Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Elemen Tanaman (Berhasil)


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Siapa yang kau panggil beban tim, hah!!"


Suara itu pun menjadi pusat perhatian. Siapakah yang berbicara? Apakah batu besar dengan tali-tali yang mengikat seorang gadis berkuncir dua? Oh tentu saja bukan.


"Aku suka tanaman. Kau tahu tanaman apa yang paling aku sukai?" tangan Manda bergerak perlahan, menandakan masih ada kehidupan di raga itu.


"Manda masih hidup," mata Fikram berkaca-kaca.


"Mana aku tahu!" ketus si wanita.


"Putri malu, aku sangat menyukai putri malu."


Krik... krik...


"Serius, kau suka putri malu?" Nadia bingung.


"Benarkah?" bingung Dina.


"Sejak kapan?" Fikram ikut kebingungan.


"Putri malu itu rumput kan?" ujar Rio.


Bahkan para sahabatnya baru mengetahui Manda menyukai tanaman putri malu.


"Kau tahu kenapa?"


Sedikit demi sekidit tali-tali yang mengikat Manda sebelumnya putus dengan sendirinya, ia turun dari batunya dengan menunduk namun raut wajahnya terlihat serius. Kristal hijau yang tadi jatuh, kini melayang di sekitar Manda. Kristal cantik itu seakan melebur, berganti menjadi debu-debu hijau terang yang berubah lagi menjadi tanaman putri malu. Pergelangan tangan, kaki kanan, dan separuh kepalanya ditutupi tanaman liar tersebut bak perban yang menutupi seluruh lukanya.


"Karena sebagian orang menganggapnya sebagai beban. Padahal beban itu bahkan bisa melukai mereka dengan mudah!" Manda mendongak, terlihatlah tatapan kemarahan yang begitu mendalam di matanya yang manis.


Ia melesat ke arah wanita, mengeluarkan seutas tali dari tanaman putri malu yang langsung berhasil memutus tali antara ikatan teman-temannya dan si wanita. Mereka pun bebas berkat pertolongannya.


"Hiii, kau!" geram wanita itu hendak menyerang Manda.


Bayi kucing telah menjadi macan. Manda mengeluarkan tali dari tanamannya lalu melilit salah satu kaki si wanita dan menariknya. Ia tidak memberi kesempatan wanita itu menyerang.


BUKKK!


Manda membanting si wanita itu berulang kali ke tanah tanpa ampun.


BUKKK! SREKK! SREKK!


Duri-duri dari tanaman putri malu yang melingkar di punggung tangan Manda memanjang membuatnya telihat seperti cakar. Ia mencakar, mencabik-cabik tubuh si wanita dengan brutal. Cairan segar mengalir di bekas cakaran, wanita hijau ini pun terkulai tak berdaya di tanah. Terlihat sekali wanita ini sudah sangat tidak berdaya, bahkan untuk berdiri saja tak mampu. Manda mendekat perlahan, menatap dari atas dengan tatapan serius.

__ADS_1


"Wow, Manda kita sangat berbeda kali ini," kata Nadia.


"Ya, perubahan yang drastis," timpal Fikram.


"Manda habisi saja dia aku mendukungmu!" teriak Dina memberi semangat yang salah.


Ia pun mendapat tatapan datar dari teman-temannya.


"Apa?"


"Uhuk-uhuk! Kalau kau mau membunuhku, bunuh saja aku. Aku tidak peduli!" tantang wanita ini.


"Oh tentu saja, dengan senang hati," Manda memunculkan tali yang dipenuhi duri kecil, yang langsung mencekik dan mengangkat tubuh wanita ini.


Wanita ini memegangi tali yang mencekik semakin erat di lehernya, ia mulai kesulitan bernapas. Manda menggerakkan tali dari tanaman liar itu mengambil belati milik Nadia. Lalu mengacungkan benda tajam itu tepat di depan si wanita, seakan ingin menusukknya saat itu juga.


"Lakukan, lalukanlah dan kau akan menang!" ia tertawa hambar, "Haha! Lagipula kalau aku matipun tidak ada yang akan merugi atau kehilangan, malah mungkin negeri ini akan bersyukur. AYO! AYO BUNUH AKU! JADILAH PAHLAWAN UNTUK NEGERI INI!"


Manda tetap diam. Ia mengambil ancang-ancang, mengangkat tinggi belati ditangannya.


"Wah inilah adegan yang aku tunggu-tunggu, Teruskan Manda! Bunuh dia, ayo!" Dina terlihat sangat antusias.


"Dina...."


Manda pun melesatkan belati itu ke arah si wanita, si wanita memalingkan wajahnya bersiap menerima rasa sakit yang sebentar lagi akan dia rasakan.


Apa yang terjadi? Apa Manda benar-benar membunuh monster ini? Apa benar Manda kita yang imut bisa melakukannya?.


Tidak merasa sakit apa-apa di sekujur tubuh, si wanita pun membuka mata dan menghadapkan pandangannya ke arah manusia berkuncir dua ini. Ujung belati itupun masih tepat berada di depan wajahnya.


Manda menurunkan belati, ia juga melonggarkan tali yang ia lingkarkan di leher si wanita.


"Aku marah, tapi aku tidak mau membunuh siapapun,"  si wanita pun kebingungan ketika tatapan Manda yang tadinya berapi-api berubah menjadi redup.


"Ak-aku-aku hanya ..." Manda kini jatuh berlutut, pandangannya tetap ke bawah.


Tes!


Air mata perlahan mengalir. "Aku hanya ingin bilang... berhentilah memanggilku Beban Tim, itu saja hiks hiks!" Manda menangis terisak. "Ka-kau pikir aku suka dipanggil seperti itu, tentu saja tidak!" Manda mengusap air matanya mencoba berhenti menangis tetapi air mata terus saja turun.


Mata si Wanita berkaca-kaca.


"Aku sudah mencoba semampuku, apa kalian tidak bisa menghargai itu sedikit saja! Tolonglah jangan panggil aku Beban Tim! Aku lelah, aku sudah lelah hiks hiks hiks!"


Mata wanita ini melebar. Tangis Manda itu mengingatkannya pada dirinya yang menangis sendiri di dalam kegelapan ruangan.

__ADS_1


*"Apa tidak ada yang menghargaiku sedikit saja? Kenapa? KENAPA KALIAN MELAKUKAN INI PADAKU!"*


Si wanita mendekat perlahan ke arah Manda yang mengigit bibirnya mencoba mengghentikan tangisnya. Ia berlutut, perlahan mendekap Manda lalu ikut menangis.


"Hiks-hiks, apa yang telah aku lakukan," Ia merasa bersalah, dia merasa seperti teman-temannya dulu yang mengukir goresan luka di hatinya.


"Manda," Fikram haru, ia bukan saja ikut meneteskan air mata melihat adegan sedih ini, tapi juga ingus yang terus saja mengalir.


"Jadi acara tangis menangis begini deh," kata Dina malas.


Hiks! Hiks!


Mereka berdua bangkit. Si wanita melepas pelukannya, ia menyeka air matanya dan air mata Manda.


"Hei, berhentilah menangis. Aku minta maaf, Aku tidak akan memanggilmu dengan panggilan itu lagi," katanya.


"Sungguh?" tanya Manda.


"Ya, tentu saja," si wanita tersenyum tipis.


"Hapuslah air matamu, Manda. Kami kan ada disini untuk menemanimu," Nadia dan enam manusia itu saling merapat dan merangkul seraya tersenyum padanya.


"Tenang saja, tidak akan ada yang berani memanggilmu dengan panggilan aneh lagi, aku jamin itu," kata Rio.


"Kalaupun ada, aku akan menendang dan membantingnya hingga tulangnya itu retak, lihat saja nanti," ujar Fikram.


"Ya, hanya kita yang boleh memanggilmu dengan panggilan aneh, terutama aku, haha" kata Dina langsung mendapat tatapan datar dari teman-temannya. "Apa?" ia tidak merasa ada yang salah dengan perkataannya.


"Hahaha!" tawa mereka pun pecah, Manda yang tadinya menangis kini tersenyum tipis.


Si wanita menepuk bahu Manda, ia pun menoleh ke arah sosok yang menepuk bahunya.


"Kau beruntung memiliki sahabat seperti mereka," katanya.


Manda pun mengarahkan pandangan ke arah para sahabatnya. "Ya, kau benar. Aku sangat beruntung," Manda tersenyum lebar, kemudian berlari memeluk mereka semua. "Aaaa, aku sayang kalian!"


Si wanita pun ikut senang melihat para sahabat itu tertawa bahagia. Perlahan ia memutar tubuh, melangkahkan kaki hendak pergi dari tempat itu. "Haah, andai aku seberuntung dirimu, Gadis Manis. Mempunyai teman yang selalu membela dan menghargai," gumamnya.


Melihat si wanita pergi, Manda pun menegurnya, "Hey, mau kemana kau? Apa kau mau meninggalkan temanmu ini?" tanya Manda membuat si wanita merotasikan badannya.


"Teman?"


"Iya teman, teman yang pasti akan selalu menghargai dan menemanimu, kami semua," katanya tersenyum ceria. "Dan percayalah, kau lebih baik dari yang kau kira."


"Be-benarkah?"

__ADS_1


"Ya, tentu saja, Gympie cantik."


Bersambung ....


__ADS_2