Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Kejadian


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Hah!? Na..Na..Nadia!!!"


...\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~...


\~Di Aula Istana\~


"Hemm ... banyak sekali yang datang," Kata Dina.


"Iya, omong-omong di mana Fikram dan Manda?" tanya Nadia celingukan.


"Manda mungkin masih dikamar," jawab Dina.


"Fikram sepertinya juga masih di kamar," jawab Gamma.


"Emm ... kalian kan teman sekamarnya masa ngga tau sih?!" Ujar Nadia menatap mereka datar.


"Aku/ aku ...." Ucap Gamma dan Dina berbarengan.


"Kamu dulu deh," kompak mereka lagi.


"Udah lu dulu," kata Gamma.


"Ngga lu duluan," balas Dina.


"Elu."


"Elu."


"Elu!!"


"Elu!!"


"Ya udah gue duluan," kata Dina.


"Ya udah sono!" Balas Gamma yang terdengar ngegas di telinga Dina.


"Biasa aja dong, ngga usah ngegas!"


"Gue ngga ngegas!"


"La itu apaa?!"


"Ya elu juga ngga usah ngegas donk!"


"Elu juga!"


"Elu yang mulai!"


"Elu!"


"Elu!"


"Elu!"


(Duh isinya cuman elu-eluan lu berdua, astaga🤦🏻‍♀️).


"Elu!"


"Elu!!!!!!"


"El-"


"Holla guys!" Ucap seseorang memakai baju ala pangeran Eropa berwarna biru tua berjalan menghampiri mereka.


Ternyata ia tak datang sendirian, pemuda ini membawa gadis yang memakai gaun hijau panjang bak bangsawan Eropa yang digadang-gadang akan menjadi pasangannya, walau belum jelas.


"Fikram! Manda!" Kaget mereka semua kecuali Ibu Albert yang melipat tangannya di depan dada.


"Yes, it's me" Kata Fikram dan Manda dengan tubuh saling bertolak belakang, merasa diri mereka paling keren dan dinanti-nantikan, memakai kacamata hitam yang tak jelas asalnya, tak lupa dengan tangan yang mereka lipat di depan dada.


Ya, pemuda dan gadis itu adalah Fikram dan Manda.


"Bentar-bentar! Kok kalian ngga pake baju yang dikasih Rendi sih?!" Tanya Fikram membuang kacamata hitam kerennya begitu saja.


"Iya kok kalian ngga pake sih?!" timpal Manda.


"Emm ... aku ngga boleh sama Ibu Albert," kata Nadia.


"Aku ngga suka modelnya!" ujar Gamma.


"Aku juga." Ujar Dina menimpali perkataan Gamma.


"Saya yang melarang, jadi ngga mungkin saya memakainya juga," kata Ibu Albert.


Kali ini Rio memilih untuk diam dan menyimak.

__ADS_1


Fikram dan Manda saling melempar pandang.


"Jadi hanya kami yang memakainya nih?!" tanya Manda.


"Tidak! Banyak yang memakainya kok." Gamma berkata sambil menunjuk ke semua pengunjung yang hampir seluruhnya memakai pakaian ala bangsawan Eropa.


"Bener tuh!" timpal Nadia.


"Tenang kalian cocok kok!" kata Dina.


"Emang udah cocok dari lahir," ujar Fikram.


"Paan sih --" ujar Manda.


"Xixixi ...." Fikram terkekeh.


Tiba-tiba terdengarlah suara dari arah belakang, "Hai semua!" sapanya.


Sontak semua pun menoleh ke belakang mereka.


"Hai!" ucap Siera sambil melambai dan tersenyum kepada mereka.


Kali ini Siera memakai gaun berwarna merah muda dengan rambut disanggul dan kepang kecil yang melingkar di depannya, tak lupa anting-anting permata panjang yang menghiasi kedua telinganya.


"Woahh, siapa kau?" kagum Fikram.


"Dia Putri Siera, bodoh!" tegur Manda.


"Iya kah?! Tapi kenapa dia tidak punya ekor, bukannya Putri Siera punya ekor?" tanya Fikram.


Mendengar penuturan Fikram, Siera pun menjelaskan, "Haha! Ekorku akan menjadi kaki jika di darat tetapi jika di air kakiku akan berubah jadi ekor ikan kembali."


Fikram ber-oh-panjang.


"Hemm, kenapa kalian tidak pakai baju yang aku berikan?" Tanya Siera kepada Nadia, Gamma, Dina, dan Ibu Albert.


"Emm ... kami ...." Kata mereka saling bertukar pandang kecuali Manda dan Fikram.


"Ah! Sudah tidak apa-apa, mungkin kalian belum terbiasa memakainya ...." kata Siera. "Oya! Omong-omong kalian sangat cocok," katanya pada Fikram dan Manda.


"Ah!? Benarkah?" kata Manda malu-malu.


"Tuh kan sudah kubilang, kita jodoh kali," goda Fikram.


"Haha!" tawa mereka semua.


"Hah ... hah ... maaf Nona Siera, ratu ... ratu!" Katanya dengan nafas tersengal-sengal.


"Ada apa? Tolong kau jelaskan," kata Siera.


"R ... r... ratu nona! Ratu, ada masalah pada perjalanannya!" kata Rendi.


"Hah! Apa!? B ... b ... baiklah cepat kita kesana!" cemas Siera. "Ya sudah semua nikmati pestanya! Kami akan segera kembali!" kata Siera pergi berlalu bersama Rendi.


"Terus bagaimana pestanya? Bagimana dengan para tamu?" bingung Fikram.


"Itu bukan urusan kita!" tegas Ibu Albert. "Biar mereka yang urus," tambahnya.


...\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~...


"Emmm, nyam ... nyam!"


"Makanan ini sangat enak!" Ujar Fikram menyantap hidangan pesta.


"Ya, kau benar," timpal Manda. "Ini memang sangat lezat" tambahnya.


"Eeeeeee--"


Ibu Albert berkata dengan melipat tangannya di depan dada, "Kalau aku jadi kalian aku tidak akan makan itu."


Sontak Fikram dan Manda menghentikan aktivitas mereka.


"Memangnya kenapa? Ini sangat lezat, kok!" Ucap Manda dengan memegang donat coklat di masing-masing tangannya.


"Iya, dan yang paling penting ini gratis!" kata Fikram sambil mengunyah.


"Nanti kau juga akan tau" gumam Ibu Albert.


Ohok! Ohok!


"Mmm ... tolong! Tolong!" Pekik Fikram yang sedang tersedak.


"Minum! Minum!" Tambahnya mencari-cari segelas air. Tanpa disengaja ia melihat seorang pelayan sedang membagikan minuman kepada para tamu.


Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri pelayan itu dengan terburu-buru. Saking terburu-burunya, Fikram sampai menabrak tamu lain yang sedang menikmati hidangan.


Brukk!!

__ADS_1


"Maaf, maaf" ujarnya.


Alhasil makanan tamu itu tumpah dan mengotori pakaian yang dikenakan Fikram. Dengan sisa dayanya, dia akhirnya berhasil mencapai si pelayan pembagi minuman tersebut. Dia menepuk bahu sang pelayan agar membalikkan tubuhnya. Karena sudah tak kuat lagi ia langsung menghabiskan semua minuman yang ditempatkan di gelas kecil nan panjang itu.


Glek! Glek! Glek!


Di mata para tamu, cara minum Fikram itu terlihat agak rakus dan langsung menjadi pusat perhatian para tamu.


"Ah!" lega Fikram. "Yah! sekarang bajuku jadi kotor!" keluh Fikram melihat bajunya penuh noda makanan.


"Salah siapa makan sambil ngomong!" Kata Dina seraya menghampiri Fikram.


Fikram hanya menoleh.


"Sebaiknya kau membersihkan diri," kata Gamma.


"Dan mengganti pakaian," kata Ibu Albert.


"Yap!" seru Manda.


Akhirnya Fikram pun menurut dan pergi untuk membersihkan diri sekaligus mengganti pakaiannya.


\~Kamar Fikram\~


Di kamar mandi ....


"Hah! Pakaian sudah diganti. Semua sudah bersih, aku tinggal mencuci tanganku dan kembali ke pesta." Fikram berkata pada dirinya sendiri sambil bercermin di depan kaca wastafel.


"Hemm, kasian Manda tidak ada yang menemaninya memakai baju kerajaan, eh! Tapi banyak tamu yang memakai pakaian itu disana." katanya.


Ckiit!


Fikram memutar keran wastafel, sehingga mengalirlah cairan bening yang deras. Sekilas memang tidak ada yang aneh, tetapi pada saat ia akan membasahi tangannya.


"Eh!?"


"Iih! ini kenapa sih!" gerutunya.


Fikram memajukan tangannya menyentuh air, bukannya tangannya basah air itu malah meliuk-liuk seolah sedang menghindari bersentuhan dengan tangan Fikram.


"Iih!" kesalnya.


Ia memajukan tangannya, tetapi air itu malah ikut maju, ketika dia memundurkan tangannya, air itu mengalir lurus seperti pada umumnya.


"Heh! Gue mau cuci tangan, masa kaga bisa-bisa!" gerutunya yang masih mencoba membasahi tangannya.


"Iih! geramnya aku padamu!"


Tak habis akal, Fikram menggunakan tangan kirinya untuk memajukan aliran air itu. Tentu saja air itu ikut kedepan, alhasil ia memajukan tangan kanannya agar bisa terkena air. Tetapi bukannya berhasil, air itu justru tetap menjauhi tangan Fikram. Malah Air itu mengalir biasa tepat di tengah-tengah antara tangan kanan dan tangan kirinya.


"Iiiih!!!" Fikram mulai geram.


Ia mengepalkan tangannya, tanda ia kesal hanya gara-gara air. Tak hanya itu, tiba-tiba datanglah seekor nyamuk yang menambah kekesalan Fikram. Nyamuk itu terbang disekitar kepala Fikram, sehingga ia merasa terganggu.


"Heh! Pergi lu nyamuk!" ujarnya sambil mencoba mengusir nyamuk itu dengan tangannya. "Tunggu ini kan dunia bawah air, apa iya disini juga banyak nyamuk?" pikirnya.


Nguing! Nguing!


"Iih! Minggir ngga! gue ngga mau kena kasus pembunuhan!" katanya sambil mengusir nyamuk itu.


Tanpa sadar air yang mengalir dari keran wastafel ikut berayun dan jatuh dimana-mana, mungkin akibat tangan Fikram yang sedang berusaha mengusir sang serangga betina tersebut.


Nyamuk itu mendarat di dahi Fikram.


"Ah! aku tidak mau melakukan ini, tapi kau yang memaksaku!" katanya bersiap menyerang sang nyamuk.


Plak!


Tangan Fikram berayun ke dahinya dengan sangat keras, hingga menimbulkan cap tangan berwarna merah disana.


"Mati! Mati dah lu!" Katanya membuka hasil tangkapannya itu.


Nguing! Nguing!


Ternyata eh, ternyata. Nyamuk itu masih hidup dan terbang ke udara begitu saja.


"Apa?! Dia masih hidup ternyata, hiih!!" geramnya pada si nyamuk.


Byur!!


"Eh! Elu ngapain sih lama banget di dalem, teriak-teriak ngga jelas lagi!" Ucap Gamma membuka pintu kamar mandi dengan tiba-tiba.


Kriett!


"Gue kan juga ma-" Ucapnya terhenti melihat kejadian didepannya.


"B ... b ... buahahahahaha!!!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2