
EPISODE SEBELUMNYA
"Ayo cepat!! kita susul dia!! makin cepat kita menuruti kemauannya, makin cepat pula kita menuntaskan tugas kalian," kata Ibu Albert mulai berenang menyusul Fikram.
Nadia dan lainnya pun ikut berenang menyusul Fikram dan Ibu Albert. Secara sekilas memang tidak ada sesuatu yang mencurigakan tentang arah yang ditunjuk oleh Gamma, Tetapi mereka tidak tau kalau mereka sudah melewati sebuah batas.
Batas itu semacam dinding, hanya saja tidak terlihat dan bisa ditembus oleh mereka, mungkin semacam dinding sihir.
Sesaat, setelah tanpa sadar melewati dinding itu, Fikram yang pertama kali melewatinya melihat sesuatu yang tidak dilihatnya tadi saat di luar batas. "Hah!?" terkejutnya.
"Cepat kemarikan!!!" ucap seseorang wanita bersuara serak, bertubuh setengah ikan berwarna hitam berambut panjang, memakai mahkota hitam besar berduri, dan berwajah mengerikan.
"Tidak akan pernah!!!!!" bantah seorang pria dengan menggendong bayi dalam dekapannya.
"KEMARIKAN KUBILANG!!!!" ucap seorang itu mencoba meraih bayi yang ada ditangannya.
"Tak akann!!!" pemuda itu mengelak dan berlalu pergi bersama bayi dalam gendongannya itu.
"MAU DI BAWA KEMANA MAKANANKU!!!!!" teriak wanita itu.
"HIAA!!!"
Seseorang yang berwujud setengah manusia dan setengah ikan itu menggunakan kekuatannya untuk menghentikan laju pria itu. Dia mengendalikan rumput laut untuk mengikat kaki pria tersebut dan menariknya ke hadapannya. Tentu saja,
pria itu jatuh tersungkur. Dia pun membalik paksa tubuh pria yang sedang menggendong bayi itu. Sehingga posisi tubuh pria tersebut terlentang.
BUGH!!
Punggung pria itu terbanting ke tanah.
"BERIKAN BAYI ITU PADAKU, SAYANG!," tegasnya berlutut dan memegang dagu pria itu dengan tangannya yang berkuku hitam dan panjang.
"Tidak akan pernah!" tegas pria itu melihat pada wanita mengerikan tersebut.
"Kalau begitu.." wanita itu menyeringai dan mengangkat tangannya lalu, seketika muncullah trisula panjang di tangannya.
Pria itu hanya melihat tindakan wanita itu sambil mempererat dekapannya pada sang bayi.
"LEBIH BAIK KAU MATI!!!!" tegas wanita mengerikan itu langsung menyerang untuk menusuk pria itu.
"HIAAAA!!!!"
Wanita itu mengangkat trisula panjangnya dan...
"Fikram!" Rio menepuk bahu Fikram.
"Hah!?" terkejut Fikram.
"Kenapa? apa ada masalah?" tanya Rio.
"Ya, kenapa kau berhenti disitu? kau memandang apa? apa kau menemukan Rainy?" tanya Manda menimpali.
"Tadi aku melihat..." ujar Fikram mencoba menjelaskan apa yang ia lihat di depannya tadi. "Itu.." lanjutnya lirih.
"Itu apa?!" tanya Rio tak mengerti.
"It..it..itu, apa kalian tidak melihatnya? ada seorang pria menggendong bayi lalu ada wanita menyeramkan dengan kukunya yang panjang dan hitam, wanita itu seperti..seperti..mer-" ucap Fikram menjelaskan.
"Berhenti!!" kata Dina menghentikan ocehan Fikram. "Di sini tidak ada apapun, Fikram. Tidak ada seorang bayi, wanita mengerikan, atau apapun. Lihat! yang ada hanya air dan makhluk air lainnya" kata Dina membantah ocehan Fikram.
"Tapi tadi aku melihat..aku melihat.." ucap Fikram gelagapan.
"Eh! kalian denger ngga!!" sahut Nadia.
"Ap-" tanya Rio terpotong.
"Denger apa, Di?" sahut Gamma memotong pertanyaan Rio.
"(-_-" (Rio), "Dasar! nyebelin!" batin Rio kesal.
TOLONGGG!!!!
"Denger, kan?" tanya Nadia memastikan.
"Itu mungkin Rainny," kata Manda berasumsi.
"Emm, aku rasa bukan....eh!?" ucap Fikram yang langsung ditarik tangannya oleh Manda.
Mereka pun menghampiri sumber suara.
\~KEMUDIAN\~
Blub..blub..blub
"Berhenti." ucap Nadia.
Sesuai perintah Nadia mereka pun berhenti. Mereka pun bersembunyi di balik batu berukuran sedang.
"Eh! Liat tu" ucap Nadia menunjuk ke arah depan.
"TOLONG!!!!!"
Ternyata arah yang Nadia tunjuk ada seorang perempuan, tetapi berbadan setengah manusia dan setengah ikan. Ekornya terhimpit batu besar sehingga ia tidak bisa melarikan diri dari seekor hiu yang mendekat.
__ADS_1
"Siapa saja, TOLONG!!!" ucap gadis itu.
Sementara ikan itu semakin mendekatinya.
"Tunggu! sejak kapan di danau ada hiu? bukannya hiu cuman di laut? atau aku yang tidak tau" kata Manda bingung.
"Wah! Rainy jadi mermaid, geng!" ucap Fikram.
"Heh! itu bukan Rainy" kata Dina.
"Hehe, iya-iya" ucap Fikram membalas.
"Udah, ayo cepet bantuin dia, kasihan nanti dimamam hiu gimana?" ucap Nadia.
Mereka hanya mengangguk.
Nadia pun keluar dari persembunyian mereka dan berenang menghampiri gadis mermaid itu, yang lain pun menyusul.
"TOLONG!!" teriak gadis itu.
"Bertahan putri mermaid..emm..duyung..eh, dugong.. hah? dugong? emm..atau apalah, terserah" bingung Nadia mau memanggil gadis itu apa.
Ia dan teman-temannya pun mencoba menyingkirkan batu besar yang menghimpit ekor sang mermaid. "Dorong!!" ucap mereka berusaha menyingkirkan batu itu. Sementara Ibu Albert hanya memperhatikan.
"Ibu Albert bisakah kau membantu kami!" kata Fikram yang masih berusaha.
"Tidak! dia hanya orang asing dan aku tidak percaya padanya!" kata Ibu Albert santai.
"Ya ampun, kau masih mempermasalahkan tentang orang asing," kata Dina.
"Ayolah, Ibu Albert bantu kami!" kata Manda.
"Tidak!" singkat Ibu Albert.
"Haah, ya sudahlah" kata Fikram menyerah.
"Aku yakin ini cuma jebakan" batin Ibu Albert.
Disaat sedang berusaha menyingkirkan batu itu. Tanpa mereka sadari, hiu yang berada jauh dari mereka sudah mendekat dan mencoba menerkam mereka semua.
GAR!!!!
Hiu itu mencoba menerkam salah satu dari mereka dengan mulutnya yang dipenuhi gigi tajam, untung mereka berhasil menghindar. Namun sayang, Manda mengalami luka yang cukup parah di bagian telapak tangan kirinya akibat serangan hiu tadi.
"Ssssh" ia mendesis kesakitan dan memegangi telapak tangannya yang terluka.
"Manda!" ucap kelima sahabatnya panik.
Manda pun menurutinya dan membalut tangannya.
"TOLONG!!!" ucap sang putri kembali.
"Hah!?" semua menoleh ke sumber suara.
"Oh iya, kita melupakan yang sedang kita tolong!" ujar Fikram menepuk jidatnya.
"Manda tetap disini bersama Ibu Albert, kami yang akan menolong gadis itu" ucap Dina.
"Ide bagus!" kata Nadia.
Jadi, mereka kembali menolong gadis setengah ikan itu sebelum hiu itu menyerang kembali, entah hilang kemana hiu itu, tetapi kondisi ini kesempatan bagi mereka untuk menyelamatkan gadis setengah ikan itu.
Sementara, kain yang membalut tangan Manda sudah bisa menghentikan darah Manda keluar dan menyebar di air. Namun, tetap saja ada setetes darah yang menyebar di air dan akhirnya menusuk penciuman sang hiu.
"Dorong!!" ujar mereka.
Perlahan namun pasti, hiu itu mendekat ke arah Manda dan Ibu Albert secara perlahan.
"GRRRR!!"
Manda mendengar suara aneh.
"Seperti ada suara" batin Manda.
"GRRR!!"
Manda celingukan mencari dari mana datangnya suara itu, hingga ia melihat bayangan ikan besar, sekilas yang ia pikir hanya ikan biasa dan bukannya hiu, tetapi lama kelamaan...
"GAARRR!!"
Hiu itu mencoba menerkam Manda lagi, tentu Manda kaget bukan main. Untung saja ia berhasil menghindar dengan cara jatuh tersungkur, kalau tidak...
"Hah!?"
Di saat mereka sedang berusaha keras mendorong batu itu mereka mendengar suara gaduh sehingga membuat mereka menoleh.
Ibu Albert yang melihat situasi ini segera menarik tangan Manda untuk pergi dari situ, "Ayo, ikut aku" ucapnya menarik tangan Manda.
Manda pun bangkit dan menuruti kata Ibu Albert. Mereka pun berenang menjauh dari posisi mereka semula. Hiu? tentu hiu itu mengikuti mereka. Sebagai salah satu hewan paling cepat di air, tentu dengan mudahnya ia bisa mendekati mereka lagi.
"Aku harus membantu mereka!!" ucap Fikram berlaku pergi.
"Tidak!" Nadia menghentikan Fikram. "Kau tetap disini, tenagamu sangat dibutuhkan disini" ucap Nadia.
__ADS_1
"Tapi Manda.."
"Aku tau, tapi kita benar-benar membutuhkanmu disini dan hiu itu pasti mengejarmu saat kau menghampirinya. itu akan memperburuk keadaan, lagi pula Ibu Albert bersamanya, dia pasti aman." ujar Nadia menenangkan.
Terpaksa Fikram menuruti Nadia, karena ia percaya pada Nadia dan Ibu Albert akan menjaga kesayangannya.
\~Di sisi lain\~
Ibu Albert dan Manda masih berenang menjauhi hiu itu, sementara hiu tersebut semakin mendekati mereka.
NGAP!!!
Dia mencoba menerkam. Namun, Ibu Albert dan Manda masih bisa menghindarinya.
"Hey! itu disana!" kata Ibu Albert menunjuk ke arah batu besar yang di kelilingi bebatuan besar pula.
Manda dan Ibu Albert pun kesana dan bersembunyi di balik batu besar. Hiu itu kehilangan jejak mereka dan mulai berenang dengan pelan mencari-cari mereka.
"Oh, tidak!" kata Manda melihat kain yang mengikat lukanya lepas tanpa sepengaahuannya.
Tentu saja, luka yang belum mengering itu mengeluarkan darah dan menyebar kembali di air.
Ternyata penciuman hiu itu sangat tajam.
GARR!!!
Tiba-tiba hiu itu menyerang batu yang menjadi tempat persembunyian Manda dan Ibu Albert. Ibu Albert dan Manda tidak bisa pergi kemana-mana karena sedikit saja hiu itu mencium darah Manda tanpa adanya perlindungan, maka mereka tidak bisa menghindari serangan hiu itu lagi.
GARR!!
"HEY! apa kalian sudah selesai! kalau sudah, bantulah kami!!" teriak Manda ketakutan.
"Iiiii..batu ini sangat berat!" ucap mereka masih berusaha menyingkirkan batu besar itu.
"Haduh! aku menyerah!" kata Dina mengangkat kedua tangan.
"Sepertinya kita tidak bisa mengangkat batu ini," kata Fikram kelelahan.
"Eh!? sedang apa hiu itu menyerang batu itu? dan dimana Manda?" ucap Fikram melihat hiu yang menyerang sebuah batu besar.
"Mungkin itu..." kata Dina.
"Manda!" seru Fikram.
"Kita tolong putri itu nanti, kita tolong Manda dulu sekarang" kata Fikram berlalu pergi.
Mereka pun tak bisa mencegah atau berkata-kata lagi, nyawa sahabat mereka lebih membutuhkan m bantuan mereka.
"AAAA!! TOLONG!!!"
"Ish, apa lag-" malas Fikram berbalik.
Nadia dan lainnya pun ikut berbalik.
"Hah!?"
Betapa terkejutnya mereka saat melihat gadis ikan itu di serang hiu besar juga.
"Sebenarnya ada berapa hiu disini?!" ucap Fikram mengeluh.
GARR!!
"AAAA!!!" jerit gadis itu meringkuk di balik batu besar yang menghimpit ekornya.
Sehingga serangan hiu itu terhalangi batu besar.
GARRR!!
"Hey!! tolong kami dulu! tolong dia nanti!!" ucap Ibu Albert.
"Ibu Albert benar, kita harus menyelamatkan Manda dulu!" kata Fikram.
Fikram memang seperti itu, dia memang mendahulukan keselamatan orang lain dari pada keselamatan dirinya sendiri. Tetapi, apabila ia dihadapkan orang lain atau Manda, dia akan lebih memilih Manda dari pada orang lain. Karena Manda adalah orang yang sangat ia cintai.
"Tunggu! apa kau membawa senjata dari Ibu Albert" tanya Nadia mengehentikan Fikram.
"Ya, tentu." jawab Fikram.
"Kalian juga bawa?" tanya Nadia lagi pada Dina, Rio, dan Gamma.
"Ya" kompak mereka.
"Bagus!" kata Nadia menyeringai.
"Memang kenapa?" tanya Fikram.
"Aku ada ide yang lebih baik" ucap Nadia.
"Sini, merapatlah" kata Nadia.
Mereka pun merapat dan Nadia menjelaskan ide yang ia miliki.
Bersambung...
__ADS_1