
EPISODE SEBELUMNYA...
"Ikan Payara?" kompak Rio, Nadia, dan Dina yang tidak tahu dengan maksud ucapan Ibu Albert tadi.
"Iya, ikan Payara langka (Payara Caeruleus Poison), darahnya mengandung banyak racun yang sangat mematikan. Bahkan, saking banyaknya racun itu di dalam darahnya, darah dari ikan Payara jadi biru kehitaman" ucap Ibu Albert.
"Tapi tadi aku lihat darahnya seperti darah ikan pada umumnya yaitu berwarna merah" kata Rio.
"Iya, itu awalnya merah, tetapi apabila darahnya terkena suatu zat maka warna merah itu akan berubah menjadi biru legam yang akan memunculkan warna asli dari darah si ikan Paraya itu" jelas Ibu Albert.
"Lalu apa yang membuat darah ini berbahaya?" tanya Dina.
"Darah ikan ini bisa membuat seluruh makhluk hidup mati hanya dengan setetes darah ini.." jawab Ibu Albert. "Ikan Paraya langka ini hanya ditemukan satu di dunia ini yaitu cuman ada di Negeri Resyam, tepatnya di sungai yang airnya berasal dari Danau Kelam.." tambahnya
"Jadi tadi satu-satunya?" tanya Dina.
"Ya betul, ikan tadi itu satu-satunya ikan Paraya langka yang masih hidup.." kata Ibu Albert.
"Lalu kalau dia mati, ikan Paraya langka punah dong" kata Rio.
"Tentu saja tidak..dia akan berkembang biak lagi" kata Ibu Albert.
"Hah?? bagaimana dia bisa berkembang secara dia satu-satunya, so pasti dia tidak akan dibuahi dong" kata Rio.
"Iya, jadi bagaimana dia bisa bertelur?" tanya Dina.
"Tentu saja bisa, cara pengembangbiakannya sama seperti komodo (partenogenesis) yang tidak perlu di buahi lawan jenis.." kata Ibu Albert.
"Lah itu kalau cewe ya bisa-bisa aja mengandung, lah kalau jantan bagaimana?" tanya Rio lagi.
"Iya, kalaupun dia bertelur, telur ikan pasti banyak dong, terus bagaimana dia bisa langka dan cuma satu-satunya? saudaranya itu pada kemana?" tanya Dina.
"Ikan Paraya langka sudah bisa dipastikan adalah betina, karena mereka para induk akan memakan setiap anak lelaki mereka dan menyisahkan anak perempuan mereka saja" kata Ibu Albert.
"Lalu..anak perempuannya pasti banyak dong" kata Dina.
"Nah, sayangnya sebagian besar anak ikan Paraya langka adalah jantan dan menyisahkan satu bayi ikan Paraya perempuan. Jadi, ya begitulah kenapa bisa dipastikan bahwa ikan Paraya langka itu betina dan satu-satunya" kata Ibu Albert.
"Oh, tega sekali induknya, kenapa dia melakukan hal itu?" kata Dina.
"Apakah ini efek dari tiadanya sang Pelindung, Ibu?" tanya Gamma.
Ibu Albert mengangguk pelan.
"Iya dulu sang Pelindunglah yang mengatur segala keseimbangan ekosistem di negeri ini, tapi semenjak dia tiada..hufft..ekosistem di seluruh Negeri Resyam termasuk di Danau Kelam ini pun berubah" kata Ibu Albert.
"Emm..sedihnya" kata ketiga sahabat itu.
"Tapi untuk apa Ibu Albert memerlukan taring ikan Paraya langka itu?" tanya Nadia.
"Oh, ini..hampir saja lupa" ujar Ibu Albert beranjak duduk di salah satu batu besar tepi sungai.
Ia lalu mengambil sebuah kulit kayu dengan cairan keemasan di atasnya, dari dalam tasnya itu. Lalu ia mengalirkan cairan keemasan itu ke atas taring ikan yang ia ambil tadi.
Tes..
Seketika taring itu melebur menjadi debu berwarna putih yang melayang-melayang di udara. Bersamaan dengan itu, cairan kental keemasan yang tadinya berada di atas kulit kayu itu juga ikut melebur menjadi debu berwarna emas. Kemudian debu itu seakan bercampur satu sama lain, dan kemudian jatuh di atas kulit kayu yang digunakan Ibu Albert sebagai alas cairan kental tadi.
"Wow, apa itu tadi?" takjub Dina.
"Emm..ada yang bisa jelaskan" kata Rio.
"Akan aku jelaskan nanti, sebelum itu terima ini" kata Ibu Albert yang sudah di depan mereka.
__ADS_1
Entah sejak kapan ia beranjak dari tempat dudknya itu. Ibu Albert pun mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya dan membaginya.
"Nah sudah terbagi semua kan?" ucap Ibu Albert memundurkan posisi tubuhnya, menjauhkan dari posisi mereka.
Tampaklah mereka kebingungan dan membolak-balikan sebuah alat yang ada di tangan mereka masing-masing.
"Apa ini?" tanya mereka kompak kepada Ibu Albert yang berada di depan mereka.
Ibu Albert menyeringai.
"Hehe"
\~SEMENTARA ITU\~
"Hah!? AAAA!!!" (tertarik ke arah danau)
"Datanglah padaku" kata seseorang menyeringai dari dalam danau.
Tap..tap..tap
Suara langkah seseorang sedang berlari di tepian danau mulai terdengar. Hentakan kakinya membuat air di sekitarnya menjadi bergemricik. Langkahnya sangat cepat yang menandakan ia sedang terburu-buru untuk melakukan sesuatu. Rambutnya yang terurai, pun berterbangan karena gerak tubuhnya yang cepat.
Hap...
"Aaaa!!" Fikram masih berteriak karena ia berpikir tubuhnya masih tertarik. Ia pun tak sadar ada yang berusaha menyelamatkannya.
Di saat Fikram merasakan ada yang menahan tubuhnya untuk tak tertarik lagi ke danau, ia merasa heran, "Hah!?"
"Kau?" tambahnya lagi.
"Iiiiii....takku sangka ternyata kau sangat berat" ujar Rainy berdiri dihadapan Fikram yang terkapar tertarik ke arah Danau.
Dengan kedua tangannya, ia berusaha menahan Fikram memasuki danau dengan cara menarik salah satu tangan Fikram ke arah yang berlawanan.
"Menyelamatkanmu lah!! apa lagi!!" jawab Rainy yang masih berusaha menahan Fikram masuk ke danau
"Oooo.." balas Fikram dengan santainya
Tali yang menarik Fikram pun menariknya lebih kencang, hal itu menyebabkan Fikram dan Rainy sedikit tertarik ke arah danau.
Srettt...
"Tidakk!! iii" seru Rainy mencoba menahannya lebih kuat.
"Oh, emak tolonglah anakmu ini" kata Fikram mendongak ke atas.
"Tak ada pilihan lain!" ucap Rainy
Ia lalu mengambil sesuatu dari saku celana pendeknya itu dan mengeluarkannya.
"A..A..apa yang akan kau lalukan?" ujar Fikram bertanya
"Tak ada waktu! maaf kalau kakimu terjadi apa-apa ya" kata Rainy memegang sesuatu di tangannya.
"Apa! apa yang kau!..waaaa!!!!" ujarnya terperanjat melihat sesuatu melesat menuju salah satu pergelangan kakinya yang terlilit tali aneh tadi.
Sontak ia mengangkat salah satu kakinya dan menunduk ketakutan. Karena Fikram mengangkat kakinya yang terlilit, tali itu pun menjadi renggang.
JLEBB...
Ujung gunting yang runcing itu menancap tepat di atas tali yang melilit pergelangan kaki Fikram tersebut dan berhasil memutusnya. Sisa tali itu pun tertahan di bawah ujung gunting itu.
Fikram yang masih tertunduk ketakutan pun gemetaran, "Tolong ampuni aku..ampuni aku.." ucapnya gemetaran.
__ADS_1
"Hey sudahlah, semua sudah berakhir dan kau selamat," ucap Rainy menenangkan Fikram dan membantunya berdiri.
"Ampun..ampun.." ucap Fikram yang masih tertunduk gemetaran.
"Tenanglah, kau sudah selamat"
"Hah!!" kaget Fikram. "Menjauh..menjauh dariku! kau sudah melukai kakiku yang berharga ini" ucapnya menjauh dari Rainy.
"Aku tidak bermak-"
"Cukup!! kau! kau itu sangat kejam, tidak punya belas kasih, dan kau sangat.." ucapnya mengatai Rainy
"Aduh, kau itu berdiri" kata Rainy memegang keningnya melihat tingkah laku pemuda di depannya itu.
"Kau.." ucap Fikram terhenti mendengar perkataan Rainy barusan. Ia pun melihat ke bawah, "Hah!" kagetnya melihat ia berdiri menggunakan kedua kakinya yang tidak terluka lagi utuh.
"Wah, ternyata aku berdiri! yey, kakiku tidak terluka! aku selamat!! aku selamat!!!!" ucapnya kegirangan, bahkan ia sampai melompat-lompat dan berguling-guling di tepi danau saking senangnya.
"Aduh manusia ini" batin Rainy melihat Fikram segirang itu.
"Yey! tapi.." kegirangannya Fikram mendadak terhenti.
"Hem?" heran Rainy dengan kegirangan Fikram yang mendadak berhenti.
"Emm..sebenarnya bagaimana caramu memutus tali itu hanya dengan gunting yang kau lemparkan?" tanya Fikram pada Rainy.
"Oh, itu mudah. Saat kakimu terangkat, kau membuat tali yang menjeratmu itu tegang, jadi saat ujung guntingku yang tajam menancap di tali tegang itu, otomatis itu putus." jelas Rainy.
"Oo..jadi karena itu kau menakut-nakutiku"
"Hehe, iya memang. Lagi pula aku tak tau bagaimana lagi aku memberitahumu.." Rainy terkekeh
"Kan kau bisa memberitahuku secara langsung, tidak perlu menakut-nakutiku seperti itu" ucap Fikram
Rainy memegang tengkuknya dan terkekeh, "Hehe, iya-iya deh"
"Huuh" ujar Fikram mndengus kesal
"Oh, ya! kau sendiri ngapain ke danau ini?" tanya Rainy
"Oh, itu. Tadi aku mendengar suara teriakan, aku pikir dia dalam kesulitan jadi aku menghampiri suara itu dan sampai kesini untuk membantunya. Tapi ternyata sesampainya aku disini aku tidak menemukan siapapun, malah aku yang masuk kedalam situasi menakutkan tadi" jelas Fikram.
"Teriakan? aku rasa dari tadi tidak ada suara teriakan atau semacamnya" balas Rainy.
"Tapi aku mendengarnya, serius"
"Mungkin kau berhalusinasi" ujar Rainy tak percaya
"Benar, aku mende-"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah gubuk peristirahatan mereka.
"AAAAAA!!!"
"Ya, sekarang aku mendengarnya" ucap Rainy.
"Ish, bukan itu. Suara yang kudengar itu dari arah danau bukan dari arah gubuk" ucap Fikram. "Tunggu, gubuk? hah! teman-teman!" tambah Fikram panik. "Oh tidak, Mandaku" panik Fikram yang teringat oleh Manda dan langsung berlari menuju gubuk.
"Hey! tunggu!" kata Rainy.
Ia pun mengulurkan tangannya ke arah Danau dan seakan menarik sesuatu. Tiba-tiba gunting yang tadinya menancap di danau, kini terbang menuju Rainy dan berhasil ia tangkap, seakan-akan ada magnet di tangan Rainy. Ia pun akhirnya menyusul Fikram ke gubuk tempat mereka beristirahat. Tali? tentu tali tadi langsung kembali ke dalam danau.
Bersambung...
__ADS_1