
EPISODE SEBELUMNYA
"YANG BENAR SAJA, KAKEK SAN! INI GUDANG PENYIMPANAN!"
"Mana bisa kita diskusi dan istirahat di tempat yang ...."
Sebuah sapu tiba-tiba saja jatuh, tikus dan kecoa berlarian, banyak kotak kardus menumpuk, benda-benda usang berserakan di mana-mana. Sarang laba-laba juga menghias indah di atap ruangan, debu dan kotoran mendominasi ruangan. Sungguh tempat yang jauh dari kata bersih.
"Eits, apa perjanjian kita? Tidak boleh protes apapun keputusan dan perintahku pada kalian, kalian ingat kan, hmmm?!" kata Kakek San mengingatkan lagi.
"Ya tapi-" ucapan mereka lagi-lagi dipotong Kakek San.
"Tidak boleh protes, titik! Cepat masuk dan duduk sana," tegasnya. "eee, Tuan Putri Maple dan tunangannya bisa duduk di sini. Putri Nadi juga ya." Kakek San menyihir tiga kotak menjadi bersih dan hilang dari debu.
Mau tidak mau, ketujuh makhluk hidup ini duduk di ruangan kotak berdebu meski badan mereka tak nyaman.
"Ceh, tak adil," kata Dina melihat perlakuan berbeda antara mereka dengan Maple, Trigo, dan Nadia.
"Kakek San pilih kaseh," komentar Fikram menimpali.
"Sudahlah, kalian kan bisa membersihkannya sendiri, jangan manja deh," kata Kakek San.
----------------
Dahulu kala, sang Pelindung Teratai Biru adalah pelindung misterius yang selalu melindungi kami dari berbagai ancaman yang datang dari luar maupun dalam negeri. Namun, semua itu tak bertahan lama. Kerjaan telah di serang, di serang oleh musuh dalam kaos kaki. Menteri kepercayaan Raja, Menteri Basilia. Ia mengabisi dan mengambil tahta Raja kami. Saat itulah identitas sebenarnya Pelindung Teratai Biru terkuak. Putri Nadi, dia, taernyata dialah pelindung kami selama ini!
Negeri dipenuhi kegelapan, gerhana matahari cincin yang sangat jarang terjadi menambah kekuatan hitam menteri Basilia. Kekuatan pedang lima elemen Putri Nadi bahkan tak mampu menahannya. Tumbang, pelindung kami akhirnya tumbang dalam pertempuran itu. Bertahun-tahun, hingga sekarang kami harus menderita di bawah kekuasaan Raja keji itu! Kemiskinan, pertumpahan darah, kelaparan. Semua disebabkan olehnya.
Haha, ternyata benar apa yang dirasakan Putri Nadi, semua yang ia katakan ternyata terjadi.
"Ketua Penyihir, bisakah kau menjaga rahasia?"
"Jika suatu saat nanti terjadi apa-apa padaku. Ini, berikan ini pada orang-orang terpercaya dan yang terpilih. Ku harap buku ini bisa membantu kalian."
Aku kebingungan ketika ia berbicara tentang hal yang tak jelas dan sulit ku pahami saat itu. Namun, sekarang aku mengerti. Buku ini, buku ini asli tulisan tangan dari Putri Nadi, pelindung kami. Aku hanya tidak menyangka Putri Nadi sudah merasakan hal seburuk ini dan mempersiapkan semuanya. Aku benar-benar tak menyangkanya.
Pedang emas lima elemen.
Pedang emas terkuat yang pernah aku ketahui. Pedang sakti milik sang Pelindung, ternyata belum cukup kuat untuk mengalahkan menteri licik itu. Pecah, berpencar, pedang itu berubah menjadi batu elemen dan berpencar.
Kegelapan, Tanah, Air, Tanaman, dan... Cahaya. Elemen itu berpencar dan dipercayakan pada orang tepercaya pilihan sang Pelindung itu sendiri.
Elemen Kegelapan, yang didapat dari pertarungan Kaisar Hutan Hitam telah dipercayakan pada naganya yang setia. Sekarang telah jatuh pada pewarisnya.
Elemen Tanah, yang didapat dari tempat tinggal profesor ternama di negeri ini telah dipercayakan pada jam kesayangannya dan telah jatuh pada pewarisnya.
Elemen Air, yang didapat dari kerajaan Siren semula dipercayakan pada Raja Finan, ayah dari putra mahkota, pangeran Finn. Dan telah jatuh padanya.
Elemen Tanaman, yang semula didapat dari kepercayaan suku tanaman di wilayah hutan negeri ini. Telah dipercayakan pada ketua suku mereka, Alberta. Dan telah jatuh pada yang terpilih.
Elemen Cahaya, yang semula didapat dari ayah Tuan Putri sendiri, Raja kami yang dulu. Kini masih misteri dan harus jatuh pada orang yang tepat.
"Kita hanya tinggal mencari batu elemen cahaya ini," kata Kakek San serius.
__ADS_1
"Apa setelah semua elemen ini selesai kami bisa pulang?" tanya Manda antusias.
"Hemm, Sepertinya ya," raut wajah mereka berubah senang. "Tetapi kita harus bertindak cepat, sebab jika Menteri Basilia yang mendapat kristal terakhir itu lalu ditambah dengan kekuatan gerhana matahari maka ...,"
"Kemungkinan negeri ini hancur dan kalian tidak bisa pulang," tambah Ibu Albert.
Glek!
Mereka menelan saliva mereka sendiri.
"Dan kalian tahu, gerhana itu akan terjadi sebentar lagi." kata Ibu Albert.
"Kapan?" tanya Nadia.
"Besok" jawab Ibu Albert.
Manda panik seketika, "APAAAAAA!"
"Yang benar saja Ibu Albert! Besok?! Besok!" panik Dina.
"Ya begitulah adanya. Makanya kita harus cepat!" kata Ibu Albert.
CLINGGG!
Mendadak Buku Resyana memancarkan sinarnya lagi tanda sesuatu telah muncul.
Perhatian seluruh para pewaris yang terpilih
Elemen terakhir akan memunculkan tandanya
Hanya yang terpilihlah yang dapat melihatnya
Ia akan memberi tahu di mana letak ia berada
"Dia akan bicara pada kita gitu?" simpul Dina.
"Kurasa bukan begitu deh," kata Fikram.
"Satu hari sebelum malapetaka. Satu hari sebelum gerhana itu, maka malam ini kristal itu akan memberitahu kita," kata Nadia.
"Ya, benar. Berarti malam ini juha kita harus ke istana, seperti petunjuk buku Resyana," kata Kakek San serius.
Mereka mengangguk setuju.
----------------
~Malam hari~
Mereka sedang duduk di atas genteng penginapan untuk mengamati.
"Dari tadi aku tidak melihat atau mendengar atau merasakan sesuatu yang bisa disebut 'tanda' deh," kata Fikram jenuh.
"Sama, dan aku sangat boooooosaaaaaan~" timpal Manda.
__ADS_1
"Sabarlah, sebentar lagi pasti muncul kok. Buku Resyana tidak mungkin salah," ucap Kakek San.
"Bagaimana ini? Besok kita harus membayar pajak pada kerajaan."
Sepasang mata gadis cantik nan pemberani menatap serius salah satu adegan yang terpampang lewat jendela rumah yang terbuka.
"Hari ini penginapan dan dagangan sangat sepi, bahkan ini saja tidak cukup membayar pajak."
"Lalu bagaimana kita akan makan?" kata seorang wanita.
Tibalah anak laki-laki mereka yang masih kecil menghampiri, "Ayah aku lapar," katanya.
Sang ayah hanya bisa membelai sang anak tanpa menjawab. Bukan tak mau, namun sang ayah tak tahu harus menjawab apa.
Tersentuh, hati Nadia tersentuh saat itu juga.
"Bagaimana ini, uang ini tidak cukup untuk membayar pajak. Aaaah, aku sangat lapar. Apa aku beli makanan saja, tapi makanan pun sangat mahal, uang ku ini tidak cukup membeli makanan, haaaa."
Terdengar dari jendela rumah yang lain, seorang pria menghela napas pasrah.
"Ibu, aku sangat lapar," kata anak perempuan pada ibunya.
"Sabar ya, Nak. Uang ibu habis untuk membayar pajak, eee Ibu akan mencari pinjaman. Sebentar ya, Nak," wanita paruh baya itu keluar dari rumah kecilnya.
Cukup, semua itu sudah cukup membuat hati Nadia bergetar iba. Ia benar-benar tak tega para rakyat ini menderita karena satu orang licik dan keji. Matanya berkaca-kaca.
"Aku pasti... aku pasti akan menyelamatkan kalian, ya aku mengeluarkan kalian dari penderitaan ini, aku berjanji pada kalian!" monolognya pada diri sendiri.
Clingggg!
Mendadak netra Nadia tersilaukan cahaya.
"Cahaya apa itu?" bingung Nadia melihat pancaran sinar dari suatu arah.
"Hah? Mana? Tidak apa-apa kok?" kata Fikram.
"Kau tidak akan bisa melihatnya, kau bukanlah seorang terpilih agung," kata Ibu Albert.
"Dih," balas Fikram.
"Ya sudah Di, hanya kau yang bisa melihatnya. Pimpin kami ke sana!" kata Rio.
"Itu sepertinya ada di dekat istana," Nadis langsung turun dari genteng dan menuju istana.
"Weh, ini langsung turun? Aku ngga bisaaaaaa!" rengek Manda.
"Sini Mimo, kau ku gendong saja," ajak Fikram dengan senang hati, Manda pun membalas dengan senyum senang.
Bersama-sama mereka pun menuju sumber cahaya terang itu berasal.
"Ihihihi, sebentar lagi aku akan dapatkan kekuatan itu! AHAHAHAHA!"
Bersambung ....
__ADS_1