
EPISODE SEBELUMNYA
"Aku membawa syaratnya, tepatilah janjimu padaku sekarang."
"Hmmh, dengan senang hati," ia menyeringai, menampakan deretan gigi runcingnya.
----------------
"Eh-eh, aku?" Fikram menunjuk dirinya sendiri, ia syok tiba-tiba ditunjuk.
"Iya lah, siapa lagi?" tukas Dina.
"Kenapa harus aku?" Fikram mengerucutkan bibirnya.
"Karena kau yang paling jago menahan napas diantara kita," jawab Rio.
"Hemm," Fikram menampakkan wajah-wajah ingin protes tapi tidak bisa.
"Ya sudah, sini aku saja," Nadia maju mengambil tali itu dari tangan sahabatnya itu.
Fikram sebenarnya sangat senang Nadia yang akan menggantikannya.Tapi kesenangannya luntur ketika mengetahui dua orang laki-laki dibelakangnya menatapnya tajam seakan ingin mencincang dirinya saat itu juga. Merasakan kengerian itu Fikram pun mengerti.
"Nadia!" ia mencegat Nadia yang tadinya menawarkan diri. "Aku, biar aku saja ya," seraya mengintip dua laki-laki di belakang Nadia.
"Katanya kau tidak mau, biar aku saj-"
"Ooo, tidak-tidak! Biar aku saja ya...," Fikram mengambil tali dari tangan Nadia. "terimakasih," mata Nadia berkedip-kedip keheranan melihat tingkah Fikram.
Tanpa basa-basi lagi, lelaki tampan ini mengikatkan tali itu melingkar di perutnya. Ia memberi acungan jempol tanda ia siap.
"Ok, saat kau kedalam sana mungkin kau tidak bisa melihat apa-apa karena ini bukan air. Tetap tutup matamu karena, lumpur bisa masuk dan merusak penglihatan," Ibu Albert mengarahkan. "ingat tetap kebawah, tetap kebawah. Aku tidak tau ini berhasil atau tidak tapi-"
Fikram menyela, "Tutup mata? Emm, oke aku mengerti. Jadi, berapa persen kemungkinanku untuk tetap hidup setelah ini?" tanyanya serius.
"Emmm..., mungkin 99 persen," jawab Ibu Albert.
"99 persen? Huff syukurlah, tidak seperti yang aku dug–" Fikram sudah merasa lega duluan.
"Ya, 99 persen untuk hidup di alam baka," sambung Ibu Albert.
Mendengar hal itu mata Fikram seakan pecah, "Apa!?"
"Sudah-sudah ayo sana pergi selamatkan dia," Gamma menyeret Fikram.
"Lepaskan! Huwaaa aku korban disini! Kalian jahatttt!"
"Dadah, Fikram. Hati-hati ya," Rio, Dina, dan Nadia melambai seraya tersenyum.
Gamma menyeret Fikram hingga sampai di mulut lubang.
"Kau mau aku ceburkan atau kau mencebur sendiri?" tawar Gamma.
"Aku bisa sendiri," jawabnya. " Haah, aku agak menyesal mengambil keputusan ini," gumamnya.
"Apah?!"
"Hah! Tidak-tidak. Tidak ada."
HUFFF!
Fikram mengambil persiapan, Ia menarik napas dalam-dalam memberanikan dirinya.
"Baiklah, kita mulai," ia menatap yakin lubang penuh lumpur di bawahnya.
----------------
"Kemarilah...."
"A-apa?" Manda terkesiap.
"Melangkahlah kedepan," suruh suara itu lagi.
Manda menurut, dia melangkahkan kakinya maju satu langkah ke depan.
"Lagi," dengan suara serak.
Manda melangkah lagi, ya satu langkah lagi.
"Lagi."
Manda kembali melangkah satu langkah ke depan.
"Lagi!"
Lagi-lagi Manda melangkah sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Bisakah kau tidak melangkah sedikit demi sedikit seperti itu!" sepertinya pemilik suara ini sudah emosi, haha.
"Kelihatannya kau kesal?" dengan wajah polos yang bisa membuat siapa saja darah tinggi.
"Hmmph, gadis ini...," ucapnya geram. "Sudah, cepat berjalan kemari!"
"Ha-haruskah?" Manda ketakutan karena di depannya tidak terlihat apapun selain ruangan yang gelap gulita.
"Kemarilah jika kau ingin kemauanmu kupenuhi," ucapnya berseringai.
Manda menghela napas, "Apa boleh buat," perlahan ia melangkahkan kaki berjalan menelusuri tempat gulita yang ia sendiri tidak tahu tempat apa itu.
"Emm, halo... sampai kapan aku akan berjalan di tempat yang sepertinya tidak berujung ini?" seraya berjalan, Manda menyinari sekelilingnya dengan sinar dari kristal hijau itu.
"Berhentilah," suara itu kembali muncul.
Manda pun berhenti saat itu juga, ia celingukan.
"Lalu?" suara itu tidak menjawab. "Hey, dimana aku harus menyerahkan ini, diletakan disini saja, begitu? Atau bagaimana?"
"Berikan itu langsung padaku."
"Dimana? Kau dimana? Aku tidak melihat wujudmu sama sekali," Manda mulai ketakutan.
"Aku disini."
"Dimana?" bulu kuduk Manda mulai berdiri.
"Ditempat kau berdiri?"
Manda pun celingukan, "D-dimana?"
"Di belakangmu," tiba-tiba ada yang memegang pundak Manda.
Manda pun langsung membalik badannya ke belakang, Mengarahkan satu-satunya sumber penerangannya ke mahkluk itu.
Bruk!
"AAAA!" Manda terkejut melihat wujud makhluk yang meminta kristal itu darinya.
Kristal tersebut tak sengaja terlepas dari genggamannya saat ia terkejut.
"BUAHAHAHA!" wanita itu tertawa jahat, ia juga membungkuk mengambil kristal yang jatuh tidak jauh dari dirinya.
Wanita melihat kristal tersebut sambil memutar-mutarnya, ia nampak senang.
Tak berselang lama, ia membalik badan, berjalan lurus ke depan, lalu menggerakkan tangan seperti menggerakan sesuatu.
Cling!
Seketika daun-daun di langit-langit tempat itu menyinggkir. Masuklah cahaya dari lubang-lubang kecil tersebut hingga tempat itupun terang dan terlihat wujud yang sebenarnya.
"Gua," batin Manda.
Ya, tempat ini seperti gua dengan langit-langit yang berlubang-lubang sebagai tempat masuknya cahaya.
Manda memerhatikan sekitarnya, ia benar-benar asing dengan tenpat ini. Banyak akar-akar menjalar hijau dengan daunnya yang lebar, menempel di dinding gua ini.
"Kenapa, Gadis Manis? Apa kau terkesan dengan tempat ini?" Manda menoleh ke arah sumber suara.
Rambut cokelat tua tergerai sempurna. Memakai pakaian seperti jubah dengan lengan besar memanjang, rok menjuntai menutup sempurna bagian kakinya. Pakaian itu bukan pakaian biasa, pakaian tersebut terjalin dari tanaman merambat. Bisa terlihat beberapa daun nyata menambah keunikan dari pakaian itu sendiri. Beberapa daun juga terlihat menghiasi rambut panjangnya. Sebenarnya wanita ini bisa dikatakan cantik dan menawan hanya saja ....
Wanita daun ini merotasikan tubuhnya, kemudian menduduki sebuah kursi, yang lagi-lagi dijalin dengan tanaman merambat berwarna hijau, namun kali ini terdapat selingan batang-batang berkayu yang menampakkan seratnya. Dengan disinari cahaya matahari ia nampak agung dengan duduk di kursi tersebut.
"Sebenarnya siapa kau?"
"Aku? M... M... MUAHAHAHA!" ia kembali tertawa khasnya. "Kau tidak perlu tahu aku siapa. Yang jelas aku akan menepati perjanjian kita," ucapnya terlihat mengerikan.
Dia menggerakkan tangannya, seketika tanaman-tanaman menjalar muncul lalu melesat ke arah Manda. Tanaman itu mengikat erat seluruh tubuh Manda kecuali kepalanya.
"A-a-apa-apaan ini!" Manda gugup.
"Aku akan menjadikanmu lebih tangkas dan membantumu untuk tidak menjadi beban timmu lagi, HAHA," dia menampakkan gigi runcingnya.
Manda menggeliat, memberontak. "Apa yang akan kau lakukan hah!"
Perlahan tali itu menarik Manda ke hadapan wanita itu.
"Sudah kubilang aku akan membantumu, Gadis Manis," ia mencengkram rahang Manda dengan kukunya yang panjang lalu menggerakan tanaman itu melemparkan Manda ke tanah.
BRUK!
"T-t-tolong... lepaskan aku," Manda benar-benar ketakutan.
"Ooo, Gadis Kecil jangan takut. Aku hanya membantumu kok." Dia berjalan turun dari singgasananya lalu mendekati Manda. "Emm, sebenarnya tadinya aku ingin mengirimmu langsung ke alam baka disana kau akan lebih tangkas dan tidak akan menjadi beban bagi timmu lagi tetapi ...," dia melirik dari ekor mata. "akan jauh lebih menyenangkan bila menyiksamu dahulu, BUAHAHA!" tersenyum mengerikan.
__ADS_1
Manda gemetar, air mata dan keringatnya bercucuran. Tatapan waspada penuh ketakutan ia layangkan kepada sosok didepannya.
"Jadi bagaimana kita memulai ini?" senyum mengerikan itu ia tampilkan lagi. "Hemm," Ia berpikir sejenak.
"Aaa, bukan kah kau pandai menari?"
Mata Manda membulat sempurna, ia sudah sangat takut hanya dengan memikirkan akan apa yang akan wanita ini lakukan terhadapnya.
"Maka menarilah untukku!" ia mendekatkan wajah mengerikannya ke arah Manda.
Manda pun ketakutan bukan main, ia menggeliat memberontak ingin keluar dari situ.
"BUAHAHAHA!"
Wanita itu lagi-lagi menggerakan tangannya. Seketika Manda terangkat dan berdiri. Ia benar-benar ketakutan dengan apa yang akan terjadi. Tanaman-tanaman menjalar mulai mendekatinya lagi, mereka pun melakukan sesuai perintah dan kemauan dari si wanita mengerikan ini.
"Haah akhirnya selesai juga, Menari ayo menarilah untukku," wanita itu sekarang beranjak duduk dikursi kebesarannya lagi.
Wanita itu menjadikan Manda seperti boneka tali saja sekarang. Tubuhnya terikat banyak tali-tali dari tanaman. Di kedua pergelangan tangan, kaki dan pinggangnya. Manda bergeming, ia biarkan cairan bening mengalir dari matanya, dia ketakutan.
"Hiks-hiks, teman-teman aku takut. Nadia, Fikram, Ibu Albert. Mommy Daddy, hiks-hiks," ia menangis sesenggukkan.
"Kenapa kau tidak menari? Apa kau mau melihat kemarahanku sekarang juga?" ia menggerakan tangannya seolah sedang mencengkram.
Seketika muncul duri-duri kecil dari tanaman yang mengikat Manda, khususnya di bagian kaki. Duri itu menembus kulit Manda, menciptakan rasa sakit yang teramat. Manda pun menjerit kesakitan.
"AGH!"
Wanita ini meggerakan tangannya semakin mencengkram, bersamaan dengan itu duri semakin menusuk kulit Manda.
"Menarilah, atau kau akan kehilangan kakimu saat ini juga!" ancamnya.
Manda tidak punya pilihan lain, ia harus menari menuruti kemauan wanita ini.
"Ayo menarilah!"
"AGH!" Jeritan Manda menggelegar.
Tidak tahan dengan rasa sakit itu dengan terpaksa iapun menggerakan badannya, menari balet dengan perlahan. Menurutnya, balet adalah tarian yang tepat untuk suasana hatinya saat ini.
"Bagus," melihat Manda menurutinya, wanita ini berhenti menggerakkan tanaman itu.
Seketika duri yang menembus kulit Manda menghilang, iapun tidak ia rasakan lagi rasa sakit itu.
"Ok mari buat peraturan. Kau tidak boleh berhenti menari. Jika kau tetap memaksa berhenti maka duri-duri dari tanaman yang mengikatmu akan menembus kulitmu tanpa ampun! HAHAHA!"
Manda yang mendengar itu terus menggerakan seluruh tubuhnya untuk menari walau dengan derai air mata.
"Oh benar kau perlu musik ya," Wanita ini lagi-lagi menggerakkan tangannya. Seketika muncul sebuah alat musik lira, seperti harpa kecil namun sedikit berbeda. Yah tentu saja lira itu terbentuk dari tanaman rambat.
"Sebelumnya aku tidak bisa membuat bentuk seperti ini. Teryata ini kekuatan kristal itu. Bagus-bagus. Sekarang aku bisa membuat apa saja dari tanaman Ahahaha! Seluruh dunia ini akan dipenuhi tanaman milikku, AHAHA!"
Wanita itu pun menggerakan tangannya kembali. Seketika ada tanaman kecil yang memainkan alat musik itu. Lira itupun mengeluarkan melodi yang menemani Manda menari.
"Menari! Terus Menari!" Wanita itu bahagia melihat Manda tersiksa.
"Hiks-hiks,"
BRUK!
Suasana hati Manda tidak mendukungnya menari. Ia pun berhenti dan langsung ambruk ke tanah seraya menangis.
"Eh, kau berhenti? Sudah kubilang 'kan apa yang akan terjadi jika kau berhenti!"
Manda kembali merasakan sakit yang teramat. Tangan, rasa sakit itu muncul dari bagian tangannya.
"AGGGHH!"
Manda berusaha bangkit dan menari lagi untuk menghindari rasa sakit ini tapi rasanya ia sudah tak mampu.
"Belum bangkit juga ya," Wanita itu menambahkan rasa sakit Manda.
Duri itu semakin menusuk kulit Manda. Kini, rasa sakit itu tidak hanya ia dirasakan di tangan tetapi juga muncul dari kaki kirinya.
"AGGGHH!"
Air mata Manda lagi-lagi tumpah. Terlihat cairan merah juga mengalir, melewati celah-celah dari tali yang diikat pada pergelangan tangan dan kaki Manda.
"Sakit ya, ayo bangkit dan menarilah, jika kau tidak mau rasa sakit ini lebih lagi!" wanita ini tersenyum mengerikan.
"AGGGHH!"
GRRRRRR!
Tiba-tiba gua itu mengeluarkan suara dan sedikit berguncang.
__ADS_1
"Manda!"
Bersambung ....