Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Dalam Ruang


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Hah?!" Gamma dan Rio tidak percaya Nadia yang mereka temui tadi tidak ada di taman.


"Jadi?" tanya Dina.


\~\~\~\~\~\~\~\~


"Sudahlah, ada apa kau membawaku kemari?" potong Fikram.


"Emm ... aku ...." ragu Siera.


TOLONG! TOLONG!


Gendang telinga Fikram menangkap suara meminta tolong dari salah satu sudut ruangan Siera. Sontak ia menoleh ke arah datangnya suara.


"Aku ... ada yang ingin aku katakan padamu," ujar Siera. "ini penting. Ini tentang kau," sendunya. "Sebenarnya kau ... kau adala-"


Fikram memotong perkataan Siera, "Ssssttt ... apa kau dengar sesuatu?" Tanya Fikram berfokus pada sebuah rak kayu penuh buku berjejer.


"Suara? Tidak. Tidak ada suara apa-apa," jawab Siera.


"Hemm ... benarkah? Mungkin aku salah dengar," kata Fikram menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Baiklah kau mau bicara apa? Tadi aku tidak mendengarkanmu," imbuhnya.


"Sebenarnya kau ...."


TOLONG! TOLONG!


Lagi-lagi telinga Fikram mendengar suara minta tolong.


"Suara ini ... sepertinya aku kenal," pikir Fikram. "Rainny! Ya, ini suaranya!" pikirnya lagi.


"Kau adalah ...."


Tok! Tok! Tok!


"Ada orang di dalam!" Fikram langsung  memotong ucapan Siera seraya memukul-mukul rak kayu besar penuh buku yang menurutnya adalah arah datangnya suara jeritan itu.


Tentu Siera hanya menatap apa yang dilakukan Fikram.


Tok! Tok! Tok!


"Apa ada orang di dalam?! Rainny! Rainny!" pekik Fikram.


"Emm ... k ... k ... kau?" panggil Siera.


"Maafkan aku Putri Siera tapi aku mendengar suara temanku di sini, apa kau bisa membukanya? Eh!" Tanpa sengaja Fikram menjatuhkan sebuah buku yang langsung membuat rak itu bergerak terbuka menjadi dua.


Sehingga tampaklah sebuah ruangan. Fikram hanya melihat hal itu penuh takjub dan terburu-buru. Tanpa basa-basi Fikram langsung berlari masuk ke dalam ruangan di balik rak itu.


"Hey! Tunggu!" ujar Siera ingin menghentikan.


Namun, terlambat. Fikram sudah masuk ke dalam dan rak itu kembali menyatu seperti semula.


"Hemmh, permainan dimulai, Kakak" seringai Siera.


\~\~\~\~\~\~\~\~


"Jadi?" tanya Dina datar.


"T ... t ... tadi ada di ... dia ..." gagap Gamma dan Rio tidak percaya.


Dina, Manda, Nadia, serta Ibu Albert membuang nafas dengan kasar.


"Makanya kalian ini jangan kebanyakan makan obat nyamuk," kata Dina berusaha membuat gurauan.


Krik ... krik ... krik ....


"Heh! Gimana ceritanya kita makan obat nyamuk." Kompak Rio dan Gamma menatap datar Dina.


"Coba lagi ya, kesempatan masih banyak, Anak Garing" kata Manda menepuk bahu Dina.


"Anak garing katamu!" kesal Dina dipanggil 'anak garing' oleh Manda.


"Ya terus aku panggil apa?" bingung Manda. "Oh, anak gagal melucu, atau anak kurang lucu, atau ...." Tambahnya.


"Diam, MANDA NANDA OMEGA TIGA!" kesal Dina mengepalkan tangannya.


"Kyaaa! lengkap sekali, Anak Garing!" kaget Manda.


"Anak garing lagi!" kesal Dina masih berlanjut.


"Jiwa penyihirnya muncul," bisik Gamma pada Rio.


"Dina dia bilang kau penyihir!" teriak Rio pada Dina.


Cling!


"Siapa yang bilang aku penyihir!!" kini Dina murka semakin menjadi-jadi.


Seketika Gamma pun menciut.


"Astaga! Kau kejam, Krucil,(-_-')" ujar Gamma menciut.


Rio agak terkekeh.


"Hoy, sudah-sudah," lerai Nadia. "Lihat!" ujarnya menunjuk.


Mereka pun menoleh.


Drap ... drap ... drap ....


Tampak sesosok manusia misterius memakai jubah serba hitam tengah berlari cepat.


"Gerak-geriknya mencurigakan," kata Gamma.


"Kita harus kejar dia," kata Dina.


"Mungkin dia tahu dimana Fikram," ujar Manda.


"Bergerak!" komando Ibu Albert.


Mereka pun mengangguk dan langsung mengejar manusia misterius itu.


\~\~\~\~\~\~\~\~


~Di dalam ruangan~

__ADS_1


"Rainny! Rainny!" panggil Fikram mencari-cari Rainny.


"Dimana dia?" tanya Fikram pada dirinya sendiri.


HIKS! HIKS! TOLONG!


Mendengar suara tangisan itu Fikram Langsung berlari menuju arah datangnya suara.


Drap ... drap ... drap ....


TOLONG!


Cittt ....


"Suara itu berhenti di sini," kata Fikram berhenti di ruangan yang gelap gulita seraya mengatur nafasnya.


Drup ... drup ... drup ....


Seketika obor-obor mulai menyala dengan sendirinya seakan memberikan penerangan secara otomatis bagi Fikram. Namun, anehnya obor itu bukan dari api melainkan AIR!


"O ... o ... obor itu dari air!" terkejut Fikram obor itu dari air. "B ... b ... bagaimana bisa air j ... j ... jadi ...." herannya lagi.


Obor air itu berwarna biru dan memancarkan cahaya putih terang. Obor tersebut bertempat pada tempat obor berukir dua putri duyung saling bertolak belakang dan tergantung berjejer rapi di dinding bagian atas.


Fikram mulai berjalan perlahan mengikuti cahaya obor dan memperhatikan sekitar.


Obor itu menunjukan sebuah lorong. Di dinding lorong yang bermotif bata dan bercat kuning, Fikram melihat berbagai lukisan seseorang yang terlihat seperti pangeran Eropa lengkap dengan pakaian bangsawannya persis seperti yang Fikram pakai saat ini. Wajahnya pun berciri khas orang Eropa, bening, putih, mulus dan sangat tampan.


Di samping lukisan itu tergantung lukisan kedua. Di situ tergambar dua orang Eropa seperti sepasang suami istri tersenyum seraya memandangi dan menggendong kedua bayinya. Satu bayi berbalut kain biru dan satu bayi lainnya berbalut kain merah muda. Dapat terasa mereka adalah keluarga yang bahagia dan utuh.


"Sepertinya mereka keluarga yang lengkap," ujar Fikram memandangi lukisan tersebut dengan mata berkaca-kaca.


"Andai aku tahu keluargaku mungkin keluargaku akan bahagia dan lengkap seperti mereka." Ujar Fikram sendu, tangannya pun menempel tepat di dinding samping lukisan.


Fikram adalah anak yang besar di panti asuhan, dia ditemukan oleh pemilik panti sewaktu Fikram masih bayi di depan panti asuhannya. Karena tidak tega, pemilik panti itupun merawat Fikram.


Fikram pun tumbuh bersama anak-anak panti lain. Maka dari itu dia tidak pernah tahu siapa keluarga kandungnya.


Ia sudah bertanya pada orang yang telah merawatnya yaitu ibu panti, tapi ibu panti pun tidak mengetahui identitas Fikram yang sebenarnya, selain seorang bayi yang ia temukan di depan panti.


Fikram merasa sedih amat terdalam, ia sangat ingin bertemu keluarganya atau minimal ia mengetahui dari keluarga mana ia dilahirkan. Air mata pun tidak bisa terbendung lagi olehnya. Cairan bening itu telah membasahi pipinya.


Hiks ... hiks ....


"Tidak! Aku tidak boleh begini! Aku harus kuat!" katanya mengokohkan diri. "Lagipula dia yang merawatku, merekalah keluargaku, aku sudah cukup beruntung bisa memliki keluarga yang menyayangiku, walau itu bukan keluarga kandung," kata Fikram mengusap kasar air matanya.


TOLONG!


Suara jeritan itu terdengar kembali. Fikram yang mendengar suara itu kemudian tertegun dan menatap ke arah depan.


"Suara itu kembali, aku harus segera menemukannya" tekad Fikram.


Ia kemudian mulai bersiap berlari, dengan tangannya masih menyusuri dinding lorong. Ia mulai bergerak,  tangannya pun tergeser dan menyentuh lukisan yang ia lihat tadi. Tetapi saat kulitnya menyentuh lukisan itu tiba-tiba ....


Matanya membola, sesuatu aliran seakan mengalir dalam darahnya. Riasan di tepi wajah Fikram dan sebuah lambang ombak biru di dahinya kembali bersinar. Angin mendadak bertiup kencang.


Wussh ....


"Hah?" bingung Fikram. "Dimana aku?" ujar Fikram. Mendadak kini Fikram mendarat di sebuah tempat yang bahkan ia pun tak mengetahuinya.


Kosong, hampa dan berwarna putih. Itulah gambaran ruangan yang Fikram tempati saat ini.


"Aku harus menemukannya! Bagimanapun caranya!" Ujarnya mulai berbalik dengan niatan berjalan tanpa arah dan membawa harapan bisa menemukan serta menyelamatkan orang asing yang sudah membantunya.


"Fikram ...." Panggil seseorang dengan lembut.


Fikram yang merasa namanya dipanggil pun menoleh.


"Kau? Siapa kau?" tanya Fikram pada seseorang di belakangnya yang ternyata seorang wanita paruh baya.


Wanita itu hanya tersenyum.


"Apa kau tak mengenaliku, Nak?"


Bersambung ....


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2