
EPISODE SEBELUMNYA
"KEJAR!" Nadia bersemangat langsung berlari.
"Eh, dimulai ya!? T-tunggu aku teman pencuri," dia menyusul berlari.
Mereka semua berlari menembus hawa panas, memulai pengejaran itu lagi.
"Prit-prit! Berhenti, kami polisi! Tapi boong, wkwk" lawak Fikram sembari berlari.
"Dengan kekuatan polisi aku akan menghukummu, buahaha" gurau Dina.
"Astaga," melihat perilaku mereka yang kekanak-kanakan Ibu Albert hanya memutar bola matanya jengah.
Drap! Drap!
Aksi kejar-kejaran kembali terjadi untuk kesekian kalinya. Tujuan masih sama, mendapatkan buku Resyana. Tapi kali ini Manda ikut berlari di depan, dengan posisi ia adalah seorang pencuri yang se-tim dengan pencuri itu.
Hosh! Hosh!
Baru berapa puluh meter ia berlari, Manda kembali letih, dia memang cepat sekali lelah. Rasanya kaki ini mati rasa, tidak mampu diajak bekerja sama berlari kembali. Jadilah dia berhenti, memegang lutut, mengumpulkan tenaga.
"Aduh, ngga bakat jadi pencuri ini mah hah-hah," ucapnya mengatur napas.
Drap! Drap!
Mendengar derap kaki melaju cepat ke arahnya Manda menoleh ke belakang.
"Oh, no!"
Teman-temannya masih mengejar, ya merekalah yang mendekat ke arah Manda. Lalu kenapa Manda panik? dia merasa para temannya akan menangkapnya bak seorang polisi menangkap seorang penjahat. Padahal itu tidak akan terjadi.
"Jangan! Jangan tangkap aku!" ia ketakutan seperti akan dibawa ke sel tahanan saja.
Wush!
Mereka melewati Manda, tentu saja. Sasaran mereka bukanlah Manda teman mereka sendiri, tetapi pencuri itu. Bahkan mungkin teman-temannya sudah melupakan permainan mereka tadi.
Manda pun melongo ia tidak ditangkap. "Mereka tidak menangkap ku? Hufft, syukurlah," leganya langsung berjongkok.
"Ekhem!" tegur seseorang.
Manda mendongak.
Ibu Albert!
"Ekhem, sedang apa?" tanyanya dengan sorot mata menakutkan.
"Aku–" Manda hendak menjawab, namun Ibu Albert sudah menarik tangannya terlebih dahulu
"Sudahlah, jangan banyak alasan. Ayo lari lagi."
"Tidak-tidak! Jangan tangkap aku, Bu Pol!" rengeknya berusaha menahan tarikan Ibu Albert namun tenaga Ibu Albert ternyata lebih besar dari pada tenanganya.
Bu Pol adalah panggilan yang diambil dari kata Bu Polisi.
"Berhentilah berpikir kau itu pencuri. Permainan itu sudah bubar sejak tadi, tahu" kata Ibu Albert.
\~Di sisi lain\~
"Sebaiknya kita tangkap pencuri itu segera. Kita tidak bisa terus mengejarnya seperti ini, sangat menguras tenaga," saran Dina.
"Setuju," timpal Fikram.
"Hemm, baiklah. Fikram, Rio, kalian memutar lalu kejutkan dia di depan," komando Nadia.
__ADS_1
Rio mengangguk setuju, ia kemudian menggerakan tangannya memberi isyarat pada Fikram untuk berlari ke sisi lain pencuri agar bisa mendahuluinya.
Mereka mulai menjalankan rencana. Tepat saat pencuri itu sedang fokus-fokusnya berlari ….
BAA!
Rio dan Fikram menghadang. Terkejut? Pasti. Si pencuri terkejut bukan main, larinya jadi tak beraturan, terjungkal-jungkal, dan akhirnya jatuh mencium tanah.
BRUK!
Melihatnya jatuh, Nadia cepat-cepat mendekati, mengunci kedua tangan, serta membuatnya bangun. Tidak lupa ia mengambil buku Resyana dari tangan pencuri ini.
Drap! Drap!
Ibu Albert dan Manda telah tiba.
"Ih!" Manda sebal dirinya ditarik oleh Ibu Albert.
"Kalian berhasil menangkapnya? Kerja bagus," puji Ibu Albert.
"Apa?! Teman pencuriku juga tertangkap, bisa kalah nih tim pencuri. Tidak bisa di biarkan!" tekad Manda.
"Ini Ibu Albert buku Resyananya," Nadia menyerahkan buku kuno yang ia pegang.
"Sin-" Ibu Albert hendak mengambilnya, namun satu suara menghentikan niatnya.
"Tunggu!" sela Manda.
Semua pun memandang penuh kebingungan ke arahnya.
"Lepaskan dia!" ucapnya.
Krik… krik…
"Manda kau sadar, kan?" ucap Dina.
"Aku serius!" balas Manda.
"Memang kenapa kita harus melepaskannya? Susah payah kita mengejarnya, main lepas gitu aja, no-no," tolak Rio.
"Bener tuh. Udahlah, ini Ibu Albert buku Resnyana harus diamankan dulu," ucap Nadia menyerahkan buku Resyana.
Ibu hendak mengambil, namun lagi-lagi Manda menyela.
"Tidak! Lepaskan dia sekarang atau …" ancamnya.
"Atau apa? Kau ngambek gitu? Halah, dah biasa kali," ucap Dina.
"Kau ini kenapa sih Man-" ucapan Nadia terpotong.
"Ku bilang… LEPASKANNNNNNNNN!" Manda mengeluarkan suara merdunya.
Merusak dunia maksudnya, haha.
"Oh tidak, dia mengeluarkan suara ini lagi!" Dina menutup kedua telinga dengan kedua tangannya.
"Ku kira dia sudah tidak bisa melakukannya!" Fikram ikut menutup telinganya.
"Gendang telingaku tolong!" Gamma tidak tahan.
"Manda, hentikan!" pekik Nadia ia melepas cekalannya pada si Pencuri demi kesehatan indra pendengarannya, menutup kedua telinga dengan telapak tangannya.
"AAAAAAAA!"
Semua menutup telinganya rapat-rapatnya, tak terkecuali si pencuri. Bahkan kalau kita lihat dua elang yang mengejar mereka tadi, mereka sampai meringkuk di tanah menutupi kepalanya dengan sayap untuk mengurangi suara yang bisa merusak organ pendengaran mereka. Dasyat sekali, ya wkwkwk.
__ADS_1
AAAAAAAAAAAAAA!
"Ugh, ini sangat menyiksa!" Fikram tidak tahan lagi. Ia sedang memutar otak bagaimana cara menghentikan jeritan yang tak kunjung berhenti.
Tanpa sengaja, manik matanya melihat tongkat di saku celana Rio. Solusi pun datang, namun tidak seperti yang diharapkan.
Dia celingukan, "Tidak ada yang lain ya, huff," pikirnya.
Fikram mengharapkan sebuah benda yang bisa di lempar atau minimal benda panjang yang tidak mengharuskannya mendekat ke arah Manda untuk menghentikan suara ini. Karena ia tidak menemukan benda lain, yah mau tidak mau dia harus menggunakan tongkat itu dan mendekat ke arah Manda. Yang di mana suara itu akan semakin nyaring dan menyiksa jika mendekati sumbernya.
Dia menepuk bahu Rio agar menghadapnya. "Rio berikan tongkatmu!"
"Apa!" Rio tidak bisa mendengar.
"Berikan tongkatmu!" Fikram mengulang.
"Apa!"
"Haah, lupakan saja!" Jengah Fikram, ia memutar tubuh Rio menjadi memunggunginya lalu mengambil tongkat itu.
Fikram harus membuka tangannya dari telinganya untuk memanjangkan tongkat itu. Berat, memang berat harus merelakan suara itu diproses di telinganya, tapi ya… sudahlah relakan saja, haha.
KLEK!
Kini ia siap, "Baiklah Fikram, tahan gelombang suara ultrasonik ini!" batinnya menguatkan diri sendiri.
"Sudah cukup!" ia berlari mendekati Manda.
PLAK!
Tangan kanan Fikram memukul-mukul kan tongkat Rio ke arah Manda agar dia berhenti. Sementara satu tangannya menutup telinga.
PLAK!
"AA– aduh-aduh!" Manda akhirnya berhenti.
Mereka pun bisa membuka telinga mereka dengan bebas tanpa adanya polusi suara.
"Aduh-aduh! Fikram!"
Fikram berhenti memukul, "Akhirnya jam weker ini berhenti juga," leganya.
"Huh!" Manda mengerucutkan bibirnya.
"Aduh telingaku," Gamma memegang telinganya.
"Manda kau benar-benar harus berhenti melatih nada itu," Nadia mengocok telinganya.
"Ya-ya, maaf" ucap Manda. "Teman pencuri masih di sini dari tadi, duh gimana sih," batin Manda melihat pencuri itu malah memijat telinganya yang tertutupi tudung hitam.
"Apa yang kau lakukan di sini! Lari sekarang!" pekik Manda pada pencuri.
Teman-temannya terperanjat, sama halnya Nadia yang berdampingan dengan si pencuri.
"Benar juga," batin pencuri itu. Dengan cepat ia merampas buku Resyana dari tangan Nadia.
Dengan mudahnya buku itu diambil si pencuri akibat Nadia yang tidak siap.
"Hey!"
Pencuri itu langsung lari menyelamatkan diri.
"Yey, tim pencuri menang, tim polisi kalah, horey!" Manda malah bersorak ria melihat pencuri tersebut pergi menjauh.
"MANDA!!"
__ADS_1
Bersambung ….