
EPISODE SEBELUMNYA
"Tidak bukan itu. Percayalah, ideku lebih baik dan kalian pasti akan menyukainya...," kata Ibu Albert dengan senyum yang sulit di artikan.
Para manusia itu hanya bisa berpandangan satu sama lain.
----------------
"Baiklah, siapa yang mau maju?" tanya Ibu Albert.
Sontak, ketujuh manusia itu langsung merapat dan berdiskusi.
"Emm, beri kami waktu," beritahu Nadia yang langsung ikut merapat berdiskusi.
"Walaupun aku belum tahu caranya. Tapi kurasa itu ide yang sangat berbahaya," duga Dina.
"Benar, ide Ibu selalu mengerikan," kata Gamma.
"Jadi bagaimana?" tanya Rio.
"Kita hompimpa saja untuk menentukan," usul Fikram.
"Setuju," Nadia menyetejui ide itu, ia pun mengulurkan tangannya, diikuti yang lain.
"Haah, akhir-akhir ini kita seperti anak kecil ya," gumam Dina agak malas.
Hom pim pa, alaium gambreng~
Melihat mereka bermain selayaknya anak kecil, Ibu Albert hanya tertawa hambar.
Hasilnya; enam hitam (diwakili oleh punggung tangan) dan satu putih (diwakili oleh telapak tangan). Tunggu-tunggu, Sebenarnya ada yang curang di sini. Dina seharusnya putih bersama Nadia namun, dengan cepat ia membalik tangannya sehingga tidak ada temannya yang tahu akan hal itu, kecuali Nadia. Ya, dia sangat tahu bahwa Dina itu curang.
"Hey... Dina kau curang! Kau membalik tanganmu tadi, seharusnya kita suit sekarang," ujar Nadia.
"Tidak, aku tidak curang. Memang aku curang teman-teman? Kalian melihatku melakukan sebuah curang?" tanya Dina pada yang lain, ia mendapat gelengan kepala. "Tuh, tidak kan. Sudahlah Di, terima saja nasibmu, pfft."
"Dina...!" gumam Nadia geram.
"Ayolah, Di. Ibu Albert sudah menunggu tuh, kasian tau," kata Fikram membujuk.
"Ya-iya, aku kesana," Nadia pun pergi menghampiri Ibu Albert. "Ibu Albert, aku yang akan pergi ke kesana" katanya pada Ibu Albert.
"Bagus," Ia mengukir senyum mencurigakan itu lagi.
~Setelah itu~
"Tada!" Ibu Albert menunjukan sesuatu.
DOENGGG!
Nadia tersenyum kecut ketika melihat alat yang akan mengantarkannya ke puncak tanaman si wanita.
"Putri Nadi akan dilemparkan oleh pohonku ini," katanya.
Kata 'dilemparkan' itu menusuk di telinga Nadia.
"Sebagian mengalihkan perhatian bersama dua sosok misterius ini, sebagian ikut aku, kita bebaskan si kuncir dua," jelasnya.
"Ini untuk jaga-jaga, kalau-kalau sudah dekat tapi tidak sampai. Bantingkan saja ke bawah nanti kau akan langsung muncul di puncak," kata salah seorang sosok misterius itu memberikan biji gandum pada Nadia.
Nadia menerimanya, lalu mengangguk.
__ADS_1
"Ayo cepat naik kita tidak punya banyak waktu," Ibu Albert berkacak pinggang.
Mereka pun berpencar menjadi dua bagian, dan mengerjakan sesuai rencana.
Dina berteriak pada Nadia seraya berjalan, "Semangat ya, wahai Yang Terpilih, wkwk."
"Dina!" kesal Nadia pada Dina.
----------------
GRAAAAA!
"Cepat!"
"Tidak akan ku biarkan kalian!"
"Hoy, wanita jelek!"
Mereka melakukan tugasnya masing-masing. Sebagai pengalih perhatian sekaligus penyerang jarak jauh, dua sosok itu, Dina, dan Gamma mengalihkan perhatian si wanita. Sementara sisanya, Ibu Albert, Fikram, Rio dan Rainny, pergi mencoba membebaskan Manda. Keadaan Manda masih mengenaskan, cairan merah terus saja keluar membasahi tali hijau itu.
"Jangan pegang talinya, bulu-bulu halus ini berbahaya," Ibu Albert memperingatkan.
Mereka telah mencoba segala cara, memotongnya tidak bisa, Ibu Albert juga telah menarik-narik dengan bantuan pohon mangga miliknya namun sama saja tali-tali itu tetap tidak mau putus.
SYUTTTT!
Sementara bagian pengalih perhatian sibuk menyerang juga menghindari serangan si wanita.
"Dimana Nadia? Aku sudah tidak kuat menghadapi monster ini," kata Dina.
"Apa kau tidak bisa bersabar?" sahut Gamma.
"Aku tidak bicara padamu!"
"Huwaaa! Ini lebih seram dari roller coaster!" teriaknya.
GYUTT!
Sebentar lagi Ia akan tiba di tempat tujuannya, di belakang si wanita. Namun tiba-tiba ia berhenti meluncur, ia pun panik bukan main. Apabila ia jatuh ke bawah yang tingginya beratus-ratus kilometer, maka... bisa kalian bayangkan sakitnya seperti apa. Ia memutar otak, seketika teringat biji gandum pemberian sosok berjubah hitam itu. Ia merogoh sakunya, tak pakai lama iapun segera membanting biji tersebut.
POOF!
Ia menghilang bersaman dengan munculnya debu putih.
"GRAAAA! Dasar kalian pengganggu kecil!" wanita ini hendak menangkap tim pengalih perhatian.
"HIAAAA!"
Datanglah Sang Terpilih, ia menyerang dari belakang dan menyelamatkan semuanya. Nadia menendang si wanita sehingga ia sedikit tersungkur ke depan.
DUAKKK! KLONTANG!
Tanpa disadari ada benda jatuh yang bersumber dari si wanita. Ya, itu kristal hijau berelemen tanaman yang Ibu Albert maksud.
Seketika si wanita itu rubuh dan perlahan batang itu menyusut bahkan lenyap dari pandangan. Nadia? Ya apalagi, dia terjun bebas menuju tanah.
"WAAAAA!"
Melihat Nadia akan jatuh, Rio dan Gamma pun panik, dan berebut menangkap Nadia.
"Jangan berani-berani kau, Burung Beo!" Rio memberi peringatan kepada Gamma.
__ADS_1
"Kau yang jangan berani-berani, Krucil!" balas Gamma.
Mereka pun segera berlari menuju tempat yang di perkirakan akan menjadi tempat mendarat Nadia.
"Aku mendapatkanmu, Di!" teriak Rio
"Tidak aku yang mendapatkanmu, Di!" Gamma ikutan berteriak.
"Aduhh!"
Secara beramaan muncullah pohon besar yang menumbruk mereka berdua. Nadia pun ditangkap oleh pohon tersebut.
"Ha, itu jauh lebih aman dan efisien," ucap Ibu Albert mengusap telapak tangannya.
----------------
"Kepalaku...," Nadia turun dari pohon sambil memegangi kepalanya yang agak pusing.
Rio dan Gamma memegangi Nadia. Dina dan kedua sosok itu menghampiri mereka.
GRAAAA!
Ternyata si wanita masih saja bisa bangkit.
"Kenapa kau tidak bunuh dia saja sih," kata Dina pada Nadia.
"Aku tidak sekeji itu," balas Nadia.
"Oh ayolah," Dina memutar bola matanya.
"Hati Nadi itu bagai malaikat, tidak sepertimu," kata Gamma.
"Jadi maksudmu hatiku bagaikan iblis begitu?" kata Dina membalas perkataan Gamma.
"Aku tidak bilang begitu loh ya," ucapnya dengan nada menyebalkan.
"Hiii, kau mau ku-" ucapan Dina terpotong.
"Hei, bisakah kalian bantu kami!" teriak Fikram di sebelah Manda.
Mereka hendak menghampiri tempat Fikram berada, namun ....
GRAAAAA!
"Kalian! Berani-beraninya merebut kristal yang telah lama aku idam-idamkan! Haaah... aku... tidak akan mengampuni kalian!" Dia memunculkan tali-tali tanaman.
Tali-tali itupun melilit Nadia dan keenam temannya, termasuk dua sosok berjubah itu. Kali ini wanita satu ini benar-benar tak main-main lagi. Ia melilit mereka sangat erat, apalagi dengan bulu-bulu halus yang membuat mereka sangat kesakitan. Jangankan kabur membayangkannya saja sudah tidak ada harapan.
"Kalian harus MATIIIIIII!" si wanita ini benar-benar sangat marah, ia semakin mengeratkan lilitannya.
AGGGGGH!
Jerit kesakitan menggema di langit.
"Kalian telah menghancurkan semua rencana ku! MATILAH KALIANN! Kali ini tidak akan ada yang membantu kalian!"
AGGGGGH!
"Kalian harusnya senang! Kalian akan bersama dengan teman kalian, siapa namanya... ah, si Beban Tim! Kalian akan bertemu di NERAKA! Buahahahaha!" katanya semakin-semakin memerintahkan tali itu untuk melilit mereka lebih erat lagi.
AGGGGGH!
__ADS_1
"Siapa yang kau panggil Beban Tim, hah!!"
Bersambung ....