
EPISODE SEBELUMNYA
TES!
Seketika ... di seluruh permukaan air menyebar cahaya yang seolah menjernihkannya. Terlihat danau itu lebih bersinar dan indah. Tak berselang lama, segumpal air datang lalu mengelilingi Fikram.
"Eh, apa ini?"
Air itu terus mengelilingi sekujur tubuh Fikram hingga membentuk spiral. Terbanglah kristal biru kehijauan dari kantong Fikram. Bersamaan dengan itu, tas Ibu Albert kembali bersinar. Ia membuka dan mengambil benda yang bersinar, Buku Resyana. Ya, buku itu lagi-lagi bersinar.
Dengan sendirinya, buku itu terbuka. Setelah puas mengelilingi Fikram, gumpalan berserta kristal itu terbang ke arah buku dan masuk ke dalamnya. Tubuh Fikram yang penuh luka pun sekarang bersih seperti sedia kala.
"Kristal itu memulihkan dia," batin Rainy melihat tubuh Fikram bersih dari luka goresan.
"Aku merasa lebih bugar setelah di kelilingi air itu," batin Fikram pada dirinya sendiri.
Yang lain masih memerhatikan pergerakan dari halaman yang bersinar itu. Seperti biasa, kristal itu bertempat di sudut atas halaman. Cahaya itu mulai hilang. Inilah saat di mana petunjuk baru keberadaan kristal itu akan muncul.
JENG! JENG!
...THE BOOK...
(Tempat Kristal)
...Nungguin ya .......
...\~Maaf server Anda sedang mengalami gangguan, harap coba beberapa saat lagi\~...
"Apa-apaan ini ...."
Mata mereka berkedut-kedut, tidak percaya dengan apa yang mereka baca di buku itu.
"Lama-lama buku ini minta di keramasin ya gengs," kata Manda berkacak pinggang.
"Kita perlu cek kesehatan si buku, nih!" kesal Rio.
"Sinyal buruk, mungkin. Haha" kata Nadia.
PAK!
Ibu Albert menutup keras buku itu. "Ah sudahlah, kita tunggu saja lagi," kata Ibu Albert yang kemudian berbalik. "Panglima perlu diberi pelajaran," batinnya lalu pergi.
Mereka pun menatap punggung Ibu Albert yang perlahan menjauh. Tiba-tiba netra Manda melihat tubuh Fikram yang sembuh.
"Fikram, kau sembuh. Apa ini karena gumpalan air tadi?" herannya.
"Hemm, entahlah." Fikram memandang ke arah Danau.
Mendadak matanya membulat, tak kala melihat seorang laki-laki sedang tersenyum kepadanya. Itu seperti sosok pria yang ada di foto bersama ibunya.
"Kau!" Fikram hendak menyusulnya ke arah danau namun, bayangan itu mendadak menghilang.
"Kemana dia?"
"Kau kenapa?" tanya Rio.
"Apa kalian tidak melihatnya, tadi ada seseorang di sana," Fikram menunjuk ke arah danau.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak lihat apapun," kata Rio.
Yang lain ikut menggeleng termasuk Rainy.
"Apa ...." Fikram menunduk. "Siapa dia, kenapa dia selalu muncul. Apakah Ayah? Ah tidak, tidak lagi!" batin Fikram membantah.
"Hey!"
Tiba-tiba datang suara yang mengejutkan mereka. Mereka pun terlonjak kaget. Rupanya itu adalah Ibu Albert. Tanpa banyak basa-basi lagi, ia meminta agar mengambilkan kayu bakar karena persediaan kayu bakar mereka habis.
"Ya sudah biar aku saja," kata Rainy.
Tapi Ibu Albert langsung mencegat. "Aku tidak menyuruhmu. Putri Nadi kau yang akan mencari kayu bakar. Dan kau temani dia," Ibu Albert menunjuk ke arah Rio.
"Aku. Ah, tidak. Aku tidak mau, aku-"
Nadia sedikit kecewa, mendengarnya.
"Sudah pergi sana. Ini perintah!"
"Tap-"
"Tidak ada tapi-tapi, PERGI!" kata Ibu Albert tegas.
Dengan berat hati, Rio menurut.
----------------
\~Di Hutan\~
"Rio," panggil Nadia ditengah-tengah berburu kayu bakarnya bersama Rio. Rio tidak menoleh sedikitpun. "saat kita mencari kayu bakar ini, aku jadi ingat saat kita mencari kayu bakar saat itu." Nadia tersenyum sendiri.
"Dia ...?"
"Kita jatuh di tempat asing, berjalan, istirahat sebentar, lalu ada ular besar, dan akhirnya kita bertemu Gamma dan Ibu Albert."
Mendengar nama Gamma, Rio kembali teringat bahwa dia adalah Nadia penipu. Penipu yang selalu menempel pada Gamma. Ia pun geram. Dengan kesal ia kembali memungut kayu bakar dari tanah.
"Haha, tak di sangka kita malah terjebak dalam petualangan yang tidak jelas ini." Ia menoleh ke arah Rio, terlihat Rio tetap acuh tak acuh.
"Apa dia tidak mendengarkanku," batin Nadia. "Kau sebenarnya kenapa sih, Rio?"
Setelah di rasa cukup, Rio membawa kayu bakar. Dan cepat-cepat ingin meninggalkan Nadia. Di saat sedang melangkah pergi, Nadia kembali memanggil.
"Tunggu, Rio!"
Rio sempat menghentikkan langkahnya namun, ia kembali melangkah.
"Rio," panggil Nadia lagi.
Rio semakin menjauh.
"Rio!"
Rio tetap tidak menggubris. Nadia pun menjatuhkan semua kayu bakar itu, lalu menyusul langkah Rio.
"Rio, kau kenapa sih!"
__ADS_1
JRENG!
Nadia menahan Rio dengan memegang bahunya. Rio berhenti, ia melirik Nadia dari ekor matanya lalu berbalik. Dengan tatapan dingin dan datar ia menatap.
"Singkirkan tanganmu," kata Rio menepis tangan Nadia dengan tangannya.
Setelah menepis ia pun berbalik dan kembali melangkah untuk meninggalkan Nadia. Melihat Rio akan pergi, dengan cepat Nadia kembali menarik baju Rio untuk menahannya.
"Kau itu kenapa? Kenapa kau seperti menghindarik. Jawab, jawab aku dulu! Kenapa kau jadi seperti ini?"
"Lepaskan," tanpa menoleh.
"Tidak! Aku tidak akan lepaskan. Cepat jawab aku! Jawab!"
Rio tidak bisa menahannya lagi. Kesabarannya habis. Ia membanting semua kayu bakar yang ia kumpulkan, berbalik dengan cepat dan menjatuhkan Nadia ke tanah.
BUGH!
Ia menempelkan tongkatnya yang sempat ia ambil pada leher Nadia untuk mengunci pergerakannya, berjongkok dan mendekatinya.
"Dasar penipu licik!"
"Penipu?" Nadia kebingungan.
"Aku tidak tahan lagi! Aku tidak tahan melihat wajahmu terus, PENIPU! Tunjukkan wujud aslimu sekarang! Tunjukkan di mana Nadia!" dia semakin menekan tongkatnya.
"Apa maksudmu? penipu? Aku tidak mengerti?"
"Dasar licik, cepat tunjukkan wujudmu! Jangan pura-pura bodoh!"
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud, Rio."
"Jangan menyebut namaku! Cepat tunjukkan wujudmu yang sebenarnya!" Rio semakin menggila ia menekan tongkatnya lebih. Nadia meringis kesakitan.
Entah kenapa melihat Nadia meringis, Rio mengendurkan tongkatnya lalu bangkit. Mengembalikan tongkat itu ke dalam sakunya. Kembali memungut kayu yang dia jatuhkan.
"Kalau aku mau, aku bisa membunuhmu saat ini. Tapi tidak, aku ingin, kau tunjukkan wujud aslimu!" Ia meninggalkan Nadia begitu saja.
Melihat Rio yang meninggalkannya. Nadia segera bangkit dan ingin menahannya kembali. Namun, Rio sudah lebih dulu menjauh.
Ia pun memegangi lehernya yang memerah, terdapat bekas luka di sana.
"Dia .... Penipu? Penipu apa? Aku? aku tahu dia sangat benci penipu bahkan berani berbuat yang ... tapi ... aku? Aku benar-benar tidak mengerti ini," pikir Nadia. "Aku harus cari jawabannya."
Nadia termenung, berpikir sesuatu mencari jalan keluar dari masalahnya dengan Rio saat ini.
Tiba-tiba ia teringat kejadian di dalam labirin kemarin. "Hari itu, hari itu sepertinya ada yang aneh. Hari itu aku sedang berjalan menuju tantangan kedua lalu ... ah aku akan tanya teman-teman yang lain!" tekadnya berlanjut lari kembali menuju gubuk.
Namun, di tengah-tengah Nadia mendengar suara seseorang yang tak asing baginya.
"Hey di mana Panglima, aku ingin protes!"
Karena penasaran Nadia berhenti. "Suaranya seperti ku kenal," ia mulai mencari sumber suara.
Hingga ia menemukan empat sosok tengah berkumpul di balik semak-semak. Tiga di antaranya berdiri membelakangi semak-semak sehingga Nadia tidak tahu siapa mereka. Namun, dari sela-sela mereka berdiri satu sosok yang sangat jelas telihat wajahnya dan sangat di kenal Nadia.
"Itu ... Ibu Albert?" ia menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Di, kau sedang apa?"
Bersambung ....