
EPISODE SEBELUMNYA
....Nadia tersenyum bahagia saat mengingat semua hal itu. Tapi di samping kebahagiaannya itu ada sesuatu yang mengintainya.
"Sssss"
Nadia tidak mengetahui bahwa di belakangnya terdapat sesuatu yang mengintainya dengan tatapan memangsa. Mata hijau besar dan suara yang mendesis tak dihiraukan oleh Nadia yang sedang melamun. Ia bersembunyi di balik kegelapan bayangan. Makhluk itu mulai mendekati Nadia perlahan.Nadia masih melamunkan hal yang sama, sementara bahaya itu semakin mendekat. Kini bahaya itu merayap di samping kaki Nadia disinari matahari sore.
Terlihatlah bentuk asli binatang itu, seekor ular bermata hijau besar, berbadan hijau agak besar, dan memiliki tanduk di kepalanya. Ular itu bersiap menggigit kaki Nadia. Ular tersebut membuka mulutnya dan mengangkat kepalanya bersiap menggigit kaki Nadia.
"Ssss...s..s" ular itu bergerak menggigit Nadia.
"Ah sebaiknya aku pergi sekarang" ucap Nadia tiba-tiba.
Tiba-tiba Nadia berdiri, gigitan ular itu meleset dan kaki Nadia secara tidak sengaja menginjak kepala ular itu. Ular itu tergencet. Nadia melangkah pergi membawa kayu bakar yang ia kumpulkan. Ular yang melihat Nadia pergi tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
"Ssss...sss.." (dasar manusia!!) marah ular itu.
"Ssss..ss" (rasakan ini!) ular itu menjulurkan ekornya dan mengikat kaki Nadia yang sedang berjalan.
"Hah?" Nadia melihat ke bawah.
Ular itu langsung menarik kaki Nadia untuk mendekat kepadanya.
"Aaaaaa!!!" teriak Nadia tertarik dan menjatuhkan semua kayu bakar yang ia pegang.
Teriakan Nadia bergema di seluruh hutan, bahkan teriakan itu sampai di telinga Rio. Rio yang mendengar suara teriakan itu pun terkejut.
"Hah!? suara teriakan siapa itu?" tanyanya pada diri sendiri.
"Apa.." kata Rio mencemaskan keadaan Nadia.
Tanpa pikir panjang ia menjatuhkan semua kayu yang ia kumpulkan dan berlari menghampiri Nadia.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
"Aaaa!!! tolong!!" teriak Nadia.
"Ssssss" (kemarilah daging segar) kata ular bertanduk itu.
Nadia semakin dekat dengan ular itu. Ular itu bersiap-siap untuk memangsa Nadia. Ia mengangkat kepalanya dan membuka mulutnya yang lebar. Ular itu melakukan gerakan seperti akan menerkam Nadia.
"Aaaaa!!!!" teriaknya memejamkan matanya.
"Hiaaaaa!!!"
Tiba-tiba Rio datang dan memukul ular itu dengan kayu.
"Hia..rasakan kau!!.." kata Rio geram.
Ular itu tak berdaya dan langsung pergi ketakutan.
"Hmm..rasakan itu" kata Rio.
Ia lalu menghampiri Nadia yang ketakutan.
"Nadia buka matamu.." pinta Rio.
__ADS_1
Nadia lalu membuka matanya perlahan. Ia melihat Rio di hadapannya.
"Hah?!..Rio!!..." Nadia langsung memeluk Rio dengan erat.
Rio kaget, ia tak menyangka kalau Nadia akan memeluknya. Suasana pun bertambah romantis dengan hembusan angin perlahan yang datang entah dari mana.
"Syukurlah kau datang Rio...ular..ular itu...ular" kata Nadia terbata-bata.
Rio tak bisa berkata-kata lagi saat Nadia memeluknya. Seakan-akan ia menjadi patung yang tak bisa berbuat apa-apa.
"Rio..Rio.." panggil Nadia.
Karena tak kunjung dapat jawaban Nadia melepas pelukannya.
"Rio..halo?" kata Nadia melambaikan tangannya di hadapan Rio yang sedang mematung.
"Rio!" tegas Nadia.
"Hah?! Iya" kaget Rio.
"Rio, dimana ular itu? apa ia sudah pergi?" tanya Nadia.
"Ya, ular itu sudah pergi." kata Rio.
"Kau yang mengusirnya?" tanyanya kembali.
"Ya...begitulah" kata Rio tersipu malu.
"Wow, kau hebat" kata Nadia memeluknya lagi.
Rio kembali tak bisa berkata-kata
Rio tersenyum "ya"
Mereka pun mengumpulkan lagi kayu yang mereka jatuhkan tadi dan kembali ke teman-teman mereka.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
"Duh mana sih Dina, lama banget deh" kata Fikram.
"Iya, Dina lama banget sih...perutku udah konser dangdut nih" keluh Manda.
"Wah berarti ada pemain gendangnya dong, hahaha" ejek Fikram.
"Ya ampun masih sempat-sempatnya kau bercanda" tegas Manda.
"😜"ejek Fikram lagi.
"Hai..." kata Manda melakukan gerakan seperti mau meninju Fikram.
Disaat yang bersamaan Dina sampai dengan membawa makanan.
"Asik makan!" kata Manda dan Fikram girang melihat Dina membawa buah yang segar.
Nadia dan Rio juga sudah datang membawa kayu bakar. Mereka pun akhirnya membuat api unggun dengan cara menggesek dua batu hingga menimbulkan percikan api.
MATAHARI PUN TENGGELAM
__ADS_1
Dan malam mulai menjelang. Mereka berlima sudah letih dan bersiap untuk tidur, sedangkan Rio berjaga.
"Adikkk!!!!" suara teriakan bergema dipikirkan Nadia.
"Hah?!" Nadia terbangun dari tidurnya.
"Teriakan itu....mimpi itu lagi..." pikirnya gelisah.
Rio yang melihat Nadia terjaga, pun menghampirinya.
"Apa kau baik-baik saja, Di?" tanya Rio.
"Ya, aku baik-baik saja." balas Nadia.
"Ya sudah tidurlah kembali," kata Rio melangkah pergi meninggalkan Nadia.
Nadia menunduk terdiam, tiba-tiba ia mendengar sesuatu.
"Sss.."
"Hah?!" Nadia terkejut.
"Suara apa itu?" Nadia lalu berdiri.
"Sss" suara itu kembali muncul.
"Rio, apa kau mendengar sesuatu?" tanya Nadia.
Rio berbalik.
"Tidak, memangnya ada apa?" kata Rio.
"Aku mendengar suara"
"Suara? suara ap-"
"Ssstt, diam" kata Nadia berjalan perlahan mengambil kayu dari api unggun.
"Siapa disana?" Tanya Nadia menghadapkan obornya ke arah hutan.
"Sss.."
"Kau dengar itu"
"Ya, sekarang aku mendengarnya" kata Rio.
"Pasti ada sesuatu disana.." kata Nadia.
Nadia lalu melangkah perlahan menuju sumber suara, ia maju perlahan.
KRESEK...KRESEK..
Bunyi semak-semak.
Nadia keheranan, "Hmm??"
Tiba tiba muncul Mata hijau menyala. Nadia kaget dan langsung mundur, mata hijau itu bermunculan di kegelapan dan semakin banyak.
__ADS_1
"Ssss!!"
Bersambung...