
EPISODE SEBELUMNYA
"Hai, Naga Jelek," sapa Dina.
"Hiiii!" geramnya.
"Ha, menyerahlah Raja Basilia, kau sudah kalah," kata Kakek San.
"Kita akan pulang Alga," girang Manda.
"Ya, Mimoku," senang Fikram.
"Raja Basilia telah kalah! HOREEE!" Warga pun bersorak sorai kegirangan.
"Hukum mati! Hukum Mati! Hukum Mati!"
"Bagaimana hukum mati?" tanya Kakek San.
"Kuy!" Dina sudah bersiap membawa kapak yang sangat besar.
"Hiks! Hiks! Maafkan aku!"
Terdengar suara penyesalah dari mulutnya. Atensi mereka kini tertuju pada Raja Basilia.
"Ma-ma-maafkan aku... hiks-hiks!" ia menunduk, terlihat tetesan air mulai jatuh membasahi lantai.
"Kau serius mau minta maaf dan perbaiki kesalahanmu?" tanya Kakek San.
"Apapun demi menebus dosaku pada negeri ini," ucap Raja Basilia masih menunduk.
"Kakek San kau percaya?" -Ibu Albert.
"Ya, kurasa dia benar-benar serius," balas Kakek San.
Dina nampak kecewa tidak jadi menghukum mati Raja ini.
"Baiklah, Basilia kau akan kami maaf-" ucapan Kakek San terpotong.
"Tapi boong! BUAHAHAHA!" Ia segera bangkit. Bisa terlihat Kakek San dan yang lain terkejut bukan main. "Kau pikir aku menyerah semudah itu? Buahahaha, tidak akan! Ingat gerhana ini belum beakhir! Aku masih mempunyai kekuataan tak tertandingi! BUAHAHAHA!"
"Haaa, gagal pulang!" Manda dan Fikram kecewa.
"Dengan kekuatan hitam, kuserahkan tubuh ini! Buat diriku menjadi sarang tempat tinggal kalian! Buat aku jadi lebih kuat!"
GRUUUUUUGH!
Seketika awan gelap kembali muncul. Angin bertiup kencang. Terlihat asap-asap yang merupakan jiwa-jiwa jahat turun mengelilingi Raja Basilia dan mulai memasukinya.
"Rasakan kemarahanku akibat kalian menghancurkan rencanaku! AKAN KU BUAT NEGERI INI RATA DENGAN TANAH!" ucapnya. "BUAHAHAHA!"
Tubuhnya semakin besar seiring masuknya jiwa jahat itu, sekarang ia menjadi sebesar raksasa tidak lebih besar lagi! Matanya merah menyala. Amarah begitu terpancar darinya.
"Rasakan ini!"
BUGH!
Dengan entengnya ia merubuhkan istana. Reruntuhan itu membuat tanah bergetar hebat. Para rakyat lari pontang panting ketakutan. Rio dan yang lain terlempar agak jauh dari bangunan yang rubuh itu.
BRUK!
"Uhuk! Uhuk!"
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Dina dengan suara parau.
"Apa ini akhir kita?" kata Fikram dengan mata berair, bersiap menangis.
__ADS_1
"Kita akan mati sebelum pulang, huwaaaa!" histeris Manda.
"Kristal itu, kalian harus memakai kristal itu," kata Ibu Albert.
Lima kristal itu tercecer berserakan tidak jauh dari tempat mereka jatuh.
"Tapi kami tidak tahu cara menggunakannya," kata Rio.
"Tidak apa, kalian ambil dulu!" suruh Ibu Albert.
Mereka mengangguk, dan bergerak perlahan melawan arus angin yang kencang ini. Melihat pergerakan, raksasa Basilia tidak terima, ia tau mereka akan mengambil kristal itu. Ia pun bertindak.
"Kalian ingin mengambil kristal itu ya? untuk melawanku begitu! Tidak akan ku biarkan!"
Dua tangan raksasa ini ia angkat tinggi-tinggi. Lalu dilesatkanlah tangan super besar ini ke arah mereka. Satu saja sudah kuat apalagi dua.
SWINGGG!
"Jangan halangi mereka!"
Beruntunglah sebelum tangan si raksasa memenyet mereka, Kakek San berhasil membuat perisai pelindung mirip sangkar di sekitar dirinya dan mereka. Fiuhh, kalau saja mereka terkena tangan itu, mereka sudah jadi rempeyek.
"Ooo, begitu ya kakek tua, kau masih kuat ternyata. HIAAA!"
DUNG! DUNG!
Raksasa ini memukul-mukul perisai menyebabkan tanah sekitar mereka bergetar hebat.
"Aduhhh, aku takut Alga," kata Manda.
"Tenanglah Mimo, ada aku di sini tenanh ya," Fikram mencoba menenangkan Manda.
KakeK San terlihat sudah tidak kuat menahan hantaman raksasa ini. Energinya terkuras, sementara mereka masih merangkak karena kristal itu masih jauh.
Perisai itu mulai retak dan akhirnya pecah. Mereka pun terlontar jauh sebelum menyentuh kristal itu.
"Uhuk! Uhuk!"
Terlihat mereka sudah tak berdaya.
"Tinggal satu hantaman lagi dan kalian akan menyatu dengan tanah!"
SWINGG!
Tangan jumbo itu kembali mendekati mereka dengan cepat. Netra mereka menbulat dan keringat mengucur Deras. Kali ini mereka akan benar-benar jadi rempeyek.
"Matilah kalian!"
"Tidak akan Raja Licik!"
Tangan wumbo-jumbo ini berhasil dihentikan. Dihentikan oleh gadis pemberani. Kalian mungkin bertanya-tanya. Seorang gadis? Siapa?
"Nadia ...," Satu nama itu terucap oleh bibir Rio ketika melihat sahabatnya di depanya.
Dengan luka yang sama, dan pedang yang masih menancap di jantungnya.
"HIAAA!" ia menghempaskan tangan itu, nyatanya kekuatannya bisa membuat Basilia sedikit terhuyung.
"Kau masih hidup!" kesal Raksasa ini.
Nadia mencabut pedang itu dari jantungnya, Ia tampak lemah namun tatapannya sangat tajam.
Ia membuang pedang itu ke sembarang arah. "Ya, tentu aku masih hidup. Aku akan hidup untuk mengirimu ke alam Baka!"
Seketika jiwa Sang Pelindung, Putri Nadi terpancar terlihat dari diri Nadia.
__ADS_1
"Putri Nadi."
"Adikku, Nadi."
"Nadia...."
Mereka semua berkaca-kaca.
"Haha kau leluconmu itu tidak lucu! Terima ini!" Kali ini si raksasa memakai reruntuhan sebagai bahan serangan selanjutnya
"Kekuatan alam semesta, tolong izinkan aku," Seketika tubuh Nadia melayang. Cahaya keemasan membentuk kuncup bunga ia seakan terbungkus di dalamnya.
SWINGG!
Rentuhan itu melesat mendekati Nadia. Tak lama kelopak bunga emas itu mekar, dengan kecepatan yang super cepat gadis itu meluncur ke arah reruntuhan tersebut.
SRING! SRING!
Nadia mendarat dengan sempurna. Batu itu pun hancur berkeping-keping. Nadia, kini ia memakai jubah putih dengan bordir emas, di kedua tangannya ia menggengam belati panjang. Tak lupa ada kantong sebagai tempat persediaan belati di pinggangnya. Luka dan noda darah di sekujur tubuhnya tak terlihat lagi.
"Waahh, Nadia kerenn!" Mata Manda dan Fikram berbinar.
"Mungkin kau bisa melawan satu, tapi bagaimana dengan INI!" Raksasa ini kembali melemparkan reruntuhan besar. Bukan satu dua namun puluhan reruntuhan ia lemparkan pada Nadia.
Nadia menatap dengan wajah serius. Ia mengambil ancang-ancamg kemudian melompat melesat menuju reruntuhan mendekati raksasa itu sambil terus menggengam belati di tangannya.
SET! SRING! SRING! DRAP! DRAP!
Dengan lincahnya Nadia melompati satu persatu bongkahan besar itu. Beberapa kali ia menghindar dan menyerang membuat bongkahan itu menjadi serpihan yang lebih kecil.
SRING!
Kini ia berhasil mendekat dan menatap tajam Raksasa ini dari dekat. Raksasa itu melihat dari sudut ekornya, menelan salivanya dengan berat.
"HIAAA!"
SRING! SRING! SAT! SET!
Sabetan-sabetan cepat dari belati, Nadia ukir di lengan raksasa ini. Dari lengan lain ke lengan lainnnya ia lakukan dengan gerakan sekejap mata. Si raksasa nampak kewalahan menghadapainya.
"HIAAA!"
Nadia meloncat di udara, ia melesatkan puluhan belati yang terdapat di kantongnya ke arah si raksasa.
JLEBB!
"Aggh!" Puluhan belati itu berhasil memperparah lukanya. Raksasa ini pun memegangi luka di tangan kanannya.
Nadia mendarat, dengan tatapan tajam bak seekor elang.
"Bagaimana ia jadi sekuat ini?" batin si Raksasa kebingungan. "Apa diaa sudah memakai kristalnya?"
"Padahal anak ini sama sekali tidak pakai kristal itu, tetapi energinya sudah sekuat ini?" Ibu Albert takjub melihat Nadia.
"Menyerahlah, Basilia!" tegas Nadia.
"Hahaha, tidak! Aku tidak akan menyerah! Kau lah yang harusnya menyerah, Bocah Tengik! RAAAAAA!" tangan dan kaki Raksasa itu kini menghancurkan rumah-rumah penduduk dan meratakan penduduk yang berada di sekitarnya.
Dari bekas itu keluarlah jiwa-jiwa bak asap yang langsung masuk ke dalam raksasa ini. Raksasa Basilia pun bertambah besar dan kuat seiring banyaknya jumlah jiwa yang masuk.
"Buahaha! Sekarang aku lebih kuat! BUAHAHAHA! HIAAAA!"
Nadia bersikap waspada. Mampukah ia melawan Raksasa ini?
Bersambung ....
__ADS_1