
EPISODE SEBELUMNYA
"Emm..Fikram!" ujar Manda ingin menghentikan tetapi terlanjur Fikram sudah berlari menuju danau.
"Stop!!" ucap Ibu Albert menghadang Fikram.
Langkah Fikram terhenti, "Kau mencuri hatiku-hatiku" ucapnya bersenandung. "Haha" lanjutnya.
\~krik...krik...krik\~
"Bisakah kau serius!" kata Ibu Albert.
"Hehe, iya-iya" Fikram terkekeh.
"Kau tidak boleh kesana!" larang Ibu Albert.
"Kenapa? ada yang perlu bantuan kita, kita harus membantunya." balas Fikram.
"Tidak! dia hanyalah orang asing!" ucap Ibu Albert.
"Walaupun dia orang asing, tapi dia perlu bantuan, dan aku harus menyelamatkannya!" Fikram tetap pada keputusannya.
"Tidak! ibu bilang tidak ya tidak!" ucap Ibu Albert meninggi.
"Wowowow, tenang-tenang" sela Dina melerai. "Baiklah-baiklah, kalaupun kau bisa kesana, lalu bagaimana dengan kami?" lanjutnya.
"Memangnya kenapa dengan kalian?" ucap Fikram berbalik bertanya.
"Aduh! gimana ya?" ujar Dina bingung bagaimana ia menjelaskannya pada Fikram. "Aha! Rio kemari!" panggil Dina.
"Hah!?" Rio terkejut karena mendadak Dina memanggilnya.
Gamma melipat tangan ke dalam
"Lu dipanggil tuh, krucil" ucapnya menyebut Rio 'krucil'.
"Siapa yang lu bilang krucil?!" tanya Rio sedikit kesal.
"Lu lah, siapa lagi" ujar Gamma memalingkan wajahnya.
"Gue bukan krucil!" balas Rio tak terima dirinya disebut 'krucil'.
"Hemh, dasar krucil" ujar Gamma lagi.
"Haduh!! kenapa coba gua dipanggil 'krucil', hah? coba jelaskan!" kata Rio melipat tangannya ke dalam.
"Haha! lu bilang kenapa? coba lihat deh, lu itu lebih pendek dari gue!" ejek Gamma. "Jadi wajar-wajar aja gue panggil lu krucil, haha" lanjutnya.
"Pendek kata mu?" balas Rio.
"Iya" jawab Gamma percaya diri.
\~krik...krik..krik\~
"Lu sadar ngga sih?!" kata Rio.
"Sadar apa?" tanya Gamma.
"Tinggi kita itu sama tau!!" ujar Rio ngegas.
"Ah, masa?" ujar Gamma menaikkan salah satu alisnya.
"Emang iya!" kata Rio.
"Ok, baiklah..sekarang aku tanya, berapa tinggimu terakhir kali kamu ngukur?" tanya Gamma.
"Emmm..terakhir kali..aku 165 cm" kata Rio berpikir, namun ia terkejut melihat tingkah laku Gamma di depannya, "eh!?"
"Hemm..hemm" Gamma manggut-manggut. Rupanya Gamma sedang mengukur tinggi Rio menggunakan meteran, entah dari mana dan sejak kapan meteran itu ada di tangan Gamma.
"Ckckckc.." Gamma menggeleng-gelengkan kepalanya menyudahi perbuatannya itu.
"Kenapa?" tanya Rio sedikit penasaran.
"Hemmh..sejak kapan Nadiku mempunyai selera cowo seperti dirimu...ckckck" ucap Gamma meremehkan Rio.
"Memangnya kenapa?" tanyanya lagi.
"Kau tau tinggimu berapa?" Gamma berbalik bertanya.
"Tentu aku tau." ucap Rio.
__ADS_1
"Berapa?"
"165cm" kata Rio.
"Salah!!!" sahut Gamma keras.
Rio agak terkejut.
"Nih, ini tinggimu!!" ujar Gamma menunjukan angka meteran yang sudah ia tandai sebagai tinggi Rio.
"Emmm..."
"Sudah liat kan?"
"Terus?"
"Tinggimu itu bukan 165!!" keras Gamma.
"Memang berapa?" ucap Rio balik bertanya.
"Mata kau kemana, bambank!! nih liat, tinggi kau 170 cm dari permukaan air laut!!" kata Gamma keras.
"Ya gue juga tau kali!!! ngga usah ngegas!!" balas Rio.
"Huuh" Gamma berhenti ngegas dan berganti jadi dengusan kekesalan.
"Dah terbukti, kan? gue ini tinggi!! jadi please, jangan sebut gue dengan panggilan itu lagi," ucap Rio.
"Hemmh, tinggi apaan..itu bahkan bukan apa-apa dibanding tinggiku" ucap Gamma terkekeh .
"Dasar sombong!!! memang berapa tinggimu?!" kata Rio marah.
"Tinggiku adalah..."
"Huh! aku yakin tingginya sama denganku" batin Rio.
"Tinggi gua adalah..." ucap Gamma. "1,7meter." lanjutnya.
Gubrakk!!!
"Haduh, ternyata emang lebih tinggi dari gua" kata Rio percaya begitu saja.
"Hemm..iya-iya, gue akuin elu emang jauh lebih tinggi dari gua" kata Rio tanpa memperhitungkan kebenarannya dulu.
"Heh!! cepetan!!! malah ngobrol, kalean!!" teriak Dina.
"Dah sono! lu dipanggil tuh" kata Gamma penuh kemenangan.
"Hemm...iya-iya!!" kata Rio memenuhi panggilan Dina.
Rio pun mulai menghampiri Dina, namun ditengah-tengah Rio berpikir, "Tunggu-tunggu, 1,7 meter?" Rio berpikir dan berbalik. "Eh! itu mah sama aja, bambank!!!!" kata Rio tersadar.
"Iih, udah cepet!!" Dina langsung menarik tangan Rio.
"Eeh?! Din, bentar Din" Rio tertarik.
"Haha, dadah" kata Gamma melambai.
"Lu juga, slow" kata Dina yang menarik tangan Gamma juga.
"Eeh! kenapa gue juga ngikut?!" Gamma tertarik.
"Dah sono tunjukin!" perintah Dina mendorong Gamma dan Rio.
"Hemmh iya-iya, ngga gitu juga kali" kata mereka kompak.
"Ciee..kompak" ejek Dina.
"Dih, kompak ama dia.." kompak mereka. "Ngga sudi!!" kompak mereka lagi.
"Nah itu, hahaš¤£" gelak Dina
"Iih.." kesal Rio dan Gamma berbarengan.
"Udahlah! dah cepet lu duluan, krucil" kata Gamma melipat tangannya.
"Krucil lagi," kata Rio pasrah.
"Dah cepet sono!!!" Gamma mendorong Rio ke arah Danau.
Tentu tubuh Rio tersungkur ke arah danau.
__ADS_1
"Eeh! sabar dong!" kata Rio terdorong.
"Nah! kan lu udah liat" kata Dina pada Fikram.
"Liat apaan?!" kata Fikram tak paham.
"Lah itu..hah!?" kaget Dina.
Dina pun menghampiri Rio.
"G..g..gimana bisa?" kata Dina di samping Rio.
"Apa?" tanya Rio.
"Itu" Dina menunjuk ke arah bawah kaki Rio.
"Hah!?" Rio menghadapkan wajahnya ke bawah.
"B...b..bagaimana bisa?" kata Rio heran.
Ternyata air danau yang ia tapaki tidak lagi menjauh seperti pada waktu itu.
"Jadi apa yang harus aku lihat?" kata Fikram.
"K..kemarin air ini..air ini-" kata Dina terpotong.
"Ah, sudahlah..aku tidak mau membuang waktu lagi, Rainy membutuhkan bantuanku" ucap Fikram.
"Hah? bagaimana ini bisa terjadi?" heran Rio dan Dina.
Settt..
Fikram langsung berlari melewati Dina dan Rio.
"Eh!?" kaget mereka.
Byurrr..
Fikram langsung masuk ke dalam danau untuk membantu Rainy. Dengan masuknya Fikram ke dalam danau Manda pun bergegas menyusul Fikram.
"Eeh! mau kemana kau?" ujar Dina mencegat Manda.
"Mau menyusulnya dia lah, apalagi?" kata Manda.
Manda pun melangkahkan kakinya untuk menyusul Fikram.
"Tunggu! memang kau bisa berenang?" tanya Dina mencegat Manda lagi.
"Ya, bisalah, Din" balas Manda terhenti.
Ia melangkahkan kakinya lagi, namun berhasil dicegat kembali, tapi kini giliran Ibu Albert yang mencegatnya.
"Ini, makan ini dulu." kata Ibu Albert memberikan sehelai daun khusus pada Manda dan lainnya.
"Apa ini?" tanya Nadia.
"Itu adalah daun khusus agar kita bisa bernafas di dalam air," ucap Ibu Albert.
"Kenapa kita harus memakannya?" tanya Manda lagi.
"Ya, siapa tau..kita harus berada lebih lama di dalam air" kata Ibu Albert lagi. "Sudah cepat makan, kita tidak mungkin membiarkannya sendiri, di bawah sana terlalu berbahaya untuknya" kata Ibu Albert.
Mereka hanya mengangguk dan memakan daun itu sesuai perintah dari Ibu Albert.
"Sudah ayo cepat!!" komando Ibu Albert yang lansung berlari menuju danau.
Satu persatu dari mereka mulai berlari menyusul Ibu Albert.
"Tunggu bukankah Fikram tidak memakan daun ini?" ucap Manda yang ternyata belum memakan daun di tangannya itu.
"Sudahlah, Manda. Makan dan jangan memikirkan Fikram, dia kan memang sudah terbiasa menahan nafas lama di dalam air," ucap Nadia segera menarik tangan Manda untuk menariknya menyusul teman-teman mereka.
Manda yang tertarik pun segera memakan daun itu dan menyusul mereka.
Byurrr...
Akhirnya mereka masuk ke dalam danau untuk menyusul Fikram.
"Kebenaran akan segera terungkap." ucap seseorang dari balik pohon yang ternyata memerhatikan mereka sedari tadi.
Bersambung...
__ADS_1