
EPISODE SEBELUMNYA
Kwanggg!
"Manda!"
"Aw, tolong! Pergi kau!" Manda jatuh ke tanah, ia melindungi wajahnya dari patukan dan cakaran burung elang itu menggunakan kedua tangannya.
Fikram menambah kecepatan berlarinya.
***! ***!
"Pergi kau!"
Elang itu terus berusaha mengoyak Manda hidup-hidup.
"Pergi kau, jangan ganggu dia!" Fikram telah sampai, ia menarik sayap burung itu menjauh dari Manda.
Manda membuka kedua tangannya dari wajahnya, ia melihat Fikram tengah bergelut dengan seekor elang.
"Berani sekali kau!"
Satu bogem mentah berhasil Fikram daratkan di kepala hewan bersayap itu.
KWAKK!
Burung itu membuka paruhnya lebar-lebar, merasa marah dan terancam. Fikram mengunci pergerakannya dengan menahan sayap si elang menempel sangat menempel di tanah.
"Kau masih menunjukan wajah garang mu itu! Kenapa kau tidak melepaskannya saja, hah! Apa kau tidak melihat dia sedang kelelahan" dengan marahnya, ia meninju kepala elang itu lagi.
Elang yang hanya menuruti instingnya dalam berburu kini di pukuli bak seorang berandalan yang telah berani melukai Manda. Fikram sepertinya tidak membiarkan elang itu bernapas meski satu detik saja, ia tidak memberi pengampunan.
Terkapar!
Sang elang tidak bergerak lagi, ia tampak mengenaskan dengan darah yang mengotori bulu lehernya. Fikram menghentikan aksi pukul-memukulnya yang brutal.
"Apa dia mati?" merasa si elang tak kunjung bernapas apalagi bergerak, ia bangkit dari mengukung elang itu.
Fikram terkejut, ya elang itu sudah mati. Ia memandang kedua tangannya yang penuh bercak darah. Ia mendongak, tatapannya mendadak kosong.
"Fikram!" Manda menghampiri Fikram.
GREP!
Ia langsung memeluk Fikram erat. Badan Fikram agak terkhuyung, namun tatapannya tetap kosong.
"Huhu, terimakasih kau menolongku," Manda terharu.
"Ak-aku membunuhnya?" pikir Fikram tak percaya.
"Hiaaa!"
"JLEB!"
Bayangan akan dirinya menghabisi Ibu sekaligus adiknya kembali muncul di memori Fikram. Sementara Manda, merasa dirinya tak kunjung direspon, Manda mendongak.
"Fiki?"
"Aku membunuhnya," kata Fikram dengan tatapan kosong, tanpa air mata mengalir disalah satu matanya.
"Apa? Membunuh apa? Siapa? Kenapa kau menangis?" Manda tak mengerti.
"Hah!" ia tersadar Manda memeluknya, cepat-cepat ia mendorong Manda menjauh darinya.
Manda tercengang, kini Fikram menunduk dengan raut wajah yang terlihat gelisah.
"Ada apa Fik-"
"Jangan mendekat, tetap di situ!" tegas Fikram, ia mencoba menenangkan pikirannya.
Raut senang Manda kini luntur, ada rasa kecewa di hatinya.
"Manda!" Nadia dan yang lainnya menghampiri mereka.
"Kau tak apa-apa?" tanya Nadia.
"Hemm, iya aku baik-baik saja," jawab Manda sedikit tersenyum.
"Hey, kenapa dengan elang ini? Apa dia mati? Fikram, kau yang melakukan ini?" Dina mentoel-toel jasad elang itu.
"Ada apa denganmu?" tanya Rainny menepuk bahunya.
"Hmm!" Ia menghapus kasar air matanya lalu mendongak. "Tidak, tidak ada apa-apa," bohongnya tersenyum kikuk.
"Ada apa dengan Fikram?" batin Manda memerhatikan Fikram.
Blur!
Tak ada angin tak ada hujan, jasad elang itu mendadak melebur menjadi butiran pasir dengan sendirinya.
"Wow, kalian lihat itu? Apa ini!" Dina tampak bersemangat.
__ADS_1
"Elang itu terbuat dari pasir?" asumsi Rio.
Mereka saling bertukar pandang.
Kwangg!
Oh, benar. Elang, masih tersisa dua elang yang mengincar mereka. Dua elang melesat, mengunci tatapan pada segerombol makhluk hidup yang sangat lezat di mata mereka.
"Awas!" peringkat Ibu Albert.
Beruntung mereka masih bisa menghindari sambaran elang itu.
"Kita pikirkan itu nanti, sekarang kita selamatkan diri kita dulu!" Gamma bergerak menarik Nadia untuk berlari lagi, namun Rio mencegat.
"Tunggu," ia menatap Gamma intens.
Mereka saling menatap tajam. Rio melepas paksa cekalan Gamma pada Nadia. Kemudian berganti memegang tangan Nadia.
"Ayo!" ia menarik Nadia berlari melewati Gamma begitu saja.
"Apa ini artinya dia sudah percaya aku Nadia yang sebenarnya," menatap punggung Rio, tanpa sadar lengkungan tercipta di sudut bibirnya.
"Cis, Krucil!" geram Gamma menyusul mereka.
Ibu Albert mengekori, begitu pula dengan Fikram dan Rainny yang menyusul mereka bersama. Manda yang melihat itu terpaku, bagaimana dan kenapa sikap Fikram mendadak berubah padanya.
"Manda, ayo! Aku tidak mau menarikmu ya," ucap Dina membuyarkan lamunan Manda.
"Iya-iya!" balas Manda ketus.
Mereka pun menyambung berlari, menyelamatkan diri dari elang itu.
----------------
"Kita tidak bisa terus berlari seperti ini!" kata Nadia.
"Kita perlu tempat bersembunyi!" timpal Rio.
"Tapi di mana?" tanya Dina.
Ibu Albert tampak berpikir, pas sekali! Netranya melihat ada sebuah bebatuan memanjang membentuk sebuah pembatas dengan menyisakan sebuah jalur di tengahnya. Ibu Albert langsung menunjuk ke arah area tersebut.
"Kesitu, cepat!" Mereka menurut.
Kwangg!
Dua elang itu semakin mendekat. Sepertinya, mereka marah dengan kematian teman sebangsanya tadi.
Mereka melewati perbatasan itu secara serentak serta kompak.
Kwangg!
"Apa mereka masih mengejar? Aku benar-benar lelah!" gerutu Manda.
Tidak lagi terdengar lengkingan elang yang khas, tidak ada lagi bayangan formasi burung yang berputar-putar bak mengitari matahari yang terik. Apakah ini artinya burung karnivora itu tidak mengikuti mereka lagi?.
Dina memutar tubuhnya, berlari dengan posisi mundur.
"Berita baik, dia tidak mengikuti lagi," katanya.
"Sombong banget lu, lari gaya begitu, jatuh aja baru tau rasa lu," kata Gamma sinis.
"Dih sirik, bilang aja ngga bisa, wlee" menjulurkan lidahnya mengejek.
"Serah lu dah," balas Gamma malas. "Penyihir," lirihnya.
"Bagus deh, kita bisa berhenti kan sekarang," kata Manda langsung menghentikan larinya, dan mengatur napasnya.
Sama halnya dengan Manda, ketujuh temannya ikut berhenti mengumpulkan tenaganya yang terkuras.
"Hausnya… apa ada yang bawa minum?" tanya Manda.
"Aku yakin tidak dari kita satu pun," Tebak Dina.
"Ya, tepat sekali," kata Ibu Albert.
Mereka semua menghela napas panjang.
KRETAK!
Spontan, semua atensi mereka menuju ke sumber suara. Terlihat seseorang dengan pose memindik membeku seketika karena ketahuan. Mereka semua mematung, mengerjapkan mata, dan termangu. Sosok tersebut memakai baju serba hitam dengan jubah dan tudung, serta memakai seperti masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Tampak, ia membawa sebuah benda seperti buku kuno berwarna merah marun. Apakah itu buku Resyana? Hemm.
Kedip ... kedip ….
Masih dalam momen patung-mematung.
Kedip … kedip .…
"Mau berapa lama kita Mannequin Chalenges begini?" kata Dina membuka suara.
Tantangan Maneken, atau dikenal juga sebagai Mannequin Challenge, merupakan salah satu tantangan yang bersifat hiburan dan pernah menjadi tren di media sosial pada masanya. Tantangan ini menampilkan sekelompok orang yang ditantang untuk bergaya mematung layaknya maneken dengan iringan musik tertentu selama video direkam.
__ADS_1
^^^Sumber: id.m.wikipedia.org^^^
"Mohon segera diakhiri, badan saya sudah mulai pegel ini," kata Manda.
"Haduh!" Nadia mengakhiri pose mematungnya, diikuti oleh teman-temannya yang lain termasuk si pencuri. "Kejar-kejaran aja yuk, gimana?"
"Main polisi pencuri aja, kan sama tuh kejar-kejaran tapi lebih jelas siapa yang dikejar dan yang ditangkep," jelas Manda.
Permainan polisi pencuri merupakan permainan yang author kenal di sekolah dasar sebagai permainan dengan cara bermain; menentukan polisi dan pencurinya, kemudian polisi akan mengejar pencuri, sampai akhirnya dia tertangkap. Tapi ngga di masukin sel loh ya, ini cuma permainan belaka, xixi.
"Setuju," balas Rio.
"Mbaknya– eh ini mbak apa mas, ya?" tanya Fikram pada pencuri itu.
"Terserah kalian aja. Ok, gimana nih mulainya?" jawabnya.
"Kita harus nentuin siapa polisi siapa pencuri ya… kita suit aja gimana?" usul Nadia.
"Kita kan banyak, Di. Batu kertas gunting aja," usul Dina.
"Lah kok," Manda bingung, dia berpikir permainan batu kertas gunting hanya bisa dimainkan oleh dua orang sama halnya dengan suit.
"Ok boleh, yuk semua merapat," ujar Nadia.
"Kamu setuju, Di? Tapi kan itu…," heran Manda.
"Orang ber-IQ tinggi emang beda ya," cibir Dina.
"Heh, apa maksudmu," tegur Manda merasa Dina menyindirnya.
Mereka merapat, permainan dimulai.
"Ibu Albert, kau tidak ikut?" tanya Rio.
Ibu Albert menyenderkan badanya pada sebuah bangkai pohon, serta melipat tangannya dengan menjawab, "Tidak, terimakasih," ucapnya.
"Baiklah, terserah kau saja, Ibu" balas Gamma.
"Sepertinya kesehatan otak mereka terganggu karena panas ini. Kasihan… ckckck." Batin Ibu Albert, menunduk menggelengkan kepala.
"Sebelumnya, ada yang belum tahu cara bermain permainan ini? Perlu diterangkan?" tanya Nadia memastikan.
Gamma dengan cepat mengacungkan jari telunjuknya, "Aku."
"Kau tidak tahu?" kaget Dina sedikit meremehkan.
"Apa? Jangan heran kalau aku tidak tahu, di sini tidak ada namanya permainan batu gunting gertas atau apalah itu," jelas Gamma.
"Kuno," gumam Dina mengejek, tentunya masih terdengar jelas di telinga Gamma.
"Apa kau bilang!"
"Sudah-sudah, Nadia lanjut saja," lerai Rio.
"Baiklah. Cara bermainnya sangat mudah, bentuk jari-jemari kalian menjadi bentuk batu, gunting, atau kertas," sambil memeragakan. "karena ini di sambung permainan polisi pencuri, barang siapa yang bentuk jarinya sama itu jadi polisi nah sisanya jadi pencuri, bagaimana? Paham?" Jelas Nadia.
Mereka mengangguk.
Dimulai!
Batu… kertas… gunting!
Gunting!
Jeng! Jeng!
Hasilnya kelihatan dengan jelas, mereka serempak menampilkan bentuk dari tangan mereka. Hasilnya; 5 batu, 1 gunting, dan 1 kertas.
"Yey, aku jadi pencuri. Kita satu geng, mba atau masnya," dia kegirangan menghadap ke pencuri itu dan menggenggamnya seraya lompat-lompat kecil.
"Keliatannya seneng banget kamu jadi pencuri," kata Gamma.
"Biarin, aku kan sangat bersemangat," jawab Manda.
Ibu Albert merubah posisi menyendernya menjadi posisi berdiri tegak. Ia tidak ikut bermain karena merasa ini semua konyol.
"Di depan mata kalian itu ada pencuri beneran loh, ngga mau diambil itu buku Resyananya," kata Ibu Albert, mereka menoleh ke arahnya.
Atensi mereka yang semula menatap Ibu Albert kini kembali menatap ke pencuri itu.
Kedip … kedip …
"Kalian tidak akan bisa menangkapku!" Dia langsung lari begitu saja.
"KEJAR!" Nadia bersemangat, ia langsung memasuki mode mengejar.
"Eh, dimulai ya. T-tunggu aku teman pencuriku," dia menyusul berlari.
Mereka semua berlari menembus hawa panas yang menyengat, memulai aksi kejar-kejaran dengan pencuri yang sama.
Bersambung ….
__ADS_1