
EPISODE SEBELUMNYA
"CEPAT!"
Tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan, cepat-cepat mereka mengikuti kemauan Ibu Albert, mereka takut akan kemurkaan seorang Ibu Albert. Itu menyeramkan, guys (berbisik).
----------------
"Sebenarnya siapa kalian, berani-beraninya menantangku!?" ucap wanita ini terlihat kesal.
"Kami? Kau tidak perlu tahu!"
Tiba-tiba kedua sosok berjubah hitam ini mengeluarkan busur kayu mereka, lalu membidik sang wanita secara bersamaan.
"Kau mau memanahku coba saj-"
JREPPP!
Kedua sosok itu melepaskan panah mereka, tanpa mengindahkan ocehan wanita itu. Namun, sayang panah itu tidak menembus tubuh si wanita melainkan berhasil ditangkap oleh salah satu prajurit buatannya.
"Wow, kalian tidak suka basa-basi ya," ucap si wanita.
Kedua sosok itu tidak memberikan balasan secara lisan, mereka langsung saja menargetkan dia lagi.
"Hei-hei, kau mau membidik ku lagi? Haha, kalian tahu? kalian berdua ini tidak akan bisa melukaiku, lihatlah senjata dan jumlah kalian ... pfffttt. Lupakan saja," ejeknya.
Kedua sosok itu hanya diam.
"Apa sekarang masih kalah jumlah?"
Muncullah suara yang kini menjadi pusat perhatian. Dengan berlatar belakang sinar matahari yang memancar cerah, dan lengkingan elang yang menambah kesan khas adegan ini. Mereka tampak seperti hero dalam film pahlawan super yang menyelamatkan teman mereka di saat-saat terburuk.
But ....
"Apa sekarang kami masih kalah jumlah?" ucap Ibu Albert.
Ngak, ngak, ngak....
Suara gagak muncul menjadi suara latar. Mengerti 'kan kalau sudah ada suara gagak? (Pffffft).
Si wanita menatap datar Ibu Albert dan ketujuh temannya lalu menjawab, "Emmm... ya."
Dina menepuk dahinya, yang lain ikut menatap datar Ibu Albert.
"Astaga, Ibu Albert" gumam Nadia.
Satu orang dengan tujuh teman bersamanya, menantang satu orang dengan beribu-ribu pasukannya. Wah-wah Ibu Albert, impresif.
"Apa aku salah?" tanya Ibu Albert merasa tidak melakukan hal apapun yang membuatnya ditatap.
"Oh tidak, kau tidak salah. Silakan lanjutkan saja," jawab Nadia.
"Semua bersiap, serang!"
Ngak, ngak, ngakk....
Si gagak kembali melewati mereka seraya berbunyi, sepertinya dia akan dapat perkejaan si jangkrik nih. Bersiap untuk wawancara, Gak, haha.
Bukannya langsung berlari dan menjalankan komando Ibu Albert, mereka malah diam mematung bagaikan tidak mendengar apapun.
"Kenapa kalian tidak maju!?" kesal Ibu Albert
__ADS_1
"Jadi ini bantuan yang kau bicarakan?" kata Nadia melipat tangan di depan dada.
"Haah, bertarung lagi," kata Fikram malas.
"Aku kan sedang sakit, bagaimana bisa aku bertarung?" rengek Manda menggembungkan pipinya.
"Aih kalian ini ...," geram Ibu Albert menunduk, sedang mengumpulkan kemarahan sepertinya, wkwk. "Jangan banyak bertanya dan mengeluh! Kalau kalian mau pulang dari sini CEPAT MAJU DAN KALAHKAN WANITA ITU!" Suara kemurkaan Ibu Albert sudah keluar.
Tentu mereka tidak bisa melawan lagi, buru-buru mereka menjalakan perintah dan maju ke depan. Manda? Fikram menurunkan Manda agar ia bisa leluasa bergerak saat bertarung. Semua sudah kesana untuk melawan pasukan si wanita, tapi Rainny mematung dan malah diam menyaksikan mereka menyerang.
"Kenapa kau tidak ikut kesana?" tanya Ibu Albert pada Rainny.
"Emm, aku tidak bisa bertarung," jawabnya.
Ibu Albert menatap datar, memijat pelipisnya lalu ..., "Kau kira aku peduli?! AYO MAJU! CEPAT!" Author hanya bisa mengetik: 'garang'.
Apalah daya, Rainny pun akhirnya ikut bertarung bersama mereka. Ibu Albert tidak ikut menyerang, ia bertugas menjaga anak manusia imut berkuncir dua bernama Manda.
"Haah, mereka semua menghalangiku saja," gumam wanita ini. "Perhatian semuanya! Sebagian kecil dari pasukan urus mereka! Sisanya kita lanjutkan perjalanan, ayo!" si wanita meninggalkan sebagian prajurit yang ia perintahkan untuk menghadapi Nadia dan yang lain.
Tidak ingin membiarkan si wanita pergi begitu saja, kedua sosok ini memamah dia lagi. Tapi tentu saja hal itu gagal. Wanita berhasil berjalan dengan santai dan lancar. Sementara si panah ditangkis oleh prajuritnya yang sekarang telah mengepung mereka bersama tujuh orang anak manusia.
"Gawat dia pergi!" kata Nadia melihat si wanita pergi begitu saja.
"Dia pergi dan kita terkepung dengan makhluk gila ini," timpal Dina.
"Hacthuuu!" Fikram bersin. "Mereka juga membuat orang bersin," katanya.
"Kita terjebak oleh perangkap yang sama, tapi kali ini bisa bergerak!" simpul Rio.
"Haah, tahu begini aku tidak ikut tadi," sesal Gamma.
~Beralih ke Ibu Albert dan Manda~
Ternyata sebagian lagi dari mereka berusaha mendekati mereka dan ya, mereka juga terkepung saat ini. Beruntungnya Ibu Albert masih bisa menghalangi mereka dengan jurus pohon besar yang ia munculkan. Tentu hal itu membuat Manda bertanya-tanya, 'bagaimana Ibu Albert bisa seperti ini?'.
"Oh tidak, si wanita mulai melarikan diri. Hei, kau serang wanita itu," katanya yang ditujukan untuk Manda seorang.
"Aku? Yang benar saja! Kakiku sedang terluka aku saja tidak bisa berjalan apalagi bertarung. Lagi pula aku juga tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa ke sana. Kenapa tidak kau saja," jawab Manda.
"Aku bisa saja kesana. Tapi apa kau mau diserang mereka lalu mati?" mendengar hal itu Manda menggeleng kuat. "Tidak 'kan? Ya sudah, kau satu-satunya yang menganggur di sini. Dan untuk kau pergi ke sana, aku punya caranya."
"Bagaimana?"
----------------
HUWAAAA!
"Ibu Albert, kau keterlaluan!"
Kini Manda sedang terbang menembus angin, melewati keriuhan perang itu dengan cara yang hebat. Ini tidak akan terjadi tanpa bantuan dari Ibu Albert. Ya, dia melemparkan Manda dengan salah satu cabang pohon agar bisa sampai ke wanita itu. Sungguh cara yang brilian, Ibu Albert, haha.
GABRUK!
Manda berhasil mencegah si wanita dan pasukannya, tepat di depannya.
"Aduhhh, kejamnya Ibu Albert," Manda membuka mata, ia segara bangkit ketika melihat di hadapannya sudah ada si wanita berserta pasukannya. "Berhenti kau! Jangan bergerak," ucapnya dengan penuh keberanian yang dipaksakan.
Krik... krik...
Si jangkrik kembali, mungkin karena tahu dia akan Author gantikan, wkwk peace, Jang.
__ADS_1
"Hahaha," si wanita dan pasukannya tertawa. "Kau? Kau akan melawan kami? Sendirian? b-b-buahahahaha! Apa yang punya sehingga berani melawan kami, hah?" cemooh si wanita.
Hal itu membuat Manda geram, "Haah Ibu Albert menyebalkan! Sebal-sebal! Aku jadi bahan ejekan kan sekarang, dan mungkin nyawaku dalam bahaya, oh tidak!Mana aku hanya dibekali tiga buah mangga jelek ini lagi." Manda melihat tiga buah yang diberikan Ibu Albert sebelum ia dilempar ke sini.
Mangga berwarna hijau dengan lubang-lubang dan bekas gigitan juga gelembung-gelembung yang sangat menjelaskan bahwa mangga ini tidak layak dimakan.
"Iuhh, mangga seperti ini untuk apa sebenarnya, membuatku ingin muntah saja," batin Manda.
"Hahaha, bersama timnya saja kacau, apalagi sendirian, buahaha Beban Tim-Beban Tim!" ejek si wanita lagi, kata-kata 'beban tim' membuat hati Manda tidak terima.
Mangga yang berada di tangannya tergenggam erat. Ia benar-benar tidak tahan dipanggil 'beban tim' lagi.
"Kau benar-benar ya!"
Syuttt!
Manda melemparkan buah busuk itu ke arah si wanita, tersadar ada benda yang melesat ke arahnya, ia menghindar. Mangga itu pun mengenai sebagian prajuritnya.
Booom!
Sesaat kemudian buah super cantik itu meledak, dan berubah menjadi cairan lengket aneh yang berhasil menjebak para makhluk hijau. Si wanita tampak terkejut, begitu pun Manda yang tidak tahu apa yang telah ia lemparkan sehingga bisa berubah demikian.
"Oh tidak, pasukanku," Si wanita menoleh ke arah Manda. "Kau!" geramnya.
Manda tampak terkesiap melihat pelototan mata si wanita. "M-m-maaf," gugupnya.
"Serang!" si wanita mengomandoni pasukannya untuk mengeroyok Manda.
Sontak Manda tidak bisa berpikir, ia kalang kabut. Ia ingin sekali berlari untuk menyelamatkan diri tapi tidak bisa, akhirnya otaknya mengirimkan sinyal untuk melempar mangga pemberian Ibu Albert lagi.
Boomm!
Ya walau masih tidak mengenai si wanita, Manda berhasil membuat seluruh pasukan yang tersisa milik wanita ini terperangkap bagai lalat di selai rasa melon. Dari sekian banyak pasukannya yang ikut bersamanya tadi, hanya si wanita yang tersisa, ia terlihat sangat marah.
"Kau kira kau menang! Ha, untunglah di setiap langkah pasukanku akan tumbuh tanaman baru. Sehingga aku hanya perlu memanggil mereka dan... poof! Selesai," katanya membuat Manda semakin gemetar.
Si wanita semakin mendekat ke arah Manda. "Buahaha, ajalmu sudah menanti, Gadis Manis."
Manda benar-benar ketakutan, sekujur tubuhnya gemetar, "J-jangan mendekat!"
"Ahaha, jangan mendekat? Aku akan tetap mendekat dan membuatmu takut! Pasukanku kem-"
"Jangan panggil mereka!" tepat sebelum si wanita memanggil pasukannya kembali, Manda melemparkan mangga busuk yang terakhir.
Boom!
Apalagi? Seperti para pasukannya sekarang, ia juga terjebak dalam cairan hijau yang aneh. Manda bernapas lega.
"Hufff, syukyurlah. Aku harus memanggil Nadia dan lainnya," tekadnya. "Tapi bagaimana?" Manda menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal.
Saat ia sedang kebingungan tiba-tiba ....
GRAAAAA!
Perangkap dengan cairan ini tidak mempan untuk si wanita, ia berhasil keluar dari cairan itu. Manda kaget bukan main, ia melongo. Terlihat sekali di raut wajah bahwa ia sedang ketakutan sekarang.
"Kau benar-benar membuatku MURKA!"
"Oh, tidak."
Bersambung ....
__ADS_1