Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Solusi Dari Kehausan


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


Tes!


Air mata jatuh dari mata Fikram. "Hiks, berhentilah berpikir tentang mereka, kumohon!"


 ----------------


Sang fajar kembali bersinar, hawa dingin masih terasa sedikit di kulit, tak kala matahari belum tinggi. Tidak ada kicauan burung saling bersautan yang menjadi pertanda akan pagi hari. Mata sayu, dan tenaga serta nyawa belum terkumpul sempurna, Ibu Albert sudah mendesak mereka untuk bangun.


"Hoammm, aku masih mengantuk," ujar Manda menguap lebar. "harus ya, kita jalan sepagi ini," sambungnya.


"Supaya kalian tidak dehidrasi, dari kemarin kalian tidak minum 'kan?" kata Ibu Albert.


"Aaaa, Ibu Albert perhatian," ucap Manda dengan mata berbinar, kagum.


"Bukan begitu. Kalau kalian dehidrasi terus sekarat aku juga yang repot dan aku tidak mau itu terjadi."


Raut kagum Manda luntur, "Oh."


~Hening~


Tidak ada percakapan lagi setelah itu, mereka fokus berjalan mencari jalan keluar. Seiring lama perjalanan mereka, matahari semakin naik, suhu pun meningkat drastis. Peluh mulai membanjiri, penat mulai menghampiri, memaksa mereka untuk berhenti saat itu j uga.


"Hemm, tanya langsung sama orangnya?" mendadak, pernyataan Ibu Albert kemarin malam muncul di pikiran Dina. "Apa maksud Ibu Albert? Apa kita akan ketemu Raja Finan? Ah masa sih, tapi kapan? Menurutmu gimana, Di?" tanyanya menoleh pada Nadia.


Diam, Nadia diam tanpa menjawab, bahkan ia malah menunduk lesu.


"Di," panggilnya lagi. "Nadia!" Dina tidak sabar, karena Nadia tak kunjung menjawab ia mendekati Nadia yang terus saja menunduk. "Ish! Di, kau ditanya bukannya jawab malah-"


Nadia tiba-tiba mendongak, "Din, aku lagi cape. Ngga ada tenaga buat mikirin itu sekarang. Jadi tolong, jangan suruh aku berpikir keras dulu ya," pintanya dengan wajah yang penuh peluh nan pucat.


"Oh, hehe sorry-sorry. Ngga nyangka bisa cape juga lu, Di."


"Aku juga manusia, Din" menatap datar.


"Ibu Albert, aku benar-benar lelah, haus lagi. Mau sampai kapan kita begini?" keluh Manda.


"Sampai kita bisa nemuin jalan keluar dari dunia ini," jawab Ibu Albert.


"Tapi kapan..." rengek Manda diikuti oleh Fikram.


"Saat tiba saatnya," jawab Ibu Albert lagi.




"Kita istirahat dulu, Ibu Albert tolong," kata Dina.



"Ya, kita semua sangat cape di sini," kata Nadia.



"Ibu Alberta kok keliatannya bugar-bugar saja sih," kata Manda.



"Makanya, perbanyak olahraga jadi di medan berat seperti ini tidak mudah lelah," jawab Ibu Albert menceramahi, tangannya mulai merogoh ke tas dan mengeluarkan benda dari sana.



Ia memutar tutup benda itu, lalu menuangkan isinya ke dalam mulut.



Glek! Glek!



"Ahh, segarnya," ucapnya.



Sementara ketujuh manusia lainnya memandang heran, bingung dan marah kepadanya.



"K-k-kau bawa air minum?" Manda terperanjat.



Ya, benda itu adalah air minum yang sekarang isinya tinggal setengah dari botol mini itu. Sekarang mengerti 'kan kenapa Ibu Albert terlihat bugar-bugar saja dibanding yang lain, haha



Dengan mudahnya ia menjawab, "Ya memang."



"Katanya tidak ada yang bawa air minum, termasuk kau, lah itu ...," Dina kehabisan kata-kata.



"Oh maaf, aku lupa aku bawa minum," dengan santainya ia meneguk air di botol itu lagi di depan mata kepala mereka.



"IBU ALBERT!" pekik mereka.



"Ibu, seharusnya kau bagi kepada kami semua. Kami juga butuh, Bu." Kata Gamma protes meminta hak.



"Oh, kalian mau?" melirik sebentar lalu meneguk kembali. "Ups, habis. Maaf ya," ucapnya dengan nada yang sangat mengesalkan hati dan pikiran.



"IBU ALBERTA!!" geram mereka.



"Di tasnya pasti ada lagi, tidak mungkin dia berani menghabiskan punyanya kalau tinggal satu-satunya," kata Fikram.



"Benar juga," timpal Manda.



"Silahkan saja kalian chek, aku cuma bawa satu ini doang kok," katanya memasukan botol kosong itu ke dalam tas lagi. "Ngga percaya? Nih," dia memperlihatkan isi tasnya.



Benar, tidak ada botol yang terisi air lagi selain botol kosong tadi. Mau tidak mau mereka ya... percaya. Kesal? Pasti, mereka semua mendengus kesal dengan sikap menjengkelkan Ibu Albert tadi.



"Aih, aku benar-benar haus. Bisa mati aku seperti ini," kata Nadia tidak seperti biasanya, ia menjatuhkan badannya ke tanah.



Mendengar hal yang tidak biasa dan mendengar Nadia sedang lemah, dua pesaing ini tergerak untuk melakukan sesuatu. Siapa lagi kalau bukan Gamma.



"Nadiku sayang, bertahan ya. Sebentar lagi kita pasti akan keluar, sebelum itu aku akan selalu ada di sisi mu, bertahan ya." Dia mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengipasi Nadia.


__ADS_1


Nadia membuka matanya, terlihat Gamma sedang berjongkok seraya mengipasi dirinya, iapun bangkit. "Kau itu apa-apaan sih. Eh tapi segar juga, lumayan ada angin dikit, yok terus-terus." Awalnya dia melihat tingkah Gamma aneh, dan risih tapi dari pada tidak ada, kan haha.



"Cis, apa-apan itu," Dina menatap datar mereka.



"Krucil, aku mendahuluimu, haha. Omong-omong kemana dia? Apa dia ngga muncul karena masih mengira Nadi itu bukan Nadi yang sebenarnya? Haha baguslah, ini kesempatanku." Batin Gamma yang terus mengipasi Nadia dengan penuh senyuman.



Tiba-tiba ada tangan yang menyodorkan buah berwarna merah keunguan kepada Nadia. Nadia pun mendongak.



"Nih, makanlah. setidaknya ada cukup air dalam buah ini. Tetaplah hidup, orang yang menyayangi dan mencitaimu tidak akan rela jika kau meninggalkan mereka begitu cepat," ujar Rio, ya itu Rio dia menyodorkan itu seraya memalingkan wajahnya, menyembunyikan pipinya yang bersemu. "Tentu saja aku tidak rela kalau kau meninggalkanku begitu cepat, Di" lanjutnya dalam hati.



"Auw, baper," komentar Manda tersentuh.



"Sak elah Rio, bilang aja kalau orang itu elu," batin Dina menyeringai.



"Aku tahu orang itu kamu kan, Ri. Fufufu, " batin Fikram bersemangat.



"Aih, cinta remaja," batin Ibu Albert menggelengkan kepalanya.



"Ri-Rio..." mata Nadia berbinar.



"Ini, ambilah."



"Apa-apaan Krucil ini," sebal Gamma dalam hati.



Nadia menerimanya, pipinya bersemu, "Terimakasih."



"Hei-hei apa yang kau berikan pada Nadiku! Bagaimana kalau buah itu beracun hah," protes Gamma bangkit, menatap tidak suka ke arah Rio.



"Ini buah kaktus ya?" kata Nadia menebak.



Krauk!



Nadia memakan buah itu.



"Apa! Buah kaktus?! Emang bisa di makan? Eh Nadi jangan di makan nanti kamu kenapa-napa lagi," kata Gamma panik.



"Sembarangan kau Burung Beo. Setahu aku, buah kaktus itu bisa dimakan tahu, aku pernah membacanya," kata Rio.




"Emm, lumayan, ini manis dan berair. Sepertinya ini jenis kaktus yang bisa di makan. Rio, dimana kau mendapatkannya?" tanya Nadia.



"Di sana," ia menujuk ke arah himpunan pohon kaktus yang sudah berbuah, tak jauh dari mereka beristirahat saat ini,



Mereka pun berjalan menuju tempat yang Rio tunjuk.



"Woahhh, akhirnya haus yang menyiksa ini akan segera sirna," kata Manda dan Fikram.



"Terimakasih Semesta," ucap mereka bersyukur.



"Serius ini bisa di makan? Aku meragukannya," Gamma masih tidak percaya.



"Sepertinya ini bisa," kata Ibu Albert membenarkan.



"Dari mana Ibu tahu? Bisa saja kan rekasi setelah makan buah itu cukup lama, wah jangan jangan Nadi ku kenapa-napa. Di, kau baik-baik saja kan," mulai panik lagi, mendekati Nadia.



"Hei, menjauhlah," kata Nadia risih.



"Ibu pernah memakan buah ini, dan baik-baik saja tuh," ungkap Ibu Albert.i



"Kapan? tunggu. Ibu berarti pernah ke sini dong," kata Gamma.



"Emm, entahlah Ibu lupa. Aah, sudahlah itu tidak penting. Yang penting sekarang, petik buah ini ambil sebagai perbekalan dan satu buah kalian makan untuk mengisi tenaga. Mengerti?" jelasnya.



Mereka mengangguk.



"Bagaimana cara memetiknya? Buahnya saja penuh duri begini, susah deh," ujar Manda melihat bayak duri tajam yang menempel di buah itu.



"Buangi saja durinya satu persatu, hati-hati. Setelah bersih, baru petik buahnya." kata Rio.



Mereka pun mulai memetik buah itu satu persatu. Beberapa saat kemudian, buah yang mereka petik cukup banyak dan semua telah masak. Mereka juga sudah memakan satu buah bagian mereka masing-masing.



"Ok, sudah semua," kata Nadia.

__ADS_1



"Kalau gini kan jadi kuat nerusin perjalanan. Tunggu apa lagi, ayo!" Fikram kembali bersemangat.



"Baiklah ayo lanjut lagi," kata Ibu Albert.



Tiba-tiba netra Manda melihat ada satu buah masak yang belum terpetik.



"Eh, ketinggalan satu nih. sayang kan, ya walaupun cuma sebiji," kata Manda melenggang mendekati buah itu.



"Ya sudah petik saja," kata Dina.



Manda pun mencabuti duri yang menancap di buah itu satu-persatu layaknya buah tadi. Namun, saat ia mencabut satu duri ....



"Aduh!"



"Lah kok ada suara? suara siapa ya?" ia mendengar suara mengaduh saat ia mencabut duri itu.



Tapi karena tidak melihat wujudnya ia pun terus saja mencabuti duri itu. namun lagi-lagi ....



"Aduh! Aduh!"



"Eh kok ... hiii jadi merinding, sebaiknya aku petik aja deh. Serem, hantu nangkring di pohon kaktus juga ternyata." Dengan hati-hati Manda memetik buah yang masih berduri itu.



Tidak seperti sebelumnya, buah yang satu ini sangat sulit dipetik.



"Kok susah banget sih, kayaknya aku harus mengerahkan semua tenagaku!" tekadnya.



Manda terus mencoba memotek buah itu.



Kretak!



"Aih, akhirnya." Manda mendapatkan buah itu.



"Manda ayo!" teriak Nadia.



"Ya," Manda berbalik dan melangkah menuju teman-temannya.



Namun, lagi-lagi telinganya mendengar suara aneh, bukan suara mengaduh lagi sekarang melainkan suara tangis.



"Huwaaaa! Kemana buahku yang susah payah ku besarkan!"



"Suara apa tuh?"



Melihat Manda malah mematung di sana, teman-temannya menghampiri.



"Manda, ayo" kata Dina.



"K-kalian denger suara ngga?" tanya Manda.



"Suara?" bingung mereka.



"Kemana hilangnya buah kita semua?"



"suara wanita?" bisik Dina.



"Ibu-ibu," timpal Fikram.



"HEI PARA MAKHLUK BERKEPALA DAN BERKAKI DUA!"



Mendengar sumber suara dari arah belakang mereka semua menoleh. Raut wajah mereka anjlok menjadi raut wajah yang kaget nan tercengang.



"Buahku!" menunjuk ke arah buah yang dipegang Manda.



"Buah kami! Oooo, jadi kalian ya." Seperti warga yang meneriaki seorang maling yang ketahuan mencuri.



Mereka membeku, saling bertukar pandang, hingga akhirnya ....



"TOLONG ADA KAKTUS HIDUP MENGEJAR KAMI!" Manda berteriak seraya berlari tunggang langgang.



"Berhenti kalian pencuri buah orang! Kemari kalian, akan kuberi pelajaran!"



"Dasar makhluk besar nakal! Kemari kalian!"

__ADS_1



**Bersambung** ....


__ADS_2