
EPISODE SEBELUMNYA
"Cie cie, yang lagi capek, hihihi."
Datanglah sahutan suara yang tidak diketahui asal dan wujudnya.
"Siapa tuh! Oh, tidak. Jangan bilang ...." kata Gamma menebak.
"Si Pemandu Menyesatkan, Tante Kun," timpal Dina datar.
"Hihihi, udah tahu ya. Mau dibantu ngga nih?"
"Ngga usah, bantuan lo ngga bisa dipercaya, ntar malah makin runyem lagi," tolak Dina.
"Sombong amat!" kesal HIHIHI dari jauh tempat. "Mumpung HIHIHI lagi baik, aku kasih bantuan deh."
"Kan aku bilang ngga usah!" Dina kekeh.
"Dah lah terima aja, jan ngadi-ngadi!" kata HIHIHI.
TRING!
Tiba-tiba di salah satu sisi dinding cermin labirin itu mulai terbentuk gambar sebuah gulungan kertas dengan cairan merah.
"Tunggu, apa ini? darah?!" kaget Dina mencolek gambar itu dengan jarinya.
"Gambar apa ini?" bingung Gamma.
"Hihihi, itu gambar gulungan kertas, lu ngga bisa liat apa!" keras HIHIHI.
"Gambarnya ga jelas, tahu!" balas Gamma kembali.
"Untuk apa gambar ini?" tanya Rio.
"Hihihi, Abang Gantengku tanya," ucap HIHIHI genit.
"Hoek!" Gamma menjulurkan lidahnya.
"Itu gambar peta yang harus kalian dapatkan, peta itu akan membantu kalian keluar dari sini," jelasnya.
"Kenapa ngga lu aja yang bantuin? Secara lu pemandu kita, pake nyari peta segala," ketus Dina.
"Hihihi, saya hanya pemandu kalian, bukan seorang peri baik yang akan mengeluarkan kalian seenak jidat saja."
"Dimana kami bisa menemukannya?" tanya Rio.
"Kalian akan segera mendapatkannya."
\~Hening\~
"Mana?" Dina celingukan mencari sesuatu.
Nging! Nging!
"Denger ngga?" tanya Rio mendengar sesuatu.
"Denger. Suara nyamuk ya," jawab Dina.
"Serius, nyamuk?" timpal Gamma menaikkan salah satu alisnya. "Sebentar, sejak kapan depan kita jadi jalan buntu? Tadi perasaan persimpangan deh," imbuhnya menyadari.
"Heh! Lihat ada sesuatu disana," tunjuk Dina melihat sesuatu bergerak.
Mereka pun mengamati yang ditunjuk Dina.
Bertelinga panjang, mempunyai kuku putih bersih, memiliki sepasang gigi besar, dan mata yang menggemaskan. Kalian pasti tahu kan?
"Kelinci kok bunyinya kaya nyamuk?" bingung Gamma.
"Wah, kelinci jadi-jadian!" tebak Dina.
"Heh, heh! Bukan, tahu! Amati lebih detail dong!" sahut HIHIHI.
"Dateng-dateng, main nyamber aja," balas Dina terkejut.
Mereka mengamati lebih detail. Benar saja kata HIHIHI, itu bukan kelinci jadi-jadian yang DNA-nya bercampur dengan DNA nyamuk seperti ungkapan Dina. Dipunggung kelinci itu ada seekor nyamuk yang bertengger dengan santainya. Sepertinya ia sedang ingin menghisap darah sang kelinci. Perut nyamuk tersebut semakin membesar terisi oleh cairan merah, setelah kenyang nyamuk itu terbang dan berpindah pada dinding labirin bagian atas.
Dina, Gamma, Rio berfokus pada nyamuk itu. Kelinci? Saat mereka menoleh ke arah kelinci ....
"Waduh!" Dina terperanjat.
"Itu kelincinya mati? Serius!" Gamma tidak percaya.
Ya, kelinci itu sudah terkapar tidak bergerak sedikitpun.
Untuk memeriksa kembali, mereka menghampiri kelinci tersebut dan menggerak-gerakan badannya.
"Ya, fix dia mati. Eh, kabari keluarganya. Kasian dia, mari berdoa agar jiwanya tenang disana, berdoa mulai," Dina mempimpin do'a dan menunduk.
Gamma ikut menunduk.
__ADS_1
"Kenapa kamu ikut nunduk?" tanya Nadia.
"Berkabung dong, biar arwahnya tenang dan ngga jadi hantu kelinci, kesian," jawabnya.
(Ada Yak hantu kelinci(•<•).
"Heh! Serius!" tegur HIHIHI.
"Ngga ngormatin lu, Tante Kun," ejek Dina.
"Iya, ngga baik tahu," timpal Gamma.
"Ey! Guys! Itu petanya," kata Rio meneropong sesuatu.
Jangan tanya dari mana teropong itu, ya.
"Di mana?" tanya Dina.
"Nih! Itu teropongin nyamuknya," kata Rio menunjukan.
Dina menerima teropong dan meneropongi si nyamuk.
"Peta itu di kakinya," ujar Dina melepaskan teropong.
"What! Di nyamuk? Kakinya! Haha, kacang itu mah," Gamma meremehkan.
"Hihihi, kalau kacang, ambillah! Ingat jangan sampai ke gigit, atau kalian akan ...." ucap HIHIHI mengantung.
"Tunggu, bagaimana kau mengambilnya ... nyamuk itu, kan ...." kata Dina.
"Tenang, yang penting kita dapetin aja dulu petanya, tinggal hap, kan?" dengan mudahnya Gamma mengatakan itu.
\~Lalu\~
Hap! Hap!
Nging! Nging!
"Slow! Katamu ini kacang!" kesal Dina kelelahan mengejar nyamuk satu itu.
"Kacang apaan!" timpal Rio.
"Ya sorry, gue kira tinggal hap," sesal Gamma.
Nging! Nging!
"Duh! Udah dulu dah, tangan gue merah nih," Dina menunjukan telapak tangannya yang kemerahan akibat mengejar si nyamuk.
Nging! Nging!
Nyamuk itu tiba-tiba terbang di atas para manusia itu.
"Ssst! Diam, diam. Jangan ada yang bergerak," kata Rio mematung.
"Apa yang kau katakan, nanti dia menggigit kita, salah satu dari kita akan bernasib sama dengan kelinci itu," kata Dina kaku dan ikut mematung.
"Sudahlah diam saja, kami akan melihat dari sini," sahut Ibu Albert bersandar pada dinding di samping Nadia.
Nadia memang Gamma titipkan ke pada Ibu Albert.
"Tapi Gamma ...." Nadia mencemaskan Gamma.
Nging! Nging!
Nyamuk itu tetap berputar-putar di atas mereka.
"Ayolah menghinggap, nyamuk," gumam Dina.
Nging! Nging!
Nyamuk itu akan segera mendarat di telapak tangan Rio yang terluka akibat darah ikan payara.
"Seharusnya aku tidak heran." Datar Rio melihat nyamuk itu mulai mendarat di telapak tangannya.
Disaat nyamuk itu mulai menghisap cairan merah yang keluar dari luka Rio, Rio menatap Gamma dan Dina secara bergantian, seraya bertukar kode isyarat. Mereka pun mengangguk-angguk lalu menatap sang nyamuk.
"Baiklah nyamuk, berikan peta itu pada kami," kata Dina senang.
Mereka pun diam-diam mendekatkan tangan mereka ke arah nyamuk. Nyamuk itu tetap tidak bergeming. Merasa aman terkendali, mereka mengangkat tangan mereka berbarengan.
HIA! PLAK!
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"TIDAK!" jeritnya menutup wajah dengan kedua tangan karena ketakutan.
"Hah!"
Masih di tempat yang sama. Manda membuka matanya, merubah posisi terkaparnya menjadi posisi duduk, dan memerhatikan sekitar. Ia mencoba mencerna apa yang telah terjadi.
__ADS_1
"Aku ... aku ... aku masih hidup! Hah?" ia meraba dirinya yang masih utuh. "Syukurlah."
Tiba-tiba pandangannya teralihkan oleh cermin di sampingnya. Iapun bangkit dan bercermin dengan wajah kaget.
"Darah! Darah! Darah itu tidak ada, apa yang sebenarnya terjadi? Tadi aku hampir dipenggal dan ...." ia kembali bercermin dan terlihat tubuhnya utuh-utuh saja. "Aneh, apa aku hanya bermimpi," gumamnya.
"Hoy, Manda kau kemana saja!" seseorang menepuk bahu Manda.
Sontak Manda kaget karena mengira itu adalah sosok menyeramkan tadi.
"Hah! Pergi, kau!" pekiknya menjauh.
"Kau mengusirku, Hey! Sadarlah!" dia menggoyang-goyangkan badan Manda.
Manda membuka mata memberanikan diri. "Dina?"
"Dina, Dina ... apa?" katanya yang ternyata adalah Dina.
"Kau baik-baik saja, Da?" tanya Nadia menghampiri berbarengan dengan Rio, Gamma, dan Ibu Albert.
"K ... k ... kalian!? Bagaimana bisa? Tadi kalian ber ... ber ...." Manda mencoba menjelaskan.
"Bar-ber-bar-ber, kami tidak tahu apa maksudmu. Tapi kemana saja kau, kami mencarimu selama di sana, tahu!" kesal Dina.
"Ya, kau menghilang begitu saja, untunglah kami menemukanmu sekarang," kata Nadia.
"Apakah mereka benar para sahabatku? Atau ini hanya ilusiku saja," pikir Manda. "tidak bisa dipercaya!" batinnya lagi.
"B ... b ... bagaimana kalian bisa menemukanku di sini?"
"Em ... kami ...." Nadia mencoba menjelaskan.
"Nanti kami jelaskan. Sekarang, lupakan itu. Ada seseorang yang sangat sangat merindukanmu," seru Dina membuat Manda penasaran.
"Merindukanku? Siapa?" tanya Manda.
"Dia ...." gantung Dina karena sudah dipotong lebih dulu oleh Manda.
"Tidak! Aku tidak percaya ini, ini semua pasti hanya ilusi lagi, kan? Kalian bukan sahabatku! HIHIHI, aku tidak akan tertipu lagi," pekik Manda menjauhi mereka.
"HIHIHI? Tante Kun itu, dia sudah pergi, Manda. Sejak kita menemukan Fikram dan dirimu dia sudah pergi dan menghilang. Syukurlah dia pergi setidaknya masalah tidak muncul lagi karenanya," kesal Dina.
"Hah! Fikram sudah ditemukan, bagaimana? Dia ... dia seperti Dina yang asli. Ah! Tidak! Aku tidak akan tertipu lagi! Sudah cukup!" pikir Manda.
GREP!
Mata Manda membulat ketika ada yang memeluknya dari belakang.
"Manda, darimana saja kau? Aku sangat merindukanmu, aku mencarimu kemana-mana, aku kira kita tidak akan bertemu lagi, tapi syukurlah kau bisa
kami temukan," katanya.
"S ... s ... siapa dia?" Manda penasaran.
Seseorang itupun membalik badan Manda untuk menghadap padanya, menatapnya sebentar lalu memeluknya kembali.
"Fikram! Dia benar Fikram! B ... b ... bagaimana?" pikir Manda.
Pria itu memeluk Manda dengan erat mengobati kerinduannya selama ini.
"Tidak ini tidak mungkin! Pasti ulah Bibi Kun lagi!" Manda masih berpikir ini ilusi. "Tapi ...." Manda melirik ke arah Fikram berkaca-kaca.
Ia mulai merasakan kehangatan seorang Fikram di sana. Tak lama, iapun membalas pelukan Fikram, "Mungkin ini memang nyata dan bukan ilusi," batin Manda mulai memercayai itu semua kenyataan.
Air matapun tidak dapat ia bendung lagi. "Aku sangat merindukan kalian," katanya.
"Aku juga," balas Fikram menengklupkan wajahnya ke leher Manda.
"Fi ... Fi ... Fikram sedang apa kau?" gelagapan Manda, mulai risih dengan sikap Fikram.
"Mengobati kerinduanku, kok" kata Fikram.
"Fikram, Fikram, sudahlah lepas kau terlalu lama memelukku, itu geli," kata Manda memaksa Fikram melepas pelukannya.
"Biarkan beberapa menit saja, atau ... kau tidak benar-benar merindukan aku, ya?" masih menengklupkan wajahnya.
Manda pun pasrah, "B ... b ... bukan begitu ...."
Tiba-tiba ....
KRAUK!
"Awww! Fikram kau!" Manda mendorong tubuh Fikram melepas paksa pelukannya dan memegangi leher yang tiba-tiba saja terasa ada yang menggigit.
Ia terperanjat ketika melihat sosok di depannya. Tubuhnya kembali menggigil dan keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Hah!"
"T ... t .. tidak, tidak lagi."
Bersambung ....
__ADS_1