
EPISODE SEBELUMNYA
"Jangan-jangan ...."
"AUNTY KUNTI!" ujar mereka serempak.
HIHIHIHIHI!
"Siapa itu 'Aunty Kunti'?" tanya makhluk itu menampakkan wujudnya.
Drup ... drup ... drup ....
Obor-obor pun mulai menyala, sehingga labirin itu kembali mendapat penerangan yang cukup.
"HAH!" kaget mereka melihat sesosok makhluk berambut panjang tergerai dan memakai gaun putih panjang melayang di depan mereka.
"Ampun! Ampun, Tante Kun," mohon Dina ketakutan.
"Manis, manis, manis, man-" ujar Manda ketakutan.
"Heh! Jangan manis dong, entar dia malah makin kesini!" kata Dina.
"Oh, oke. Pedes, pedes, pedes!"
"Jangan pedes! Nanti dia kepedesan, kan kesian, Da."
"Hiih! Iya-iya, Asem, asem, as-"
"Jangan asem, nanti dia ...."
"ASEM! PAIT! ASIN! MANIS! PEDES!" kata Manda beruntun. "Dah! PUAS LU!" kesal Manda.
"Hehe, ampun bang" Dina menciut.
"Hihihihihi ... kalian lucu juga ya," kata makhluk itu.
"S ... s ... s ... siapa kamu?" tanya Nadia memberanikan diri.
"Hihihihihi ... terimakasih sudah bertanya, Gadis Manis ... HIHIHIHI!" jawab makhluk itu.
"Apa yang kau lakukan, Nadia? Jelas-jelas namanya Bibi Kun," kata Manda.
"Ya, atau paling tidak Aunty Kunti, itu lebih keren," sahut Dina.
"Bibi Kun? Tante Kun? apa itu sebenarnya?" tanya Gamma.
"Hihihihihi ... ya, apa itu? Siapa dia?" makhluk itu tak kalah ingin bicara.
"Ya ampun! Kau tidak tau Tante Kun?" tanya Dina pada Gamma.
Gamma menggeleng.
"Tante Kun itu ya dia, dia ini yang namanya Tante Kun," kata Dina menunjuk makhluk itu.
"Punya rambut panjang, berbaju putih, bisa terbang, bersuara khas, dan berwajah menyeramkan," jelas Manda menyebutkan ciri-ciri makhluk yang mereka sebut 'Tante Kun'.
"Hihihihihi ... enak saja! Wajahku tidak menyeramkan!" kesal makhluk tersebut.
"Ya tapi kalian tidak menjawab pertanyaank-"
"Makhluk legendaris yang ditakuti oleh manusia dan tidak semua manusia di dunia mereka bisa melihatnya, mungkin kita menyebutnya 'Iblis'. Ciri-ciri paling menonjol dari makhluk ini adalah suara tertawanya yang khas, itulah yang disebut Hantu Kuntil ... emm, maksudku Tante Kun, ya itu" jelas Ibu Albert.
"Wah, darimana Ibu tahu semua itu?" tanya Gamma.
"Dasar payah! Makanya kalau di suruh belajar itu ya belajar jangan main terus," kata Ibu Albert menarik telinga Gamma dengan keras.
"Aduh! Aduh! Itukan bukan pelajaran dunia kita, Bu. Lagipula buat apa kita pelajarin pelajaran dunia asing yang tidak terkenal begitu, tidak berfaedah!" kata Gamma kesakitan.
"Tidak berfaedah katamu! Itu pelajaran dasar suku kita tau!"
"Aduh! Aduh! Udah, Bu! Lepas!" pekik Gamma.
"Begini, nih akibat malas belajar, pffft" bisik Dina pada Manda.
"Iya ... pfff" balas Manda terkekeh.
"Hihihihii ... makanya jangan malas belajar ya, hihihihihi" kata makhluk itu ikut terkekeh. "Dan kalian jahat! Masa cantik-cantik begini dipanggil nama iblis, sih!" Makhluk itu mendengus kesal. "Hihihihi ... aku'kan tidak seperti itu, lagipula kalian juga bisa melihatku, kan?" tanya makhluk itu.
"Wah! Ada suaranya tidak ada wujudnya, siapa yang berbicara itu?" kata Dina pura-pura tidak melihatnya.
__ADS_1
"Ih! Jahat!" makhluk itu mendengus kesal.
"Baiklah-baiklah, jadi kau ini siapa?" tanya Rio.
"Hihihihihihihi ... eh, Babang Ganteng tanya, kenalin nama saya Hiromi Ikhsan Himekia Idella Hiatus Imut, disingkat HIHIHI!" katanya memperkenalkan diri.
"Tetap saja aku akan memanggilmu, Tante Kun" kata Dina melipat tangannya.
"Oh, baiklah, 'HIHIHI'. Sebenarnya dimana kami? Tempat apa ini?" tanya Nadia.
"Ya, tempat aneh apa ini?" tanya Manda menimpali
"Hihihihihi ... bagus kalian bertanya," ujar HIHIHI. "SELAMAT DATANG DI LABIRINKU! Hihihihihi ...." Sambutnya.
"LABIRIN!" kaget mereka serentak.
"Jadi selama ini kita dilabirin! Haah! Ini pasti gara-gara sosok misterius itu!" kesal Dina.
"A ... a ... aku ingin kembali saja!" ujar Manda ingin berbalik.
"Ohohoho, tidak secepat itu, Gadis Manis, hihihihihihi" cegat HIHIHI. "Di labirin ini kalian harus menyelesaikan tantangan yang ada untuk bisa mencapai jalan keluar, hihihihihi."
"Tantangan apa lagi?!" kata Manda tidak bersemangat.
"Heh! Kami perlu mencari teman kami yang hilang, e ... siapa namanya?" ujar Gamma tiba-tiba lupa nama orang yang ia sebut sebagai 'teman'.
"Fikram!" kata Manda.
"Ya itu," kata Gamma.
"Ya selesaikan saja tantangannya, baru setelah itu cari teman kalian, hihihihihi ...." Jawab HIHIHI dengan santainya.
"Haah! Aku tidak bersemangat," kata Manda.
"Ya, pasti tantangannya tidak mudah, benar-benar merepotkan!" malas Dina.
"Hey! Bersemangatlah! Tantangannya tidak susah, kok! Bener, deh, kalau nanti susah biar HIHIHI! bantu," kata HIHIHI meyakinkan.
"Ya, ya, terserah!" balas Dina.
"Sudah cepat mulai! Kami tidak punya banyak waktu!" kata Ibu Albert.
"Hihihihi ... baiklah, kalau itu mau kalian," seringai HIHIHI. "HIHIHIHI!" ujarnya mengeluarkan suara tawa khasnya itu.
Klek! Klek!
"Heh! Apa-apaan ini? Lantainya ...." Bingung Dina.
Wushh ....
Tiba-tiba lantai labirin itu bergerak cepat, sehingga tubuh keenam manusia ini terodorong cepat mengikuti gerak sang lantai.
"AAAA!" teriak mereka terkejut.
Melewati sebuah lorong-lorong gelap dengan kecepatan yang tidak bisa diukur kecepatannya.
Cittt ....
Kini lantai itu berhenti dan mengantarkan mereka ke sebuah ruangan berlatar sama seperti labirin itu, penuh obor air dan dinding bermotif bata berwarna kuning keemasan.
"Heh, Kunti! Kau bawa kami kemana ini?" tanya Dina.
"Hihihihi ... Kalian mau memulainya, bukan? permainan kalian akan dimulai," jelas HIHIHI.
"Ya mana?" tanya Dina.
"Hahaha! Ternyata tamuku ini sudah tak sabar ya!" terdengar suara tanpa wujud memenuhi ruangan asing itu.
"Lagi-lagi suara tanpa wujud!" ujar Dina.
"Suaranya sangat menyeramkan," Manda bergidik ketakutan.
"Tunjukkan wujudmu, Sahabatku! Kau membuat mereka ketakutan, hihihi" kata HIHIHI.
"Haha, baiklah Sahabatku," jawab makhluk itu menampakkan wujudnya kepada mereka.
Klek! Klek!
Seketika lantai labirin di depan mereka terbuka dengan rapi dan menyisahkan lubang berbentuk persegi panjang. Dari dalam lubang itu muncullah sesuatu begerak ke atas secara perlahan.
__ADS_1
"Selamat datang di tantangan pertama, semua!" sambut makhluk itu.
"Hah!" kaget mereka.
Memakai kacamata persegi, peci, sarung dan baju koko serba putih. Rambut yang tertata rapi, berpakaian sopan, bersih dan sikap yang santun, itulah gambaran makhluk yang berada di depan mereka. Makhluk itu berdiri tegak di atas lantai labirin berbentuk lingkaran tepat di tengah-tengah lubang tadi.
"Wah gantengnya!" ujar Manda lagsung jatuh tidak sadarkan diri.
"(-_-') dasar!" ujar Dina melihat Manda langsung pingsan melihat pemuda di depan mereka.
"Hahaha! Selamat datang semua, sudah lama tempat ini tidak kedatangan tamu," ujar makhluk itu tersenyum ramah.
"Hemm ...." Ibu Albert nampak berpikir sembari menaruh curiga pada makhluk di depannya.
"Oh, Sahabatku! sudah lama kita tak berjumpa, hihihihihi ...." ujar HIHIHI.
"Hahaha, ya, HIHI" balas makhluk itu kembali tersenyum manis.
"Hihihihi ... perkenalkan semua ini sahabatku, namanya ...." Kata HIHI memperkenalkan sahabatnya.
"Halim Anak Haji Abdulsalim Hajah Aisyah disingkat HAHAHA." ujarnya menjelaskan dengan singkat, padat dan jelas.
"Wah, lancar sekali ya," kaget Nadia.
"Ooo, anak Pak Haji to, pantas saja ...." Kata Gamma melihat makhluk itu dari atas sampai bawah.
"Heh, Kunti! Dia sahabatmu?" bisik Dina pada HIHI.
"Hihihihi ... iya," balas HIHI.
"Nah! jadilah seperti dia tuh, sopan ramah, perkenalannya pun baik. Tidak seperti kau yang ...." Kata Dina.
"Hihihihihi ... iih! Setiap makhluk itu punya ciri khas dan gayanya sendiri tau!" kesal HIHI.
"Pffft, iya-iya deh" balas Dina mendengus geli.
"Huuh!" HIHI mendengus kesal. "Ya sudah, sahabatku. Mulailah sekarang, hihihi" kata HIHIHI.
"Hahaha, baiklah langsung saja saya mulai," kata HAHAHA. "Peraturannya mudah, haha. Jawab pertanyaan yang ku berikan dengan waktu yang aku tentukan," jelas HAHAHA.
"Pertanyaan? jangan-jangan pertanyaan ini sulit," gumam Gamma.
Mendengar hal itu HIHIHI pun berbisik, "Hihihi ... tenang saja dia sahabatku, jadi biasanya pertanyaannya akan mudah-mudah."
"Benarkah? Hemm ... baiklah aku percaya padamu, Tante Kun" kata Dina.
"Hihihihi ... bisa nggak kamu jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi?" lirih HIHIHI.
"Hah! Apa!" sentak Dina membuat HIHIHI ketakutan.
"Ah, tidak-tidak" sangkal HIHIHI.
"Baiklah," kata HAHAHA memulai. "Suatu hari, haha, Budi membeli permen coklat di pasar seharga seribu rupiah, haha. Dia mempunyai uang dua ribu rupiah ...." HAHAHA memulai.
"Oh, gampanglah ini pasti pertanyaanya kembaliannya ya, kan?" gumam Dina menebak.
"Ini mah pertanyaan kacang, anak TK juga tau, pasti mau tanya berapa kembaliannya," batin Gamma.
"Hemm, sepertinya aku tahu ini arahnya mau kemana, tapi ... apa ngga terlalu mudah?" batin Nadia.
"Terlalu mudah, eh! tapi mungkin benar kata HIHIHI, karena dia sahabatnya jadi dimudahkan deh, wah senangnya," batin Rio lega.
"Jadi pertanyaannya ...."
"Udah jawabannya seribu, Bambang" batin Dina.
"Udah cepet ah, lama deh" batin Gamma tidak sabar.
"Hemm ... dua ribu dikurang seribu, ya kembaliannya seribu lah, itu jawabannya," batin Nadia yakin.
"Pertanyaannya ...."
"Cepet! Lama banget sih" batin Gamma sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menyelesaikan tantangan ini dan keluar dari sana.
"Kelamaan deh ini Unta Arab!" kata Dina.
"Pertanyaannya, hahaha ...." gantung HAHAHA. "Apa warna baju yang Budi kenakan saat itu?" sambungnya.
GUBRAK!
__ADS_1
"Haduh! Pertanyaan macam apa ini?!"
Bersambung ....