Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Kematian?


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"BUAHAHAHA!"


"Kau lagi!" geram Manda.


"Ini kerajaan ku, tentu aku berada di sini." Ia beranjak dari singgasananya lalu berenang menghampiri mereka. "Ooh, kalian susah-susah ke sini karena mau menghadiri pelantikan anakku, ya?" katanya lagi.


Siera dan Rendi tersenyum miring.


"Sampai-sampai kalian mengajak teman lamaku," kata Marine mengarahkan pandangannya pada Ibu Albert.


Merasa Marine mengetahui jati dirinya, Ibu Albert menatap tajam dia.


"Baiklah, tidak seru upacara pelantikan ratu tanpa rakyatnya, bukan? Maka dari itu aku membutuhkan bantuan kalian," Marine menyeringai.


"Untuk apa?" bingung Manda.


"Perasaanku tidak enak," kata Dina.


"Terutama kau, Finn," kata Marine membuat Fikram menelan ludahnya dengan sulit.


Marine menggerakkan tangannya ke arah enam temannya. Alhasil, mereka semua mendadak terikat dengan tali air.


"Tali ini lagi," jengah Manda.


"Finn, kemarilah" titah Marine.


Setelah melihat teman-temannya diikat, tentu saja Fikram enggan. Ia tidak bergeming, tidak mau menatap Marine.


"Finn," dengan nada sedikit di tekan Marine menyuruhnya sekali lagi.


Fikram tetap bergeming.


Marine menghela napas, "Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Namun untuk terakhir kalinya aku minta, kemarilah" Marine kembali menyeringai di akhir kalimatnya.


"Eh?" Fikram terkejut, tubuhnya mulai menuruti perkataan sang ibu, padahal ia sama sekali tidak memerintahkan tubuhnya berbuat hal demikian.


Marine berbalik, perlahan ia berenang melewati anak tangga untuk sampai di singgasananya. Fikram mengekori di belakang. Nadia dan yang lain merasa khawatir pada Fikram yang menuruti perkataan si Marine.


"Apa ini! Aku kira dia tidak mau menurutinya, tapi kenapa ...," heran Manda.


"Inilah alasanku tidak memperbolehkan kalian memakai baju itu," jawab Ibu Albert.


Tepat di depan kursi besar yang lagi-lagi beronamen perempuan duyung dengan warna emas, Fikram dan Marine menghentikan langkahkan. Marine berbalik, menggerakkan jarinya untuk mengontrol rumput panjang yang mulai berdatangan entah dari mana. Dengan sendirinya, rumput itu membentuk sebuah benda panjang seperti sebuah ranjang namun tanpa kasur.


"Berbaringlah," perintah Marine pada Fikram.


Fikram menggeleng kuat, "Aku tidak mau." Ia beranjak, melangkahkan kakinya ingin menuruni singgasana itu namun ....


"Finn."


Seketika itu juga tubuh Fikram tidak bisa di ajak kerja sama lagi. Ia berbalik dan berjalan menuju ranjang tanpa perintah dari otaknya. Fikram meronta-ronta untuk menggerakkan tubuhnya supaya tidak berbuat lebih, namun tidak bisa. Ia pun akhirnya berbaring di ranjang itu.


SET ….


Setelah Fikram berbaring sempurna, rumput panjang kembali muncul dari ranjang dan mengikat erat tubuh Fikram. Fikram serta temannya di bawah kaget. Perasaan tidak enak mereka bertambah. Marine menyeringai, ia lalu mengangkat kedua tangannya.


"Apa kalian di sini, Rakyatku!" teriak lantangnya.


"Rakyat?" Gamma masih bingung.


Pasalnya, mereka memang tidak melihat siapun di sana selain mereka, para prajurit itu juga tidak tahu menghilang kemana mereka semua.


"Kalian tidak bisa melihat mereka, ya? Baiklah, karena aku sedang berbaik hati akan aku perlihatkan," ucap Marine.


Muncullah sinar terang yang menyilaukan mata mereka. Sesaat kemudian sinar itu hilang. Namun, betapa kagetnya mereka saat melihat pemandangan setelah menghilangnya sinar itu.


"M... m... mereka!" Dina gelagapan melihat apa yang ada di depannya.


"Banyak sekali!" kaget Manda.


"Ini rakyatnya? Kenapa semua perempuan?" bingung Nadia.


"Apa mereka semua di sini dari awal?" Gamma melongo.


"BUAHAHA!"


Kalian tahu apa yang mereka lihat? Apa perlu author definisikan? Kalian tidak menjawab, baiklah tidak usah ya, wkwk.


Baiklah-baiklah, author jelasin kok. Kalau ngga di jelasin author di marahin para tokoh lagi, terutama Marine kasihan dia dah bikin kita liat rakyatnya ngga di jelasin, xixi.


Putih, jiwa, seperti asap. Itulah gambaran para rakyat Marine yang berbadan atas manusia dan sisanya ekor ikan. Mereka berdiri, melayang-layang memerhatikan segala aktivitas mereka.

__ADS_1


Sepertinya, mereka adalah jiwa para rakyat Marine yang masih gentayangan. Jumlah mereka tergolong banyak, mungkin sekitar lima puluh.


Makhluk dengan rambut tergerai itu mengepung Nadia dan teman-temannya. Anehnya adalah, mereka semua perempuan dengan mayoritas gadis atau wanita paruh baya.


"Jiwa para rakyat yang tidak tenang," kata Ibu Albert.


"Arwah gentayangan!" Manda ketakutan.


"Para rakyatku! Saat ini tiba saatnya kalian mendapatkan raga kalian lagi!" ucap Marine membuat para roh duyung itu bersorak ria.


"Siera kemarilah," kata Marine pada sang putri.


Siera menurut, ia menghampiri Marine.


"Menurut tata cara ritual kita. Calon ratu baru harus membunuh sang Pewaris. Itu artinya kau harus membunuhnya, Siera." ucap Marine.


Fikram membulatkan matanya. Nadia dan lainnya juga tak kalah terkejutnya. Siera mendekati Fikram yang tengah berbaring dan menatapnya.


"Tidak kusangka kau masih bertahan, Kak. Ku harap setelah ini kau bisa menemui ayah di neraka!" Siera mengeluarkan pedang lalu mengangkatnya dengan tinggi.


Kini, teman-temannya dilanda perasaan cemas plus panik. Manda? Apalagi dia, sudah pasti dia sangat cemas, ia meronta-ronta dengan keras ingin menyelamatkan Fikram saat itu juga.


"Fikram! Aku... aku harus lepas dari tali ini! Apa kita tidak bisa membantunya? Kita tidak mungkin diam dan menonton saja, bukan!" cemas Manda.


"Kita tidak berdaya, Nda" kata Nadia menunduk.


"Tapi, Di tidak mungkin kita membiarkan Fikram di sana begitu saja. Ayolah!"


"Ini jadi lebih buruk dari perkiraan ku," batin Ibu Albert.


JLEB!


Cairan berwarna merah mendominasi air di sekitar Fikram. Ya, pedang Siera berhasil menembus dada Fikram. Bahkan yang lebih parah, ujung pedang itu menancap di dada Fikram hingga menembus ranjang rumput tersebut.


"K... k... kalian," mata Fikram tertutup sempurna.


Seketika mata enam manusia itu membulat sempurna . Fikram tampak tidak bernafas lagi, Manda menangis sejadi-jadinya.


"Adik lakn*t!" geram Dina.


"Kalian keterlaluan," kata Nadia.


"HAHAHA! Kerja bagus putriku," kata Marine bangga. "Sekarang giliran mereka," Marine menatap keenam manusia yang terikat tersebut.


Marine menyeringai, "Oh, kau mau di lepaskan? Baiklah," katanya.


"Hah!" Manda terkejut mendengar Marine mau melepaskannya begitu saja.


Marine pun membuka ikatan Manda dan membiarkannya bebas. Tak menghilangkan kesempatan itu, Manda langsung berenang dengan cepat menuju Fikram di atas. Setelahnya, air itu kembali tertutup dan mengikat seperti sebelumnya.


"Fikram!" Manda menggoyang-goyangkan badan Fikram, berusaha membangunkannya. "Fikram, bangun!"


"Tidak! Kau tidak boleh meninggalkan aku! Bangun! Bangun!" ia sampai memukul-mukul tubuh Fikram yang tampak diam saja.


Melihat usahanya sia-sia saja, Manda pun menyerah, "Bangun... hiks... hiks... Fikram...." Tubuhnya terperosot, kakinya mendadak lemas.


Ia membenamkan wajahnya di samping tubuh Fikram, seraya terisak.


"Ini semua karena kau!" Manda bangkit, ia langsung berbalik, menatap tajam Marine. "Perempuan licik!" Manda hendak menampar Marine.


PLAKK!


DUG! DUG!


Manda jatuh menggelinding membentur tangga. Ia pun tak sadarkan diri terbaring di sana, dari keningnya mengalir cairan merah yang langsung terlarut dalam air.


"Manda!" teriak Dina, Nadia dan Rio.


"Air di sekitarnya berwarna merah, itu artinya ...." simpul Gamma.


"BUAHAHA!" Marine mengubah dirinya jadi debu lalu menutupi Siera. Siera pun berubah menjadi wanita yang mengerikan.


Ekornya berwarna hitam, rambut coklat yang terurai, baju hitam bersisik dan sorot mata yang tajam. Kuku yang panjang dan berwarna hitam, juga tergambar beberapa sisik hitam di kepalanya.


Datanglah duyung perempuan yang sepertinya adalah pelayan membawa mahkota hitam yang tajam. Rendi berenang naik ke atas. ia lalu mengambil bantalan mahkota itu dari tangan pelayan lalu berlutut di hadapan ratunya.


"Silahkan, Ratuku" ujarnya menyodorkan bantalan itu.


Dengan bangga Siera mengambilnya dan memakai makhota itu.


"HAHAHA, sudah lama aku menginginkan ini," Siera berbalik, ia menduduki dirinya di singgasana dengan perlahan. "Aah, singgasana yang nyaman. Para rakyatku! Sudah waktunya kita bangkit!"


Para duyung itu bersorak ria.

__ADS_1


SRING!


Siera menggores tangannya dengan kuku panjang miliknya sendiri. Cairan hitam keluar dari luka di pergelangan tangannya. Darah, darahnya keluar menyebar di air. Bersamaan dengan itu para roh duyung mulai mendapatkan raganya. Pakaian mereka lusuh dan compang-camping. Namun, itu malah menambah wujud mengerikan mereka.


"Wah ratu kejam, rakyatnya dugong gelandangan semua ini," ceplos Dina.


"Heh," tegur Nadia.


"Apa?"


"Silahkan nikmati jamuannya," Siera menyeringai.


"Jamuan? Apa ada makanan di sini?" Gamma bertanya yang tidak semestinya.


"Itu kita, Payah!" seru Rio.


Para duyung mengerikan itu mengepung mereka dan perlahan mendekat dengan tatapan memangsa. Duyung itu menampakan gigi-gigi mereka yang tajam.


"Ku peringatkan kalian! Jangan mendekat!" Dina menendangkan kakinya ke arah salah satu duyung yang mendekati nya.


Sama halnya dengan Dina, Nadia Rio Gamma dan Ibu Albert pun melakukan hal yang sama. Namun, mereka tetap mendekat. Salah satu duyung berhasil menangkap salah satu kaki Dina. Lalu menggigit salah satu sisi kakinya.


"Aaa, dia menggigitku! Lepas! Menjauh dariku!" Dina berusaha menyingkirkan satu duyung itu dengan kakinya.


BRUAK!


"Aaa!"


Dina menjerit kesakitan. Memang satu duyung itu telah menjauh darinya karena tendangan Dina namun, kulitnya terkoyak hingga terlihatlah daging segar dan darah yang mulai mewarnai air di sekitarnya.


"Dina!"


"Ah ini kurang seru, biar kulepaskan kalian," kata Siera lalu menggerakkan tangannya, seketika tali air yang mengikat mereka lenyap.


Merasa pun bangkit setelah merasakan tidak ada lagi yang mengikat mereka. Gamma dengan cepat ingin membantu Dina namun, Nadia lebih dulu membantunya. Ia kalah cepat, alhasil ia mengurungkan niatnya. Nadia memapah Dina. Mereka bersiap siaga, mereka mulai mengeluarkan senjata masing-masing.


"Hah, aturan payah! Harusnya saat ini aku sudah bisa mengalahkan mereka dalam sekali tebas," pikir Ibu Albert.


"Ck, kalian selalu saja menggunakan senjata lemah itu, menyebalkan," gerutu Siera.


Siera menggerakkan tangannya lagi dan dalam sekejap senjata mereka melayang bersama gumpalan air dan terbang ke arah Siera. Siera membuang senjata itu sembarang arah.


"Kita lihat bagaimana kalian bertahan." Siera semakin antusias dengan tontonannya saat ini.


Para duyung itu semakin mendekat, suasana bertambah tegang.


"Kita terpojok," kata Nadia cemas.


"Apa senjata kalian semua tidak ada?" tanya Ibu Albert.


Mereka menggeleng kuat.


"Cis!"


"Hahaha!"


Para duyung semakin tidak sabar menyantap mereka. Mereka terlihat menggila.


"Makanan."


Ibu Albert memejamkan matanya, "Terpaksa," batinnya.


Sejengkal lagi duyung itu akan berhasil membuat tubuh mereka menjadi santapan segar.


"Cepat tutup mata kalian!" titah Ibu Albert.


"Untuk apa?" bingung Nadia.


"Ada-ada saja," timpal Dina.


"Disaat seperti ini malah tutup mata," kesal Gamma.


"Nyawa kita di ujung tanduk, Ibu Albert. Jangan bercanda deh," ucap Rio.


"Hey, aku tidak bercanda! Jangan membantah! TUTUP MATA KALIAN SEKARANG!"


Mereka pun menciut, "Hehe, iya-iya."


Pada akhirnya mereka menurut. Sementara, para duyung itu semakin mendekat.


"Huff, aku harap kegilaan ini segera berakhir!" batinnya.


"HIAAA!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2