
EPISODE SEBELUMNYA
Vampir itu terlihat geram. Ia mengepalkan tangannya kuat. "Kau...!"
----------------
Sunyi, hanya kesunyian dan desiran angin yang terdengar di telinga. Si vampir yang terikat sendirian masih berusaha lepas dari tali yang melingkar posesif di tubuhnya. Menggeliat ke sana, menggeliat ke sini. Namun tali itu tak kunjung mengendur.
"Ah, aku menyerah!" jelas sekali ia sudah benar-benar putus asa. "Oh tunggu, tubuh ini kan bisa berubah bentuk," ujarnya baru teringat.
KILAS BALIK
PLOP!
"Hei menjauhlah dariku!"
Ikan-ikan terus melompat keluar dari habitatnya untuk memangsa makanan yang terbang. Apa itu? Ya serangga yang meminum darah kita untuk menghangatkan telur-telurnya. Siapa lagi kalau bukan ....
"Kenapa aku tiba-tiba jadi nyamuk begini!"
PLOP! PLOP!
Dialah vampir yang mengaku dirinya Nadia. Dia terbang melewati kolam-kolam yang penuh dengan ikan. Sebenarnya nyamuk bisa saja terbang lebih tinggi agar tidak terjangkau ikan. Hanya saja vampir dengan jiwa barunya belum terbiasa dengan pergantian tubuhnya ini.
"Daratan dimana sih! tunggu setelah ke daratan aku bisa kembali jadi ... ya setidaknya punya dua kaki kan?"
PLOP!
"Waaaa, tolong!"
Ia mempercepat kepakan sayap kecilnya hingga akhirnya bisa ke daratan.
FLASHBACK END
"Aku benci harus melakukan itu lagi," kesal vampir ini.
POOF!
Ia berubah menjadi nyamuk dalam sekejap. Tali-tali itu pun tak melilit badannya lagi, ia bebas sekarang. Ia lalu terbang mengabaikan tali-tali itu.
"Oh tidak, aku tidak lupa cara kembali ke tubuh itu kan?" ia panik. "Aghhh! Tidak lagi!"
----------------
Nadia jatuh tersungkur ke tanah. Ia menatap sosok yang melemparnya dengan kasar.
"Kau mau apa sih! Aku ini mengantuk! Aku mau tidur!"
"Ooo, bisa-bisanya pencuri sepertimu tidur dengan nyenyak saat menggunakan tubuh orang lain, ya!" vampir ini mencengkram kerah baju Nadia.
__ADS_1
"Hei, santailah sedikit. Aku sudah bilang 'kan, aku tidak mengambil apapun darimu," ucap Nadia dengan santainya.
Vampir itu semakin mencengkram kerah baju itu dengan kuat. "Kau ini sebenarnya siapa, hah! Jawab aku!"
"Hehehe, kau mau tahu siapa aku? Tanya saja dia," kata Nadia sulit dicerna sang vampir.
"Dia? Dia siapa?" si vampir menilik ke belakang.
"Hei kau."
----------------
"NADIA NGILANG TOLONG!!"
Suara kegaduhan terdengar, menghadirkan polusi suara yang sangat besar. Semua orang terbangun dari istirahat malam mereka.
"Aduuuh, apaan sih, pagi-pagi buta begini dah teriak-teriak. Lihat matahari aja masih ngantuk tuh," Gamma menunjuk kearah sinar matahari yang bahkan belum sepenuhnya terlihat.
"Mimo, ada apa sih?" tanya Fikram.
"Nadia, Alga. Dia menghilang!" histeris Manda.
"Emm, aku tadi bangun lebih awal. Eh aku liat Nadi tidak ada, aku hanya memberitahu yang lain. Tapi teman adik kecil sangat panik," kata Putri Maple.
"Ya itu kesalahan besar kalau kau memberitahu Manda," kata Dina melipat tangannya di depan dada.
"Hei, vampir ini juga tidak ada di sini," kata Rainny memberitahu di samping pohon maple tempat si vampir di ikat.
"Jangan-jangan vampir itu yang membawa Nadia pergi," tebak Rio.
"ASTAGA! JANGAN-JANGAN BENAR LAGI NADIA DIBAWA KABUR SI VAMPIR! WAAAAAA APA YANG AKAN TERJADI PADANYA," Manda berlari berhamburan kesana-kemari.
Dina menarik telinga Manda agar ia berhenti berlari kepanikan, "Berhentilah panik, payah!"
"Ini semua karena Ibu Albert," kata Fikram.
"Kenapa jadi aku?" kata Ibu Albert dengan wajah datar.
"Ya karena kau, dia jadi lari. Dan sekarang teman kami jadi terancam bahaya, sudah benar kemarin kami membunuh vampir itu langsung! Ini semua salahmu!"
"Oh ayolah, kalian akan berterima kasih padaku nanti," katanya memutar bola mata.
"Apa kalian mencari teman kalian ini?"
Satu suara berhasil mencuri atensi mereka, mereka semua menoleh untuk mengetahui pemilik suara tersebut. Memakai jubah panjang, rambut putih lebat, dengan kumis dan jenggot putih yang tak kalah lebat pula, ia membawa vampir dengan menarik lehernya ke atas bak sedang mengangkat anak kucing.
"Kakek San!"
Kompak mereka menyerukan nama itu. Ya, Kakek San, seorang kakek yang tinggal dalam sebuah penginapan dekat tempat wisata, tempat berawalnya semua kejadian ini.
__ADS_1
"Hai, semua, kita berjumpa lagi," balasnya tersenyum.
"Kakek San?" Gamma, Maple, dan Trigo malah bingung dengan nama yang kelima sahabat ini berikan untuk kakek yang mereka kenal itu.
"Ya, dia ini yang menyebabkan kita semua masuk ke dalam sini," kata Dina dengan wajah cemberut.
"Hmm, dan karenanya juga kami meninggalkan barang terpenting di dunia, handphone kami!" kata Fikram ikut cemberut.
"Aku hanya menjalankan perintah Putri Nadi saja kok," kata Kakek San. "Kenalkan, aku ini ketua penyihir kerajaan, aku mewakili daerah sihir, suatu kehormatan bertemu kalian para yang terpilih," katanya sedikit membungkuk.
"Jadi bagaimana bisa Nadia dan si vampir itu bersamamu?" tanya Fikram.
"Tadi aku melihat teman kalian sedang diancam oleh vampir ini, jadi aku datang menolongnya," katanya bangga.
"Kau salah menolong orang woy!" pekik si vampir.
"Wah kau berani-beraninya menculik Nadiku ya," Gamma mendekat seakan ingin memukul.
"Kalau kau berani kabur dengan cara jadi nyamuk lagi kami akan meneplakmu dan menjadikanmu rempeyek mau kau!" Dina, Manda, dan Fikram bersiap menghajar vampir ini.
"Te-teman-teman...," vampir ini bergidik ketakutan melihat empat orang dengan wajah mengerikan.
"Tapi sepertinya teman kalian ini bukanlah teman kalian," kata Kakek San membuat mereka kecuali Ibu Albert kebingungan.
"Apa maksudmu? teman tapi bukan teman kami?" bingung Rio.
"Ya, firasatku mengatakan raganya memang teman kalian namun jiwanya," Kakek San menggerakan tangannya seketika Nadia terikat rantai ajaib yang berkilau.
"Ha, dengarkan itu," kata vampir ini.
"Sstttt diam kau, jangan ikut campur," ancam Dina mendekatkan sepatunya dengan raut wajah sangat seram, vampir itu pun menciut seketika.
"Benarkah? Bagaimana bisa kami percaya padamu?" tanya Manda.
"Begini saja. Kalau aku benar dan bisa mengembalikan jiwa teman kalian. Kalian harus menuruti semua kata-kata dan perintahku tanpa membantah atau berdebat. Jika aku salah, kalian akan aku pulangkan, toh aku yang membawa kalian ke sini aku juga yang akan membawa kalian pulang. Bagaimana?" tawar Kakek San.
Rio, Dina, Manda dan Fikram merapat, berdiskusi.
"Ini tawaran bagus," kata Fikram.
"Ya, jangan lewatkan kesempatan ini. Kita bisa langsung pulang, aku yakin dia pasti salah, ayo ambil ini," timpal Manda.
"Tidak ada salahnya kita menerima ini sih," kata Dina.
"Ya sudah kita terima saja," kata Rio.
Mereka bubar, "Ya kami nemerimanya!" kompak mereka.
__ADS_1
Kakek San tersenyum. "Baik, mari kita mulai," katanya menarik napas dalam-dalam.
Bersambung ....