Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Kecelakaan di Lab


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Lepasin!!" Gamma menggeliat memberontak.


"AHAHAHA" (tawa jahat)


Di TEMPAT LAIN...


"Hemm..waktu itu.." Dr.Wikan menghela nafas panjang.


...Flashback...


"Ckckckck..dia adalah ilmuwan hebat yang dipercaya membangun kota ini, dia juga yang telah membuat ruangan yang secanggih ini" kata Dr.Wikan.


"Dia adalah Profesor Giana" lanjutnya.


"Iyap" kata Prof.Giana.


"Oh, Profesor Giana yang terkenal itu..wah aku sangat beruntung bisa berjumpa dengan anda, Profesor" kata Putri Nadi menjabat tangan Prof.Giana dengan bersemangat.


"Oh, iya..saya juga sangat beruntung bisa bertemu dengan anda Dr.Rutapala atau Putri" goda Profesor Giana.


"Ah, profesor" kata Putri Nadi.


"Baiklah, apakah anda membawa bahan yang saya minta?" tanya Prof.Giana.


"Iya, saya membawanya" jawab Putri Nadi melepas jabatan tangannya dan meraih kantung baju lab nya itu.


"Ini" Putri menunjukan sebuah bunga teratai biru dengan warna kelopak bagian dalam berwarna pink.


"Ah, iya ini" Prof.Giana meraih bunga teratai biru itu.


"Terimakasih Dr.Rutapala..aku tau kau pasti bisa membawa ini..Sang Pelindung" bisik Prof.Giana pada telinga sang Putri.


"B..b..bagaimana kau tau?" bisik sang Putri panik karena kedoknya terungkap.


Dr.Wikan tidak tahu mengenai ini.


"Hehehe" Prof.Giana menyeringai.


Prof.Giana lalu membawa bunga lotus itu ke sebuah alat dengan banyak gelas ukur dan selang transparan, lalu meletakkannya di sebuah bola kaca.


"Untuk apa bunga itu?" tanya Putri Nadi.


"Bunga ini akan di ekstrak sarinya melalui kelopak-kelopak yang terpisah, lalu akan dialirkan ke bahan pengujian kami" jelas Dr.Wikan.


"Ih, hewan apa ini?" tanya Nadi lagi melihat sebuah hewan panjang menggelikan di atas kaca preparat berbentuk lingkaran.


"Oh, itu hanya cacing" Prof.Giana.


"Bukan cacing biasa ya?" kata Putri Nadi.


"Ini cacing lintah..cacing yang memiliki gigi kecil di mulutnya..akhir akhir ini ada wabah penyakit yang disebabkan oleh gigitan cacing lintah ini..dia menyebarkan virus A-W12 yang terdapat pada gigi-gigi kecilnya itu...sehingga jika ia menggigit manusia, gigi-gigi kecilnya akan menyalurkan virus ini untuk masuk ke dalam darah manusia..gejala penyakit A-W12 adalah pandangan penderita kosong, matanya menjadi kuning, jalan sempoyongan, dan rasa pusing yang hebat" jelas Dr.Wikan.


"Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan penderita sakit jiwa permanen bahkan kematian" kata Dr.Wikan lagi.


"Iya, jadi untuk menentralisirnya kami membuat pengujian terhadap sari kelopak teratai biru ini untuk mengetahui apakah berhasil atau tidak" kata Prof.Giana sambil memeriksa penelitiannya di mikroskop cahaya.


"Mmmm" jawab Putri Nadi.


Dari alat pembuat ekstrak tersebut bunga teratai biru utuh di pecah menjadi beberapa kelopak, kemudian dari kelopak itu di ambil sarinya lalu ekstraknya dialirkan melalui selang kaca kecil, hingga akhirnya menetes lah satu ekstrak kelopak lotus biru ke arah cacing tersebut.


Di arah yang berlawanan seorang pria paruh baya tengah kesulitan membawa barang-barang perlengkapan lab masuk ke ruangan tersebut.


"Dok..ini barang-barangnya" kata seorang cleaning servis kesulitan membawa barang di tangannya yang bertumpuk tinggi.


"Ya, taruh disana..dan awas jangan sampai nyenggol apapun ya!" kata Prof.Giana.

__ADS_1


"huh, bisanya cuma nyuruh..yah gimana lagi udah nasib..andai aku juga pintar..pasti aku sudah jadi profesor sekarang, bukannya malah jadi OB" gerutu pria itu dalam hati.


Pria itu pun membawa barang perlengkapan lab itu dengan kesusahan hingga hampir terjatuh.


"Eh?! eh?!" terkejutnya karena ia hampir jatuh mengenai penelitian Prof.Giana.


"Hufffffttt..hampir saja" kata pria itu lega karena ia tidak jadi terjatuh.


Ia pun melangkah.


BRAKK!!!


"Aduh"


Pria itu tersandung meja penelitian. Sontak semua terkejut. Alhasil semua barang bawaannya jatuh, zat kimia yang ada di meja itu juga berantakan dan tumpah berserakkan.


"Aduh..saya sudah bilang untuk berhati-hati" kata Prof.Giana sedikit membentak.


"M..m..m..maaf profesor" sesal pria itu.


Semua termasuk Prof.Giana membantu merapihkan gelas gelas ukur yang terdapat zat kimia itu.


"Profesor, dimana cacing itu?" tanya Putri Nadi.


"Bukannya di situ" jawab Prof.Giana.


"Tidak ada" kata Putri Nadi.


"Oh tidak, jangan-jangan.." panik Dr.Wikan.


Mereka melirik ke arah bawah dimana seekor cacing bernoda bahan kimia berwarna hijau di punggungnya, dari arah belakang menggeliat di kaki bagian bawah tepatnya diatas pergelangan kaki pria OB tadi yang masih duduk kesakitan karena jatuh.


"Oh, tidak" panik semua.


KRAUKK..


"AAAA!!!" teriaknya kesakitan.


Dalam sekejap pria itu berubah menjadi monster cacing mengerikan dengan warna perak di sekujur tubuh.


"Oh, tidak" panik Prof.Giana dan Dr.Wikan.


"Kenapa? apa yang terjadi?" tanya Putri Nadi.


"Mungkin ini reaksi kimia..saat zat kimia hijau dan ekstrak sari kelopak lotus biru bercampur dan disalurkan melalui gigitan cacing itu yang mungkin juga bercampur dengan virus A-W12 maka akan terjadi reaksi di tubuh manusia yang mungkin juga disebabkan hormon atau sel lainnya, akibatnya tubuh yang mengalami reaksi itu akan membesar dan berubah menjadi monster" jelas Prof.Giana.


"Lalu bagaimana cara menyembuhkannya, Prof?" kata Dr.Wikan.


"Itu..kita pikirkan nanti..sekarang kita cari cara agar monster ini tenang" kata Prof.Giana.


"CARI OBAT BIUS!!" perintah Prof.Giana tegas.


"BERDOSIS PALING TINGGI!!" perintahnya lagi.


"Baik" kata Dr.Wikan pergi mencari obat bius.


"Ini" kata Dr.Wikan memberikan obat bius.


ROARRRRRRR...


Makhluk itu menghancurkan tempat penelitian dan berjalan menuju pusat keramaian.


ROARRRRRRR....


"Wikan kamu evakuasi warga..saya akan mendekati monster itu" kata Prof.Gia membawa beberapa suntikan berisi obat bius berdosis tinggi.


Dr.Wikan mengangguk.

__ADS_1


"Tapi itu akan berbahaya, Prof" khawatir Dr.Wikan berbalik.


"Sudah kamu turuti saja apa kata saya...saya akan baik-baik saja selama ada sang Pelindung di sini" kata Prof.Giana melirik ke arah Putri Nadi.


Putri Nadi terbelakak.


"Hah?" (Dr.Wikan)


"CEPAT!" Prof.Giana sedikit membentak.


Tanpa basa basi Dr.Wikan bergegas pergi mengevakuasi warga, dan Prof.Giana melancarkan rencananya untuk membius monster itu. Putri Nadi? tentu saja dia tidak diam saja, sebagai Pelindung Negeri Resyam dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan rakyatnya. Mata putri Nadi membiru lalu ia merubah pakaian lab nya dengan pakaian bertopeng berwarna hijau sedikit dengan ornamen daun dan berpakaian bak kesatria hutan dengan pedang emasnya yang berubah menjadi busur hutan yang indah namun kuat berhias tanaman merambat. Bola matanya berwarna hijau yang mengisyaratkan Putri Nadi menggunakan kekuatan tanaman.


"Aku akan menggunakan panah bius" kata Putri Nadi.


ROARRRRRRR.....


Putri Nadi lalu mengangkat busurnya, lalu muncullah panah berhias tanaman rambat hijau. Ia mengarahkan panahnya ke tubuh sang monster.


Zinggg...


ROARRRRR...


Monster itu berbalik dan membuka mulut, sehingga panah Putri Nadi masuk kedalam mulut monster itu.


"Ih, licik!" gerutu Putri Nadi.


JLEBB...


Jarum suntik berisi bius berdosis tinggi menancap di badan monster itu.


"Bagus, Putri..kau mengalihkan perhatiannya" Prof.Giana mengacungkan jempol dan tersenyum tipis ke arah Putri Nadi.


Rupanya satu suntikan obat bius berdosis tinggi belum cukup melumpuhkan sang monster mengerikan itu, ia justru semakin liar dan garang dari sebelumnya.


ROARRRRRR...SQUAKKKKK..


Monster itu mengeluarkan lendir hitam menjijikkan dari mulutnya, lendir itu lalu berubah menjadi pasukan zombie silver bermata kuning besar. Semua orang lari ketakutan.


"Kesini lewat sini..Hah?!" kaget Dr.Wikan.


ZAAAAA...


"Cepat.. cepat" panik Dr.Wikan melihat pasukan zombie silver yang menghampiri mereka.


ZAAAA...


"Tolongg!!!" kata salah seorang warga yang berhasil di tangkap oleh para zombie mengepungnya.


Dr.Wikan panik bukan main, ia langsung lari begitu saja menjauh dari para zombie itu untuk menyelamatkan diri. Satu persatu warga yang di belum terevakuasi tertangkap oleh para zombie bermata kuning itu.


ZAAAAA...


Keadaan menjadi sangat kacau di Dunia Kebalikan. Monster cacing itu lalu membuka mulutnya, seakan ia akan melakukan sesuatu yang membahayakan.


"PROFESOR!!! LARI DARI SITU!!" teriak Putri Nadi melihat Prof.Giana dalam bahaya.


"Hah?" Prof.Giana berbalik ke belakang.


Sebuah angin hisapan menarik semua benda-benda yang ada di Dunia Kebalikan. Kekuatan angin hisapan itu sama besarnya dengan kekuatan hisapan lubang hitam.


"Oh, tidak" Prof.Giana mundur perlahan.


"AAAAAA!!!"


Prof.Giana ikut tersedot ke dalam mulut monster mengerikan itu.


"PROFESOR!!" teriak Putri Nadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2