
EPISODE SEBELUMNYA
"Maaf? Apa kau sudah menyesal semudah it– Hah!"
Ibu Albert terlonjak kaget karena tiba-tiba tubuhnya terikat dan ditarik ke atas, kini tubuhnya tergantung terbalik di dahan pohon. "Hey apa-apaan ini!"
"Jebakan dadakanku, dan itu baru," ucap wanita ini sombong.
"Haha, kau itu memang lucu. Kau tahu 'kan aku bisa menggerakkan tanaman mangga untuk membebaskanku walau hanya dengan pikiranku," jawab Ibu Albert berharap si wanita mati kutu dengan perkataannya.
Namun ekspektasi tak sesuai realita, si wanita itu malah tertawa, "Hahaha... HAHAHA! Kau itu memang bodoh atau terlampu payah, apa kau tidak melihat pohon siapa yang kau tempati itu," sambungnya.
Ibu Albert melirik ke belakang sebisanya. Dan benar saja, pohon itu ternyata bukan pohon mangga miliknya tadi, pohon besar yang terbentuk dari tali-tali tanaman milik si wanita.
"Haah, dasar," gusar Ibu Albert.
"Oh ya, kau dapat kursi terdepan untuk melihat pertunjukan dariku! Aku baik 'kan?" ekspresi Ibu Albert seperti ingin muntah mendengarnya. "Dengan kristal ini aku jadi lebih kuat, aku pasti bisa menguasai negeri ini! AHAHAHA!" tak lama setelahnya ia tersenyum penuh rencana.
"Lihatlah ini,"
----------------
AAAAAAA!
"Manda hentikan!" pekik Nadia menutup telinganya.
"Waduh, polusi udara macam apakah ini," kata Dina.
"Astaga, teman kalian itu benar-benar ya," kata Gamma ikut menutupi telinganya.
"Fikram! berhentikan dia!" kata Rio.
"Aduh Manda berhenti! Gendang telinga kami semua bisa pecah, woy!" pinta Fikram.
AAAAAAA!
"Berhenti ngga? Ku banting kau sekarang juga ya," ancam Fikram.
Manda langsung saja berhenti berteriak, "Eh iya-iya aku berhenti. Tapi Fikram aku mimisan!! Huwaaaaa!" rengeknya.
"Tenanglah, kami semua mimisan kau tidak perlu cem-"
"AKU MIMISAN, HUWAAAAA! KENAPAAAAA! KENAPAAAA FIKRAMMM! HUWAAAAAAAAAAAA! AKU MAU KELUAR DARI SINI SEKARANG! SEKARANG JUGA!"
Sudah berhenti berteriak sekarang rengekannya yang membuat polusi suara. Apalagi telinga Fikram sangat dekat dengan sumbernya, wah yang sabar ya Fikram, haha.
"Oh tabahkan dirimu menghadapi calon masa depan, Fikram, sabar-sabar," batin Fikram.
----------------
"Bagaimana? Hebat kan?" tanyanya menunjukan sesuatu.
Menunjukkan sesuatu? Ya, dia menunjukkan hasil karyanya setelah ia mendapat kekuatan tambahan dari kristal itu. Ia tidak akan bisa membuat hasil karyanya ini tanpa kristal sakral itu. Dia membuat prajuritnya dari jalinan tali-tali tanaman liar. Author rasa jumlah mereka ada sekitar ratusan oh tidak ribuan intinya sangat banyak.
"Biar kujelaskan, setiap dari prajurit ini akan menumbuhkan tanamanku di setiap tanah yang mereka tapaki, hahaha. Dengan begini aku akan mudah menguasai dunia ini Ahahaha!"
"Aih... kau tahu kan raja kita sekarang tidak akan membiarkanmu mengusai tahtanya," ujar Ibu Albert.
"Hemm, benar. Tapi raja kita sekarang juga licik, hahaha! Bagus, aku bisa berkeja sama dengannya, aku yakin aku bisa. Ya walau tidak mengusai negeri ini, setidaknya Aku bisa mendapat posisi bagus di kerajaan hahaha!" ucapnya membuat Ibu Albert geram namun tidak bisa melawan lagi. "Para pasukan... MAJU!"
__ADS_1
Para pasukannya serempak maju mengikuti orang yang menciptakan mereka.
"Kau ...!" geram Ibu Albert.
"Haha, sudahlah. Ada Negeri yang harus ku taklukkan, bye~" katanya melewati Ibu Albert begitu saja.
"Hei kuperingatkan kau!" Ibu Albert menggerak-gerakkan badannya agar bisa lepas dari jeratan itu.
"Aku tidak mau dengar," ujarnya terus berjalan memimpin.
"Kalau begitu kau harus mendengarkan kami!"
POOFFF!
Muncullah seseorang dengan memakai jubah hitam mencegat wanita ini. Wajahnya tidak terlalu jelas karena ia memakai masker hitam dan tudung, sosok yang sangat misterius. Tapi kalau dilihat-lihat dia mirip sosok pencuri yang mengambil buku Resyana.
"Siapa kau berani-beraninya mencegah ku?" kata wanita ini.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku," jawab sosok itu.
SREK!
Ibu Albert berhasil mendarat dengan sempurna. Ikatannya dilepas oleh seseorang yang sama dengan seseorang yang mencegat si wanita.Tak lupa Ibu Albert berterima kasih padanya. Si sosok hanya membalas dengan anggukan kemudian melesat pergi. Ibu Albert pun harus mengeluarkan para anak muda yang terjebak di sana. Saat ia hendak melangkah, tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu. pandangannya ditolehkan ke bawah.
"Hah?" ia berpikir benda apa itu. Sepersekian detik kemudian matanya melebar. "Daun maple ...."
----------------
Hatchuu!
"Aaaaaaa, Fikram aku mau keluar dari sini," Manda masih merengek.
"Oh Alam Semesta... AKU MOH-"
Mengerti Manda akan berdoa sangat keras, Fikram pun segera memotong. "Di dalam hati Manda," katanya.
"Baiklah, waaaaaa!"
"Manda aku sudah bilang dalam hat– eh?" Saat menoleh ke belakang untuk memaki Manda, dia malah tidak melihat individu imut satu itu. "Eh ini bocah kemana? Duh, Manda kau dimana!"
AAAAAA!
Fikram terus mengedarkan pandangannya mencari Manda.
"Guys, ada yang lihat Manda!" tanyanya.
"Dia kan bersamamu sepanjang waktu, payah" kata Gamma.
"Ya, kau yang membawanya sepanjang waktu. Mana kami tahu dia dimana," jawab Dina.
"Emm aku tahu Manda dimana. Dia ada di atas" sahut Nadia.
Sontak mereka langsung menoleh ke atas. "Di atas?"
"Semuanya, tolongggggg!"
Benar saja, Manda sedang memberontak karena ditarik sebuah cabang besar. Tentu saja hal itu mengejutkan teman-temannya yang menyaksikan di bawah.
"Manda!"
__ADS_1
"Hei jangan ambil Mandaku, kalau kau mau ambil saja aku!" tantang Fikram.
Tepat setelahnya, muncul cabang besar lainnya lalu menarik Fikram.
"Eh-eh?" Fikram panik dirinya terangkat. "Kau benar-benar menganggap perkataanku tadi serius ya T_T," gumam Fikram.
Tidak hanya Manda atapun Fikram, tapi mereka semua yang terjebak di dalam perangkap 'berbulu' itu ditarik keluar oleh sebuah cabang besar. Cabang-cabang itu menarik dan membawa mereka turun setelah agak lama terombang-ambing melewati perangkap itu.
"Huwaaaa tolonggggg!"
"Hei," tegur Nadia.
Manda membuka mata, dia melihat dirinya sudah selamat mendarat di tanah.
"Eh kapan aku..." bingungnya, tidak menyadari dia sudah mendarat dari tadi.
"Baguslah kita bisa keluar dari perangkap menyebalkan itu," Dina membersihkan sisa darah yang mengering akibat mimisan.
Sepertinya setelah mereka menjauh dari tanaman-tanaman itu, mimisan mereka langsung berhenti.
"Dari mana cabang-cabang itu berasal?" heran Nadia.
"Dari pohon ini lah, Di" jawab Manda.
"Ya aku tahu, maksudku bagaimana bisa cabang pohon ini bisa sampai sana, dan sejak kapan pohon ini tumbuh di wilayah gersang ini, perasaan tadi tidak ada," bingung Nadia.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, ini misteri dunia," kata Dina dengan wajah pasrah.
Nadia menatap datar Dina.
"Hoi kalian!" tampak sepasang kaki kecil namun kokoh datang menghampiri mereka.
Mereka semua menoleh ke sumber suara.
"Ibu Albert?!"
Ya, itu adalah Ibu Albert. Seorang wanita yang terlihat seperti pelayan istana biasa tapi dia terlihat seperti memiliki banyak rahasia.
"Bagaimana kau bisa...?" bingung Fikram.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Cepat ikuti aku, aku butuh bantuan kalian," Ibu Albert berlari.
Bukannya ikut berlari mereka malah kebingungan dan berdiskusi.
"Butuh bantuan kita? Kenapa?" tanya Nadia.
"Mungkin hal yang sangat darurat," duga Rio.
"Hal darurat macam apa sehingga ia jadi seperti itu?" tanya Fikram.
Mereka hanya menggendikan bahu.
"Hei cepat! Ada alasan kenapa aku membebaskan kalian! Jangan membuatku menyesal melakukan hal itu!" teriak Ibu Albert
"Jadi Ibu yang mengeluarkan kami?" Gamma menaikan salah satu alisnya.
"CEPAT!"
Tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan, cepat-cepat mereka mengikuti kemauan Ibu Albert, mereka takut akan kemurkaan seorang Ibu Albert. Itu menyeramkan, guys (berbisik).
__ADS_1
Bersambung ....