Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Hatchuu!


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Hah?!" Nadia merasa ada yang menggenggam dan menarik tangannya dari arah belakang.


GREP!


"Apa yang-" tatapan Nadia terhenti seketika ketika ia mendongak.


Lift tertutup dan bergerak ke atas.


Wajah yang tampan, kulit tidak terlalu putih, hidung yang tidak terlalu mancung namun menawan, dan rupa orang Asia Tenggara yang begitu memesona. Dialah sahabat yang pernah bertengkar dengannya hanya karena perbedaan kesukaan, bulan dan matahari. Siapa lagi kalau bukan Rio. Dikarenakan Rio menarik tangan Nadia secara cepat, mereka pun menempel erat dan sangatttt dekat di lift pohon buatan Ibu Albert. Tatapan mereka saling terkunci, dan membeku satu sama lain.


"Ekhem!"


Oh ya, masih ada orang lain selain mereka berdua di lift itu, ternyata.


"Ahaha, kau masih di sini ya, maafkan aku Rainny," secara tidak terencana ucapan dan gerakan mereka sama persis.


Karena merasa tersadar ucapan mereka yang kompak itu, mereka pun saling menoleh. Dan... lagi-lagi pandangan dua insan ini terkunci selama sepersekian detik. Sadar pipi mereka akan merona bila di teruskan, dengan cepat mereka membuang wajah mereka.


"Jadi kau yang menarikku?" Nadia berusaha menjaga jarak dengan Rio di lift itu.


"Ya, maaf. Tapi ya ada dipikiranku hanya menarikmu, maaf," Rio juga berusaha agar dia tidak menempel dengan Nadia  agar tidak terjadi kecanggungan lagi.


"Hiii, di sini sangat sempit. Bisakah kau menjauh dariku?" kata Nadia


"Kau yang menjauh dariku, aku tidak bisa bergeser satu jengkal pun," kata Rio juga berusaha menjauhkan dirinya dari Nadia.


"Kau yang menarikku jadi menjauhlah!"


"Kau yang bergeser!"


"Tidak bisa!"


"Sama kalau begitu!"


"Hiiii!" Mereka saling mendorong agar tubuh mereka tidak menempel terus-terusan di dalam lift, apalagi ada Rainny di situ, mereka jadi tidak enak diperhatikan terus.


"Oh bagus, sekarang aku jadi obat nyamu,k" batin Rainny.


Ting!


Lift telah sampai di permukaan, pintu lift terbuka.


"Hiii! Huwaa!"


GUBRAK!


Rainny keluar dengan tenang menghampiri Ibu Albert dan lainnya yang sedang menunggu. Sementara suara itu? Suara itu adalah sound efek akibat Nadia dan Rio jatuh tepat setelah pintu liftterbuka karena saling mendorong. Posisi mereka Rio di atas dan Nadia di bawah, tatapan mereka bertemu dan saling mematung.


"Ekhem, bisakah kalian lanjutkan apa pun itu nanti saja," kata Ibu Albert.


Sadar ada suara yang mengarah pada mereka, mereka pun menoleh ke depan.


"Uhuk!"


Sontak, mata mereka membulat sempurna. Buru-buru mereka bangkit dan menjauh satu sama lain.


"Ahaha, hei kenapa kalian termenung di situ saja, bukankah kita harus segera pergi," kata Nadia canggung.


"Ya, kita harus segera pergi sebelum bertemu lagi dengan wanita itu, bukan?" kata Rio mengelus tenguknya.

__ADS_1


Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka.


Secara diam-diam Ibu Albert menggerakkan tangannya, seketika pohon lift itu hilang dalam sekejap tanpa disadari yang lain.


"Ya sudah ayo cepat kita pergi-"


Suara menggelegar memotong ucapan Ibu Albert. "GRAAAH! Tidak secepat itu!"


Wanita daun ini kembali muncul di hadapan mereka, menembus tanah.


"Gawat, dia sudah menyusul," kedelapan manusia ini bersikap siaga.


"Hanya satu yang bisa kita lakukan sekarang," Nadia bersiap mengambil belati di sakunya, begitu juga Dina, Gamma, dan Rio juga bersiap mengeluarkan senjata mereka masing-masing.


"Ini saatnya untuk-"


"LARIIII!" pekik Fikram sudah lari duluan.


"Lari? Aku pikir kita akan berantem," kata Dina bingung.


"Bukan sikap yang baik, tapi ide bagus. Semua LARIII!" Nadia menyusul Fikram yang sedang berlari dengan menggendong Manda di punggunnya.


"Perintah diterima, LARIII!"


mereka semua kocar-kacir berlari menjauhi wanita itu.


"Oh tidak. Kalian tidak akan bisa lari lagi dariku! MANUSIA PAYAH!" wanita ini menganyunkan tangannya ke depan bawah.


Seketika tanaman-tanaman hijau mulai tumbuh memenuhi seluruh permukaan tanah yang tandus itu. Melihat banyaknya tumbuhan yang ia sangat kenali bahayanya, Ibu Albert pun menyuruh semua untuk berhenti berlari.


"Semua berhenti!!" seru Ibu Albert.


Spontan mereka semua berhenti menggerakkan kaki.


Ibu Albert kembali berucap, "Jangan ada yang bergerak sedikit pun," mereka semua mematung.


Memiliki daun lebar berbentuk hati, juga memiliki batang yang seluruhnya  diselimuti bulu kecil yang bisa menyengat siapa saja.  


"Wow, tanaman apa ini?" Fikram hendak menyentuh tanaman itu tapi langsung dihentikan oleh Ibu Albert.


"Ku bilang jangan ada yang bergerak!" Ibu Albert melempar kayu kering ke arah Fikram untuk menegurnya.


PLETAK!


Benar saja kayu itu tepat sasaran mengenai kepala Fikram..


"Adoi!" aduh Fikram.


"Ada apa ini Ibu Albert? Kenapa kita tidak boleh bergerak?" tanya Nadia.


"Pokoknya jangan ada yang berani bergerak apalagi menyentuh sesuatu!" kata Ibu Albert tegas. "ayo semua angkat tangan!"


Mereka bergeming mengangkat kedua tangan dan tidak bergerak sesuai perintah Ibu Albert.


"Berasa narapidana deh aku," gumam Dina.


"Ha, bagus. Teruslah mematung seperti itu. Aku akan lebih mudah untuk menyeret kalian, wahai para calon budakku,  Hahaha!" ucap wanita itu mengeluarkan tali dari tangannya dan perlahan melangkah mendekati mereka.


"Apa sekarang sudah boleh bergerak? Aku panik dia semakin mendekat, dan Manda semakin lama semakin berat... tolonglah!" kata Fikram.


"Ibu bagaimana ini?" tanya Gamma melirik ibunya.

__ADS_1


"Baiklah, berjalan perlahan tapi jangan sampai kulit kalian terkena tanaman-tanaman ini," jelas Ibu Albert.


"Kenapa?" tanya Dina.


"Lakukan saja!" tegas Ibu Albert langsung membuat mereka tidak berani bertanya lagi.


Memindik-mindik, menghindari tanaman dengan perlahan. Untung saja tumbuhan ini tumbuh dengan jarak yang cukup lebar antar tanamannya jadi agak mudah mereka untuk menghindarkannya dari kulit mulus mereka.


"Ohoho, kalian mencoba lari lagi dariku ya... TIDAK AKAN KU BIARKAN!" wanita ini menggerakan tangannya.


Dalam sekejap tanaman-tanaman tersebut menjadi tinggi, melebihi tinggi badan mereka. Mereka bak tenggelam di telan hutan tanaman liar.


"Hey, apa-apaan ini?" kata Dina.


"Aku tidak bisa melihat kalian! Where are you, guys!" pekik Fikram.


"Tak ada jalan keluar," kata Rio.


"Kita benar-benar terjebak," kata Nadia mengedarkan pandangannya mencoba mencari celah.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Ibu Albert.


"Sedikit gelap di sini," sambung Fikram.


"Ya kami baik-baik saja," kompak mereka.


Mendengar jawaban itu, mendadak wankta ini mengukir senyuman yang aneh di wajahnya "Oh benarkah?"


Hatchuu!


Hatchuu! Hatchuu!


Hatchuu! Hatchuu! Hatchuu!


Bersin, mereka semua bersin. Bukan satu atau dua kali tapi berkali-kali mereka saling bersahutan bersin.


Hatchuu! Hatchuu!


Suasana sudah seperti diadakan lomba bersin, suara sahutan bersin yang terus-terus saja muncul. Memenuhi suasana dan membuat suasana sedikit menyeramkan.


"Aih, kenapa aku terus saja bersin," kata Nadia lemas.


Hatchuu!


Berulang-ulang kali Nadia mengusap hidungnya, membersihkan air yang menyembur keluar dari salah satu organ pernapasan itu.


"Eh?" saat ia mengusap hidungnya untuk kesekian kalinya, ia bingung juga kaget. "Ak-aku... mim–"


"Aku mimisan!" Fikram berteriak histeris.


"Aih, aku juga mimisan," kata Dina melihat ujung jarinya terdapat noda cairan merah segar.


Hatchuu! Hatchuu! Hatchuu!


"Apakah kita semua mimisan?" tanya Nadia.


"Ya," jawab mereka.


"Aduh, tolong!! Aku terus saja bersin, aku tidak kuat lagi!" pekik Fikram.


"AHAHAHA, aku harap kalian akan mati menderita di situ! AHAHAHA," sombong wanita itu.

__ADS_1


"Wah-wah, kau masih menggunakan trik lama itu ya."


Bersambung ....


__ADS_2