Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Lift


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


Gamma memutar bola matanya, "Aku bertanya apa, dijawabnya apa."


Los Dol!


Sementara Nadia, Fikram  Rio, dan Dina mengalihkan perhatian si wanita daun itu, cepat-cepat Ibu Albert, Gamma, dan Rainny membebaskan serta membawa kabur Manda pergi dari tempat mengerikan ini.


SREKK!


"Sudah, kau tidak perlu melakukan hal kejam seperti ini lagi," kata Ibu Albert.


"Terima kas... sih," ia sudah pingsan duluan, seperti karena tenaganya benar-benar terkuras.


Ikatan Manda telah terbuka. Manda kini lemas bak sudah tidak memiliki tenaga lagi. Kedua  kaki dan tangannya terdapat luka bekas ikatan yang kencang.


"Rainny, Gamma bawa dia cepat," kata Ibu Albert.


Gamma dan Rainny pun dengan cepat segera memapah Manda.


~Di satu sisi~


Nadia melihat Ibu Albert, Gamma, dan Rainny sudah melakukan bagian dari rencana mereka. Kini giliran bagiannya dan teman-temannya. Ia berusaha mengambil belati yang ada di kakinya, ya tentu dengan keadaan terikat seperti ini akan sedikit menguras tenaga pastinya.


"Di, kau sedang apa sih?" bisik Dina melihat sahabatnya ini berusaha meraih sesuatu di bawah.


"Apakah kau mau mengambil kutu tanah di bawah, Di?" kata Fikram.


"Memang ada kutu tanah?"


"Entah."


Dina membalas dengan tatapan datar.


"Aku rasa Nadia berusaha mengambil belati di kakinya," kata Rio.


"Ya, itulah yang- sedang aku- lakukan," jawab Nadia masih berusaha mengambil belatinya.


Hati Rio pun tergerak untuk membantu Nadia. Tak lama ia berseru, "Semua berjongkok!" titah Rio.


Spontan mereka semua pun berjongkok. Untungnya, juri, si wanita dan grupnya sedang asyik menari jadi tidak terlalu memerhatikan mereka. Nadia ekarang bisa mengambil belati di kakinya itu, mereka pun kembali berdiri setelahnya.


Kalau tadi Ibu Albert membebaskan seluruh anggotanya dalam satu kali tebas, kali ini Nadia agak perlahan memotong tali-tali dari tumbuhan itu. Hingga sampailah ia di tali terakhir, dan mereka bebas sekarang.


"Wow, tali ini mudah dipotong," kata Dina.


"Ya, karena pemiliknya sedang teralihkan, jadi sebelum ia sadar kita harus pergi dari sini, ayo!" ajak Nadia.


Mereka pun berlari menghampiri Ibu Albert Gamma dan Rainny yang sedang membawa Manda.


"Jadi, Ibu Albert ayo bawa Manda keluar dari sini," kata Fikram melangkah menuju pintu keluar.


"Tunggu," Tangan Nadia menghalangi. "apa kau lupa tempat ini tertutup tanaman sekarang," kata Nadia.


"Bukankah tinggal dipotong saja?" balas Fikram.


"Tidak, Tanaman itu tidak bisa dipotong begitu saja, kita akan terkena duri halusnya dan itu bisa menyebabkan keracunan juga luka kulit yang sulit disembuhkan," jelas Ibu Albert.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana?" tanya Dina.


"Ah, aku tidak punya pilihan. Tidak ada waktu untuk menutup pandangan mereka. Bisa-bisa wanita itu akan segera sadar, aih aku benci keterpaksaan," batin Ibu Albert.


Ibu Albert memijat pelipisnya, "Baiklah, ayo lakukan ini" kata Ibu Albert.


Ibu Albert menepuk tangannya sebanyak dua kali dengan cepat namun menghasilkan suara yang kecil.


"Sedang apa Ibu Albert/Ibu/dia?" batin mereka semua melihat tingkah Ibu Albert.


GRRRRR!


Mendadak setelah Ibu Albert melakukan hal tersebut, goncangan terjadi di gua itu. Karena merasa si wanita akan tersadar karena goncangan yang sedikit besar, mereka menoleh ke arah wanita juri dan grupnya.


"Fiuhh," mereka bernapas lega karena si wanita tetap asyik berjoget.


Sedetik kemudian munculah batang pohon besar menembus langit-langit gua. Heran, bingung, takjub semua perasaan itu mereka rasakan saat ini.


"Wow, apa itu?" tanya Dina.


"Ibu Albert itu perbuatan mu?" tanya Fikram.


"Sedikit bicara banyak bertindak. Cepatlah kita masuk ke sini satu persatu dan cepat pergi dari sini," kata Ibu Albert.


"Masuk? Maksudmu?" tanya Nadia.


Ibu Albert melangkahkan kakinya ke depan, seketika batang itu terbuka sendiri dan memunculkan sebuah ruangan yang cukup besar. Ibu Albert pun masuk dan berdiri tenang di dalamnya.


"Kau... masuk... Itu?" Fikram tiba-tiba tidak bisa berkata-kata lagi.


"Bagaimana kau bis-" mereka menatap Ibu Albert tidak percaya.


Ruangan itupun menutup dan Ibu Albert bergerak ke atas. Tak lama setelahnya muncul ruangan baru yang kosong. Sepertinya ini seperti mekanisme lift hanya saja terbuat dari batang pohon... asli. Mereka dibuat tambah melongo saja sekarang.


"Sebenarnya kita berada di jaman apa sih," ucap Dina bingung.


"Ah, ya sudahlah kita pikirkan itu nanti. Sini, biar aku saja yang memapah Manda," kata Fikram mengajukan dirinya untuk memapah Manda yang pingsan.


"Ya, terserah," Rainny dan Gamma pun membiarkan Fikram memapah gadis berkuncir dua ini.


"Fikram, kau dan Manda duluan. Nanti, kita masuk secara berpasangan itu akan lebih cepat dan efisien, semua mengerti?" ucap Nadia.


Mereka mengangangguk tanda mengerti. Fikram pun masuk kedalam batang pohon dengan memapah Manda. Kini ruangan berikutnya telah terbuka.


Gamma dan Dina berjalan berbarengan. masing-masing dark mereka ingin masuk duluan dan sendiri, S.E.N.D.I.R.I.


"Hei aku duluan!" kata Dina.


"Tidak, aku dulu! Aku ingin masuk dulu!" balas Gamma.


"Tidak, aku dulu, Payah!" Dina mencoba masuk terlebih dulu.


Namun, Gamma tidak mau kalah dan menghalangi Dina, "Hei Penyihir, pokoknya aku dulu yang masuk!"


"Kau jangan coba-coba ya."


"Kau yang jangan coba-coba, Penyihir!"

__ADS_1


Jadilah mereka berebut masuk di pintu rongga itu, Nadia dan lainnya menatap datar makhluk hidup bak kucing dan tikus ini.


Nadia mendorong mereka masuk bersama."Sudahlah, kalian berdua masuk bersama. Kita tidak ada waktu."


Saat di dalam pun mereka masih terlihat bertengkar, saling menatap tidak mau kalah.


"Awas kau ya," ucap mereka sengit.


Nanging kangen keringet bareng awakmu....


Tanpa mereka sadari lagu yang mengalihkan perhatian si wanita sudah mencapai akhirnya.


"Haha, ini menyenangkan- Eh!" saat membuka mata dan menghentikan keasyikannya ia kaget saat budaknya—Manda—dan para makhluk yang menjadi calon budaknya nanti sudah tidak ada di depan matanya. Ia mengedarkan pandangannya dan iapun melihat para sisa budaknya yang mencoba kabur melalui rongga dalam pohon besar.


"Hei kalian!" tegurnya membuat tiga orang makhluk bernapas itu terkesiap.


Si kaktus memakai kacamata hitamnya, "Baiklah, juri tertampan undur diri," dalam sekejap dia menghilang bak ditelan ikan ****** eh ditelan bumi maksudnya.


"Gawat dia sudah sadar," kata Nadia mulai panik. "kalian berdua cepatlah pergi dulu," Nadia mendorong-dorong mereka untuk masuk.


Rainny sudah di dalam ruangan itu. Rio? Tentu Rio enggan untuk pergi duluan dan meninggalkan Nadia di sini. Ia khawatir 'sahabatnya' itu akan kenapa-kenapa nanti.


"Kau? Kau bagaimana?" tanya Rio cemas.


"Jangan hiraukan aku, aku akan naik nanti. Cepatlah kalian pergi dulu," jawab Nadia.


"Hei, jangan lari manusia payah! GRAAAA!" si wanita tampak murka.


Anggota grupnya kini terurai menjadi tali-temali yang siap mengikat siapa saja sesuai kehendak. Si wanita pun melesat ingin menghentikkan Nadia, Rio, dan Rainny untuk pergi meninggalkan tempat ini.


"Ayo cepat Rio!" desak Nadiaa mendorong-dorong tubuh Rio agar mau masuk


"Tapi, Di..." Rio tetap enggan meninggalkan Nadia sendiri.


"GRAAA, kalian!" Terdengar amukan  si wanita yang membuat bulu kuduk senam lantai.


"Cepat pergi Rio! Aku akan menahannya," Nadia membalik tubuhnya, memegang belati di masing-masing tangan dengan posisi siaga ia bersiap untuk yang terburuk.


Pintu lift sebentar lagi tertutup, Rio masih berpikir. Ia tidak tega meninggalkan Nadia sendiri tapi Nadia menyuruhnya untuk pergi. Dan kalau mereka menghalangi si wanita bersamaan itu akan sia-sia saja, sudah pasti mereka akan kalah kekuatan. Terlihat wajah Nadia makin waspada, si wanita menggerakan talinya sembari terus melesat. Pintu lift semakin tertutup sempurna. Nadia semakin memasang wajah serius, sementara Rio berpikir ia harus bertindak tapi bagaimana?.


"Kau akan dapat pelajaran karena berani menipuku!" pekik si wanita.


Semakin dekat wanita itu semakin serius pula raut wajah Nadia. Sedikit lagi maka akan terjadi duel antara Nadia dan wanita kejam ini.


Apa yang akan terjadi? JENG! JENG!


"Bersiaplah, hiaaa!"


"Aku selalu bersiap," kata Nadia dengan wajah serius.


HIAAAA!


Saat per-duel-an ini akan terjadi, tiba-tiba ....


"Hah?!" Nadia merasa ada yang menggenggam dan menarik tangannya dari arah belakang.


GREP!

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2