
EPISODE SEBELUMNYA
"Adik?" bingungku mendongak dan menatap lekat wanita itu.
POV Fikram End.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
~Dalam Labirin~
Drup ... drup ... drup ....
Seketika obor-obor mulai menyala. Sama dengan obor yang menyala untuk Fikram, obor ini juga terbuat dari air biru.
Melihat ada sedikit kejanggalan Nadia dan Rio mengamati sekeliling. Sayu-sayu redup, berdinding bata kuning keemasan yang tidak terlalu jelas, dan banyak berjejer obor berukir duyung di bagian atasnya.
"Berhenti!" ucap Nadia tiba-tiba.
Cittt ....
Mereka berhenti sesuai arahan Nadia.
"Ada apa, Di?" tanya Gamma.
"Apa ada sesuatu?" Manda sudah mulai ketakutan.
"Ada apa sih? Sosok itu keburu lari, tuh!" kata Dina.
"Apa kalian tidak merasa ada yang ganjil?" tanya Nadia.
"Ganjil? Ganjil apa?" tanya Gamma.
Gamma, Dina, dan Manda tidak mengerti apa yang dimaksudnya Nadia.
"Hem?" Dina dan Manda saling bertukar pandang.
"Heem?" kali ini Dina dan Gamma yang saling melempar pandang.
"Astaga! Mata suciku! Pergi kau, Penyihir!" pekik Gamma langsung menutup matanya.
"Penyihir!" Dina mendengus kesal.
Dina pun langsung melepas paksa tangan Gamma yang menutup matanya.
"Hah!" Gamma tersentak kaget.
"Hemm! Siapa! Siapa yang lu panggil penyihir!" Dina menatap tajam Gamma.
Sontak Gamma agak menjauh. Namun, mendadak terbesit akal jahil di pikirannya.
"Aku? Siapa yang aku bilang penyihir?" ucapnya mulai membalas tatapan Dina.
Dina pun terkejut dengan sikap Gamma yang membuatnya terpojok.
"Kau ingin tahu siapa yang aku bilang penyihir?" tanya Gamma semakin mendekat.
Sehingga jarak antara Gamma dan Dina hanya tinggal beberapa inci.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Dina bertedak semakin cepat dan tak karuan.
"Kenapa? Kenapa ini? Jantungku!" batinnya. "Apa? Apa yang akan dia lakukan? Apakah ...." Dina membayangkan yang tidak-tidak.
Gamma semakin membuat Dina terpojok dan mengikis jarak di antara keduanya. Dina yang semakin terpojok hanya memejamkan matanya. Gamma mendekat ke arah telinga Dina.
"ELU!" pekik Gamma tepat di telinga Dina.
Sontak hal itu membuat Dina terkejut bukan main. Gamma pun segera menarik tubuhnya menjauh dari Dina.
Ngung! Ngung! Ngung!
Gendang telinga berharga Dina seakan pecah.
"Pfffft ... udah tau itu lo! Pake nanya lagi!" ujar Gamma tertawa terpingkal-pingkal.
"Duh! Kejam banget sih! Kalau teriak kaga usah di kuping, napa?!" kesal Dina memegangi telinganya kirinya.
"Hahahaha! Astaga ngga nyangka gue, itu berhasil juga ternyata! Ampe nangis gue, nih" ujar Gamma mengusap air mata penuh kemenangannya itu.
"Dasar!" gusar Dina melipat tangannya.
"Tapi elu tadi ngapain nutup mata?" tanya Gamma.
__ADS_1
"Nutup mata? Kapan? Ngga tuh, gue ngga nutup mata," elak Dina.
"Hemm, beneran? Jelas-jelas tadi gue liat lu nutup mata," ujar Gamma.
"Bene-"
Belum selesai mengelak, mendadak Manda menyela.
"Jia! Jangan-jangan lu mikirin apaan lagi, hayo ngaku," ejek Manda menyenggol bahu Dina.
"Serius?" tanya Gamma.
"Ih, eng ... eng ... engga kok, siapa yang bilang?" ujar Dina memalingkan wajahnya.
"hayoloh ngaku," goda Gamma.
"Dah ngaku aja, Din" timpal Manda.
Muncullah sesuatu ide jahil antara Gamma dan Manda.
"Ngaku!"
"Ngaku!"
"Ngaku! Ngaku!" sorak mereka meneriaki Dina.
"DIAM!" gertak Dina.
Gamma dan Manda berhenti sejenak.
Namun rupanya gertakan Dina tidak berpengaruh pada mereka.
"Ngaku! Ngaku!" ejek mereka lagi.
Dina hanya kesal dan mengepalkan tangannya. Bahkan wajahnya sampai memerah seperti kepiting rebus.
"Ngaku! Ngaku!" kompak mereka.
Tiba-tiba salah satu sudut lorong terlihat sebuah bayangan melintas.
"Hey! Itu ada bayangan!" seru Rio.
Manda dan Gamma pun berhenti menyoraki Dina dan menyimak.
Mereka pun mengangguk. Akhirnya keenam manusia itu bergerak mengejar bayangan yang mereka yakini sebagai sosok misterius tadi.
"Hehe, selamat bersenang-senang para yang terpilih." Sebuah senyuman licik terukir di wajah seseorang di belakang mereka.
...\~\~\~\~\~\~\~\~...
Tap ... tap ... tap ....
"Siapa kau! Lancang sekali kau langsung masuk kemari tanpa izin!" pekik Rendi menondongkan pisau andalannya ke arah seseorang.
"Turunkan senjata tidak bergunamu itu sekarang juga," ujar gadis memakai kaos hitam ketat, celana panjang ketat namun tegas, di pinggangnya terdapat kantung-kantung yang berisi benda-benda tajam seperti belati.
"Siapa kau berani menyuruhku!" ujar Rendi masih menodongkan senjatanya.
"Jangan memaksaku, gadis payah!" cercanya pada Rendi.
"Gadis? A ... a ... aku bukan gadis!" bantah Rendi.
"Turunkan senjatamu, Ren" ujar wanita cantik berdiri di singgasana megahnya, dan memakai sebuah mahkota emas bermata kristal biru.
"Hemmh!" dengan berat hati Rendi menurunkan pisaunya.
"Ratu ... Ratu ... tunjukkan saja wujud asli kalian, tidak perlu lagi kau berbohong di depanku" ujar gadis itu.
"Kau memang pintar, pantas saja Raja mengutusmu menjadi mata-mata, wah! Wah!" ujar wanita yang mereka panggil 'Ratu' itu.
Clik!
Ratu itu menjentikkan dua jarinya. Seketika, ruangan singgasana Sang Ratu berubah menjadi pilar-pilar tinggi tanpa atap dan dinding. Sekeliling mereka berlatar air biru kehijauan dengan beberapa ikan yang berenang kesana-kemari.
Ratu yang cantik, mulus, dan berpakaian rapi berubah menjadi wanita menyeramkan dengan ekor hitam, serta gigi-gigi tajam berbaris rapi di mulutnya. Mahkotanya berganti menjadi mahkota hitam legam dengan duri-duri runcing yang menghiasi seluruh permukaan mahkota.
Rendi berubah menjadi seorang gadis dengan rambut tergerai mengenakan pakaian armor perak lengkap dan bersenjatakan pisau kebanggaannya.
"Hemh, kau belum menunjukan wujud aslimu sepenuhnya, Panglima" cerca gadis itu.
"Heeh! Kau ini!" kesal Rendi.
"Ada apa kau datang kemari?" tanya Ratu.
__ADS_1
"Oh, tidak ada. Hanya saja aku ingin memberitahu sekaligus memperingatkanmu sesuatu, Ratuku" jawab gadis itu.
"Memperingatkan? Memperingatkan apa?" tanya Ratu kembali.
"Hehehe, mungkin kau sudah tau tentang ini, Ratuku ...." Seringainya.
\~\~\~\~\~\~\~\~
Tap ... tap ... tap ....
Cittt!
"Kemana bayangan itu pergi?" Ucap Manda memegangi bagian perutnya.
"Cepat sekali perginya," Dina menyahuti.
"Emm, teman-teman. Sebenarnya kalian sadar ngga sih kita dimana?" ujar Nadia
"Memangnya kit ... ta dimana ...." kata Dina melirih melihat sekelilingnya.
"Oh tidak! Dimana kita sekarang! Dimana! Dimana!" Manda panik.
"Ini pasti karena kita terlalu fokus mengejar sosok aneh tadi," kata Gamma.
"Astaga! Ingat terakhir kali kita berada di tempat aneh dan asing," kata Manda.
"Ya, kita berhadapan dengan Si Monster Jelek dua kali! DUA KALI!" tekan Dina dengan mengacungkan tangannya membentuk huruf V.
"Ya, dan perasaanku sekarang tidak enak," kata Manda.
HIHIHIHIHI! Wushh ....
Tiba-tiba ada sesuatu melesat dengan cepat melewati mereka dan memadamkan obor-obor air yang menjadi satu-satunya alat penerangan mereka. Kini labirin itu menjadi gelap gulita.
"Siapa! Siapa itu?" ujar Manda bersikap waspada.
HIHIHIHIHI!
Sesuatu itu kembali melesat.
"Hey! Siapa itu! Tunjukkan wujudmu!" tantang Dina.
Mereka pun merapat dan berposisi siaga, saling membelakangi membentuk lingkaran.
HIHIHIHIHI!
"Menunjukan wujud?" terdengar suara tetapi tidak tampak wujudnya. "Baiklah, HIHIHIHI!" sambungnya.
"Kenapa dari suara tawanya mengingatkanku akan seseorang ya?" ujar Manda.
"Kurasa kita menyebutnya bukan seseorang," timpal Dina.
HIHIHIHI!
"Apa kalian berpikir apa yang aku pikirkan?" tanya Manda merinding.
"Mungkinkah itu ...." pikir mereka
"Burung walet?" Gamma bersuara.
GUBRAK!
"Haduh! Mana ada burung walet bisa ngomong begitu!" kesal Manda.
"Ya, kan benda melesat cepat apalagi kalau bukan burung walet. Dan soal suara, siapa tahu saja dia les vokal jadi bisa bersuara begitu," kata Gamma memajukan bibirnya ke depan.
"Heh! Tidak mungkin ada burung mengikuti les seperitu!" kesal Dina.
"Mungkin saja ada les vokal dalam dunia perburungan," balas Gamma.
"Hiiih!" gemas Dina.
HIHIHIHI!
Suara perempuan misterius itu kembali menggema.
"Tawa nyaring khas dan bisa terbang melesat cepat, kalau di dunia kita biasanya disebut ...." kata Manda berpikir.
"Jangan-jangan ...."
"AUNTY KUNTI!" ujar mereka serempak.
Bersambung ....
__ADS_1