Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Pembebasan Manda


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Mmmmm!"


____________


~Menuju penjara~


Manda terus diseret Fikram. Kebetulan, Gamma dan Nadia melihat mereka melintas dari jarak yang cukup jauh.


"Eh, itu siapa?" Gamma menyipitkan matanya.


"Mmmm!" Manda memberontak melihat Nadia dan Gamma. Ia seakan memberi kode bahwa itu adalah dirinya, Manda.


"Eh, itu seperti Manda," tebak Nadia memerhatikan seorang yang sedang diseret itu. "Jangan-jangan bener lagi, itu Manda! Ayo samperin!" Ia meyakini tebakannya itu benar.


Tidak mau kehilangan jejak, Nadia langsung berlari menyusul mereka.


"Heh, tunggu!" pekik Gamma tertinggal.


"Kau panggil Ibu Albert dan yang lainnya saja!" teriak Nadia dari kejauhan.


Gamma hanya bisa memandang punggung Nadia yang menghilang perlahan dan menuruti arahan darinya.


\~\~\~\~\~\~\~\~


"Mmmmm!"


Fikram sampai di penjara.


"Heh! Cepat masuk sana!" Fikram melempar Manda kasar.


BUHG!


Fikram mengunci penjara itu.


"Hemm, sepertinya kau tidak bisa di penjara biasa seperti ini," Fikram menjeda perkataannya, Manda hanya memerhatikan. "itu terlalu menyenangkan untukmu!" Fikram mendekatkan wajah menyeramkannya ke arah Manda yang nampak gemetaran.


Dug!


Fikram menghentakkan kakinya. Seketika air menjalar di bawah kakinya dan menuju Manda yang terikat. Air itu meninggi dan mengeras hingga membentuk sebuah balok tegak yang mengurung Manda.


"Hemm, masih kurang. Kau tahu apa, Mandaku?"


"Mmmm!" Manda menggeleng kuat.


"Ah, aku baru ingat. Mandaku suka sekali mandi, kau suka air 'kan ya? Hemm, kalau begitu akan aku beri kesukaanmu!"


Dug!


Fikram kembali menghentakkan kakinya di lantai penjara. Lagi-lagi air menjalar, dari bawah lantai balok itu muncullah air setinggi mata kaki Manda.


"Tenang saja, air itu tidak akan habis, malah dia akan terus naik," ucap Fikram. "nah, nanti kau akan dapat air yang banyak, Mandaku."


Mendengar hal itu, Manda sudah terpikir apa yang akan Fikram lakukan padanya.


"Mmmm!" Manda memberontak, berusaha melonggarkan ikatan tali tersebut dan keluar dari balok itu secepatnya


Fikram pergi meninggalkan Manda begitu saja.


"Mmmm!" pekik Manda berusaha memanggil Fikram.


Namun, Fikram sudah pergi dan menghilang membiarkannya di penjara sendirian.


"Fikram, kenapa jadi begini?" batin Manda menangis.


Air itu semakin naik sangat cepat. Tak terasa, air itu sudah sampai di pinggang Manda.


"Mmm!" Manda semakin panik melihat air itu semakin memenuhi balok.


"Pst! Pst!"


Tiba-tiba Manda mendengar ada suara berbisik dari salah satu sudut penjara. Lantas dia kebingungan, iapun menoleh ke arah datangnya suara.


"Manda, itu kau?"

__ADS_1


\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Tap ... tap ....


"Kau sudah selesai, Finn?" tanya Marine melihat Fikram datang.


"Iya, Bu sudah" jawabnya.


"Mari kita lakukan sekarang juga."


"Hah? Bagaimana kita melakukannya? Bukankah tadi, debu itu ...."


"Maksudmu debu ini?" Marine menunjukan botol berisi debu emas yang masih utuh, tidak terdapat goresan sedikitpun.


"Hah! Bagaimana... bagaimana...."


"Sudah, simpan pertanyaanmu untuk nanti. Sekarang kita lakukan dulu, lebih cepat lebih baik" Marine melangkah pergi.


"Baiklah, Bu" Fikram mengekori ibunya dari arah belakang.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


PRANK! BYUR!


"Fiuh, tebal juga ini kaca." Nadia mengelap peluh yang membasahi keningnya.


Semua air keluar dari sisi dinding balok yang pecah. Manda pun dibantu keluar oleh Nadia.


Nadia mendekati Manda. "Waduh, tali macam apa ini! Coba bisa ngga ya?" Nadia ragu melihat tali dan plester Nadia terbuat dari air.


Ia mencoba memotong tali itu beberapa kali. Namun, sedari tadi tali itu tidak mau putus. Pisaunya hanya bisa menembus tali tersebut tanpa memutusnya.


Drap ... drap ....


Terlihat Ibu Albert berserta yang lain berhasil menyusul Nadia sesuai perintahnya.


"Manda kau," heran Dina melihat Manda dari ujung hingga ujung.


"Hey, tali ini tidak bisa kupotong" Nadia bangkit dan mengembalikan belatinya ke tempat semula.


Ibu Albert mendekat ke arah Manda untuk melihat. "Hemm, ini sih ...." Ia tampak berpikir.


Yang lain tampak antusias menanti.


"Bawa saja dia dulu, nanti kita cari cara melepaskan dia," kata Ibu Albert bangkit.


GUBRAK!


"Haduh, siapa yang akan membawanya?" tanya Gamma.


"Kalian lah!" Jawab ketus Ibu Albert.


"Ya, sudah aku saja," Dina melangkah perlahan ke depan, menawarkan diri.


"Eit!" Gamma mencegah dengan tangannya di depan Dina. "Kau sedang masa pemulihan nanti saja kalau sudah sembuh sepenuhnya," kata Gamma terlihat cemas.


Blush!


"Apa dia menghawatirkanku?" batin Dina.


"Ya sudah aku saja," giliran Nadia menawarkan diri.


"Ah, tidak-tidak. Ini tugas para lelaki. Angkut!" titah Ibu Albert dengan mudahnya.


"Hemm, baiklah" Rio berangkat menuruti perintah Ibu Albert. "Woy! Bantuin napa!" tegurnya pada Gamma.


Gamma melirik, "Ngga bisa sendiri, Mas."


"Ya elah! Lu laki-laki, kan? Bantuin!"


"Ih, saya mah laki-laki sejati dong" Gamma bergaya-gaya ngondek.


"Iih, cepetan ah! Geli gue liat lu begitu,"


"Haha, iya-iya" Gamma kembali normal lalu membantu Rio mengangkat Manda.

__ADS_1


"Giliran begini aja laki-laki!" gerutu Gamma.


"Dah terima aja," balas Ibu Albert dengan santainya.


Tiba-tiba suatu sinar terang muncul dari tas Ibu Albert.


"Eh, itu!" Dina melihat tas Ibu Albert bercahaya.


"Loh, apa yang bercahaya? Jangan-jangan buku Resyana!" tebak Nadia.


"Hemm, coba saya buka," Ibu Albert membuka tas selempangnya.


\~\~\~\~\~\~\~\~


~Mengaduk~


Marine mengaduk sesuatu cairan berwarna hijau di gelas lalu menyodorkan ke arah Fikram.


"Ini, minumlah."


"Apa ini?" Fikram kebingungan.


"Sudah minum saja. Setelah itu duduk diam disini." titahnya pada Fikram yang memang sudah duduk di sebuah kursi kayu biasa bin sederhana.


Glek! Glek!


Fikram menegak habis cairan itu.


Marine menghadapkan dirinya ke sebuah teras istana, memandang sebuah perairan panjang nan cukup luas di depannya. Dia memegang buku tua yang sudah terbuka seraya mengangkat tangan kanan. Ia tampak berkomat-kamit melafalkan kalimat yang tidak dapat didengar dan dijelaskan oleh Aut.


Dari arah perairan datang empat gumpalan air yang terbang menuju Fikram. Tentu Fikram bingung dengan apa yang terjadi. Empat gumpalan itu memposisikan dirinya pada kedua tangan dan kaki Fikram, lalu berubah menjadi semacam pengikat yang mengikatnya di kursi tersebut.


"Hah! Apa-apaan ini!" Fikram panik melihat dua tangan dan kakinya telah dirantai oleh gumpalan tadi.


"Tenang, Finn. Kau akan baik-baik saja, tenanglah" Marine menenangkan.


Fikram pun menurut dan kembali tenang, meski ia merasa gelisah di lubuk hatinya.


"BIARLAH DIA MENGINGAT," Marine mengucapkan kalimat itu dengan lantangnya.


Mendadak kepala Fikram terasa sakit setelah diucapkannya kalimat tersebut. Iapun mengerang kesakitan.


"SEGALA YANG TERJADI DI MASA LALU."


Sakit di kepala Fikram semakin bertambah dan menjadi-jadi.


"Agh!"


"KELUARKAN KEKUATAN TERPENDAM."


"Agh!"


Fikram tidak bisa lagi menahan sakit kepalanya yang terus-terusan bertambah.


"BANGKITLAH! MUNCULKAN KEKUATAN YANG-"


"Berhenti!"


Mendadak suara keras nan tegas memotong kalimat yang diucapkan Marine. Ia menengok ke arah belakang, melihat si pemilik suara tersebut.


"Kalian!"


"Kenapa? terkejut?" sinis Dina yang masih memegangi luka di pinggangnya.


Marine tampak kesal. "Mau apa kalian kemari!" tanyanya ketus.


"Untuk membuktikan, kalau kau yang sepatutnya dihukum!" jawab Nadia.


"Dihukum?" Marine terkekeh sinis. "Dihukum untuk apa?" Marine pura-pura tidak mengetahui maksud dari gadis di depannya itu.


"Halah! Berlagak tidak tahu!" balas Dina yang masih memegangi lukanya di area pinggang.


"Dasar pembohong! kami punya buktinya!" yakin Nadia. Dia mengambil buku Resyana dan membukanya. "Ini, Lihat dan amati baik-baik!" menunjukannya pada Marine.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2