
EPISODE SEBELUMNYA
Kakek San tersenyum. "Baik, mari kita mulai," katanya menarik napas dalam-dalam.
OOOMM!
"Hulahulababakakalalatatatalalalakakaka!"
Si vampir kebingungan, sedangkan Nadia duduk dengan tatapan malas. Ya, mereka sedang melakukan ritual aneh ide dari Kakek San. Dua makhkuk hidup tertukar itu tengah duduk manis di dalam lingkaran yang dibuat. Yang lain mengelilinya di luar lingkaran tersebut. Mantra-mantra aneh pun terlontar dari mulut Kakek San.
"Hulahulaaaaa! Waaksusbehnaoelwiaaaaaaa!"
Dina menatapnya datar, ia sangat tidak nyaman berada di tengah keanehan ini
"Kenapa aku harus ikut dalam keanehan iniiiii," gumamnya merengek.
"Ayolah, temanmu saja menikmatinya kok, tuh," tunjuk Gamma pada Fikram dan Manda.
Dina menatap Gamma dengan wajah kesal.
"Glulullululuraaaaaawarawararaaaaaa! Sembuhlah kau! Kembalilah kau ke tubuhmu, makhluk! Glululululuuuu!"
POOF!
Kabut tebal menyelimuti, lilin-lilin padam, membuat pandangan mereka terhalang.
"Uhuk! uhuk!"
Ketika kabut itu hilang, mereka kebingungan melihat si vampir itu telah menghilang. Hanya tersisa Nadia yang duduk di sana. Nadia merasa dirinya telah kembali, ia pun senang dan lega.
"Akhirnya, tubuh yang normal," katanya senang.
"Apa ini? Vampir itu hilang?" bingung Fikram.
"Aha, teman kalian sudah kembali," kata Kakek San bangga dengan dirinya sendiri karena berhasil. "Sekarang kalian harus turuti semua perintahku, hahaha."
"Hei tunggu-tunggu, bagaimana kami bisa percaya dia itu Nadia yang asli?" kata Rio.
"Ohoho, kau meremehkan kekuatanku ya. Baiklah, tanya saja rahasia yang hanya kalian dan dia yang tahu. Makhluk itu tidak bisa menguasai pikiran orang," jelasnya.
"Aku dulu yang coba," Dina langsung diserobot Gamma.
"Tidak aku saja!" Dina ingin sekali memukul pemuda satu ini, namun ia menahan diri.
"Di mana tempat paling aku dan Nadi sukai?" tanya Gamma pada Nadia.
Nadia kebingungan, "Mana aku tau," jawabnya.
Mendengar itu Gamma membatu, ia tidak bisa berkata-kata. Dina langsung menertawakannya.
"Haha, makanya jangan main serobot aja. Sini biar gue aja," katanya maju di depan. "Apa senjata andalan dan paling ampuh dalam tim kita?"
Kalian tahu jawabannya? Tahu dong ya.
"Sepatulu, Din gue tahu."
Binggo!
Dina, Rio, Fikram, dan Manda tercengang. Ya, jawabannya tepat sekali. Berarti memang dialah Nadia yang sebenarnya. Tapi masih ada satu pertanyaan kemana perginya si vampir?
"Waahhh, ini emang lu ya Di," kata Dina senang.
__ADS_1
Manda langsung memeluk Nadia. "Syukurlah, Nadia kembali!" matanya banjir karena air mata kebahagiaan.
Nadia tidak merespon ia melepas pelukan Manda. "Manda, biarkan aku sendiri dulu. Aku mengalami hari yang sangat berat akhir-akhir ini." Nadia langsung pergi, mengistirahatkan dirinya.
Manda hanya menatap.
"Apa dia ngambek?" tanya Dina.
"Nadia maafkan kami, jangan ngambek dong!" sahut Fikram.
"Ya, nanti kalau kau ngambek kami sedih loh!" Manda ikut-ikutan.
"Huwaaa!" Mereka saling berpelukan. Lagi-lagi hal konyol mereka lakukan, memang pasangan yang serasi.
-----------------
Titik-titik embun di rumput mulai terlihat, kicauan burung mulai bersahutan menyambut sang surya yang baru saja muncul. Di awal hari ini mereka sudah setengah perjalanan dari tujuan.
"Hoaaaammm, ngantuk," kata Fikram menguap keras.
"Parah sih ini, kita suruh bangun dan jalan pagi-pagi buta coba," komentar Dina.
"Pagi buta apanya, ini sudah siang tahu!" hardik Ibu Albert
"Hey, apa kalian lupa. Kalian harus mengikuti semua perintahku tanpa protes, tanpa protes sedikitpun. mengerti?" ujar Kakek San menegaskan sekali lagi.
Fikram dan Dina menjawab dengan malasnya, "Iya-iya."
Kertas usang kecoklatan dibentang lebar oleh pria tua ini. Kakek San berhenti seraya mengamati peta di tangannya. Mereka telah tiba di tempat tujuan.
"Aha, kita sampai. Selamat datang di pusat Negeri Resyam!"
Tempat yang luas nan bersinar terpampang jelas. Suara riuh heboh terdengar karena ramainya keadaan. Banyak orang lalu-lalang memilih barang kebutuhan mereka. Menara tinggi dengan bendera kebangsaannya berkibar gagah. Benar, saat ini mereka tiba di pasar kerajaan Resyam.
"Keren!" takjub Fikram.
"Eeee... hanya perasaanku saja, atau memang kita sedang diperhatikan oleh mereka sejak tadi?" tanya Nadia menyadari ada puluhan pasang mata yang melihat mereka.
"Ya, kalian memang sedang ditatap," kata Ibu Albert.
"Kenapa mereka menatap kita ya?" bingung Rio.
"Pake nanya, ya karena pakaian kalian aneh. Kecuali kau Di, pakaianmu paling bagus di antara teman-temanmu itu, haha," kata Gamma, membuat Dina ingin memotong langsung mulutnya itu.
"Aih, ini bahaya kalau mereka menatap kalian terus. Cepat ke sana!" Seru kakek San mengarahkan masuk ke sebuah toko.
Mereka mengekori dan langsung masuk ke sebuah toko kecil. Mata mereka dimanjakan dengan barang-barang yang menarik. Pernak-pernik kecil hingga baju berkilau besar tersedia di sana.
"Aku mau ini!" Manda mengambil sebuah baju penuh dengan permata yang menyilaukan.
Ibu Albert pun menegur, "Heh, tidak! Kau hanya akan memakai jubah ini, kita juga. Ayo cepat pakai!" tegasnya membagikan jubah hitam legam.
"Aaaa, Ibu Albert ngga asik!" ketus Manda mengganti baju mewah itu dengan jubah sederhana.
Kini mereka telah memakai jubah tersebut dan Kakek San pergi membayar.
"Ini pakaian paling murah di toko ini ya? Bahannya tidak nyaman," ujar Dina.
"Eh, ti-ti-tidak weh! Jangan sok tahu!" gagap Kakek San, aha sepertinya memang benar apa yang dikatakan Dina tuh, hihi.
"Baiklah mari kita pergi. Cukup melihat-lihatnya!" ajak Ibu Albert keluar dari toko.
__ADS_1
Sementara yang lain mengekor keluar, sepasang manusia masih melihat-lihat pernak-pernik di toko itu. Hati mereka merasa tertarik dengan salah benda di sana. Di tempat yang sama dan barang yang sama pula, gelang. Gelang berbandul benda langit favorit mereka, bertabur permata kecil yang berkilau, sangat memikat mata dan hati. Ingin sekali mereka membeli, namun di sisi lain mereka juga harus pergi menyusul agar tidak tersesat sendiri.
"Aih, aku ingin membeli ini untuk Rio, tetapi dia kenapa tidak keluar sih. Masa aku harus membeli di hadapannya, kalau aku ditanya ini untuk siapa bagaimana? Apa yang harus aku lakukan," pikir Nadia.
"Eh, mereka sudah keluar. Aaah, kita harus menyusul mereka, bisa-bisa kita akan diseret Ibu Albert, kan bahaya," ucap Rio. "Ayo, Di" ajaknya.
Nadia terkesiap, "Ini kesempatanku," batinnya. "Ya, ayo. Kau duluan, Ri, aku di belakangmu," kilahnya.
Rio mengangguk dan langsung menyusul mereka. Tanpa sepengetahuan teman yang sangat menyukai matahari itu, dalam kesempatan emas ini, Ia mengambil gelang tersebut dan pergi membayar.
~Di luar~
"Aku harus menggadaikan kaos kaki dan satu belati ku. Ku kira pakai kaos kaki saja sudah cukup. Ternyata tidak ya," kata Nadia pada dirinya sendiri. "tapi ya sudahlah, ini sepadan kok," ia tersenyum sambil melihat gelang indah yang baru saja ia beli.
"Nadia!" panggil Manda.
Nadia melangkah menghampiri mereka.
"Ngapain aja kau di sana? Lama banget deh," kata Dina.
"Ah, kalian saja yang jalannya kecepetan," balas Nadia.
"Tunggu apalagi, mari kita ke istana!" kata Fikram.
"Tidak!" tolak Kakek San. "Kita akan beraksi malam hari nanti. Sekarang kita akan beristirahat sambil berdiskusi dulu," sambungnya.
"Haah, lama sekali. Apa tidak bisa kita langsung ke sana, bukankah mudah. Tinggal ke istana terus cari batu elemennya dah selesai," ujar Dina.
"Kau pikir mudah masuk ke istana dengan pasukan yang jumlahnya ribuan, hah!?" hardik Kakek San.
"Ya-ya, sudah-sudah. Kita akan ketempat yang kau minta Kakek San, pimpinlah jalannya," lerai Nadia.
"Hmmmph, ya baiklah sesuai perintahmu, wahai Yang Terpilih," jawab Kakek San.
~Kemudian~
"Woahhhh, kita akan berdiskusi di sini? Kerenn!" kata Fikram.
"Ya tentu, ini adalah wilayah paling tepat untuk diskusi," jawab Kakek San.
"Sepertinya semua rumah di sini, dijadikan penginapan," simpul Rio melihat dari plang penginapan yang terpasang di setiap rumah.
"Ini wilayah Penginapan Kerajaan," jawab Ibu Albert.
"Negeri ini sangat tertata, semua punya wilayah dan fungsinya masing-masing jadi jangan heran kalau kau menemukan satu wilayah dengan kategori yang sama sedari tadi," kata Gamma.
"Oooo," jawab mereka kompak.
"Jadi kita mau pilih yang mana? Ah, yang itu saja sepertinya penginapannya bagus," Manda menunjuk ke arah penginapan yang paling besar dan mewah.
"Aku punya ide lebih baik," kata Kakek San berseringai.
TADAAA!
Doenggg!
"Kau serius ini tempatnya?" tanya Dina datar.
"Iya lah tidak ada yang lebih bagus dari ini," bangga Kakek San.
"YANG BENAR SAJA, KAKEK SAN! INI GUDANG PENYIMPANAN!"
__ADS_1
Bersambung ....