Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Tidak Perlu Belati


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Belut ... belut ... belut ... ya, terserah!" Dina benar-benar kehabisan kata untuk mengatai para belut dan fokus berenang secepat mungkin menjauh dari para belut itu.


Zratts!


\~\~\~\~\~\~\~


Tap ... tap ... tap ....


Fikram berjalan berdampingan bersama Siera dengan tujuan menemui teman-teman Fikram di kamar tamu istana.


"Hey, Nak. Mau kemana kalian?" tanya Marine mencegat.


Mendengar ibunya bertanya maka kedua anak itu berhenti dan menjawab, "Kami ... kami ... kami mau ke ...." ucap mereka berbarengan bingung ingin menjawab apa pertanyaan Sang Ibu.


Marine pun menaikkan salah satu alisnya menunggu jawaban dari keduanya.


"Kita mau ke ... anu ... anu, Bu" jawab Fikram ragu.


"Anu apa?" tanya Marine lagi.


"Emm, itu ...." mereka saling bertukar pandang ragu menjawab pertanyaan ibunya.


Marine pun menghela napas panjang, "Haah. Ya sudah, Siera ajak Kakakmu berlatih bersamamu." Perintah Sang Ibu berlanjut meminum secangkir tehnya.


"Berlatih?" bingung Fikram bertanya-tanya apa yang dimaksud ibunya itu.


"Ah, iya aku lupa aku harus latihan itu," Siera menepuk jidatnya. "Ya, Kak berlatih. Emm, nanti aku jelaskan," katanya langsung menarik tangan Fikram tanpa permisi.


"Eh! Eh!"


"Thanks, Mam dah ngingetin. Muach" Siera mengecup singkat pipi Sang Ibunda tercinta.


Marine hanya mengangguk pelan dan berdehem.


"Ayo, Kak" Siera pun menarik tangan Fikram untuk ikut bersamanya.


"* ... * ... * ... tapi ...."


\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Hoy! Lakukan sesuatu! Belut-belut ini benar-benar gila!" ujar Dina masih berenang menjauh.


"Ya, aku tidak kuat berenang lagi!" pekik Manda berenang bersama Dina.


"Bagaimana kami bisa melakukan sesuatu, hah!" kata Rio yang ternyata sedang berenang berusaha menjauhi para belut gila itu sama seperti Manda dan Dina.


"Nad-"


"Jangan tanya aku." sahut Nadia yang muncul dan ikut berenang menjauhi sekerumunan belut.


Ya, tentu Gamma juga termasuk.


Mereka sudah berkejar-kejaran dengan para belut itu cukup lama. Mereka hanya terus berenang berputar-putar di ruangan labirin yang tidak terlalu luas.


"Hihihi, haah! Boring\~" ujar HIHIHI yang sedari tadi menonton.


"Hahaha, sangat" timpal HAHAHA malas.


"Kenapa kita di kasih kerjaan yang membosankan seperti sih, hihihi!" gerutu HIHIHI.


"Ya, mau bagaimana lagi? Sudahlah terima saja," kata HAHAHA datar.


"Heh! Lakuin apa kek gitu! Gue pusing dari tadi muter-muter bae," kesal Dina.


"Sama," Manda menimpali.


"Kalian merasa ada yang janggal, ngga?" tanya Gamma.


"Ya. Dari tadi kita muter-muter dan dikejar oleh para belut itu tapi ngga ketangkep-tangkep kitanya," kata Dina datar.


"Bukan itu!" gertak Gamma.


"Hemm, aku perhatikan ... Ibu Albert sangat santai dan dia tidak di kejar oleh belut itu," kata Rio.


"Itu bagus! Dia bisa kita jadikan perlindungan, huaaaa!" Manda langsung berenang menuju Ibu Albert.


Ibu Albert yang tadinya sedang santai seraya menyandarkan tubuhnya di dinding labirin pun terkejut melihat Manda melesat menuju ke arahnya diikuti empat anak manusia lain. Mereka pun langsung bersembunyi dibalik tubuh Ibu Albert.


"Eh! Eh! Apa-apaan kalian?" terkejut Ibu Albert.


Tentu saja para belut itu masih mengejar mereka. Sudah tentu, pasukan belut itu menuju ke arah Ibu Albert.


"Hah!" Ibu Albert melihat ke arah pasukan belut itu.

__ADS_1


Eittt! Citttt!


Ibu Albert menatap tajam para belut itu dan membatin, "Jangan berani-berani, kalian!"


Mengerti dengan tatapan Ibu Albert para belut itu langsung berhenti dan mundur ketakutan.


"Tapi mereka akan curiga. Ah!" batin Ibu Albert. "Baiklah maju dan selesaikan tugas kalian," batinnya kepada para belut.


Anehnya, para belut itupun mengerti dan mengejar mangsanya kembali.


"Mereka sempat mundur lalu maju kembali, aneh!" batin Nadia memperhatikan.


Keenam manusia itu sedang ketakutan dan berlindung di balik badan Ibu Albert.


"Heh! Kalian! Lawanlah mereka!" titah Ibu Albert menoleh ke belakang.


"* ... * ... * ... tidak mau!" takut Manda.


"Bagaimana caranya? Mereka sangat ganas, Ibu" Gamma bergidik.


"Haduh, bagaimana bisa mereka dipilih jadi anak ramalan itu? benar-benar payah!" batin Ibu Albert. "Kalian'kan punya senjata," ucapnya mengingatkan.


"T ... t ... tetap saja kami tidak tau caranya," kata Manda.


"Astaga! Pakailah saja seperti kalian memakai senjata biasa," kata Ibu Albert.


"* ... * ... * ... tidak mau! Pokoknya kami tidak tahu cara pakainya," kata Dina.


"Alasan," batin Ibu Albert meyakini bahwa ucapan Dina itu hanya sebuah alasan belaka.


"Iya, dan punyaku paling tidak berguna! Sebuah peluit!" kesal Manda.


"Astaga! itu bukan peluit biasa, tau! Itu peluit khusus yang ber- Aww!" Ibu Albert meringis kesakitan merasakan ada yang menyengatnya di area tangan.


Zratts!


Ternyata seekor belut telah menyengat tangan Ibu Albert.


"Kau!" Ibu Albert lagi-lagi menatap tajam belut yang telah berani menyengatnya.


Belut itu sempat meringis dan langsung pergi kembali ke kawanannya.


"Kau akan membayarnya!" batin Ibu Albert menatap tajam.


Sementara para pasukan itu kembali mendekat.


Belut itu semakin berenang mendekat serta menyiapkan amunisi sengatannya listriknya.


"Hahaha! Ya, mereka akan mati. Oke aku keluar," kata HAHAHA datar dan berbalik, enggan menonton adegan itu.


"Ya tugas kita selesai, hihihi" datar HIHIHI berbalik dan ingin meninggalkan tempat itu bersama HAHAHA.


Saat akan keluar melewati pintu, (baru sadar Aut ada pintu keluarnya) tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu yang menghentikan langkah mereka.


DUNG!


Sebuah panah kecil berujung jarum runjing menancap pada salah satu dinding kaca ruangan HAHAHA dan HIHIHI.


"Apa? Apa yang ...." Melihat hal itu HAHAHA pun berbalik dan melihat panah kecil yang menancap itu, begitu juga dengan HIHIHI.


Semua melihat ke arah panah kecil yang menancap itu, termasuk para belut yang awalnya kaget sebuah panah melesat menuju ke arah mereka, untung mereka sempat menghindar jadi diantara mereka tidak ada yang terkena panah itu.


"Apa yang mereka lakukan sebenarnya?" HAHAHA bertanya-tanya.


"Bagus!" senang Nadia.


PRITTT!


"Eugh! Suara apa ini?!" HAHAHA serta HIHIHI menutup kedua telinganya menggunakan tangan mereka sendiri.


Mereka memejamkan mata karena suara yang amat memekik telinga mereka.


"Bagus, ayo cepat-cepat!" gegas Nadia.


Mereka melewati para belut yang sedang meringkuk untuk mengurangi suara yang memekik itu masuk ke telinga mereka.


"Bagaimana?" tanya Dina bingung.


"Sepertinya kaca ini tipis," Nadia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan belati pemberian Ibu Albert.


DUNG! DUNG!


Nadia mencoba memecahkan atau setidaknya melubangi ruangan kaca itu menggunakan ujung belati miliknya.


KRETAK! KRETAK!

__ADS_1


Kaca itu sudah mulai retak. Tinggal satu pergerakan lagi maka kaca itu akan ....


DUNG! KRETAK! PRANK!


Tidak terduga! Seluruh dinding kaca yang mengitari tempat berdiri HAHAHA dan HIHIHI kini pecah berkeping-keping.


Melihat hal itu, spontan Manda menghentikan meniup peluitnya. Karena dinding pembatas itu pecah otomatis air membanjiri dan menenggelamkan tubuh HAHAHA dan HIHIHI. Tentu mereka kaget bukan main. Peci yang digunakan HAHAHA lepas dari tempatnya namun ia menangkapnya dan memakainya kembali. Entah manusia, makluk darat, makhluk berparu-paru, ataukah memang seorang hantu. HIHIHI tidak bisa bernapas dalam air, diapun menahan napas agar air tidak masuk ke dalam tubuhnya. HAHAHA? HAHAHA sepertinya makhluk yang bisa bernapas dalam air.


"Sahabatku? Heeh! Heh! Apa yang kalian lihat! Cepat serang mereka!" titah HAHAHA pada para belut.


Para belut yang mengerti perintah Sang Majikan langsung bersiap menuju ke arahnya untuk melaksanakan perintah. Namun, mereka kalah cepat dengan Dina.


"Ohoho, tidak secepat itu para belut," kata Dina berada di belakang HAHAHA.


HAHAHA yang merasakan ada seseorang di belakangnya langsung menoleh perlahan seraya gemetar.


"Cepat hentikan semua kegilaan ini, surutkan airnya!" tegas Dina melingkarkan erat lengan kirinya di leher HAHAHA


Alhasil, hal itu membuat HAHAHA sesak serta kesulitan bernapas.


"Cepat!" Dian memperat cekikannya.


"Hahaha, siapa kau berani memerintahku! Aku tidak mau!" tolak HAHAHA. "Belut cepat!" titahnya pada para belut lagi.


Belut itu bersiap menuju ke arah HAHAHA, namun lagi-lagi Dina berhasil membuat mereka mengurungkan niatnya.


"Kalian jangan maju atau ...." ancam Dina


"Hahaha, atau? Atau apa? Bukankah kau tidak bisa berbuat apa-apa! Hahaha" ejek HAHAHA.


"Heeh! Kau membuatku geram!" geram Dina.


"Kau yang membangunkan singa betina tidur, kawan" kata Rio melipat tangannya.


"Singa betina? Kurasa penyihir lebih tepat," kata Gamma.


"Din!" panggil Nadia menawarkan belatinya pada Dina.


"Tidak perlu, Nadia. Untuk membuat makhluk seperti dia menurut, kita tidak perlu menggunakan belati," seringai Dina penuh misteri.


GLEK!


HAHAHA menelan salivanya dengan susah payah.


"Firasatku buruk," batin HAHAHA.


\~Skip\~


"Tidak! Jauhkan dia dariku! Kumohon!" jerit HAHAHA melihat sepatu perempuan berwarna coklat muda di depannya.


"Nah, sekarang cepatlah lakukan perintahku," senang Dina mendekatkan salah satu sepatunya ke wajah HAHAHA.


"Ugh! Aku bisa membayangkan baunya, iyuhh" Rio merasa jijik melihat sepatu Dina yang menurutnya mungkin sangat bau.


"Dari sini saja sudah tercium baunya, huwek!" Gamma pura-pura mual.


Nadia hanya bergumam dalam hati, "Ya itu lebih ampuh dari belati," batinnya.


"Nah, kau bisa bayangkan baunya hemmm, sangat harum loh," bujuk Dina mendekatkan sepatunya lagi.


"Tidak! Pergi! Jauhkan itu dariku!" HAHAHA menjauhkan


"Kalau tidak mau ya sudah cepat lakukan apa kataku."


"Tidak akan pernah!" HAHAHA tetap kekeh dan keras kepala pada keputusannya.


"Oh, ayolah. Lihatlah sahabat baikmu sedang kesulitan bernapas itu loh, apa sekarang kau tetap kekeh?"


"HIHIHI ...." HAHAHA melihat wajah sahabatnya yang sedang berusaha menahan napasnya.


"Mmmmmmm" HIHIHI berusaha menahan napasnya.


"* ... * ... * ... tidak akan!" HAHAHA tetap kekeh namun ragu.


"Ohohoho, kekeh sekali," sindir Dina.


"A ... A ... A ... apa yang akan kau lakukan?" tanya HAHAHA.


"Menghancurkan keras kepalamu, tentunya" terlihat senyum smirk terukir di wajah Dina.


GLEK!


"Jangan-jangan kumohon,"


"Hehehe."

__ADS_1


"TIDAK!"


Bersambung ....


__ADS_2