Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Pencurian


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Hemmh, ada-ada saja." Mereka tersenyum kemudian terlelap mengunjungi alam mimpi.


----------------


"IBU ALBERT!"


Suara memekik menggelegar di seluruh antero bab ini. Yap, suara 'indah' Manda sudah membangunkan seluruh makhluk di hutan sepagi ini. Masalah apalagi kalau bukan Ibu Albert yang terlalu susah untuk diajak kerja sama, meminta penjelasan. Entah apa yang ia sembunyikan, ia seperti mengulur-ulur waktu untuk menjelaskan. Atau memang ini authornya yang tidak tahu mau bagaimana menjabarkan kehaluan, haha.


Ibu Albert sudah ditagih-tagih lagi bak seseorang yang telat membayar hutang pada rentenir. Manda, Nadia, dan Dina mereka mendesak Ibu Albert untuk menuntaskan rasa penasaran mereka terhadap jati diri Fikram sebenarnya.


"Ayolah, Ibu Albert," rengek Nadia.


"Tolonglah, Ibu Albert. Mau sampai kapan kau akan seperti ini?" Manda juga merengek.


"Ini orang tua susah banget sih," timpal ketus Dina.


"Heh, jaga bicaramu! Restumu ada ditanganku kau tahu," ancam Ibu Albert.


Sementara Dina kebingungan dengan arah pembicaraan Ibu Albert.


"Ada apa ini pagi-pagi sudah berisik!"


Muncul.


Two boys are coming!


Dua orang pemuda yang sekarang masih berstatus pesaing untuk mendapatkan hati cinta mereka. Rio dan Gamma muncul bersamaan dengan masing-masing dari mereka tetap mempertahankannya.


"Ck, biasa ini Ibu Albert," kata Manda jengah.


"Emang," Dina menimpali.


Mendadak netra Gamma tertuju pada Dina yang sudah sehat bugar setelah kejadian kemarin. "Hey, kau sudah sembuh?" tanyanya pada Dina.


Dina menoleh ke arah Gamma. "Ya, aku sehat. Kenapa?" ada rasa senang menerpa hati Dina saat di tanya seperti itu oleh Gamma.


"Baguslah. Setidaknya kau tidak akan merepotkanku lagi."


GUBRAKKK!


"Dasar!" geram. "Yang buat aku begitu, kan kamu juga, Payah!" bergumam.


Sementara di sisi lain. Ada yang sedang curi-curi pandang karena kejadian bab kemarin. Betul! Nadia. Saat ini di hatinya masih ada yang mengganjal. Apakah Rio mempercayainya atau tidak, sebagai Nadia yang sebenarnya.


"Dengar, aku mau-mau saja menjelaskan. Tapi keadaan temanmu saat ini belum stabil. Dirinya masih terlihat trauma dan kaget, kalian tahu. Kalau dia dengar aku takut dia-"


"Kau takut aku kenapa, Ibu Albert!?"


Ketahuan!


Fikram keluar dari gubuk langsung memotong perkataan Ibu Albert karena merasa dirinya sedang dibicarakan. Sekarang perhatian mereka semua tertuju pada Fikram.


"Kenapa, hah? Apa yang sedang kau sembunyikan sebenarnya?" tanya Fikram intens.


Ibu Albert tidak menjawab.


"Ya, apa yang sedang kau sembunyikan sebenarnya?" tanya Dina.


"Kalian ini …," ia memijit pelipisnya. "apa kalian tidak paham bahasa, aku takut cerita ini malah membuat dia-" lagi-lagi ucapannya terpotong.


Hayo, kali ini dipotong siapa? Penasaran ngga? Penasaran ngga? Ngga ya, ya udah … haha.


"Kalian! Hah, hah!" seorang yang tiba-tiba saja datang dengan berlari, kini tengah mengatur napasnya untuk berbicara lebih lanjut.


"Rainny, kau … kau kenapa berlarian seperti itu?" tanya Fikram.


"Hah, hah… begini… hah. Aku melihat seseorang dengan gelagat mencurigakan berlari ke arah hutan." Ia menunjuk ke arah hutan.


"Lalu?" Ibu Albert tampak tidak mengerti maksud si gadis.

__ADS_1


"Apa kalian merasa ada kehilangan sesuatu? Tadi aku melihatnya seperti membawa sesuatu, emm… tampak seperti buku tua dan kuno." lanjut Rainy.


"Hemm, buku kuno? Apakah buku Resyana?" tebak Nadia.


"Sembarangan!" ia menilik tas kulitnya. "Itu tidak mungkin, tadi aku-" Ibu Albert mematung tak kala melihat sesuatu tidak ada di tasnya. Benda yang penting dan selalu ia bawa-bawa.


"Oh, benar buku Resyana yang diambil," kata Dina melihat isi tas Ibu Albert tidak ditemukan buku sebesar buku Resyana.


Anehnya ia masih terlihat santai dan biasa-biasa saja (hadeuh).


"APA!"


"Mungkin ada di dalam gubuk, Ibu Albert," usul Rio.


"Tidak. Aku selalu menaruhnya di tasku dan tidak akan keluar kecuali dia bersinar, itu saja," jelas Ibu Albert.


"APA!"


Panik ngga? Panik ngga?


Panikin aja yak, haha.


Kepanikan, itulah perasaan yang mereka rasakan saat ini. Manda? Apalagi dia. Dialah yang paling panik di antara mereka semua.


"Bagaimana kita bisa pulang kalau seperti ini, huwaaa!" ia mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


"Hah, baguslah buku terkutuk itu di ambil," Fikram justru senang.


"Heh!" tegur Ibu Albert.


"Emm, Rainny ke arah mana sosok itu, bisa kau tunjukkan?" tanya Nadia.


Ia mengangguk, "Tentu." Ia berlari menunjukan arah ke dalam hutan.


----------------


~Di dalam hutan~


"Hemm, aku tidak menemukan petunjuk apapun," kata Nadia.


"Aku juga," timpal Gamma.


"Waduh, celaka kita! Bagaimana kita bisa menyelesaikan ini dan pulang nanti, huwaa!" Manda semakin panik, yang ada dipikirannya saat ini hanya kepanikan tidak bisa pulang.


"Hey, tenanglah Manda." Kata Dina santai.


"Tenang! Bagaimana dalam keadaan seperti kau menyuruhku tenang, hah!" bukannya tenang Manda malah semakin menjadi-jadi.


"Wo-wo-wo, peace girl," kata Dina membentuk jarinya seperti huruf V.


Kresek … kresek .…


Tiba-tiba terdengar suara dari arah semak-semak. Mereka pun bersikap waspada, bersiap dengan apapun yang akan datang.


Wush!


Sekelebatan kemudian Nadia melihat ada seseorang yang berlari rapat di sampingnya dengan cepat. Dengan gerakan yang terbilang lambat, netranya sempat melihat buku Resnyana meski tidak terlalu jelas.


"Di sana!" seru Nadia—langsung berlari—mengejar sosok yang di yakininya sebagai pencuri buku itu.


Mereka pun ikut berlari mengekori Nadia. Aksi kejar-kejaran kembali terjadi. Banyaknya dahan pohon dan semak-semak yang tumbuh di tengah jalan tidak menghalangi mereka menangkap sang pencuri tersebut. Dengan lihainya sosok itu melompati semak-semak dan menghindari dahan-dahan tersebut.


DRAP! DRAP!


Sudah cukup dalam mereka masuk ke hutan mengejar sosok itu. Sepertinya tenaga mereka sudah cukup terkuras namun masih bisa untuk berlari. Mereka terus dan terus mengejar. Merasa risih dan terusik, si sosok itu pun memutar otak untuk menghindari mereka.


Tak disangka!


Tiba-tiba sosok itu berpijak dari satu pohon ke pohon lain, meraih sebuah tanaman menjalar pada pohon di ujung tebing dan berayun ke depan melewati sebuah jurang yang sangat curam nan tinggi. Pencuri itu berhasil menapak pada tebing seberang yang cukup jauh jaraknya namun lebih rendah, sehingga cukup mudah untuk sampai ke sana.


Sontak Mereka kaget juga takjub dengan apa yang mereka lihat. Mereka tidak menyangka sosok itu akan berbuat demikian.

__ADS_1


Tidak ingin kehilangan jejak si pencuri Nadia pun mengambil cara yang sama dengan sosok itu. Ia mengambil pijakan satu pohon ke pohon lain, menggapai tanaman rambat dan ….


Berhasil!


Ia berhasil berayun menyusul si pencuri.


Sekarang giliran Rio yang mencoba.


Tap! Tap!


Iya! Rio juga berhasil!


Gamma … berhasil.


Dina … berhasil.


Fikram … berhasil.


Bahkan, Ibu Albert pun berhasil.


Manda? Kalian ingin tahu apa jadinya dengan Manda? Baiklah.


"Apa, kenapa mereka … hemm, aku pasti juga bisa!" tekadnya dalam hati.


Iapun mulai berpijak pada satu pohon ke pohon lain.


Tap! Tap!


Meraih tanaman rambat dan ….


Binggo!


Duak! Berhasil!


Manda berhasil mendarat di tanah dalam keadaan selamat bin ngenes.


"Aduh, punggungku!" menggeliat kesakitan.


Rupanya tanaman rambat yang ia gapai putus dengan mudahnya. Iapun terjatuh langsung menyentuh tanah dalam ketinggian yang lumayan.


Tap!


Satu persatu dari mereka mendarat dan langsung bergerak dengan maksud mengejar kembali sosok itu namun ….


"Tunggu!" sela Rainy setengah berteriak. Mereka pun berhenti dan menoleh kepemilik suara.


Tap!


Rainy pun mendarat.


"Ada apa? Kita perlu mengejar pencuri, sebentar lagi dia pasti akan tertangkap," kata Gamma.


"Emm, itu … aku tidak melihat teman kalian emm, siapa namanya... ah iya Manda," sambung Rainy.


"Apa?!"


Panik! Oh bukan, bingung!


Mereka bingung dan terheran-heran.


~Kembali ke Manda~


"Aduh-duh, punggungku sakitnya huhu," rengeknya menggeliat lalu merubah posisi terlentangnya menjadi posisi duduk.


"Eh tunggu, hah aku ditinggal!" ia langsung bangkit dan panik.


Ia kemudian maju beberapa langkah seraya berteriak dan memejamkan mata.


"TEMAN-TEMAN JANGAN TINGGALKAN AKU!" menjulurkan tangannya ke depan.


Krik… krik…

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2