Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Menuju Akhir


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Semoga Nadia ngga berabad-abad di sana."


----------------


PROK! PROK! PROK!


Mendengar ada suara yang mendekat, Nadia waspada.


"Kau sudah terlalu banyak tahu, Tuan Putri!"


Jlebb!


Ternyata Rainny bisa mengembalikan keadaan. Tangannya yang terkunci bisa lolos dan menggambil gunting dari tangan Nadia dan menusukannya tepat di area perut Nadia.


"Ahg!" Nadia merintih kesakitan, ia mundur beberapa langkah.


Srekkk!


Dinding dari arah lorong lain terbuka, munculah sosok dari kegelapan bayangan.


"Hai, Putri Nadi. Kita berjumpa lagi di kehidupan ini."


Sosok pria paruh baya. Satu matanya ia tutupi, Pria pendek dan bulat namun berwajah sangar dan berkulit gelap. Makhota besar berkilau ia kenakan sebagai tanda kebesarannya.


"Siapa dia? Apa dia Raja Basilia?" batin Nadia.


"Tangkap dia!" seseorang disampingnya memberi perintah pada dua prajurit.


Dua prajurit itu pun menangkap dan mengunci pergerakan Nadia.


"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Tuan Putri!" Raja Basilia mendekat ke arah Nadia, memegang gunting yang masih menancap di tubuhnya, lalu memperdalam tusukan gunting itu.


JLEBBBB!


"AAGGGGGH!"


----------------


"Engg... Enggh... Di mana aku...?" secara perlahan Nadia membuka matanya, mencoba mencerna apa yang terjadi.


"Hei, bangun Tuan Putri."


Nadia langsung membuka matanya lebar-lebar. "Kembalikan kristal itu!"


"Wowowow, tenanglah Putri. Kalem, kalem," kata Rainny.


"Kau pernah mendengar nasehat bukan 'jangan mengambil sesuatu yang sudah kau beri' itu tidaklah baik, Putri," kata Raja Basilia menghampiri sebuah meja panjang kayu.


"Pepatah itu tidak berlaku dalam masalah kali ini!" kesal Nadia menarik dirinya ingin menyerang Raja itu. "Eh? Lepaskan aku! Lepaskan! Aghh!" Nadia menciut ketika luka di perutnya ternyata masih ada.


"Jangan banyak bergerak Tuan Putri, nanti lukamu tambah parah lalu teman-temanmu akan sedih bagaimana?" Rainny mencengkram dan menggoyang-goyangkan dagu Nadia.


Nadia menatap tajam Rainny.


"Hmmmmmph!" Merasa mendengar suara, Nadia mencari sumber suara.

__ADS_1


Matanya melebar sempurna, seluruh teman-temannya ternyata juga tertangkap dan terikat di sebuah papan besar berantai.


"Kalian! Lepaskan kami!" pekik Nadia.


"Kalau aku lepaskan kalian, kalian mau apa hah! Menghentikanku begitu! Tidak akan ku biarkan!" tegas Raja Basilia. "Dengan kekuatan lima elemen ini, pedang emas itu akan jatuh di tanganku dan dengan kekuatan hitam dari gerhana terkuat, aku akan menguasai dunia ini! Aku juga akan menguasai dunia mu itu! Hahaha!"


"Dasar tamak!"


"Terima kasih," Raja ini malah berterimakasih.


Nadia semakin geram.


"Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan mendapatkan kekuatan luar biasa itu! hahaha," bahagianya orang jahat ini.


"Yang Mulia, para rakyat sudah saya panggil," seekor ular besar berkepala manusia pun muncul.


"Kau? Ular ini... aku merasa familiar dengan ular ini," batin Nadia.


"Bagus, Medusa," kata Raja Basilia. "Oh ya, aku lupa memperkenalkanmu padanya, dia Medusa makhluk ular raksasa yang kukirim untuk menangkap kalian di awal perjalanan, kau pernah bertemu dengannya kan?"


"Jadi dia ular yang menyerang kami," batin Nadia.


"Rencanaku untuk menangkap kalian agal karena bocah tarzan ini," Raja basilia melihat ke arah Gamma.


"Bocah Tarzan?" batin Gamma.


"Tapi ya bagus lah, aku jadi sadar. Kalian harus mengambilkan aku semua kristal itu dan aku tidak perlu repot-repot mencarinya lagi, ahahaha" katanya.


"Cih!" geram Nadia.


"Baiklah, bawa mereka ke depan istana," titah Raja ini.


----------------


"Para Rakyatku! Sebentar lagi kita akan mencapai titik emas, titik kejayaan negeri ini! Di depan kalian adalah para pembangkang yang menghambat kejayaan kita. Jadi kuperintahkan kalian melempari mereka dengan benda yang ada ditangan kalian!" pidato Raja Basilia.


Para rakyat meragu, mereka merasa hal ini tidaklah benar. Apalagi, yang mereka lihat adalah seseorang yang mirip dengan Putri Nadi. Putri yang sudah melindungi dan mengayomi mereka selama masa hidupnya dengan Raja ayahandanya. Mereka juga tak melupakan jasa Putri Maple, Ketua Penyihir, serta Ketua Suku Hutan. Mereka selama ini memperlakukan mereka dengan baik.


"Tunggu apalagi, lempari mereka dengan batu!" titahnya lagi.


Rakyat masih saja bergeming. Tak kunjung mendapatkan jawaban sesuai yang ia inginkan, para prajurit pun bertindak memaksa mereka melempari kelompok baik itu.


"Siapa saja yang tidak menuruti perintahku, maka ia akan kupotong kepalanya saat ini juga!" ucapnya. "Kau!" ia menunjuk pada salah satu warganya yang tidak melempari Nadia dan teman-temannya. "Kau tidak melemparinya dengan batu! Mari kupotong kepalamu!" ia mengangkat pria muda itu dengan mudahnya.


Si pria muda itu ketakutan, "Ampuni saya baginda Raja,"


"Tidak ada kata ampun pada pembangkang seperti mu!"


SRING!


"AAAAAA!"


Darah mengucur deras membasahi pedang dan wajah Raja basilia. Ia tampak sangat menikmati darah segar tersebut.


"Siapa yang mau seperti dia, maka membangkanglah!" ancamnya terlihat sangat mengerikan.


Para warga pun gemetar ketakutan.

__ADS_1


BUG! BUG!


Apalah daya, mereka harus melempari mereka termasuk Tuan Putri mereka sendiri dengan batu.


BUG! BUG!


"Hmmppph!" Manda menggeliat, pasti karena rasa sakit yang ia rasakan.


"Hmmmmph, hmmmph! (hei, tukang Sihir. Lakukan sesuatu dengan sihirmu itu!)" kata Ibu Albert pada Kakek San.


Wajar saja Kakek San tidak mengerti, ia pun mengernyitkan dahi, "Hmph? (apa?)"


"Hmpppph! (dasar tidak berguna!)"


Tiba-tiba Kakek San merasa berslaah namun ia tidak tahu arti ucapan Ibu Albert, "Apa aku salah?" batinnya.


BUG! BUG!


"Terus, terus lempari mereka, buahahaha!"


"Rajaku, sebentar lagi waktu itu akan tiba," kata penasehat yang berbadan pendek.


"Bagus, mari mulai persiapannya," Raja beranjak pergi. "Terus lempari mereka rakyatku! Kalau tidak...," ia menggesekan sisi tumpul pedangnya ke leher. "Kalian tau akibatnya...," acamnya.


BUG! BUG!


Memar, lebam, dan darah. Luka-luka itu tercipta seiring mereka terus melempari batu ke arah mereka.


Lemas, mereka kini lemas tak berdaya.


"Ma-ma-maafkan aku teman-teman," lirih Nadia yang masih bisa di dengar teman-temannya.


BUG! BUG!


Nadia pun pasrah, ia sudah tak kuat. Dan tak ada yang bisa ia perbuat, matanya pun tertutup sempurna.


"Mbak, Mbak Cantik, bangun dong. Jangan mati di sini, Mba. Mba, Mba."


Merasa tubuhnya digoncang dan dipanggil, Nadia akhirnya membuka matanya perlahan. Ia kaget bukan kepalang saat yang membangunkannya adalah seorang vampir jelek.


"Pait-pait, menjauh dariku dedemit!" Nadia langsung memalingkan wajahnya.


Si vampir kebingungan, namun ia tidak terima dirinya dipangggil dedemit, "Dedemit? Jelek amat, nama panggilan macam apa itu. Hehehe, mungkin mbaknya trauma ya liat saya, hehehe."


"HEHEHE, bantu aku!" suara wanita terdengar. "Sahabatku kau bantu melepaskan mereka saja, bukannya nyerang malah nyeramahin, kena sendiri kan," kata wanita itu.


Pria muda bersorban itu melangkah dengan gontai, "Ish, kan kita harus pake jalan damai. Ngga baik nyerang makhluk tak berdosa kaya mereka, hahaha," ia tersenyum manis.


"Hehehe! WUSHHH!" Si vampir pun berubah menjadi segerombolan nyamuk dan pergi menghampiri teman wanitanya yang sedang melawan para rakyat yang membabi buta melempari dengan batu.


Nadia tentu mengenali wanita dan pria muda bersorban itu. "HAHAHA? Tante Kun?" batinnya.


JEDEEER! GRUUUUURHGH!


Gemuruh terdengar dari arah istana, Nadia menoleh. Ia melihat langit mulai menggelap, berdirilah Raja basilia dan sekutunya sedang melakukan sesuatu yang tidak Nadia ketahui. Dilihatnya pula para rakyatnya mulai bertingkah aneh. Mata mereka menjadi kekuningan. Persis seperti zombie yang ia lihat di wilayah Invisible World.


"Apa yang terjadi?"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2