
EPISODE SEBELUMNYA
"Astaga! Apa ini? Di mana teman-temanku?" batin Manda menggigit jarinya panik.
\~Sementara itu\~
"Kok kaya ada yang kurang ya? Tapi apa?" pikir Dina merasa ada yang janggal.
"HIHIHI, kenapa kamu ikut kami? Kenapa ngga ngikut si HAHAHA aja tadi?" tanya Rio angkat suara.
"Aku? Hihihihi, duh ganteng pake tanya lagi," ujar HIHIHI mencolek dagu Rio.
"Ih, apaan sih!" risih Rio.
"Hihihi, aku'kan pemandu kalian, jadi kemana pun kalian pergi aku akan ikut," jelasnya.
"Pemandu yang menyesatkan!" kesal Dina.
"Apa katamu!" kesal HIHIHI mendengar perkataan Dina barusan.
"Apa perlu aku ulang?" Menaikkan salah satu alisnya.
"Hiii! Huh!" kesal HIHIHI membuang muka.
Drap ... drap ... GREP!
"Aku takut!"
Mata Gamma melebar ketika ada seseorang yang memeluknya erat serta menelungkupkan wajah di punggungnya dari arah belakang. Apalagi yang memeluknya tidak lain tidak bukan adalah seorang gadis terpilih yang menjadi tempat jiwa sang kekasihnya yang telah tiada.
"Nadia apa-apaan sih!" kesal Dina dalam hati melihat hal tersebut.
"Haah, N ... N ... Nadia! Kenapa dia!" kaget Rio dalam hati seraya mengepalkan tangannya kuat.
"D ... D ... Di, ada apa?" tanya Gamma gugup, tubuhnya menggigil secara mendadak.
"EKHEM!" tegur Ibu Albert.
"Hah! Oh, maaf tadi aku melihat sesuatu yang menakutkan jadi aku ...." ucap Nadia tertunduk.
"Ya, tidak apa," senyum Gamma mengelus rambut Nadia.
Dina yang melihat itu memutar bola matanya malas, "Mereka apaan sih! Ih, males gue liatnya," Dina menoleh ke arah samping.
Ia berpikir akan bertemu sosok Manda, namun ....
"Da, Manda, Manda!" Dina celingukan mencari-cari sosok Manda. "Heh, guys! Kalian liat Manda ngga?" tanyanya.
Sontak perhatian mereka tertuju pada Dina.
"Manda? Tadi'kan di belakang sama kamu, Din" kata Nadia.
"Iya, tapi sekarang ngga ada!" panik Dina.
"Coba, kita tanya HIHIHI. Mungkin dia tahu," usul Rio.
"HIHIHI!" kompak mereka kecuali Ibu Albert, meminta penjelasan.
Nihil.
"Lah, kemana itu dedemit satu?" ujar Gamma.
"Kenapa pada ngilang ya? Hah! Jangan-jangan ...." Dina menebak. "Astaga! Mereka kejam, mereka kondangan ngga ngajak-ngajak, keterlaluan!" kesalnya melipat tangannya.
GUBRAK!
"Jangan ngawur deh," tegur Nadia.
"Hehehe," hanya cengir kuda yang Dina tunjukkan.
"Teman-teman, kita pikirkan itu nanti, yang kita pikirkan sekarang adalah DI MANA KITA!" kata Rio tersadar mereka telah menempati ruangan asing.
Cermin, cermin, cermin. Itulah gambaran tempat yang mereka tempati. Mereka dikepung oleh beberapa cermin kaca panjang yang sedikit terangkat ke atas.
DUNG! TAP! TAP!
__ADS_1
Cermin-cermin itu tiba-tiba berjejer dan saling menempel satu sama lain. Mereka terus berjejer memanjang hingga menunjukan sebuah jalan yang dipenuhi kaca. Cermin adalah benda yang bisa memantulkan, membiaskan bayangan seseorang. Sudah tentu cermin itu membiaskan bayangan mereka dan menjadikan bayangan mereka banyak walau hanya satu orang, terkadang kita saja bisa terkecoh oleh bayangan kita sendiri.
Kelima manusia itu memposisikan sikap siaga mereka.
"TIDAK! Tolong jauhkan aku dari mereka!" Nadia kembali memeluk erat Gamma dan menyembunyikan wajahnya yang ketakutan.
"Kenapa? Ada apa, Di?" cemas Gamma.
"Mereka, mereka. Aku takut!" Nadia gemetaran saat menunjuk salah satu bayangannya di cermin.
"Itu bayanganmu sendiri, Di. Masa takut?" kata Gamma bingung.
"Iya, Nadia kau sakit? Itu bayanganmu sendiri," timpal Dina.
"Kalian ini! Pokoknya aku takut!" ngotot Nadia.
"Jangan ... jangan," pikir Rio. "Di, apa kau punya phobia terhadap cermin. dan bayanganmu sendiri?" tanyanya memaksa Nadia melepaskan pelukannya dari Gamma.
Phobia terhadap cermin atau pantulan bayangan di cermin adalah ketakutan berlebih seseorang melihat cermin yang lebih mengarah ke takutnya seseorang melihat bayangannya di cermin itu sendiri. Phobia ini biasa disebut Eisoptrophobia, Catoptrophobia, atau Spectrophobia.
"Aku takut, Rio!" bentak Nadia langsung menepis kasar tangan Rio dan malah mengeratkan pelukannya.
"Di, hey ... hey," Gamma melonggarkan pelukan Nadia.
Tetapi Nadia menolak dan mengeratkan pelukannya kembali.
"Kenapa aku malah ngga nyaman ya dengan Nadi yang seperti ini? Harusnya 'kan aku senang," batin Gamma ada yang mengganjal di hatinya.
"Tolong kita pergi dari sini!" takut Nadia masih mengeratkan pelukannya di perut Gamma.
"Kenapa aku tidak tahu dia punya ketakutan seperti ya?" gumam Rio dalam hati.
"Iya, iya kita pergi dari sini," ujar Gamma menenangkan.
"Ini pasti tantangan keduanya, Heeh! Kemana pemandu menyesatkan kita!" kesal Dina.
Tiba-tiba lantai lorong cermin itu bersinar seakan menunjukan jalan untuk mereka.
"Ikuti saja lampu itu," usul Rio menunjuk.
Mereka pun mengikuti usul Rio dan menyusuri lorong kaca itu.
\~MANDA\~
"Duh! Di mana aku?" gelisah Manda berjalan melewati celah-celah antara cermin kaca yang menancap di tanah itu.
Mendadak iris coklatnya menangkap sekerumun manusia melintas.
"Apakah itu teman-teman?" pikir Manda.
Sontak ia langsung menyusul mereka yang ia pikir teman-temannya, melewati kaca cermin dengan terburu-buru namun tetap hati-hati.
"Teman! Tunggu!"
Manda kehilangan jejak mereka. Ia pun mengatur napasnya sejenak.
"Manda," panggil seseorang yang suaranya tak asing bagi Manda.
"Hah!" ia menoleh dan mendapati pantulan salah satu sahabatnya berada di cermin.
"Manda," panggilnya.
"Fikram? Bagaimana kau di situ! Bukankah kau tadi! Ah, jangan-jangan," Manda berpikir yang tidak-tidak. "Astaga! Apa aku telah menjadi laki-laki sekarang?" paniknya melihat kedua tangan.
"Ah tidak! Aku tidak mau berubah jadi laki-laki! Apalagi laki-lakinya dia!" gerutunya.
Entah bagaimana bisa Manda berpikir dirinya berubah menjadi laki-laki.
"Heh, tunggu dia tidak menirukanku," bingung Manda menggerak-gerakan badannya melihat reaksi bayangan cermin.
"Ah, tidak. Artinya aku masih perempuan, rambutku, ah, syukurlah," leganya dia masih seorang gadis.
"Jadi ini benar kau Fikram. Bagaimana kau bisa ... Oh, tidak! Tenang jangan panik, aku akan melepaskanmu, tenang," paniknya mendekat ke cermin dengan bayangan diri seorang Fikram.
"Manda," kali ini suara seorang wanita memanggil Manda.
__ADS_1
Manda menoleh lagi. Kali ini netranya menangkap sahabat yang menyebalkan baginya, Dina.
"Di ... Di ... Dina!" kagetnya. "Kau juga di sini!"
"Manda," dari arah yang lain ada yang memanggilnya kembali.
"Nadia! Ibu Albert!"
"Manda,"
"Rio dan Gamma juga!"
"Kenapa kalian ada di sana?! Apa terjadi sesuatu!" cemas Manda.
"Manda, Anakku!" kali ini suara berat khas yang memanggil namanya.
"Dad! Mom!" kagetnya melihat sosok kedua orang tuanya berada di cermin.
"Tidak, tidak. Ini bohong! Tidak mungkin ayahku di sini!" sangkal Manda tidak percaya.
"Nak, tolong kami! Kami mencarimu, kemana saja kamu! Liburan tidak pulang-pulang. Keluarkan kami dari sini, Nak" tangis sang mommy.
"Ini kami, Nak. Apa kamu tidak mengenali kami!" kata sang ayah.
"Mom, Dad ...." Manda menatap mereka sayu. "Tidak ini semua bohong! Aku tidak akan tertipu!" sangkalnya ingin berbalik tanpa menghiraukan mereka dan fokus mencari teman-temannya yang sebenarnya.
CRUTT!
"Iih! Apa ini!"
Manda memeriksa cairan yang tiba-tiba saja mengenai wajah jelitanya. Ia pun melihat cairan di ujung jarinya. Betapa terkejutnya saat melihat ....
"Cairan merah! Apa ini DARAH!" matanya terbelakak.
"Man-"
Manda menoleh ke sumber suara.
"NO!" pekiknya mendadak.
KRETAK!
"Fikram!"
Dengan matanya sendiri, ia melihat kepala temannya di penggal menggunakan sebuah kapak oleh sebuah tangan misterius. Ia ingin masuk dan menyelamatkannya namun terhalang kaca cermin yang langsung retak dan menghilangkan adegan tragis itu.
"Fikram ...." tangisnya berlumuran darah di depan cermin.
"Manda, Manda," ada suara berbarengan memanggil nama Manda.
Ia pun menoleh perlahan dengan gemetar.
"NO!" pekiknya lagi.
KRETAK! CRUTT!
Manda pun jatuh ke lantai seraya menangis. Kakinya terasa lemas, badannya kini terlumuri darah yang ia yakini sebagai teman-temannya. Ia menangis histeris. Manda mendongak dan melihat dirinya di pantulan cermin yang retak. Merah, kotor, penuh noda darah.
"Nak, tolong, Nak! Cepat!" ucap kedua orang tuanya memukul-mukul cermin itu seakan ingin keluar namun tidak bisa.
"Mom, Dad ...." Ujar Manda lirih. "MOM! DAD!" pekiknya langsung berlari ke arah orang tuanya, mengingat kejadian yang menimpa teman-temannya barusan.
"Cepat Manda!"
"Awas Mom! Dad!" Manda memperingatkan ayah serta ibundanya, melihat seseorang berjubah serba hitam tanpa terlihat wajahnya membawa kapak dan bersiap.
Manda pun menambah kecepatan ia berlari, tetapi cermin yang menampilkan sosok kedua orang tuanya seakan semakin menjauh ketika ia mendekat.
Orang tua Manda sempat menoleh ke belakang, namun ....
"NO!"
KRETAK!
Bersambung ....
__ADS_1