
EPISODE SEBELUMNYA
"NO!"
KRETAK! CRUTT!
Manda berdiri di depan dua cermin yang retak sambil menunduk. Ia memegang cermin itu dengan tangannya penuh dengan cairan merah kental.
"Mommy ... Dady ...."
Tanpa sadar air mata keluar dari tempatnya dan membahasi pipi Manda.
"Hiks ... hiks ... ini tidak mungkin! Tante Kunti kemana kamu! Jelaskan apa semua ini!" jeritnya keras seraya menangis. "Ini tidak lucu!"
Tubuh Manda terperosot di depan cermin. Ia terus menunduk dan menangis. Cairan merah yang melumuri tubuhnya perlahan mengalir ke bawah karena terhapus oleh air matanya.
Tap ....
Tiba-tiba Manda merasakan ada sesuatu yang memegang bahunya dari arah belakang.
"Hah!"
Ia menoleh ke arah pundak. "Tangan? Tangan siapa ini?" menengok ke belakang.
"HEHEHE! Apa kau mau memberikan kepalamu untukku?" tersenyum mengerikan.
"AAAA!"
Manda melihat sosok berjubah hitam. Tanpa terlihat wajahnya. Ia hanya melihat deretan gigi putih dengan taring ketika sosok itu tersenyum mengerikan. Sontak Manda kaget bukan main, dan langsung lari menjauhi sosok itu.
"HEHEHE!"
Manda masih bisa mendengar suara tawa yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Hah!"
Mendadak, jalan Manda terhalau oleh cermin-cermin yang mengepungya dari segala sisi.
"Mau kemana?"
Salah satu cermin yang mengepungnya terbuka dan membiarkan sosok misterius itu mendekati Manda.
"S ... s ... siapa kamu?" tanya Manda gemetaran dan merapat di salah satu cermin.
"Aku?" berjalan mendekati. "Aku? Hehehe ... aku" berhenti di depan Manda dan tertunduk. "AKU MALAIKAT MAUT MU!" menatap tajam Manda.
Dia mengangkat kapaknya dan mengayunkan ke arah Manda. Mata membulat sempurna ketika itu, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Deg! Deg!
Jantungnya berdetak sangat cepat, keringat dingin bercucuran, tangannya gemetar. Ia baru saja melihat orang-orang terdekatnya dipenggal dengan kapak yang sama, dan sekarang gilirannya. Manda melihat ujung kapak yang melesat cepat menuju ke arahnya.
"TIDAK!" jeritnya menutup wajah dengan kedua tangan karena ketakutan.
\~\~\~\~\~\~\~
Mereka pun mengikuti usul Rio dan menyusuri lorong kaca itu.
Tap ... tap ... tap ....
Saat sedang menyusuri lorong dipandu cahaya yang seolah menunjukan jalan, mendadak cahaya itu berhenti tepat di depan sebuah persimpangan. Sontak mereka pun ikut berhenti juga.
"Eh, berhenti?" kata Rio melihat cahaya itu berhenti.
"Kenapa berhentinya pas ada persimpangan?" Gamma bertanya-tanya.
"Ya. Aku kira dia akan memandu kita sampai jalan keluar, ternyata kita masih dituntut berpikir ya," kata Dina malas.
"Sudahlah, lebih baik kita cepat memilih, kanan atau kiri?" kata Rio.
"Cap cip cup saja," usul Dina terkekeh.
PLETAK!
__ADS_1
"Cap cip cup, cap cip cup! Kita tidak boleh asal memilih," Ibu Albert menjitak dahi Dina.
"Aduh! Ibu Albert tega," rintih Dina mengelus dahinya.
"Nadia apa sar-" Rio mencoba bertanya pada Nadia, karena biasanya ia yang selalu punya jalan keluarnya.
Namun perkataannya terhenti saat melihat Nadia yang memeluk erat lengan atletis Gamma dengan ketakutan. Gamma mengerti Rio akan bertanya menatap Rio dan menggeleng. Riopun mengurungkan niatnya.
"Kenapa harus si Burung Beo, Nadia? Aku ada di sini, Di. Aku ada di sini," batin Rio mengepalkan tangannya kuat.
"Oke pakai saranku. Cap cip cup," kata Dina menyarankan lagi.
"Pilih kanan saja, kanan biasanya jalan kebenaran dan baik," kata Gamma.
"Bagaimana itu teorinya?" bingung Dina.
"Kau ini! kau tidak tahu perbuatan baik dan aktivitas kita biasanya dilakukan dengan tangan ...." tanya Gamma.
"Kanan," jawab Dina.
"Nah tu tempe, makanya kita pilih kanan."
"Hah?" Dina masih kebingungan.
"Ya sudah, kita pilih kanan saja," kata Ibu Albert setuju dengan usul sang anak.
"Tidak cap cip cup!" Dina ngotot.
"Kita pilih kanan saja, sudah. Tidak perlu cap cip cup," kata Rio memutuskan.
"SETUJU!" seru Gamma.
Mereka pun kembali menyusuri lorong itu dan meninggalkan Dina di belakang.
"Iiih! Kalian tidak adil! Nadia katakanlah sesuatu!" kesal Dina.
"Sudah terima saja, jika Nadi tidak ketakutanpun, dia pasti akan setuju dengan ideku, wlee" ejek Gamma menjulurkan lidahnya pada Dina.
Cahaya itu kembali menyala sejalan dengan irama langkah yang mereka pilih.
\~Beberapa saat kemudian\~
"Hah, hah. Kenapa aku merasa kita hanya berputar-putar ke tempat yang sama," ungkap Dina dengan lengan menumpu pada dinding.
"Hemmm, benar. Ini kita yang berputar-putar atau memang tempat ini tidak berujung dan selalu bersimpangan yang sama?" tanya Gamma kelelahan.
"Aku tidak tahu," balas Rio. "Baiklah untuk membuktikannya kita tinggalkan jejak di jalan kita kali ini," usul Rio.
"Tapi pakai apa?" tanya Gamma.
"Apa kita akan mengulang lagi, heegh" lemas Dina kelelahan.
"Ibu Albert," panggil Rio meminta sesuatu.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Kecuali ...." gantung Ibu Albert.
"Kecuali?" tanya Rio.
"Kecuali ini," Ibu Albert mengangkat tempat kecil seperti botol pipet yang terbuat dari kaca bening dengan cairan berwarna biru legam di dalamnya.
"Apa itu?" bingung Gamma.
"Darah ikan payara," kata Rio.
"Oh, iya darah itu. Tunggu untuk apa? Tidak cukup hanya dengan sebotol kecil itu," ucap Dina berpikir darah itu untuk menjadi jejak di perjalanan mereka.
"Darah ini akan aku teteskan ke tangan kalian, nah dari situ darah ini akan menyebabkan darah kalian tidak berhenti menetes," jelas Ibu Albert. "Dari darah itu kita bisa membuat jejak," tambahnya.
"Kami semua?" tanya Dina.
"Salah satu dari kalian, lah. Ok, jadi siapa?" tanya balik Ibu Albert.
"Ak-" Gamma ingin menawarkan diri tapi di tahan oleh Nadia.
__ADS_1
"Tidak! Jangan lakukan itu," cegahnya mengeratkan pelukannya.
Gamma pun menurut.
"Ingat, pikir baik-baik. Resikonya besar, aku akan meneteskannya di tangan kanan kalian jadi pastikan jika kalian menawarkan diri, kalian bisa menggunakan kedua tangan kalian untuk aktivitas apapun, termasuk aktivitas yang biasa di kerjakan tangan kanan sekalipun," kata Ibu Albert.
"Aku saja aku bisa memakai kedua tanganku," kata Rio.
"Kau yakin?" tanya Ibu Albert memastikan.
"Apapun untuk para sahabatku," jawab Rio mantap.
"Kenapa aku tidak tahu," bingung Dina, pasalnya selama ini ia tidak tahu Rio bisa menggunakan kedua tangannya tanpa masalah untuk aktivitas sehari-hari, baik kanan ataupun kiri.
"Kau saja yang lupa," balas Rio.
TES!
Ibu Albert meneteskan darah ikan berbahaya itu menggunakan alat pipet tetes pada telapak tangan kanan Rio.
Satu detik. Belum bereaksi.
Dua detik. Belum bereaksi.
Tiga detik ....
"Sss," Rio mulai mendesis karena merasakan sesuatu di tangannya.
Empat detik ....
Guratan berwarna biru legam mulai menjalar menjadi garis diagonal yang khas dengan cabang-cabang kecilnya.
Lima detik ....
BREK!
"AAA!"
Rio merasakan sakit yang tidak dapat ia ungkapan dengan kata-kata. Kulit Rio robek dengan sendirinya tepat di atas guratan biru tadi. Ia mencengkram tangan kanannya menggunakan tangan satunya untuk sedikit mengurangi rasa sakit itu.
"Ini reaksi dari darah itu, hanya butuh waktu lima detik," simpul Dina.
Tes!
Mengalirlah cairan merah kental dari luka Rio tadi.
"Wah, Rio. Itu pasti sangat sakit sekali ya?" Dina bertanya.
"Pasti sakitlah, dasar!" Ibu Albert kesal terhadap pertanyaan Dina.
"Aku hanya bertanya," gumam Dina cemberut.
"Sudah cepat, nanti dia keburu kekurangan lagi," perintah Ibu Albert.
Mereka pun melanjutkan menyusuri itu untuk mengetahui apakah benar mereka hanya berputar-putar saja.
KEMUDIAN.
"Ya, benar kita hanya berputar-putar dan kembali ketempat yang sama," kata Dina berlutut melihat bercak noda darah di atas lantai cermin.
"Hemm, mungkin kita harus mengulang lagi dan kita belok kanan, lalu kiri, atau kiri, kanan, kanan kiri, ah aku pusing," Gamma kesal.
"Mengulang? Tidak-tidak!" tolak tegas Dina.
"Ya, kita hanya membuang waktu jika mengulangnya," balas Rio.
"Lalu sekarang apa? Kita hanya diam saja begitu?" kata Dina menyandarkan dirinya di dinding.
"Cie cie, yang lagi capek, hihihi."
Datanglah sahutan suara yang tidak diketahui asal dan wujudnya.
Bersambung ....
__ADS_1