Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Tanaman Liar vs Mangga


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Wah-wah, kau masih menggunakan trik lama itu ya."


Suara misterius datang dari belakang, wanita ini kaget dan langsung menoleh ke sumber suara.


"Kau!"


Benar saja di belakangnya berdirilah wanita paruh baya dengan rambut disanggul, membawa tas selempang putih berbahan dari kulit, dan tersenyum tipis.


"Haha, kau sudah ingat aku sekarang?" katanya.


"Tentu saja," wanita ini berseringai.


"Bagus, lama tid–"


"Kau ibu-ibu tua yang bersama mereka 'kan? Bagaimana kau...?" bingung wanita itu. "Apa kau menggali tanah? Apa kau bisa menembus benda-benda? Kau siluman? Atau ...."


Meninggalkan dia yang sedang mengoceh, Ibu Albert menepuk dahinya,  "Astaga."


Ya sudah tidak perlu aku jelaskan lagi, wanita bersanggul itu adalah Ibu Albert. Tapi bagaimana dia keluar dari perangkap si wanita daun? Hemmmm.


"Sudahlah daripada kau pusing-pusing memikirkan bagaimana aku bisa di sini, lebih baik lepaskan mereka ...." Ibu Albert memejamkan matanya, sepertinya ia akan berbicara panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume. "... aku tidak mau mereka mati karena bersin, tanpa perjuangan, itu terlalu mudah, astaga!" kejutan dapatkan saat membuka matanya.


Tali-tali berbentuk tanaman yang sama dengan tanaman perangkap yang ia buat untuk menjebak Nadia dan teman-temannya. Tali-tali itu melesat sangat cepat, sejengkal lagi tali itu pasti berhasil menjerat Ibu Albert.


Namun....


Syut!


Tidak semudah itu menangkap Ibu Albert, kawan. Tali-tali itu malah menjerat sebuah batang pohon.


"Apa!?" mata wanita itu membulat.


Ibu Albert? Kini Ibu Albert duduk di atas dahan pohon yang muncul secara tiba-tiba. Salah satu kaki tertekuk dan satunya melurus, posisi itu mendukung wajahnya yang melukiskan penuh kemenangan. Tak lama ia berucap dari atas, "Hei singkirkan talimu itu dari pohonku, merusak pemandangan saja," katanya yang sangat berhasil membuat jengkel lawan bicaranya.


"Bagaimana kau!?"


"Sudah lama tidak bertemu, ingatanmu jadi pendek ya."


"Lama tidak bertemu? Siapa kau sebenarnya, hah!"


Bukannya menjawab ia malah berterima kasih. "Omong-omong terima kasih. Berkat kau, aku tidak perlu pusing-pusing lagi mencari alasan untuk menyembunyikan identitas asliku." Mendadak muncullah tali berdaun yang turun dari atas dan memberikan Ibu Albert benda berwarna kuning oranye. "Nih, ku beri kau mangga yang matang sebagai tanda terima kasih," Ibu Albert melemparkan benda yang ternyata adalah mangga ranum itu.


Si wanita menangkap mangga itu. "Mangga?" pikir wanita ini mengingat-ingat. Dia membulatkan mata, lalu menoleh cepat ke arah Ibu Albert, sepertinya dia kaget. "Kau!"


Ibu Albert meloncat, turun dari dahan. "Ya, kawan ups maaf ... mantan ketua suku," ia tersenyum miring.


 


Hatchuu!


"Haah percuma, belatiku jadi seperti rambutan sekarang," sebenarnya Nadia sedang mencoba membelah tanaman-tanaman itu agar mereka bisa bebas. Tapi yang terjadi belatinya malah penuh bulu-bulu halus sekarang.

__ADS_1


"Heh, Slow kau anak dunia ini kan, bagaimana caranya kita bisa pergi dari sini?" kata Dina pada Gamma.


"Aku memang anak sini, tapi aku belum pernah melihat dan mengalami kejadian seperti ini sebelumnya," jawab Gamma.


"Tidak berguna," gumam Dina yang masih di dengar oleh Gamma.


"Apa kau bilang!"


Hatchuu!


"Haah, rasanya mau pingsan aku. Aku sudah tidak sanggup, siapapun tolong keluarkan aku dari sini!" jerit Fikram.


Hatchuu! Hatchuu!


HA-HA-HATCHUU!


Suara bersin Fikram yang terakhir sangat keras, sampai-sampai Manda tersadar dari pingsannya.


"Hah! Apa yang terjadi!"


"Hey, kau sudah sadar," ucap Fikram saat mengetahui individu yang ia gendong sudah tersadar.


Manda mengedarkan pandangannya. Dirinya bingung, kenapa ia di kelilingi tanaman aneh yang menjulang tinggi, dan kenapa ia di gendong oleh Fikram.


"Kau tadi pingsan dan kakimu itu terluka parah, jadi jangan menyuruhku menurunkanmu. Kau tidak akan bisa berjalan sendiri," kata Fikram seakan mengerti Manda sedang dilanda kebingungan.


"Oh, baiklah. Eh, kenapa bajumu...? ini darah?" Manda mencium baju Fikram untuk mengetahui itu darah atau bukan. Namun tak lama pandangannya melihat darah yang mengalir keluar dari hidung sahabatnya itu. "Aih hidungmu! berdarah, Fikram!" Manda menjadi heboh melihat Fikram mimisan.


Hatchuu!


Tepat sebelum Fikram menyelesaikan kalimatnya, Manda bersin, terpotonglah kalimat miliknya.


"... begitu," Fikram melanjutkan katanya yang tertinggal.


Cairan merah pun mengalir jua di hidung Manda, ia mengusap hidungnya. Matanya melotot seketika, melihat noda merah di jarinya.


AAAAAAA!


Suara teriakan Manda terdengar seantero dunia unik bin membagongkan ini. Sementara di luar, Wanita itu menoleh ke belakang keheranan mendengar suara teriakan yang menggelegar itu.


Syutt! Tepok!


"Hey!"


Ternyata Ibu Albert melemparkan buah mangga ke arah wanita itu. Sontak wajah wanita itupun terpampang noda mangga yang berceceran di wajahnya.


"Makanya jangan meleng," kata Ibu Albert melempar-lemparkan buah mangga ke atas.


"Dasar kau!" wanita ini menggerakkan tangannya.


Seketika tali-tali dari tanaman kembali muncul menyerang Ibu Albert.


Sett!

__ADS_1


Dengan mudahnya Ibu Albert menghindari tali-temali itu satu persatu, tentu mangga itu masih stay di tangannya.


"Seranganmu masih sama saja ya, mudah ditebak," Ibu Albert melemparkan mangga itu lagi ke arah si wanita.


Tentu si wanita dapat menghindarinya, ia pun hendak memberi ejekan yang sama. "Ha, seranganmu juga masih sama, mudah diteb-" ia hendak menoleh, eh tapi ....


Tepok!


Kejutan yang manis namun juga menjengkelkan. Satu mangga berhasil mendarat tepat di wajahnya 'lagi'.


"Kau ...!" terlihat sekali ia mulai geram dan kesal.


"Apa seranganku sekarang mudah ditebak?" Ibu Albert mengangkat satu alis dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya.


"Dasar Penghianat menyebalkan!"


"Oh, terima kasih," ia malah berterima kasih saat bukan di berikan pujian. "Tapi tunjukan sedikit rasa hormatmu pada ketua suku," kata Ibu Abert mengukir seringainya.


"Haha, ketua suku katamu. Suku kita sudah mati belasan tahun yang lalu!" kata wanita ini.


"Ya, itu 'kan ulahmu."


"Haha, ya benar. Aku yang mematikan mereka semua! Buahaha!"


"Sebenarnya kau ini kenapa? Kau adalah ketua suk, kenapa kau malah mematikan sukumu sendiri, hah!" hardik Ibu Albert.


"Kenapa katamu? Haha... ini semua karena kau!" raut wajahnya berubah menjadi sangat serius. "Semua orang di negeri ini selalu saja, menghormati tanaman yang memiliki bunga-bunga indah, tanaman-tanaman hijau, tanaman yang berbuah sepertimu. Jangankan rakyatnya, suku kita, bahkan kerajaan saja tidak menghormati tanaman tidak berguna sepertiku!" teriaknya. "Hanya tanaman liar yang berbahaya dengan duri halus yang bisa melukai banyak makhluk," ia menunduk dengan mata berkaca-kaca. "Itukan yang kalian katakan di belakangku," air matanya perlahan menetes.


Ibu Albert agak tercengang, namun kemudian sorot wajahnya memandang ke arah lain dengan tatapan sendu.


"Tapi ..." ia mengeluarkan tangannya, melihat kristal hijau terang. "... dengan kristal ini, aku akan membuat kalian bertekuk lutut padaku! Akan ku ubah semua tanaman di negeri ini menjadi tanamanku! Hanya milikku!"


Ibu Albert hanya memandangnya dengan wajah datar. "Ya aku sudah tahu itu," batinnya.


Melihat lawannya yang tidak terkejut, wanita ini pun bingung.


"Kau tidak kaget?" tanyanya dengan mengangkat salah satu alisnya.


"Tidak, memang harus ya?" jawab Ibu Albert.


"Haruslah, ayo kaget sekarang!"


"Ya-ya baiklah. Cepat ulang kata-katamu tadi," kata Ibu Albert.


"Ya, baiklah. Ekhem," dia mempersiapkan suaranya. "AHAHAHA! dengan kristal ini, aku akan membuat kalian bertekuk lutut padaku! Akan ku ubah semua tanaman di negeri ini menjadi tanamanku! Hanya milikku!" ia benar-benar mengulang kalimatnya.


"Apa! Yang benar saja! Kristal itu ada padamu?! Oh tidak~" telihat sekali ekspresi wajahnya dibuat-buat.


"Nah gitu dong." senang wanita ini. "Oh ya, maafkan aku,"


"Maaf? Apa kau sudah menyesal semudah it– Hah!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2