
EPISODE SEBELUMNYA
Gamma melihat ke bawah. "Ups," ia perlahan menurunkan badannya seraya memasang cengiran kuda.
----------------
"Bagaimana keadaannya, Ibu Albert?" tanya Manda.
"Dia tidak papa. Untunglah buah yang dikonsumsi sedikit jadi alerginya tidak terlalu parah. Aku juga sudah memberinya ramuan herbal untuk penawar, jadi kita tinggal tunggu dia siuman," jelas Ibu Albert.
Nadia, Rio dan Manda bernapas lega. Dapat terlihat Dina masih terbaring, tidak sadarkan diri di sebuah ranjang berbahan kayu asli.
"Dina tidak akan seperti ini kalau bukan sebab kau!" mendadak Manda memaki Gamma.
"Hey, kenapa kau salahkan aku. Aku mana tahu dia alergi buah alpukat." Melipat tangannya. "Lagipula aku hanya mengkhawatirkannya karena tidak mau sarapan, itu saja kok."
Mendengar ada kata yang menggelitik, Rio menyahut, "Ooo, jadi kau menghawatirkan Dina, ya... ekhem-ekhem," ejeknya.
Mendengar itu, Gamma salah tingkah. "Eh, a-apa yang kau bicarakan, dasar Krucil."
"Uuu, ada yang menghawatirkan Dina," kata Manda ikut mengejek.
"Dina masih jomblo loh, belum punya pelabuhan, pas tuh," kata Nadia ikut-ikutan.
"Nadi kau juga," Gamma menatap datar mereka.
"Ibu Albert bukankah kau perlu seorang menantu," kata Manda tiba-tiba.
Gamma tertohok, "Hei, apa-apaan kalian. Yang akan menjadi menantu ibu hanya Nadi seorang. Lagipula Ibu juga tidak mau punya menantu penyihir seperti dia." kata Gamma.
"Hey, jangan bilang begitu nanti cinta mati lo, wkwkwk" ejek Rio lagi.
"Krucil, diam kau!" geramnya.
"Hemm, kalau dilihat-lihat dia baik juga, kok. Lumayan, punya menantu anak yang mewarisi kekuatan Prof. Giana, haha" kata Ibu Albert.
"Ibu iih," rengek Gamma.
Suara gelak tawa pun memenuhi ruangan. Sedangkan Gamma melengos karena diejek.
"Eh, Ibu Albert. Kita sudah selesai sarapan loh," ucap Nadia di ujung gelak tawanya.
"Ya, terus?"
"Apa kau tidak ingat sesuatu," timpal Manda.
Ibu Albert mengerutkan dahinya.
"Penjelasan!" kompak mereka berempat mengingatkan.
Ibu Albert terlonjak kaget.
"Ya-ya, Tapi temanmu yang laki-laki itu tidak ada jad-"
"Fikram? Ah, dia bisa kami ceritakan nanti, sekarang berikan janjimu," kata Rio.
"Cis!" batin sebal Ibu Albert. "T-tapi dia belum pulih dia butuh obat-"
"Oh Ayolah kau hanya mengulur waktu kan?" mereka menatap Ibu Albert dengan berkacak pinggang.
Ibu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ya-ya, apalah dayaku. Kalian sangat pemaksa."
"Nah begitu dong," Mereka memasang telinga mereka lebar-lebar siap untuk mendengar cerita.
Suasana mendadak berubah serius.
"Dengarkan aku baik-baik." Ibu Albert menarik napas panjang lalu menghembuskannya.
"Fikram. Dia adalah anak sulung dari Raj-"
Baru beberapa kata yang terlontar, tiba-tiba dari tas Ibu Albert mengeluarkan cahaya.
"Eh, ada cahaya" kata Manda.
__ADS_1
"Itu mungkin Buku Resyana," tebak Nadia.
Ibu Albert membuka tasnya dan mengeluarkan benda yang menjadi sumber keluarnya cahaya itu. Benar saja, itu Buku Resyana. Tanpa basa-basi Ibu Albert langsung membuka buku tersebut.
...**THE BOOK **...
...Pewaris yang hilang t'lah ditemukan...
...** Buat ia mengorbankan**...
...**Satu tetes darah ditumpahkan **...
...**Mengembalikkan keseimbangan **...
"Apa itu maksudnya?" bingung Manda.
"Aku rasa maksudnya, teman kalian itu." kata Ibu Albert.
"Siapa? Fikram?" kata Rio.
"Ya, dia. Buat dia meneteskan darahnya ke air danau."
"Untuk apa?" tanya Manda lagi.
"Tidak udah banyak bertanya. Cepat, di mana teman kalian itu," kata Ibu Albert.
"Emm, aku tidak tahu. Saat aku bangun aku tidak melihatnya ada di gubuk," kata Rio.
"Ya aku juga," sahut Gamma.
"Hemm, aku juga belum melihat Rainny dari tadi," kata Manda.
"Apa mereka pergi bersama?" kata Nadia.
Mendengar kata 'bersama' Manda menatap Nadia.
Mendadak, Nadia menjadi gugup. "Haha, tidak mungkin mereka pergi bersama. Ah aku ini ada-ada saja," ujarnya tertawa kikuk.
"Ya sudah ayo kita cari, mungkin setelah ini ada petunjuk tentang batu kristal elemen selanjutnya," usul Ibu Albert.
"Kenapa harus aku, Bu."
"Kau harus bertanggung jawab, yang membuat dia seperti itu kan kau. Oh, dan carikan dia buah beri hutan juga. Kau sangat mengkhawatirkannya karena belum sarapan, kan?" singgung Ibu Albert, membuat pipi Gamma bersemu. "Petik secukupnya. Ingat, buah berinya bisa di makan, jangan yang beracun." Jelasnya lalu berlalu pergi meninggalkan Gamma.
Gamma mendengus kesal, "iya-iya aku tahu."
----------------
~Sementara itu~
"TIDAK!"
JLEB! CRUT!
Teriakan itu, suara itu, bayang-bayang ketika Fikram pertama kalinya menghabisi seseorang yang bahkan adalah keluarga kandungnya sendiri. Bayang-bayang ketika darah ibu dan adik terciprat di wajah dan tangannya. Fikram melamun, memandangi batu kristal di depan danau.
"Kristal, kristal ini ... dia yang jadi penyebab terjadinya semua ini. Kenapa kejadian itu harus terjadi padaku, kenapa!" batin Fikram, bendungan air matanya pun jebol, membanjiri area pipinya.
"DASAR KRISTAL TERKUTUK!" Ia bangkit, hendak melempar jauh kristal itu untuk menjauh dari hadapannya.
Beruntunglah seseorang berhasil menghentikan aksi gilanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya sosok itu.
Fikram menepis tangan sosok tersebut lalu kembali duduk.
"Pergilah. Aku ingin sendirian," usirnya.
"Kalau aku pergi kau pasti akan membuang kristal itu. Daripada kau membuangnya begitu, lebih baik kristal itu aku ambil," ujar sosok yang tak lain tak bukan adalah Rainny.
"Jadi kau juga menginginkan kristal ini!" Fikram meninggikan nada bicaranya.
"Eh-eh, kenapa kau marah begitu. Apapun yang kau pikirkan, jangan salah paham padaku. Ya siapa sih yang tidak mau kristal cantik itu pasti akan mahal kalau dijual."
__ADS_1
"Hemmh, cantik tapi penuh kekuatan terkutuk. Kalau bukan karena kau dan dia aku tidak akan mengalami kejadian yang tragis itu. Ini ambil saja." Ia membuang wajahnya ke arah lain.
Dengan mudahnya Fikram menyerahkan kristal itu pada Rainny.
"Dia menyerahkannya padaku? Ckck," batin Rainny. "Ya kau juga yang salah. Aku tidak pernah tuh diseret-seret seseorang. Kalian saja yang salah lihat, main nyalahin orang," perlahan ia mulai mengambil kristal yang Fikram sodorkan.
"HEY KAU!"
Suara keras membuat Rainy tidak jadi mengambil kristal itu. Mereka menoleh, terlihat Ibu Albert serta tiga orang yah kalian tahu kan menghampiri mereka.
"Sudah kuduga, ibu tua ini lagi," batin Rainny.
"Sedang apa kalian di sini?" Manik matanya beralih pada benda yang di sodorkan Fikram. "Heh, tarik kembali tanganmu itu. Itu bukan benda sembarangan!" tegurnya.
"Ini," memperlihatkan kristal. "Hemh, bagiku ini benda terkutuk," kata Fikram dengan entengnya.
"Hey jaga bicaramu!" kata Ibu Albert.
"Ini untuk kau saja Rainy, aku malas melihatnya," kembali menyodorkan benda itu.
"Jangan berani-berani kau! Kalau tidak ada itu, kau dan teman-temanmu tidak akan bisa pulang, tahu!"
"Terserah," malas Fikram.
"Anak ini!"
"Fikram sedang apa kau di sini, bukankah kau harus istirahat. Lukamu belum sepenuhnya pulih," kata Manda lembut.
"Tidak apa, Manda. Aku hanya menenangkan diri saja," jawab Fikram bernada dingin.
"Hmm, cara bicaranya padaku... berubah," batin Manda sedikit kecewa.
"Ada apa kalian ke sini? Aku sudah sarapan tidak perlu menyuruhku sarapan lagi. Oh, atau kalian mencari Rainny, ya?" tebak Fikram.
"Siapa juga yang mau menanyaimu sarapan." Kata Rio berlanjut membatin, "kan aku yang memberimu sarapan tadi."
"Kami ke sini mencarimu karena sesuatu hal." kata Ibu Albert.
Fikram mendengarkan. Ibu Albert pun bergerak ia menarik tangan Fikram hingga menjulur di atas bibir danau.
"Putri Nadi, berikan belatimu," pinta Ibu Albert.
Merasa dipanggil, Nadia menurut. Ia mengeluarkan belati dari sakunya lalu menyerahkan pada Ibu Albert.
"Namaku Nadia bukan Putri Nadi."
"Ah sama saja," kata Ibu Albert.
Fikram gelagapan ketika Ibu Albert mendekatkan belati itu ke tangannya yang di sodorkan ke arah danau.
"Heh-Heh. Kau mau apa dengan itu!?"
"Oh, maaf. Ini teteskan darahmu ke air danau ini," katanya menyodorkan belati Nadia.
"Untuk apa? Tidak ah, aku tid-"
"Lakukan atau aku yang melakukannya. Sudah lama ke ahlian menyembelihku tidakku gunakan, loh" ancam Ibu Albert.
Fikram langsung merinding, "B-baiklah."
Iapun mengantongi kristal itu dan mengambil belati Nadia. Fikram menggesekkan belati di luka telapak tangannya yang mengering. Supaya tidak meninggalkan bekas luka baru di tempat lain, haha.
TES!
Darah mengalir dari telapak tangan Fikram. Fikram memang sedikit meringis kesakitan namun\, **luka itu bukanlah apa-apa ketimbang luka di hatinya. **
(ASEK!)
Satu tetes cairan merah mendarat di air danau.
TES!
Seketika ....
__ADS_1
Bersambung ....