Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Go Gome


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Permisi sebentar!" ia langsung berlari menghindarkan diri.


Kakek San bingung, "Hah?"


 ----------------


Upacara pengingat janji suci itu telah terlaksana dengan sangat lancar. Putri Maple dan Trigo pun resmi dilantik menjadi raja dan ratu negeri Resyam yang baru. Kini semua orang tengah berkumpul ria di halaman istana menikmati pestadan hidangan yang tersedia. Para jiwa pahlawan pun berkumpul di sana. Termasuk trio H (HAHAHA, HIHIHI, dan HEHEHE). Para musuh? Hemm, entahlah sepertinya mereka sudah digiring ke ruang tahanan istana.


"Guys, katanya bentar lagi kita akan pulang," kata Fikram memberitahukan.


"Benarkah? Yaah, padahal aku masih betah di sini," kecewa Manda.


"Halah, yang nanges-nanges minta pulang gara-gara kangen gawainya sapa tuh," sindir Dina.


"Iih, itu kan waktu itu," kompak Manda dan Fikram.


"Hoi, kalian mau balik ke tempat asal kalian ya," sosok dengan raut wajah datar dan b ajah mendadak muncul di samping Rio, mengangetkan kelima sahabat ini.


"Astaga dedemit!" ucap mereka kompak.


"Dedemit bapak kau! Aku ini jiwa baik-baik," katanya yang tak lain adalah Kaisar Kegelapan.


Kelima sahabat ini mengelus tenguk mereka tidak enak.


GREP!


"NYOOOO! Nyo! Nyo, nyo-nyo-nyo, NYOOOO! (HUWAAA, sampai jumpa, Kaisar! Aku pasti akan merindukanmu, HUWAAA!)" makhluk kerdil berjubah ini berbondong-bondong memeluk Rio.


Rio yang kewalahan pun tersungkur ke tanah dan dikerubung makhluk yang kini sedang menangis. Rio tersenyum kikuk.


"Kalau kau mau tahu, artinya 'sampai jumpa, mereka pasti akan merindukanmu'," kata Kaisar Kegelapan tetap dengan ekspresi datar.


Ada jiwa pahlawan lagi yang muncul. Dina berbalik karena merasa ada yang menepuk bahunya. Pahlawan dan robot raksasa yang ternyata bisa berukuran layaknya ayam normal itu lah pelakunya.


"Sampai di rumah, lanjutkan geometri keselaran, ya Sobat," kata Profesor Giana.


Dina tersenyum yakin, "Siap, Prof."


"Di, lu tahu apa artinya?" tanya Manda kebingungan dengan perkataan Prof. Giana.


"Jujur, ngga sedikit pun," jawab Nadia.


"Huwaaaa! Kakak mau pulang ya, kok cepet banget sih Kak, Siera masih kangen," berlinang sudah air mata adik yang sempat durhaka kepada kakaknya ini, ia memeluk erat pinggang Fikram.


"Cup-cup adikku sayang, kakak juga masih kangen tapi mau bagaimana lagi, ini bukan dunia kakak," Fikram mencoba memberi penjelasan.


"Siera udah dong, Nak. Bener tuh kata kakakmu ini bukan dunianya," kata Marine. "Meski, Mamah juga tydak rela kau pergy anakkyu, hiks-hiks," Marine menenglukupkan wajahnya di dada bidang sang suami, menyembunyikan air matanya yang sudah menetes membasahi pipi mulusnya.


"Hehe, intinya kami akan sangat merindukanmu, Nak," kata Raja Finan cengengesan.


Fikram menggaruk tenguknya yang tak gatal, "Hihi aku juga pasti akan sangaaaaaat merindukan kalian. Cup-cup kalau kalian punya nomor handphone kita pasti bisa saling menghubungi setiap saat, jadi rindu kita akan sedikit terobati. Ah tapi say-" ucapan Fikram terpotong oleh Siera yang tiba-tiba mendongak dan menyela.


"Hen... hen... hendnon? Apa itu?" mereka kebingungan.


Prof.Giana menyahut, "Handphone, itu adalah teknologi terkemuka yang menggabung algoritma rumit sehingga jaringan global bis-"


Kaisar Kegelapan, Raja Finan dan keluarganya terlihat tidak mengerti apa yang dibicarakan Prof. Giana.


"Hish, itu loh benda kotak pipih yang bisa untuk berkomunikasi dengan orang lain meski jaraknya sangat jauh," kata Prof. Giana mempermudah bahasanya.


Mereka ber-oh-ria baru bisa memahaminya.


"Kenapa kau tidak membuatkannya untuk kami? Untuk negeri ini?" kata Kesatria Kegelapan datar.


"Ya, Profesor kau 'kan ilmuan terkenal se-negeri ini ayo buatkan kami benda seperti itu dong!" bujuk Siera. "Ya-ya buatin ya, please," lebih tepatnya maksa sih.


Prof. Giana panik, "Ti-tidak bisa, aku 'kan sudah tinggal jiwa."

__ADS_1


"Aih, kan ada Prof. Wikan, kau tinggal berkomunikasi dengannya atau bagaimana kek," ucap datar Kaisar Kegelapan.


"Profesor...," pupy eye Siera keluarkan.


"Waaaa! Jauhkan aku dari makhluk ini!" Profesor Giana langsung kabur.


"Aaaa! Profesor buatin!" rengek Siera terus mengejar Profesor Giana.


Semua tertawa melihat ulah Siera, kecuali Kaisar Kegelapan.


Netra Manda melihat Ibu Albert di sebelahnya, ia langsung girang, "Eh, Ibu Albert. Sebentar lagi kami akan pulang, awas nanti kangen loh," katanya.


"Kangen apaan, ntar juga kita ketemu lagi- ups!" Ibu Albert buru-buru membungkam mulutnya.


"Hah? Maksud Ibu Alb- eh!?" ia kebingungan namun tangannya sudah ditarik terlebih dahulu.


"Ayah, Ibu, kenalin ini Manda," Fikram meperkenalkan Manda pada keluarga barunya.


"Alga... Hehe, salam om tante," Manda sedikit membungkuk.


"Oh ini calon mantu Mamah ya, Nak" goda Marine, pipi Manda merona.


"Waduh Mamah kalo ngomong suka bener deh ahaha," ucap Raja Finan.


"Hihi, semoga aja, doa'in ya Bu, Ayah juga," ucap Fikram mengelus tenguknya sambil menampilkan cengiran kudanya.


Wajah Manda sekarang bebar-benar merah layaknya tomat yang sudah matang.


Sementara itu, langkah kaki beriringan mendekati Nadia dan kawan-kawannya.


"Adik kecil," Ratu Maple memeluk Nadia erat. "untuk kedua kalinya kau akan meninggalkan Kakakmu ini. Aku pasti akan menderita karena merindukanmu tahu,"


"Ya, pasti aku juga akan sangat merindukannya, Kak,"


Suara yang tak asing lagi bagi Putri Maple terdengar jelas di telinganya. Ia menilik si pemilik suara. Melepas pelukannya dengan Nadia.


"Kakak!"


Keduanya pun berhambur berpelukan, air mata tak dapat terbendung lagi.


"Kemarilah," Putri Maple menarik Nadia untuk turut serta berpelukan bersama.


"Ekhem, maaf semua. Tapi para Yang Terpilih harap bersiap-siap untuk acara kepulangan kalian," tutur Kakek San tiba-tiba datang.


Mereka semua pun segera menghentikkan acara peluk-berpelukan. Kelima sahabat ini pun harus pergi bersiap untuk kepulangan mereka. Yah, meski ini pasti berat untuk mereka, apalagi Ratu Maple dan keluarga Fikram, pasti mereka berat melepas orang tercinta yang baru saja mereka temui setelah lamanya berpisah.


"Kami pergi bersiap dulu semua," mereka membungkuk sopan, ya mengingat di depan mereka adalah tokoh dengan kedudukan tinggi yang perlu di beri salam hormat.


Mereka berbalik, melangkah perlahan menuju tempat bersiap.


"Selamat tinggal Negeri Resyam," ucap Fikram.


"Haah, aku akan merindukan negeri ini," kata Nadia tersenyum memandang langit.


"Sudahlah, ambil hikmahnya aja. Yuhu, rumah kami datang!" teriak Manda. "


Namun ....


KRETAK! KRETAK! BOOOOM!


Mendadak terdapat retak di mana-mana, disusul ledakan-ledakan dasyat dari dalam tanah.


"Apa ini? Ada apa? Apa si raksasa itu hidup lagi?" panik Fikram.


"Mustahil!" balas Dina.


GRRRRRRT!


"Rio!" Nadia histeris ketika melihat tanah yang ditapaki Rio mulai menjauh dari mereka.

__ADS_1


"Nadia!"


BOOM! BOOM!


SEEEER!


"Hah! Kenapa ini? Kenapa!"


"Waaaa!" seakan terbakar, Kakek San, Raja, Ratu negeri Resyam bahkan buku Resyana berserta isinya pun ikut melebur.


Tubuh para rakyat juga perlahan melebur menjadi debu dan terbang begitu saja. Langit dan tanah retak tak beraturan. Sangat kacau. Ledakan-ledakan yang tak jelas asal-usulnya terus saja terjadi, membuat negeri ini porak-poranda. Hanya beberapa tanah yang masih utuh.


BOOM! BOOM!


"Kita harus selamatkan Rio!" kata Nadia ingin berlari namun tercegah oleh tangan Dina.


"Tidak! Itu terlalu berbahaya, Di!"


Nadia tak tega. Sahabatnya itu jauh di sana, kini tubuhnya tak berdaya tergeletak di tanah yang retak tak beraturan. Darah mengalir di mana-mana. Melumuri tubuhnya yang bisa dibilang sempurna itu.


Nadia melirik ke arah Rio yang sayup-sayup lemah. "Aaah, tidak! Aku tidak bisa membiarkannya! Lepaskan aku!" Nadia memberontak berusaha melepas cekalan Dina.


BOOOM! BOOM!


"Jangan Di, ini terlalu berbahaya!" kata Dina mempererat cekalannya.


Rio menatap lemah.


"Biarkan aku ke sana, Din biarkan aku-"


ZWUNGGGS!


Tiba-tiba muncullah pusaran portal di dekat mereka, atensi mereka pun teralihkan. Melihat kesempatan itu, Nadia melepas cekalan erat Dina dan berlari ke arah Rio. Sadar Nadia telah melakukan hal nekat, mereka pun segera berlari menyusul Nadia.


"Nadia!" teriak Dina.


"Aku datang Rio, bertahanlah!" kata Nadia, namun tak lama netranya membulat sempurna.


SERRRR!


Rio nampak kebingungan, sudahlah ia lemas tak berdaya, kini tubuhnya perlahan melebur menjadi debu. Nadia tentu tak membiarkan hal itu, ia menambah kecepatan berlarinya.


"Riooo!"


SERRRR!


"Sedikit lagi, sedikit lagi!" batin Nadia, ia mengulurkan tangannya hendak menggapai Rio sebelum semuanya terlambat. "Sedikit lagi, aku akan sam-"


GREP!


"Nadia, itu berbahaya! Mustahil kau bisa ke sana!" Dina mencekal tangan Nadia lagi.


"Nadia itu berbahaya untukmu," kata Manda pelan.


"Aku tidak peduli! Lepaskan aku! Rio sedang butuh bantuan kita!"


"Tapi Di..."


"LEPASKAN!" Nadia menepis cekalan itu dan langsung berbalik pada tujuan awalnya. "RIO!"


SERRR! BOOM!


"Tidak! RIOOO!" Mata gadis berambut hitam legam itu membulat sempurna.


CLINGGG!


Bersambung ....


Oh ya, Reader yang baik hati. Sampai sini ada pertanyaan mengenai cerita Author? Kalau ada langsung tulis di komen ya.

__ADS_1


__ADS_2