
EPISODE SEBELUMNYA
"Apa yang terjadi?"
GRUGGGGGH!
Teman-teman Nadia mulai sadar. Mereka memegangi kepala dan badan mereka yang terasa sangat perih.
"Terima kasih, Malaikat Tampanku," kata Manda. pada HAHAHA yang sedang memegangnya.
"Hey, menjauh kau dari Mimoku!" Fikram tak terima calon masa depannya di depang orang lain eh mahkuk lain.
"Semua, kita harus pergi dari sini. Kami tidak bisa menghentikan mereka lebih lama lagi." kata wanita tak menapak tanah ini.
"Lah, Tante Kun?" bingung Dina.
ZWUNGGG!
Kawanan nyamuk seketika mengelilingi mereka bak perisai yang menahan para zombie itu.
"Ha, baru datang kalian!" kata Kakek San.
"Ya, maap Ketua, Hihihi," dengan suara cekikikannya yang masih khas.
"Gelap sekali, ada apa ini?" kata Rio.
"Gerhana itu akan segera terjadi. Raja basilia pasti sedang melakukan ritualnya. Ayo cepat kalian harus menghentikannya," titah Ibu Albert.
"Aih, apa kau tidak lelah? Lihat, sekujur tubuhku penuh luka. Lagi pula kalau kita melawannya kita akan kalah. Energi kita sudah terkuras. Senjata kita? Jumlah kita? Bukankah sudah ketara kita akan kalah dan mati pada akhirnya," kata Dina.
"Hemm, benar juga. Badanku semua juga terasa sangat sakit," kata Manda.
"Sudahlah, kita tidak usah melawan raja itu. Bawa kami pulang saja dengan sihirmu Kakek San, apa tidak bisa?" kata Fikram.
"Kalian apa yang kalian ka-"
"Kenapa kalian jadi mudah menyerah begini," Mereka menatap Nadia. "Di mana semangat kalian humm!" terlihat Nadia masih saja memiliki semangat.
"Bukankah lebih baik mati tapi berusaha demi kebenaran. Daripada hidup tanpa berusaha!" sambung Nadia, yang lain bergeming. "Ayolah, kunci kita pulang di depan mata. Kita hanya perlu mengambilnya. Oh, atau kalian tidak mau pulang? Iya! Begitu, hah!"
"TIDAAAAK!" tolak manda keras. "Aku ingin pulamg," katanya lalu merengek.
"Aku juga, Mimoooo!" Fikram ikut merengek.
Dina memalingkan wajahnya. "Tapi Di, bagaimana kami akan melawannya? Apa kita bisa? Kalau kalah bagaimana? Bukankah akan sama saja kalau kita kalah," ucapnya.
"Yang penting kita sudah berusaha! Jadi, siapa yang mau ikut denganku?" kata Nadia mengulurkan tangannya.
"Aku," Rio menjadi orang pertama yang mendukung Nadia. Nadia tersenyum manis ke arahnya.
"Aku juga ikut, Di," Gamma ikut mengulurkan tangannya.
"Kami juga, adikku yang manis," Trigo dan Maple pun.
__ADS_1
"Emmmh, baiklah kami ikut!" Meski ragu dan takut, Manda dan Fikram ikut mengulurkan tangannya.
"Aku pasti ikut, Tuan putri," Berbarengan Kakek San dan Ibu Albert ikut.
"Din?" Semua menatap ke arah Dina. Hanya dia yang belum menyuarakan pendapatnya.
Dina memutar bola matanya, "Haah, apa boleh buat, aku juga ikut deh," ia mengulurkan tangannya.
"YEY!" Manda terlihat gembira.
Nadia pun ikut senang semangat timnya telah kembali.
"Hehehe, maaf menganggu. Tapi apa kalian sudah selesai? Para sahabat nyamukku mulai habis di makan mereka ini," ujar HEHEHE.
"Baiklah, Vampir Jelek. Antarkan kami ke tempat penghianat itu berada," tekad Nadia.
"Vampir Jelek katanya," batin si vampir menangis.
Hal itu diangguki oleh HEHEHE, seketika menghilang dari tengah kerumunan zombie itu.
"Ini senjata kalian, aku menemukannya di tempat sampah," kata HEHEHE melempar senjata mereka masing-masing.
Manda dan Fikram merasa jijik, "Iuhhhh, kotor.."
"Sudahlah terima saja ya, hihihi," kelakar HIHIHI.
"Hehehe, Aku tidak bisa menemukan senjata milik Tuan Putri Nadi," kata HEHEHE.
"Dasar gadis penghianat! Tidak tau terima kasih, tau gitu aku biarkan dia tenggelam saja waktu itu," kata Fikram
"Aaaa, Alga ku ini kan memang baik hati," Manda tersenyum manis pada Fikram.
"Aaaa, love you Mimo," Balas Fikram saling mengeratkan pelukannya.
"Hiii, geli," Dina melihat hal tersebut jiwa kejombloannya menggeliat.
GRUUUUUGH!
Langit semakin gelapnya, awan hitam tebal mendominasi. Sinar matahi perlahan tertutup bayangan, ya gerhana itu sedang terjadi saat ini. Raja pun masih berkomat-kamit menggaungkan ritual untuk kekuatan dirinya sendiri. Prajurit serta pendamping setianya tetap stay berdiri menemani sang raja. Satu hal yang mereka tak perhatikan, tawanan mereka telah mereka anggap mati termakan para rakyat yang sudah menjadi zombie. Apalagi dengan kondisi mereka yang terluka parah akibat dilempari batu, pasti mereka tidak bisa melawan lagi, begitulah pikir mereka.
Tuk... Tuk...
Merasa ada yang menyentuh bahunya dari belakang Rainny pun menoleh.
"Kau!" Betapa terkejutnya ia saat melihat Fikram yang babak belur lah yang menyentuhnya. "Prajurit, tangka-"
"Ssssst, jangan berisik," Fikram menaruh telunjuknya di bibir Rainny. "Lihat, prajuritmu sudah terkapar tak berdaya," Fikram meperlihatkan Dina dan Gamma yang sudah mengikat para prajurit itu. Mereka pun bekedip dan memberi tanda 'ok'.
"Tak akan ku maafkan kau- eh?" Rainny hendak mengeluarkan senjata andalannya, namun tak ada.
__ADS_1
ZWINGG!
Sekelebat kemudian seseorang berlari secepat kilat melewati Rainny.
Ia tersenyum sambil menampakkan gunting-gunting milik Rainny dan belatinya. Ya siapa lagi kalau bukan Nadia.
ZWINGG!
Rainny geram.
ZPATTTS!
Dina melemparkan panahnya yang sudah dilumuri racun dari darah ikan paraya atas izin Ibu Albert. Seketika Rainny pun pingsan racun itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Ha, banyak cincong. Ikat dia Fiki," kata Dina.
Fikram mengacungkan jempolnya, ia pun segera mengikat gadis cantik tersebut.
"Oi, Perdana Menteri jelek dan ibu-ibu ular!"
Menteri Slys dan Medusa menoleh,
"Kalian? bagaimana kalian bisa disini?" kaget Medusa.
"Ooo, pemberontak ini telah bebas ya," kata Perdana Menteri ini masih setia dengan tongkatnya.
"Apa kalian mau melihat tari pita?" tanya Manda.
Sontak kedua makhluk itu bingung, "Hah?"
"HIAAAA!"
PLETAK!
Rio melompat memukul keras kepala manusia ular ini, lalu menusuknya dengan ujung tongkat yang tumpul. Ia terus menekannya hingga si ular jatuh terbaring pun ia masih menekannya. Bola mata ular ini pun pecah dan mengeluarkan cairan merah segar yang menodai pakaian Rio.
"Akkkh! Mataku...," terlihat sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan darinya.
"Manda, fokus!" tegur Rio melihat Manda malah menari pita.
"Oh begitu ya, usaha yang bagus. Tapi bagaimana jika kalian menghadapi sihir hah!" Pak tua ini langsung saja menggerakakn tongkatnya, seketika sihir berwarna ungu meluncur ke arah Rio.
ZRINGG!
Ditangkis! Serangan Slys berhasil ditahan oleh perisai sihir yang dibuat oleh kakek San. Jika saja Kakek San tidak datang dan menyelamatkan mereka entah apa yang akan terjadi pada Rio dan Manda.
"Oh, Ketua Pehinyir ternyata ada di kubu kalian ya."
"Tentu saja, aku akan berada pada kubu kebenaran Peramal Pasar!"
"Siapa yang kau panggil Peramal Pasar hah, Penyihir Kolong Jembatan!" ejek Slys. "Kalau bukan karena rasa iba Tuan Putri payah itu. Kau tidak akan dipungut dan jadi seperti ini. Seharusnya aku yang ada di posisi mu! Apa sih hebatnya dirimu sampai-sampai kau dijadikan ketua penyihir kerajaan! Heran aku,"
"Ooo, kau mau tahu kehebatanku? Mari akan ku tunjukan," tantang Kakek San.
__ADS_1
"Siapa takut."
Bersambung ....