
EPISODE SEBELUMNYA
GUBRAK!
"Haduh! Pertanyaan macam apa ini?!"
"Heh, HAHAHA! Gimana ceritanya? Penjelasannya apa, pertanyaannya apa! Gimana sih!" protes Dina.
"Iya, kita bukan bapaknya ampe tau baju apa yang dia pake!" timpal Gamma.
"Hahaha, itu bukan masalah saya," jawab HAHAHA dengan santainya.
"Hiih!" Dina mengepalkan tangannya kuat seakan ingin meninju wajah makhluk di depannya itu.
"Baiklah. Pertanyaan sudah, sekarang giliran waktunya," kata HAHAHA.
"Apa? Berapa waktunya? Satu menit? Tiga puluh menit?" tanya Dina ketus.
"Bukan menit bukan detik tapi ...." HAHAHA menyeringai.
"Haduh apa yang aku lewatkan," ujar Manda bangun dari pingsannya sambil memegangi kepalanya.
"Sudah cermati saja," jawab Ibu Albert melihat Manda tersadar.
Klek! Klek!
Lagi-lagi labirin itu bergerak tapi bukan lantainya, kali ini malah dindingnya yang bergerak membuat lubang. Tidak terduga! Lubang berbentuk persegi di setiap dinding itu mengalirkan air yang sangat deras.
Tempat HAHAHA berdiri kini berubah bentuk menjadi persegi sempurna. Di tempat yang sama pula, muncullah sebuah kaca yang mengelilingi HAHAHA. Setelah kaca itu berhasil terbentuk sempurna barulah ruangan yang terbentuk berserta isinya perlahan bergerak ke atas hingga berhenti setelah mencapai langit-langit labirin.
"Hahaha! Jawablah pertanyaanku sebelum jiwa kalian terlepas," kata HAHAHA dibarengi seringainya.
"Apa? Air? Air ini tidak bisa meregang nyawa kami karena sekarang kami bisa bernapas di dalam air," kata Dina santai.
"Ya walau air ini memenuhi ruanganpun kami tetap hidup!" Manda mengiyakan.
"Air ya? Hemmh, lihatlah lebih jeli, Tamuku" ujar HAHAHA tertawa miris.
Pzzt ... Pzzt ....
"Hah! BELUT LISTRIK!" kaget mereka.
Ternyata benar, air yang mengalir dari lubang itu terdapat belut-belut listrik, melihatnya saja kita sudah bisa membayangkan bagaimana jika tersengat listriknya, bahkan kalian bisa melihat aliran listrik yang diwakili garis-garis berliku-liku warna kuning berada di luar tubuh sang belut.
Air itu kini sudah memenuhi lubang persegi besar di depan mereka dan mulai bergerak memenuhi ruangan di luar lubang itu.
"C ... c ... cepat sekali penuhnya!" cemas Manda.
"Air ini sudah setinggi mata kaki kita saat ini!" panik Dina.
"Hey! Pikirkanlah sesuatu," panik Manda.
"Ya! Sebelum kita di sengat aliran listrik bertegangan tinggi," kata Gamma makin membuat suasana panik.
"Em ... em ..." Nadia tampak berpikir. "Apakah setelah kita menjawab dengan benar air ini akan berhenti naik?" tanya Nadia panik.
"Ya, tentu saja," jawab HAHAHA.
__ADS_1
"Nah sekarang kita harus menjawabnya," kata Manda.
Air itu sangat cepat naik, belut-belut itu pun hampir tiba di permukaan dan siap menyengat siapa saja yang berada di wilayahnya tanpa izin. Air itu kini sudah berada di atas mata kaki mereka dan semakin meninggi.
"Duh, bagaimana ini? Jawab asal saja siapa tahu ada yang benar," pikir Dina berinisiatif. "P ... p ... putih! Jawabannya putih! Apakah benar?" katanya menjawab, ia ingin segera keluar dari situasi yang membuatnya panik.
"Hahaha! Kau pikir dengan jawaban asalmu itu kau bisa benar! SALAH! Jawabanmu SALAH!" tegas HAHAHA.
"Merah, kuning, hijau, h-" Gamma mulai menyebutkan.
"Di langit yang biru, pelukismu Agung siapa gerangan, pelangi ... pel-" belum sempat menyelesaikan senandungnya Ibu Albert malah memotong.
"Heh! Ini bukan saatnya bernyanyi!" tegur Ibu Albert.
"Hehe, iya sory-sory, kali aja warna pelangi gitu" Rio menciut.
"Masa anak laki-laki pakai warna pelangi!" kata Manda.
"Eh! Eh! Bisa saja tau! Warna tidak memengaruhi gender," ujar Rio melipat tangannya.
"Hahaha, Tetap SALAH!" ujar HAHAHA.
"Merah, jingga, kuning, hijau, biru, biru tua, unggu, unggu tua, unggu muda, abu-abu, perak, emas, hitam, putih, warna abstrak, war-" Manda mengabsen setiap warna.
"Heh-heh! Lu kira absensi warna, semua warna lu sebutin!" tegur Dina.
"Ya'kan siapa tau aja ada yang bener, Din," kata Manda.
"Hahaha! Salah! semua jawaban kalian salah!" keras HAHAHA. "Oh ya, karena kalian terus melakukan kesalahan, maka waktu akan saya percepat," kata HAHAHA.
"Apa maksudnya waktu di percepat?" gelisah Nadia.
Tak disangka ternyata air yang mengalir itu semakin cepat dan deras, sehingga air itu dua kali lebih cepat memenuhi ruangan.
-Air selutut-
"Astaga sudah selutut sebentar lagi belut-belut itu mungkin akan ...." kata Dina panik.
"Emm ... HIHIHI! Katanya kau mau bantu kami, bantulah kami sekarang," kata Nadia pada makhluk melayang di sampingnya.
"Hihihihi ... baiklah," jawab HIHIHI.
Poof!
Mendadak HIHIHI pindah, sehingga ia berada di samping HAHAHA dalam ruangan kaca.
"Kenapa kau malah pindah?" tanya Manda melihat HIHIHI pindah.
"Hihihihi ... aku tidak bisa bernapas dalam air, maaf ya, hihihihi" jawab HIHIHI.
"Oh, hantu tidak bisa bernapas dalam air ya?" tanya Gamma polos.
"Aku bukan hantu!" ujar HIHIHI dari dalam ruangan kaca HAHAHA.
"Dasar tidak setia kawan kau," kesal Dina pada HIHIHI.
"Ah! Sudah cepat, HIHIHI!" tegas Nadia.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah" ujar HIHIHI.
\~\~\~\~\~\~\~\~
"Ayo, Finn" sambut Marine.
"Wah, sangat megah!" kagum Fikram mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Duduklah," perintah Marine.
Fikram hanya mengangguk seraya mengagumi tempat itu. Kini ia tengah duduk di meja makan panjang yang didominasi warna emas dan perak silver. Marine pun ikut duduk di kursi tengah sebelah kursi Fikram.
"Ini, Ratu" ujar para pelayan menyajikan berbagai macam hidangan yang tampak sangat lezat.
"Wah, ada makanan," ucap Fikram sudah tidak tahan menahan air liurnya melihat berbagai makanan menggugah selera di depannya.
"Selamat makan, Ratuku" sapa Rendi datang tiba-tiba.
"Tunggu, Rendi? ratu?" bingung Fikram mengapa ibunya dipanggil 'Ratu'.
"Ya, Pangeran Finn dia ibumu, penguasa kerajaan ini, Ratu Marine" Rendi menjelaskan.
"Oh, jadi ratu itu ibu! Apakah Ibu baik-baik saja?! waktu itu aku dengar, terjadi masalah saat perjalanan Ibu kesini," cemas Fikram mengkhawatirkan kondisi ibunya teringat laporan Rendi pada Siera pasca pesta.
"Tenang, Finn ... ibu baik-baik saja," ujar Marine tersenyum menenangkan.
"Benarkah? Ibu tidak bohong?" tanya Fikram masih terlihat cemas.
"Tidak, Finn. Ibu tidak berbohong," ujar Marine lagi-lagi tersenyum.
"Haah, syukurlah" lega Fikram.
"Ya sudah, makanlah dulu, Finn" ujar Marine.
"Baiklah, Ibu" kata Fikram mulai mengangkat sendok dan melahap makanannya.
\~Hening sesaat\~
"Emm ... Ibu, bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Fikram memecah keheningan.
"Ya kenapa, Finn?" ujar Marine tersenyum ke arah Fikram.
"Ibu, jangan kebanyakan senyum ya," ucap halus Fikram.
Mendengar hal itu Marine mengernyitkan dahinya, "K ... k ... kenapa, Finn?" tanyanya tidak paham maksud perkataan putranya itu.
"Kalau Ibu kebanyakan senyum, nanti Fikram ... emm, maksudnya Finn, diabetes gara-gara saking manisnya senyum, Ibu."
Blush ....
"Iih, putra ibu bisa aja sih!" ujar Marine mencubit hidung Fikram dengan gemas.
"Aduh, Bu! Sakit ...." Ucap Fikram memegangi hidungnya yang dicubit gemas sang ibu.
Rendi hanya tersenyum melihat tingkah laku ratu serta pangerannya itu.
"Ohohoho, sekarang putra sudah kembali, tinggal putri yang dilupakan ya?" seru seseorang secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Hah!?"
Bersambung ....