ya?" Ucap Siera seraya berbalik dan beranjak pergi.
"Eeh! Tunggu!"
Beruntung sebelum Siera pergi, Fikram sempat mencegahnya. Siera pun menghentikan langkanya dan berbalik kembali menghadap Fikram sambil menaikkan salah satu alisnya seakan mengajukan pernyataan yang sama, "Ada apa?".
"Emm, Putri ... maksudku ... Adik, bisakah Kakak menemui teman-teman Kakak. Tiba-tiba Kakak teringat mereka," ujar Fikram jujur.
__ADS_1
Siera yang mendengar penuturan Fikram sontak menepuk jidatnya.
"Duh, Kak! Bilang gitu aja kelihatannya susah amat. Pasti boleh dong, besok kita temuin temen Kakak," kata Siera yang membuat Fikram tersenyum simpul. "Lagipula ini kesalahan Siera yang meminjam Kakak tanpa izin, haha" Siera agak terkekeh.
Fikram hanya membalas dengan senyuman.
"Ya sudah, Kakak istirahat dulu, besok kita nemuin temen Kakak ya? Tenang aja," ujar Siera menyakinkan.
Ia lalu berbalik dan beranjak pergi meninggalkan Fikram.
"Teman-teman ya? Sepertinya rencana kita harus di percepat, Ibu" batin Siera dibareng seringainya.
"Ah, syukurlah. Tadi itu sangat canggung, tapi aku benar-benar teringat teman-temanku bagaimana mereka sekarang? Apa mereka mencariku? Hemm ...." Pikir Fikram membaringkan tubuhnya di kasur besar miliknya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Nak ... Nak ... Anakku, Finn ...." Panggil seseorang. "Nak ...." panggilnya kembali.
"Jangan ... jangan ... jangan percaya apapun yang mereka katakan, Nak ...."
"Jangan percaya mereka ... jangan, Nak ... jangan ... jangan ...." lagi-lagi seorang pria misterius itu kembali mengatakannya.
"Ingat, Nak. Jangan ... jangan percaya mereka, Nak ... jangan ... JANGAN!"
Mendadak semua menghilang dan digantikan cahaya putih yang begitu menyilaukan.
"Hah!"
Tiba-tiba Fikram mendarat di depan sebuah tempat yang sangat asing baginya. Ia pun mengedarkan pandangannya menyapu semua sudut lingkungan sekitar. Yang bisa ia temukan hanya sebuah pintu besar, sepertinya dibalik pintu itu terdapat ruangan yang besar pula.
Tap ... tap ... tap ....
Terlihat seorang pria berpakaian khas bangsawan mengendap-endap membawa masuk seorang bayi di tangannya ke dalam bangunan besar tersebut. Hal itu tampak jelas di mata Fikram.
"Kau memilikinya, Nak" terdengar suara dari belakang Fikram.
Fikram pun berbalik, "Hah!"
"Tunggu! Apa Maksud-"
Belum sempat Fikram bertanya maksud sang pria dihadapannya. Mendadak ia sudah tertarik menjauh darinya.
"TIDAK!"
Fikram pun tersadar dari mimpinya. Keringat panas dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia pun menduduki diri di atas tempat tidur seraya mengatur napas.
"Siapa dia? Hah ... hah ... sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana? Apa maksudnya? Memilikinya? Memiliki apa? Hah ... hah ...." pikirnya penuh dengan pertanyaan.
Tiba-tiba pikirannya teralihkan oleh suara ketukan pintu.
TOK! TOK!
"Kak! Kakak! Buka pintunya, Kak."
TOK! TOK!
"Apa Kakak di dalam? Kak?" tanya Siera dari luar.
"Hemm, Ada apa dia kesini?" pikir Fikram mendengar suara Siera. "Ya sebentar!" jawabnya pada Siera.
Fikram pun beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju pintu.
"Kenapa akhir-akhir ini aku selalu dapat mimpi aneh? Sejenis lagi," pikirnya seraya menuju pintu.
Ceklek!
\~Sementara itu\~
__ADS_1
"Baiklah-baiklah" ujar HIHIHI. "Kalian punya tiga pilihan," tambahnya. "pilihan pertama, warna coklat permen. Pilihan kedua, warna coklat permen muda. Pilihan ketiga, warna coklat permen tua, hihihihi" tuturnya.
"Hah! Apa-apaan ini?" kaget Gamma.
"Kenapa pilihannya warna coklat permen semua?" Dina tidak kalah terkejut.
"Hemm ... tapi kalau kita cermati memang ada masuk akal juga, di pernyataan HAHAHA tadi dia hanya menyebutkan warna coklat permen, bukan?" teliti Manda.
"Ya, ya, ya, terserah" malas Dina.
"Hahaha, sebaiknya kalian cepat jawab!" tegas HAHAHA.
"Hihihihi, benar itu, karena aku ini makhluk baik hati, imut, tidak sombong, dan rajin menabung ...." HIHIHI membanggakan dirinya.
HUWEK!
Dina, Gamma, dan Manda menjulurkan lidahnya bebarengan.
"Kalian kami beri empat kali kesempatan untuk menjawab, lebih dari itu dan tidak ada yang benar, maka ... air ini akan semakin cepat, lebih cepat dari sebelumnya, hihihi" ujar HIHIHI.
"Akan aku perlambat dulu aliran airnya sebagai penambahan waktu untuk kalian berpikir, hahaha" ujar HAHAHA berbaik hati.
"Bagus! Kalian membuat ini menjadi mudah!" batin Gamma senang.
"Empat kali menjawab, hemmh ... itu lebih dari cukup," gumam Dina dalam hati.
"Kok malah dipermudah? Sulit dipercaya," batin Nadia beraut muka penuh curiga.
"Ayo jawab!" desak HAHAHA.
"Iya-iya, sabar!" balas Dina datar.
"Hemm, jawabannya pilihan ketiga, warna coklat permen tua!" ucap Gamma yakin.
"SALAH!" tegas HAHAHA.
"Pilihan kedua, warna coklat permen muda!" sekarang giliran Manda yang menjawab penuh keyakinan.
"Hahaha, masih salah," ucap HAHAHA santai.
"Hihihihi, tinggal dua kesempatan," ujar HIHIHI mengingatkan.
"Haha, tinggal satu pilihan, sudah pasti itu jawabannya," batin Dina yakin.
"Pilihan dua dan tiga salah, artinya ...." pikir Manda.
"Tinggal satu pilihan," batin Gamma tersenyum yakin.
"Jawabannya ...." gumam mereka bersamaan. "PILIHAN PERTAMA!" seru mereka serempak.
"Hahaha! Wah, wah! Kalian sangat yakin rupanya ya?" kata HAHAHA.
"Hoy! Benar tidak?!" tanya Dina.
"Kalian mau tahu?" tanya HAHAHA yang jelas-jelas akan dijawab.
"Pake nanya lagi! Iya dong!" ketus Gamma.
"Yakin?" tanya HAHAHA lagi.
"Cepetan, Unta!" jawab Dina.
"Hahaha, baiklah-baiklah. Jawabannya ...." balas HAHAHA.
Drum ... drum ... drum ....
Suara drum menambah suasana semakin tegang.
__ADS_1
"Jawabannya ...." ucap HAHAHA kembali menggantung. "Hahaha, selamat! Jawaban kalian ... Be-
Bersambung ....