
EPISODE SEBELUMNYA
Fikram pun beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju pintu.
"Kenapa akhir-akhir ini aku selalu dapat mimpi aneh? Sejenis lagi," pikirnya seraya menuju pintu.
Ceklek!
Pintupun terbuka sempurna.
"Ya, ada apa?" tanyanya.
"Ada apa? Harusnya aku yang bertanya begitu, Kak. Ada apa Kakak tadi berteriak? Apa ada sesuatu?" tanya Siera.
"Ah, itu ...." balas Fikram teringat mimpinya tadi. "Emm, tidak. Tidak ada apa-apa," bohongnya.
"Benarkah?"
Fikram hanya mengangguk pelan.
"Baiklah kalau begitu," Siera mengiyakan. "Ya sudah Kakak siap-siap sana, aku tunggu disini," ucapnya menyandarkan tubuh di dinding luar kamar Fikram.
"Siap-siap? Siap-siap untuk apa?"
Mendengar penuturan Fikram barusan sontak Siera menepuk jidatnya.
"Aduh, Kak! Apa Kakak lupa? Kita'kan mau menemui temen Kakak," ujarnya mengingatkan.
"Hah!" Fikram agak tersentak. "Ah, iya itu" ujarnya sudah mulai ingat.
"Kakak, Kakak" Siera menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tunggu! Aku jadi curiga, jangan-jangan Kakak ini sudah tua ya selama tidak tinggal di sini? Lalu Kakak pakai ilmu yang tidak-tidak agar usia Kakak tersamarkan, iya yah? Hayo ngaku," tuduhnya mendekat ke arah Fikram sehingga membuatnya terpojok.
"Husst! Sembarangan! Masa ganteng kek bintang pilm begini dibilang yang ngga-ngga. Kakakmu ini ganteng dari lahir loh ya, mon maap " ujar Fikram melipat tangannya di depan dada.
"Iih! Masa sih!" ujar Siera gemas lalu mencubit pinggang Fikram kencang.
"Adududududuh! Sakit, Dek! Sakittt!"
"Ups! Maaf-maaf, Kak" Siera melepas cubitannya dan menutup mulutnya. "Eeee ... Si ... Si ... Siera nunggunya disana ya, Kak! Emm, dadah" ucapnya langsung ngacir meninggalkan Fikram.
"Aduh! Emak ama anak sama aja, udah tradisi di sini kali ya, kalau gemas nyubit," gumam Fikram memegangi pinggangnya yang dicubit Siera.
Fikram pun menutup pintu kamarnya dan masuk kedalam kamar untuk bersiap-siap.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Drum ... drum ... drum ....
Suara drum menambah suasana semakin tegang.
"Jawabannya ...." ucap HAHAHA kembali menggantung. "Hahaha, selamat! Jawaban kalian ... Be ... lum tepat ...."
GUBRAK!
"Haduh! Sangat mengecewakan," ujar Dina, Manda dan Gamma kecewa.
"Heh! Bagaimana bisa salah?! Itu'kan pilihan terakhir, harusnya benar dong!" protes Manda.
"Salah adalah salah" ujar HAHAHA.
"Hihihihi ... sekarang kalian punya satu kesempatan terakhir, hihihihi" timpal HIHIHI.
"Tiga kesempatan sudah dipakai, air akan menyala dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat," jelas HAHAHA.
__ADS_1
"Apa!" kaget mereka. "Tidak adil!" kesal mereka berbarengan.
"Tinggal satu kesempatan kita harus pikir baik-baik," ujar Nadia mulai berpikir.
"Ya, ya, ya. Berpikirlah, aku tidak ada ide!" kesal Dina melipat tangannya.
"Hemm, Budi ... Budi cowok, kan? Kalau cowok biasanya suka pakai baju warna apa?" tanya Manda pada para lelaki.
"Emm, banyak sih" jawab Gamma.
"Rata-rata warna hitam atau putih, tapi banyak juga yang pakai warna coklat atau abu-abu," jelas Rio.
"Ya udah! Jawaban terakhir warna baju yang Budi punya," sahut Dina asal.
"Dina!" tegur mereka.
"Apa? Hanya itu jawaban yang terlintas dipikiranku, dari pada tidak ada terus kita tenggelam 'kan? Mending itu daripada kaga," ujar Dina.
"Ya tapi Din," kata Manda.
Dina menaikkan alisnya dan melirik Manda dari sudut matanya, mendengarkan.
"Bisa aja 'kan, itu bukan baju punyanya Budi, bisa aja dia pinjem dari temennya," jelas Rio.
"Lah, buat apa dia pinjem baju? Masa baju kaga punya ampe minjem?" balas Dina.
"Bisa aja bajunya kotor di jalan, eh! Ketemu temen, jadi daripada kaga pake baju ya ... mending minjem," kata Gamma.
"Hahahaha! Cerdas juga teman kalian!" kata HAHAHA menyela.
"Jadi? Bener kaga?" tanya Dina.
"Emm, gimana ya? Mau tau?" tanya HAHAHA.
"Iya dong," jawab Manda.
"Cepet ngga?! Gue lempar sepatu gue, nih!" kesal Dina bersiap melepas sepatunya yang terpendam air.
"Iya-iya, sabar-sabar" HAHAHA menciut.
"Eeee ... gimana mo dilempar? Kalau dilempar juga kaga kena Elu, HAHAHA (-_-')" batin Gamma.
"Haduh, tidak ada peningkatan kalian ya, buruk, buruk ... ckckckck" kata HAHAHA membolak-balik halaman sebuah buku bersampul merah mirip seperti rapot anak SD.
"Kenapa?" tanya mereka serempak.
"jawaban kalian SALAH!" tegas HAHAHA.
"Kesempatan sudah habis, hihihihi" kata HIHIHI.
"Sesuatu janjiku waktu kita percepat," kata HAHAHA. "Sepuluh kali lebih cepat! Hahahaha."
"Hah!"
Dan benar saja, aliran itu kini mengalir lebih deras, bahkan sangat deras dan kencang. Suasana panik pun tidak terhindarkan lagi. Semakin cepat aliran airnya, semakin cepat pula ruangan itu dipenuhi air berisi belut-belut ganas.
Zratts ....
"Aduh! Apaan nih!" ujar Gamma merasakan ada sesuatu yang menyengat kakinya. "Hah!"
Zratts ... zratts ....
"Aduh! Aduh! Pergi! Pergiii!" takut Gamma melihat seekor belut listrik di samping kakinya. "PERGI!" takutnya, mencoba mengusir belut itu dari hadapannya.
__ADS_1
Zratts ....
Bukannya pergi belut itu malah menyengat Gamma lagi.
"Aaa! Pergi! Pergi!" Gamma langsung lari bersembunyi di balik badan ibunya.
Entah bagaimana caranya ia berlari dalam keadaan tergenang air seperti itu.
Blub ... blub ... blub ....
Tanpa terasa air itu sudah memenuhi ruangan labirin. Belut-belut listrik itupun terlihat jelas sedang berenang kesana-kemari. Terlihat juga dua makhluk yang tidak diketahui jenisnya sedang asyik menonton dari balik ruangan kaca yang tidak terlalu besar.
"Sayang sekali, waktu sudah habis dan kalian tidak bisa menjawabnya. Jadi ... untuk apa kalian disini?" seringai HAHAHA menatap mereka dengan tatapan yang mengerikan.
Seketika para belut-belut itu menghentikan aktivitas berenangnya dan menatap tajam keenam manusia di depan mereka.
"Sayang sekali, gagal di tantangan pertama, HAHAHA! Lemah ...." ujar HAHAHA.
"Ya, sedikit lemah, hihihihi" kata HIHIHI.
"Iih awas kalian!" geram Dina.
"Sudahlah, habisi mereka ...." seringai HAHAHA.
"Heeh! Alim-alim licik ya kau!" kesal Manda pada HAHAHA.
"Aku tidak licik, kalian saja yang tidak bisa menjawab tantangannya, ya sudah jangan salahkan aku, hahaha" ujar santai HAHAHA.
Zratts!
Kini belut-belut itu terlihat seperti pasukan belut yang siap menyerbu mangsanya. Dari melihatnya saja, kalian bisa merasakan bagaimana jika terkena sengatan dari para belut ganas itu.
GLEK!
"Wow! Belut yang banyak," kata Rio sedikit bergidik.
"Aku bisa bayangkan jika kita terkena sengatannya kita mungkin jadi orang panggang," takut Gamma.
"Ya, kau benar" kata Manda mengiyakan.
Disaat semua sedang cemas ketakutan, Ibu Albert malah terlihat santai dengan tangan dilipat di depan dadanya.
Zratts!
Pasukan belut itu semakin mendekat dan bersiap menyengat mereka.
Zratts!
"Aww! Hah!" kaget Manda melihat seekor belut berada di depannya. "AAAAA! Tolong!" iapun langsung berenang dengan cepat menjauhi belut itu.
Sontak belut itu mengejar Manda diikuti sekumpulan belut lain.
"Hoy! Beraninya keroyokan kalian! Satu-satu sini," Dina malah menantang.
"Dina." Tegur Nadia menatap Dina.
"Setidaknya mereka tidak keroyokan, Di" balas Dina mengeles.
Zratts!
Sekumpulan belut menuju ke arah Dina. Melihat hal itu, sontak mata Dina membulat sempurna dan langsung berenang menjauh secepat yang ia bisa.
"KYAAA! Kalian curang! Kan, aku sudah bilang jangan keroyokan! Dasar belut ... belut ... belut ...." Dina kehabisan kata-kata mengatai para belut tersebut. "Belut ... belut ... belut ... ya, terserah!" Dina benar-benar kehabisan kata untuk mengatai para belut dan fokus berenang secepat mungkin menjauh dari para belut itu.
__ADS_1
Zratts!
Bersambung ....