Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Ada Apa Dengan Rembulan


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Di, kau sedang apa?"


"HAH!" Nadia terperanjat.


Gamma ikut terkejut, "Eh, ada apa?!"


Nadia menghela napas panjang, "Huff, kau ini mengejutkan orang saja." Kata Nadia berbalik kembali mengintip empat sosok misterius itu.


"Aku?" bingung Gamma dalam hati.


Naas! Saat Nadia kembali ingin mengintip mereka. Empat sosok itu telah hilang tanpa jejak.


"Apa! Kemana mereka?" langsung berdiri dan berkacak pinggang.


"Kau sedang apa sih?" tanya Gamma untuk kesekian kalinya.


"Hemm?" menoleh. "Aku- di sini- ah lupakan saja. Kau sendiri sedang apa di sini?" bertanya balik.


"Aku sedang mencari buah beri, ini." Memperlihatkan buah beri merah yang di bungkus rapi dengan daun.


"Ooo, emm Gamma. Apakah Ibu Albert ada di gubuk saat ini?"


"Hemm, aku tidak tahu aku kan sedang mencari ini."


"Ah benar juga."


"Memang kenapa?"


"Tidak, tidak apa," berputar dan berjalan kembali.


"Kau sudah mengumpulkan kayunya?" tanya Gamma, membuat Nadia menepuk jidatnya.


"Ah iya, kayunya." Ia kembali melangkah hendak mengambil kayu bakar yang ia kumpulkan.


Gamma menahan. Nadia kebingungan dengan sikap Gamma ini. Ia menawarkan diri untuk membawakan kayu itu sementara Nadia membawa buah berinya.


Tentu Nadia akan menolak terlebih dahulu. Namun, penolakan itu tidak mempan. Gamma tetap membawakan kayunya sementara Nadia membawa buah beri itu. Nadia pun hanya bisa pasrah dan mereka berjalan bersama menuju gubuk.


Tanpa mereka ketahui di balik semak-semua ada sepasang mata yang terus bertambah.


"Fiuh, hampir saja," ucap mereka berbarengan.


----------------


\~Sesampainya di gubuk\~


SRUK!


Gamma menaruh semua kayu itu di halaman dekat gubuk mereka. Ia membersihkan tangganya. Perhatiannya kini terfokus pada Nadia yang semenjak tadi terlihat murung.


"Kau kenapa, kok terlihat murung?" tegur Gamma.

__ADS_1


"Hah, apa!?"


"Kau melamun? Kenapa, apa ada masalah yang kau pikirkan?" menaikkan salah satu alisnya.


"Hemm, entahlah." Membuang wajahnya ke arah lain.


"Apa lukamu semakin sakit?" mencoba memegang wajah Nadia.


"Ih, tidak. Bukan itu!" menarik wajahnya.


"Lalu? Ayolah ceritakan padaku," desak Gamma.


Nadia menghela napas panjang, "Emm, ini tentang Rio," kata Nadia membuat semangat Gamma sedikit menghilang.


"Ooh, memang kenapa dengannya?" membuang muka ke arah lain.


"Dia ... ah begini saja," dia menghadap ke arah Gamma sehingga pandangan mereka saling bertemu. "Apa yang terjadi ketika kita berjalan di labirin menuju tantangan selanjutnya, setelah tantangan HAHAHA waktu itu?" tanya Nadia serius.


"Apa kau tidak ingat?" Nadia menggeleng. "Bagaimana bisa kau tidak ingat. Padahal hari itu kau selalu menempel padaku loh, seperti dulu," ia menggoda Nadia.


"Heh, ceritakan saja," Nadia menatap datar Gamma.


"Ya-ya baiklah, Kekasihku," Gamma mencubit pipi Nadia.


"Kekasihku apanya, hii" ia merasa geli terhadap panggilan Gamma.


Gamma pun mulai menceritakan kejadian di mana mereka di permainkan di dalam ruangan penuh cermin kaca. Ruangan di mana Nadia merasa takut akan bayangannya sendiri.


"Aku phobia dengan bayanganku sendiri? Bagaimana bisa, setiap hari aku selalu bercermin kok. Hah! Itu ...." Di tengah-tengah celoteh Gamma, mendadak Nadia teringat sesuatu.


Tiba-tiba Nadia bangkit. Gamma kaget, ia pun gagal melakukan aksinya itu. "Gamma, terimakasih atas ceritamu. Aku harus pergi ya, dah!" ia menyerahkan beri itu pada Gamma dan langsung pergi meninggalkannya.


"Eh, kau mau ke- haah, padahal aku ingin menggenggam tangannya tadi. Tapi aku kok tidak merasa kecewa ya, aku merasa biasa-biasa saja. Ah, mungkin hanya perasaanku saja." Ia bangun lalu masuk ke dalam gubuk Dina untuk menjalankan perintah ibunya.


Di balik pohon yang tidak terlalu besar dengan jarak cukup dekat dengan gubuk itu. Rio diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kenapa dia bertanya pada Gamma? Dia benar-benar tidak ingat? Atau ini hanya ... akal-akalannya lagi. Ah, dia pasti tahu aku di sini makanya dia begitu?" pikir Rio.


----------------


Nadia mencari-cari Rio kesana kemari. Ia sudah mencarinya di dalam gubuk dan bertanya pada Fikram. Namun Fikram pun tidak tahu keberadaan Rio saat ini. Nadia sudah kembali mencari di dalam hutan, pinggir danau, tetapi hasilnya tetap nihil. Ia tidak menemukan Rio.


"Rio kau di mana! Jika kau dapat mendengar suaraku datanglah kemari!" Nadia berteriak sekuat tenaga.


\~Hening\~


"RIO!" panggil Nadia lagi. "Haah, setelah dia menganggapku sebagai seorang penipu dia tidak akan mau datang kemari,"


"Rio, kemarilah aku akan tunju-"


Apakah aku tidak salah mengucapkan ini, ah tidak. Nadia membatin pada dirinya sendiri.


"Aku akan tunjukkan wujudku yang sebenarnya! Kemari dan lihatlah! Temui aku di sini!"

__ADS_1


\~Hening\~


Lagi-lagi hanya suara angin yang datang. Nadia pun menyerah, ia berbalik dan melangkah pergi dari situ namun ....


KREK!


Satu suara berhasil membuat Nadia berhenti dan menoleh ke belakang. Walau ini hanya instingnya, ia menyakini ada seseorang di balik pohon yang sedari tadi memerhatikannya.


"Dasar ceroboh! Siapa sih yang meletakan ranting di sini!" umpat seseorang dari balik pohon.


Nadia ingin mendekat ke arah pohon dengan hati-hati, tiba-tiba sosok itu sedikit mengintip untuk memastikan dirinya tidak ketahuan. Eh, ternyata … manik mata mereka sesaat bertemu. Sontak, sosok tersebut kembali dalam persembunyiannya sementara Nadia tersenyum. Sepertinya ia mengetahui sesuatu sekarang.


"Apa aku ketahuan? Hah, dasar ceroboh! Ceroboh!" kesal sosok itu pada dirinya sendiri.


"RIO!"


Yaps, sosok itu adalah Rio. Iapun tersentak ketika Nadia memanggil namanya dengan berteriak.


"Aku tahu kau bisa mendengarku! Aku hanya ingin mengatakan aku ini Nadia bukan apa yang kau pikirkan selama ini!"


"Kau pikir aku percaya begitu saja," lirihnya seraya mengepalkan tangan.


"Aku tahu kau tidak akan percaya begitu saja, akanku berikan buktinya jika kau kemari sekarang!"


Rio bergeming.


"Percayalah aku ini Nadia, Rio!"


Rio tetap bergeming. Ia mulai melangkah pergi dari tempat itu tanpa sepatah kata pun. Melihat hal itu, Nadia langsung bergerak.


"Rio, aku Nadia! Kau mau bukti, kan? Kemarilah, kumohon!"


Dengan sekuat tenaga ia mencoba membuat Rio kembali namun, Rio tidak menggubrisnya. Nadia semakin panik, ia menaikkan nada suaranya untuk menghentikan perginya Rio.


"RIO!"


Rio tidak menggubrisnya, ia menjauh dan akan lebih menjauh lagi.


"Rio, dengarkan penjelasanku dulu! Kumohon berhenti dan kemarilah!"


Rio tetap fokus berjalan.


"Aku tahu sesuatu yang diketahui oleh kita saja!"


Hal itu masih belum mampu meluluhkan Rio.


"Kejadian hari itu, di malam hari!"


Rio tetap tidak menggubrisnya.


"AKU MENYUKAI REMBULAN!" Nadia memejamkan mata,


Puncak!

__ADS_1


Nadia mencapai puncak suaranya. Rio tertegun, langkahnya terhenti seketika. Ia berbalik dan menatap Nadia dengan tatapan berkaca-kaca.


Bersambung ....


__ADS_2