
EPISODE SEBELUMNYA
"Yey, tim pencuri menang, tim polisi kalah, horey!" Manda malah bersorak ria.
"MANDA!!"
Tatapan tajam penuh kekesalan teman-temannya hadiahkan untuk Manda.
"A-a-apa?" gugup Manda.
"Apa yang kau pikirkan! Dia pencuri, mencuri kunci kita pulang dari sini," kata Fikram.
"Ya, dan kau malah …," Dina menatapnya tajam.
"Aku-aku hanya … kita kan sedang bermain," sangkalnya dengan mata ingin menangis.
"Bermain katamu! Dengar, ada waktunya bermain dan ada saatnya untuk tidak bermain, dan sekarang bukan waktunya bermain, mengertilah itu Manda," ucap Dina dengan nada setengah membentak.
Manda menunduk.
"Sudahlah, sekarang kita harus mengejar pencuri itu sebelum berlari lebih jauh lagi," usul Nadia.
"Oh, tidak. Kita tidak akan mengejarnya," ucap Ibu Albert.
"Kenapa, Bu?" tanya Gamma.
"Lihat, matahari sudah akan tenggelam," menunjuk ke arah matahari yang sudah berwarna jingga. "entah bahaya apa di depan sana kalau kita meneruskan perjalanan di malam hari. Kita istirahat malam ini," ujar Ibu Albert.
"Hegh, bagus. Sekarang kita tidak bisa mendapatkan buku itu. Entah sampai kapan kita akan terjebak di sini. Ooh, kuatkanlah aku semesta!" kesal Dina.
"Tenagaku yang berharga terkuras sia-sia, huhu," gerutu Fikram.
__ADS_1
Manda merasa bersalah, ia bungkam, menunduk merenungi perbuatannya. Sementara, Nadia dan yang lain mengumpulkan kayu untuk membuat api unggun. Mereka akan beristirahat mengumpulkan tenaga mereka malam ini.
"Aku melihat celah," ucap seseorang tersenyum miring, memerhatikan entah dari mana.
Matahari telah istirahat dari tugasnya, tugasnya digantikan bintang-bintang yang bersinar menghiasi langit malam dingin ini. Hangatnya api unggun menetralisir hawa dingin yang menusuk kulit. Di tempat ini, tidak hanya memiliki siang hari yang menyengat, tetapi juga malam hari, dingin yang sangat menyengat.
"Berasa kemah SMA-an deh," kata Fikram menjulurkan tangannya ke api unggun untuk mendapat kehangatan.
"Kurang marsmelow ama tenda," kata Dina.
"Setuju," ucap Rio.
"Ibu Albert," Nadia memanggil, sementara orang yang dipanggilnya menoleh. "hawa begini pas buat cerita nih. Ingat kau masih berhutang penjelasan lo. Hutang kan harus di bayar," kata Nadia menagih.
"Kalau ngga di bayar di bawa mati lo," kata Rio.
"Ya-ya aku tahu. Tidak usah di jelaskan lebih lagi," potongnya tidak mau mendengar terusannya. "Huff, aku harap kau sudah stabil," ia melirik ke arah Fikram.
Fikram hanya memutar bola matanya.
Fi.Kra.M atau Finn Kraide Marine, putra mahkota dari Raja / dan Ratu Marine. Yang merupakan dari pemimpin dan penguasa para suku makhluk air bernama Siren.
"Nanti," Manda menyela saat sedang asyik-asyiknya bercerita. "Fikram keturunan Siren? bukannya duyung? Waktu itu Siera bilang …" pikirnya.
"Dia kan jahat licik lagi kau masih percaya semua perkataannya. Lebih baik ngga deh. Duyung dan Siren sama tapi tak serupa. Intinya masih lebih baik duyung dari pada Siren," jawab Ibu Albert.
*penjelasan Siren. ....
__ADS_1
"Ooo," Manda mengerti.
"Tapi kalau dia keturunan Siren sama seperti Siera. Kenapa saat kita berenang kakinya ngga berubah jadi ekor layaknya kaki siera yang berubah normal saat darat dan saat di air jadi ekor?" tanya Dina.
"Itu… emmm, karena…"
Fikram menuruni fisik ayahnya / raja... yang merupakan darah asli manusia biasa dan ia juga menuruni sedikit darah Siren dari ratu Marine sendiri. Sedangkan Siera adik kandungnya, menuruni sebagian besar darah Ibunya di banding Ayahnya. Maka dari itulah Pangeran Finn Hanya berubah sebagian kecil dari diri Sirennya di banding Siera.
"Berubah? Sebelah mana?" Manda kembali bertanya.
"Haah, kau ini. Masa tidak lihat, sewaktu dia menghab- eeee maksudku sewaktu terakhir kita di sana ada sedikit sisik biru di kepalanya apa kau tidak lihat?" Ibu Albert berbalik bertanya.
"Oooo, ya …"
"Lihat?"
"Tidak,"
GUBRAK!
"Lalu kenapa Ratu Marine dan Siera mengincar kristal itu, serta apa yang terjadi dengan rakyatnya?" tanya Nadia.
"Hemm…" Ibu Albert mengingat-ingat.
Bertahun-tahun yang lalu, setelah Raja dan ratu Marine menikah semua terlihat sangat bahagia dan baik-baik saja. Mereka dikaruni dua anak, ya setidaknya pada awalnya.
"Pada awalnya?" bingung mereka serempak.
Ya, pada awalnya. semua bahagia, mereka mempunyai rakyat yang sangat sukses dan makmur. Hingga…
"Bantai semua rakyatnya! HAHAHA" tawa seseorang pria paruh baya.
__ADS_1
Perdana Menteri Basilia yang kejam menyerang kerajaannya dan membantai semua rakyat ratu Marine. Dia sedih, sangat #blm