Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Menjalankan Rencana


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


Mereka pun merapat dan Nadia menjelaskan ide yang ia miliki.


PROK!! PROK!!


"Hemm..brilian!" kata Dina bertepuk tangan.


"Tapi ada satu kelemahan.." ucap Rio.


"Apa itu?" tanya Fikram.


"Kelemahannya, b-" lagi-lagi perkataan Rio terpotong.


"Bagaimana cara kita menarik perhatiannya?" tentu saja yang memotongnya Gamma, ia tidak akan memberikan kesempatan saingannya itu berbicara pada Nadia satu kata pun.


"Iih, kenapa dia selalu memotong pembicaraanku!" kesal Rio membatin dan menatap tajam Gamma.


"Haha, aku tidak akan membiarkannya bicara pada Nadiku" batin Gamma berbalik menatap tajam Rio.


"Dasar burung beo nyebelin!" batin Rio.


"Dasar krucil!" batin Gamma.


Pembicaraan membatin mereka seakan membalas satu sama lain. Rio dan Gamma masih saling menatap tajam.


"Kau tidak akan dapat kesempatan, krucil!" batin Gamma.


"Tidak akan kubiarkan dia dapat memotong perkataanku lagi kali ini!" batin Rio.


Tatapan tajam mereka semakin mendekat dan terasa aura perselisihan yang sangat kuat di antara mereka.


"Hemmh!" mereka saling membuang muka satu sama lain, "Awas saja kau, krucil/burung beo!" kompak mereka dalam hati dan melempar pandang dari ekor mata mereka.


"Pertanyaan bagus!" ucap Nadia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


CLING!!


Nadia mengeluarkan belati miliknya yang diberikan oleh Ibu Albert.


"Belati?!" kaget mereka.


"Jangan-jangan Nadia ingin.." pikir Rio.


Nadia lalu mendekatkan belati itu ke telapak tangan kirinya, dengan maksud ingin melukai dirinya sendiri untuk mengalihkan perhatian hiu itu.


"Tidak!" kata Rio mencegat Nadia. "Biar aku yang melakukannya" tambah Rio.


Ia lalu melepaskan belati itu dari tangan Nadia, Nadia hanya bisa diam tak berkutik, entah kenapa, tapi tubuhnya seakan tidak ingin memberontak saat Rio melepas belati dari genggamannya. Kagum? ataukah kaget? Nadia pun tidak tahu perasaan yang ia rasakan ini.


Rio memegang belati itu dan melihat ke arah Nadia. Ia melihat mata Nadia berbinar-binar melihatnya mau menggantikan dirinya melakukan hal itu. Rio pun memandangi wajah takjub sekaligus sedih itu, ia memandanginya sembari mendekatkan belati itu ke telapak tangannya. Saat ia akan menggores telapak tangannya dengan belati, tiba-tiba...


"AGH!!!" teriak Gamma.


Nadia dan yang lainnya pun terkejut dan melihat ke arah Gamma yang berada di belakang Rio. Ya, Rio pun tidak jadi menggores telapak tangannya dan berbalik.

__ADS_1


"Dia!? apa yang dia lakukan sekarang?!" batin Rio.


Tampaklah sesosok Gamma sedang memegangi telapak tangan kirinya yang berdarah. Kaget? tentu mereka kaget, pasalnya mereka tak menduga Gamma akan berbuat hal itu, juga sejak kapan dan bagaimana ia bisa melukai dirinya. Gamma yang merasa di tatap, berbalik menatap mereka semua.


"Grrrrr"


Ternyata darah Gamma sudah menyebar di air dan sampai di hidung hiu itu.


"Cepat jalankan rencana kita!" ucap Gamma berlalu pergi.


Tanpa pikir panjang hiu yang sedang menyerang gadis ikan itu langsung mengejar Gamma.


Sehingga terdapatlah aksi kejar-kejaran antara hiu ganas tersebut dengan Gamma.


"Ayo, cepat! kita tidak punya banyak waktu lagi!" ucap Nadia.


Mereka pun segera melakukan rencana mereka. Fikram mengeluarkan tali yang diberikan Ibu Albert dan mengikatkannya pada batu yang menghimpit ekor gadis ikan itu.


"Apakah ini cukup panjang?" ucap Fikram tak yakin, pasalnya tali yang ia lihat cukup pendek.


"Kita coba saja dulu," kata Nadia.


\~Sementara itu\~


Ibu Albert dan Manda masih bertahan dalam posisi yang sama. Hiu itu juga masih mencoba masuk ke celah-celah batu dengan menyerangnya secara keras.


Gamma yang masih dalam aksi kejar-kejarannya dengan sang hiu, mulai mendekati posisi hiu yang sedang menyerang Ibu Albert dan Manda.


"Haah!?" Gamma terkejut di depannya sudah ada hiu lain.


Ternyata hiu yang sedang menyerang Ibu Albert dan Manda juga sudah mencium bau darah segar milik Gamma, Bahkan lebih segar dari milik Manda. Tanpa basa-basi hiu itu berbalik dan langsung mengejar Gamma dengan sangat cepat.


Gamma pun kalang kabut dan pergi berenang secepat mungkin untuk menghindari dua hiu ganas ini. Ia harus bisa mengalihkan perhatian mereka sekaligus menjaga jarak kedua hiu itu dengan temannya-temannya, tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat.


Gamma juga manusia, pada akhirnya ia kelelahan setelah cukup lama.


"Hah..hah..tidak pernah aku berenang selama dan secepat ini" ucapnya kelelahan.


Disaat sedang memulihkan tenaganya yang sudah terkuras. Kedua hiu itu sudah mendekati Gamma dengan tatapan memangsa. Gamma yang melihat hal itu, tentu panik. Ia harus berenang lagi menghindari hiu sampai teman-temannya menjalankan rencana selanjutnya. Namun sepertinya ia sudah tidak kuat lagi, ia kelelahan ditambah luka di telapak tangan kirinya yang tiba-tiba terasa sangat nyeri dan sakit.


"Ssssh" desisnya kesakitan memegangi telapak tangannya.


Kedua hiu itu semakin mendekat.


Gamma yang sudah tidak kuat itu, hanya bisa berusaha berenang lagi. Namun tak bisa. Hiu itu sudah semakin dekat dan melesat cepat dengan tatapan memangsa Gamma. Gamma tak tau harus berbuat apa, dan akhirnya berdiam diri sambil memejamkan mata ketakutan.


"GRRR!!!"


Jeng...jeng...jeng...


"NGAP!!!" "NGAP!!"


Para hiu itu memberontak mencoba meraih mangsa segar mereka itu. Karena merasa tak terjadi apa-apa pada dirinya, Gamma membuka mata dan mendapati kedua hiu itu tertahan dengan tali yang mengikat tubuh mereka.


"Fiuhh" lega Gamma.

__ADS_1


Hiu-hiu itu menggeliat mencoba meraih mangsa di depannya, namun tak bisa. Mereka tak menyerah dan terus berusaha meraih Gamma. Usaha mereka ini lah yang direncanakan Nadia. Lewat tenaga oleh kedua hiu itu, perlahan batu yang menghimpit ekor gadis duyung itu mulai bergerak.


Semakin keras hiu itu berusaha meraih Gamma di depannya, semakin cepat pula batu itu menyingkir dari posisi menghimpitnya itu. Dan benar saja, kedua hiu itu terus menggeliat meraih Gamma, hingga perlahan batu itu bergerak dan akhirnya ekor gadis duyung itu terbebas lepas.


Gamma yang melihat tali yang semula tegang menjadi kendur, sekarang kembali panik. Kini hiu itu tidak tertahan lagi dan melesat cepat menuju Gamma.


"GARR!!!"


Slow Mo!


Matanya terbelakak melihat hal itu. Beruntungnya Dina dengan cepat menarik tangan Gamma menyingkir dari tempatnya.


Sehingga kedua hiu itu bukannya mengenai Gamma tetapi malah melesat jauh.


Wingggg...


Akibat gerak mereka yang cepat dan beratnya batu, kedua hiu itu terlempar jauh bersama batu besar tersebut.


Keempat sahabat itu pun tertawa penuh kemenangan.


"Haha, sekali dayung dua pulau terlempar" ucap Fikram penuh kemenangan.


Dina pun menarik tangan Gamma dan merapat ke teman-temannya, tak sadar ia telah menarik telapak tangan Gamma yang terluka. Sakit? pasti sakit, lah!


\~Sampai\~


"Heh! sakit tau! main tarik aja lu!" kata Gamma melepas paksa tarikan Dina.


"Manja amat! ketimbang luka gitu doang juga!" balas Dina.


"Hii" Gamma geregetan.


"Sudah-sudah. Manda, Ibu Albert!" panggil Nadia. "Kemarilah! sudah aman disini!" tambahnya.


Manda dan Ibu Albert yang mendengar hal itu pun langsung keluar dari tempat persembunyian mereka dan menghampiri yang lain.


"Kau baik-baik saja?" tanya Fikram mencemaskan keadaan Manda.


"Y-"


"Ya dia baik-baik saja" ucap Ibu Albert memotong.


"Tapi aku bertanya pada Man-" ucap Fikram terpotong, lagi.


"Iya-iya terserah dan cepat kita lanjutkan mencari teman tidak penting mu itu!" ucap Ibu Albert malas.


"Huuh" Fikram mendengus kesal.


"T..t..terimakasih.." ucap lemas tak berdaya seseorang dari arah belakang.


"Hah!?"


Mereka yang mendengar suara seseorang dari arah belakang segera berbalik.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2