
EPISODE SEBELUMNYA
"Dia ...," geram Fikram
"Hahaha. Hei wanita berkostum pekarangan rumah!" ucap Nadia, serentak semua pandangan tertuju kepadanya.
"Wanita berkostum perkarangan rumah?" heran mereka memandang Nadia.
Nadia memandang balik, ia merasa perkatannya tidak ada yang salah. "Apa? Bukankah dia memakai kostum... emm, bertema pekarangan rumah?"
"Apa," mata mereka berkedut-kedut tidak percaya dengan apa yang dikatakan Nadia barusan.
"Pakaian perkarangan rumah dia kata ...," gumam wanita itu geram.
"Hei kau! Bagaimana kalau kita buat kesepaktan lagi," kata Nadia. "Kita berduel menari bagaimana?" tantangnya.
Teman-teman Nadia kecuali Ibu Albert, kaget ketika mendengarnya. Dengan mata membulat mereka menatap Nadia lagi.
"Apa untungnya untukku?" tanya wanita ini, dia sepertinya tertarik dengan tantangan Nadia.
"Jika kau menang ... huff, kami akan turuti semua kemauanmu," kata Nadia.
"Kami?!" teman-temannya tercengang akan keputusan Nadia.
"Menarik," wanita ini tersenyum tipis.
"Tapi...," Nadia menyela. "jika kami yang menang, bebaskan Manda dan biarkan kami pergi dari sini. Bagaimana? Kau setuju?"
Wanita ini nampak berpikir. "Setuju," dia akhirnya menyetujuinya. "Tapi aku punya peraturan kita akan berduel secara beregu, bagaimana?"
"Baiklah," jawab Nadia.
"Di, psst-psst," Nadia menoleh, Dina memanggilnya. "Apa yang kau lakukan? Berduel? Menari?"
"Ya, kita berduel menari dengannya," jawab Nadia.
"Untuk apa, Di?" rengek Dina kurang menyukai ide Nadia.
"Dengar sini-" belum sempat Nadia menyelesaikan dialognya, Ibu Albert memotong.
"Apapun rencanamu aku tidak mau ikut menari," sela Ibu Albert melipat tangannya di depan dada.
Nadia membalas dengan menatap datar Ibu Albert.
"Dengar, aku punya ide, kita alihkan perhatiannya dengan duel menari ini. Lalu diam-diam kita bebaskan Manda," bisik Nadia menjelaskan. "Jadi, siapa yang mau ikut?"
Mereka bergeming, Ibu Albert pun menyahut, "Siapa yang tidak ikut?" tawarnya menawarkan hal yang berkebalikan dengan keinginan Nadia.
Mereka semua mengangkat tangan mereka.
Melihat tangan mereka bisa keluar, wanita daun itu berkomentar, "Hey, kalian kan lagi diikat!"
"Oh iya, lupa," cepat-cepat mereka menurunkan tangan dan memasukkannya lagi ke dalam ikatan.
"Ayolah, ini untuk Manda," bujuk Nadia.
Mereka tetap mode bergeming.
"Haah, sudahlah," Nadia nampak merajuk.
"Oow, ada yang ngambek," tukas Fikram.
__ADS_1
"Hey, Manusia! Sudah cukup berembugnya kemari dan berduel sekarang!" tantang wanita itu.
Mereka menoleh ke arah sang wanita. Cahaya terang tiba-tiba saja muncul menyilaukan mata mereka. Terlihatlah sang wanita dan grup menarinya. Ya, cahaya itu berasal dari mereka. Terlihat sekali bahwa sang wanita daun ini adalah pemimpin grup mereka. Ow, apa sudah kujelaskan siapa anggota grup si wanita, Baiklah. Tanaman, tanaman, tanaman. Anggota grupnya ialah orang yang ia bentuk dari tanaman.
"Hai, sudah siap untuk kalah," sombong wanita tersebut.
"Kita lihat saja nanti," kata Nadia.
Wanita ini berseringai, "Baiklah. Tiga orang yang tidak ikut menari harus keluar dari ikatan itu," katanya.
"Gamma, Rainny kalian ikut aku. Lainnya menarilah, Nadia jalankan rencanamu," kata Ibu Albert mengambil alih.
"Apa!" kaget mereka.
"Hei, wanita daun. Aku dia dan dia tidak ikut menari, lepaskan kami bertiga dari sini," ucap Ibu Albert menunjuk ke arah Gamma dan Rainny.
Wanita itupun mengendurkan ikatan dan mengeluarkan Ibu Albert Gamma serta Rainny dari ikatan. Ia lalu mengencangkan ikatan itu serta merta mengikat Ibu Albert Gamma dan Rainny.
"Haah, aku tidak berdaya untuk memprotes," lemas Fikram.
"Kurasa percuma menolak perintah orang satu ini," timpal Dina.
"Baiklah, ayo kita mulai," kata Nadia.
Wanita ini berseringai lagi, "Baiklah." Ia menggerakan tangannya.
Seketika pintu masuk, langit-langit, bahkan celah terkecil pun tertutupi oleh tanaman yang sengaja ia munculkan. Ketujuh manusia yang terikat ini mengedarkan pandangan mereka ke seluruh penjuru gua.
"Dengan begini kalian tidak bisa coba-coba untuk mengelabuiku," ucap wanita ini seakan tahu rencana Nadia.
"Pintu keluarnya di tutup, bagaimana kita akan-" Ucapan Gamma di sela Ibu Albert.
"Tenanglah, kita ikuti saja sesuai rencana," selanya.
"Ya, kalian akan menari seperti itu," katanya.
Mata mereka membulat seketika.
"Haah, fiks rencana kita akan gagal," pesimis Fikram.
"Ayolah, kita coba dulu rencana ini," kata Nadia.
"Baiklah mari kita mulai," wanita ini memulai.
"Tunggu," sahut Rio. "Bukankah kita perlu seorang juri?" sambungnya.
"Ah, benar" ucap mereka berbarengan.
"Kalau begitu, biar orangku saja yang jadi juri," wanita membentuk tanaman menjadi orang, kemudian ia berbisik ke arahnya, "Kerjakan tugasmu dengan benar ya," ucapnya mengedipkan sebelah matanya, hemm terlihat sangat mencurigakan.
Merasa ada yang tidak benar, Fikram pun menyangkal.
"Ah, tidak-tidak. Ibu Albert yang akan menjadi jurinya, dia kan adil," ucapnya bangga.
"Adil ya...," Nadia tersenyum dengan arti lain.
"Dia terlalu adil," kata Dina.
"Super duper adil," ucap Rio dengan wajah datar.
"Oo, tidak bisa. Jurinya adalah orangku," wanita ini bersikukuh.
__ADS_1
"Tidak, Ibu Albert jurinya!" Fikram tidak mau mengalah.
Mereka akhirnya berselisih, seperti muncul aliran listrik dari tatapan keduanya. Perselisihan yang sengit.
"Kau!" geram mereka satu sama lain.
"Hei, daripada kalian ribut, mending aku saja yang jadi jurinya," satu suara tiba-tiba saja muncul.
Mereka semua menoleh ke sumber suara berasal.
JENG! JENG!
"Dia!" kaget empat orang sahabat ini.
"Kau?" wanita ini terlihat bingung. "Bagaimana dia bisa masuk kesini?" batinnya ikut bingung. "Sepertinya rumahku mudah dimasuki penyusup ya," batinnya menangis.
"Hai para pencuri buah orang, kita bertemu lagi," ucapnya mengelus kepala yang penuh dengan duri.
Hijau, agak tinggi, memakai kacamata walau tidak mempunyai telinga untuk menyangga, punya dua tangan, satu badan, dan dipenuhi duri. Hayo tebak siapa. Yapz, si Kaktus! Bagi yang menjawabnya benar, author kasih hadiah ucapan selamat aja yak, wkwk.
"Aku trauma melihatnya," kata Dina bergidik.
"Kau?" bingung Nadia.
"Wow, tenanglah. Kalian tidak perlu takut, aku tidak akan menyerang lagi. Kita lupakan saja kesalahan masa lampau itu," katanya.
"Heh, Kaktus Hijau sedang apa kau di sini," kata Dina.
"Wait-wait-wait, jangan panggil namaku sembarangan. Aku juga punya nama, tahu" ucap si kaktus.
"Memang siapa kau?" tanya Rio.
Kaktus ini mengulurkan tangannya, "Kenalkan."
"Tanganmu penuh duri, tidak sadar ya," kata Rio tidak mau menjabat tangannya.
"Hrithik Roshan."
GUBRAK!
"Hah, pen rasanya ku potek badan dia saat ini," kata Dina.
"Aku dengar kalian butuh juri. Aku bisa jadi juri menari kalian," ucapnya dengan penuh percaya diri yang membumbung tinggi setinggi pohon toge eh, langit maksudnya.
"Benarkah?" Fikram menatap datar kaktus itu.
"Daripada tidak ada."
"Hemm benar juga," ucap Nadia.
"Benar juga," batin wanita ini.
"Baiklah sudah diputuskan kau jurinya!" ucap Nadia dan wanita itu kompak.
"Bagus, jangan lupa bayaran naikin yak, ongkos transport kesini ngga gratis soalnya," ucapnya memakai kacamata lagi tanpa melepas kacamata sebelumnya.
"Naikin bayaran apanya, Kaktus Jelek," maki lima makhluk hidup ini, tidak terima.
"Sudah kubilang namaku Hrithik Roshan."
GUBRAK!
__ADS_1
Bersambung ....