Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Bertukar Tubuh


__ADS_3

EPISODE SEBLUMNYA


Sontak ia menjadi pusat perhatian, ia pun menelan salivanya dengan susah payah.


GLUP!


"Hai, wahai Yang Terpilih," kata salah satu dari mereka yang berwujud laki-laki tua, berkumis putih tebal, serta memakai jubah aneh.


Nadia menyadarkan dirinya. "Ibu Albert apa hubunganmu dengannya?" tanyanya serius.


"Bukankah kau pernah melihat lambang kerajaan Resyam di tangannya?" kata Ibu Albert mengingatkan Nadia.


"Aaah, benar juga."


Tiba-tiba ada yang mencolek bahu Nadia, ia pun menoleh.


"Mimpi indah, Sob! Hehehe!"


 ----------------


CTAKK!


"Haagh! Yang benar saja, dari tadi tidak ada dari kita yang mengenai sasaran itu!" kesal Dina.


Gamma hanya memutar bola matanya malas, ia tidak berniat sedikitpun untuk merespon rekannya. Ia berjalan ke arah sasaran lalu mengambil biji karetnya.


Sementara Dina menggurutu, tak lama netranya melihat tanah berlumpur yang kotor dan penuh lumpur pastinya. Ia pun membungkuk, mengambil lumpur itu dan membuatnya menjadi bulatan yang cukup besar.


"Haaa, dasar sasaran payah!"


SYUTT!


Dina melemparkan bola-bola itu.


PLUK!


"Ups...."


Gamma menatap datar Dina. Wajahnya dipenuhi lumpur saat ini. Dina yang melihat itu menahan tertawanya. Namun ia tidak kuat, hingga tawanya pun pecah.


"B-b-buahahaha! Kau-kau ... buahahahahaha!" ia tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Gamma.


Gamma masih menatap Dina datar, ia langsung pergi melewati gadis berjaket itu tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Hei-hei, maafkan aku, tolong, pffft," Dina mengusap matanya yang tiba-tiba saja berair karena tertawa.


Tap... tap....


"Hei, Slow! Maaf, pffft."


Gamma terus berjalan ke depan. Tujuannya adalah kolam yang jernih di depannya, ia akan membersihkan wajahnya di kolam tersebut.


SPLASHH!


"Hei ayolah, jangan ngambek dong. Maafkan aku ya," bujuk Dina.

__ADS_1


Seusai membersihkan wajahnya ia pun berbalik karena merasa ada keseriusan dalam ucapan gadis itu.


"Kau serius mau minta maaf?" tanya Gamma.


"Tentu saja," usaha menahan tawa terlihat jelas di wajahnya. "pfffttt... b-BUAHAHA!" saat melihat wajah Gamma, Dina tidak bisa menahan tawanya lagi.


Gamma menatapnya lebih datar, memutar bola matanya kesal lalu meninggalkannya.


"Maaf, hey maaf pffft," Dina menyusul Gamma.


DUKK!


Dina malah menabrak sesuatu, ia memegangi dahinya yang sakit. Rupanya yang ia tabrak adalah punggung Gamma yang diam mematung sambil melihat sesuatu di depan. Dina menilik apa yang lelaki itu lihat. Terlihat seseorang sedang bermain di hamparan bunga yang luas.


"Siapa dia?" bingung Dina. "Emm, seperti Nadia," terkanya.


"Benarkah? Tapi sepertinya itu memang dia," Gamma pun menghampiri seseorang yang mereka yakini Nadia itu.


"Di, sedang apa kau disini?" tanya Gamma.


Melihat ada bayangan, sosok itu pun berbalik.


"Oh, tidak ada. Aku hanya menunggu kedatanganmu saja kok," Dengan memakai makhkota bunga yang ia buat sendiri, ia tersenyum manis pada lawan bicaranya itu.


Gadis berkuncir kuda itu berhasil membuat pipi Gamma sedikit merona, iapun membeku seketika.


"Nah ini aku membuatkanmu mahkota juga," ia bangkit. "Aku pakaikan ya~" ia menaruh mahkota itu diatas kepala Gamma.


Gamma masih membeku.


"Kenapa? Apa kau tidak suka?" Nadia sedikit cemberut.


Dina yang memerhatikan dari kejauhan tidak ingin berkomentar apa-apa, ia pun langsung melangkah pergi.


 ----------------


"Hmm, seharusnya ini cukup sih," Rio menghitung daun-daun semanggi yang ia petik beberapa saat lalu. "Hihi, aku juga membawakannya bunga, kira-kira Nadia suka atau tidak ya," gumamnya melihat bunga oranye yang memiliki enam kelopak itu.


"Di, aku tidak menemukan wadah untuk menampung air jadi kita minum pakai ini-"


Betapa bingungnya ia melihat rekannya itu sudah tidak ada di tempat terakhir mereka bertemu. Rio pun celingukan mencari-cari keberadaan sahabatnya.


"Di, Nadia!" ia memanggil-manggil namanya. "Hemm, dia kemana sih?"


Tak lama kemudian ia bertemu dengan Dina yang berjalan dengan tatapan redup. Ia pun bertanya padanya.


"Dina, kau di sini? Lagi istirahat latihan juga ya, lihat Nadia ngga? Tadi aku membawakannya minum tapi eh, dia malah-"


"Dia di sana," dina menunjuk ke sebuah arah. "Yah jiwa tuan putrinya sedang bersama sang pangeran hutan yang SANGAT JELEK!" ketus Dina menekankan kata 'sangat jelek' lalu pergi.


Rio pun kebingungan, "Hah?"


Ia pun segera menuju ke arah yang ditunjukan Dina. Betapa terkejutnya ia saat melihat pemandangan pahit di hadapannya. Nadia dan Gamma memakai mahkota bunga dan saling melempar tawa.


"Dasar Burung Beo," gumam Rio kesal.

__ADS_1


Tiba-tiba Nadia melihat Rio, ia pun menyapanya, "Hai Rio!"


Gamma pun berbalik melihat sosok yang dipanggil Nadia.


Rio terkesiap."Oh, ya hai," ia menjawab Nadia.


"Krucil? Sedang apa kau di sit-" belum selesai dengan dialognya, mendadak Nadia menarik tangannya.


"Sayang, lihat bunga teratainya indah, ayo kesana."


"Sa-sa-sayang!" kata 'sayang' itu membuat pipi Gamma merona.


Rio hanya bisa menatap mereka pergi. "Nadia, Gamma...," ia mengepalkan tangannya, bunga itu pun terlumat tidak berbentuk. 


 ----------------


"Apa yang!"


Seseorang berkulit pucat terbangun dari tidurnya. Mamakai kemeja putih yang dibalut dengan jubah hitam merah dan dipadukan pula dengan celana yang senada. Ia melihat ke sekeliling, hanya pepohonan dan rumput-rumput hijau yang terlihat sepanjang mata memandang.


"Di mana aku?" ia mengelus tenguknya. "Tunggu sebentar," Merasakan ada kejanggalan di daerah rambut, ia meraba lebih teliti di daerah rambutnya.


"Loh, loh!? Rambut, sejak kapan rambutku jadi pendek begini!" ia lalu melihat kedua tangannya yang kini menjadi besar dan kokoh.


"Apa ini!? kenapa fisikku juga berubah!" ia meraba ke bagian wajah, di sana ia menemukan kejanggalan lainnya. "Taring! Aku punya taring!?" ya kejanggalan pada fisiknya yang lain ada pada daerah gigi.


"Kenapa? Apa yang terjadi pada diriku!" ia panik. "Ok-ok tenang," ia menenangkan diri. "terakhir kali yang aku ingat ...," ia pun mengingat kejadian ia melihat Ibu Albert bersama orang yang sangat ia kenali.


"IBU ALBERT! Ya dia harus menjelaskan semua ini! Aku harus menemuinya!" ia bangkit. "Tunggu, aku disini sendirian? TIIDAKKK!"


~Kemudian~


"Hufff, baiklah aku harus menemukan tempat teman-temanku bersinggah. Hari sudah mau malam saja sih, haah cepat sekali rasanya," katanya melihat matahari sudah akan beristirahat.


Guratan senja dan angin yang bertiup serta dedauan yang melambai-lambai menjadi teman perjalanannya. Lama ia berjalan menyusuri hutan untuk menemukan tempat ia dan teman-temannya bersinggah. Namun, tiba-tiba ia berhenti, merasakan ada bau sedap yang menggoda indra penciumannya.


"Bau apa ini? Aromanya enak sekali," ia pun mengikuti bau itu.


Tap... Tap....


Sampailah ia pada sumber bau. Ia melihat ke arah bawah, matanya melebar seketika. Apa yang ia lihat?


"Bangkai!"


Seekor hewan berukuran sedang tergeletak tak berdaya dengan bercucuran banyak darah. Agaknya hewan ini baru saja menemui ajalnya.


"Kenapa bau sedap itu dari bangkai ini?" bingungnya. "Ugh, lebih baik aku pergi saja. Ini membuang waktuku," ia hendak pergi namun aroma sedap kembali menarik hidungnya emm, maksudnya tubuhnya untuk kembali ke bangkai itu.


"Hemm, bau ini, ah tidak-tidak ini hanya bangkai bau yang berlumur darah, tapi darah yang segar," ia jadi kalap ketika mendengar kata 'darah' terucap dari bibirnya.


Ia menelan salivanya, air liurnya menetes ketika melihat darah segar mengalir deras dari bangkai itu. Tanpa basa-basi lagi, ia segera mendekati bangkai itu dan melahap habis cairan merah tersebut.


~Beberapa saat kemudian~


"Ahh, darah yang segar dan manis," ia mengelap sisa darah di bibirnya. Sadar apa yang baru saja ia lakukan ia pun membulatkan mata, "Haaa! Apa yang baru saja kulakukan! Apa aku meminum darah? Darah bangkai itu! Hoekk! Hoekkkkk!" ia seakan ingin muntah.

__ADS_1


"SIAPAPUN TOLONG AKU!"


Bersambung ....


__ADS_2