
EPISODE SEBELUMNYA
HAP!
Tepat sebelum Dina jatuh ke lantai Gamma sudah menangkapnya. Merasa ada menahan dirinya, Dina pun mendongak dan mendapati sesosok wajah pemuda. Ia membeku dalam sekejap.
Tak ingin membuang waktu, Gamma langsung membantu Dina untuk berdiri. Tidak sengaja saat membantunya berdiri, tangan Gamma mencengkram kuat pinggang ramping Dina.
"AWW!"
Dina meringis kesakitan dan langsung memegangi pinggangnya yang tidak sengaja dicengkeram Gamma.
"K ... k ... kenapa?" bingung Gamma gelagapan.
Sontak ia menjauhkan tangannya. Namun ia terkejut saat mendapati ada bercak noda cairan merah pekat di telapak tangannya.
"Tanganku? Apa ini? Apakah ... kau ...." Kira Gamma.
Untuk memastikan, perlahan Dina membuka telapak tangannya dari pinggang. Betapa terkejutnya ia, saat melihat bercak noda merah yang sama di tangannya.
"K ... k ... kau! Apa kau terluka?" desak Gamma mencoba melihat sisi pinggang Dina yang terluka.
Dan benar saja seperti dugaannya, Pinggang Dina terluka. Ada bekas goresan panjang yang merobek baju Dina dan menembus hingga kulit. Tiga goresan panjang, seperti goresan kuku binatang buas, berhasil membuat kulit pinggang Dina mengeluarkan cairan kental dengan derasnya.
Entah kenapa perasaan cemas menghantui Gamma. Iapun melepas rompi yang ia kenakan.
"Eh, kau!" Dina terkejut dengan sikap Gamma.
"Tenang saja," Gamma melipat rompi nya dan melayangkan lipatan itu ke pinggang Dina yang terluka.
GREP!
Mata Dina membulat sempurna, Gamma menarik Dina menempel dengannya. Tangan Gamma melingkar sambil menempelkan lipatan rompi ke luka Dina untuk menutupinya. Dina mendongak melihat pemuda yang sedang melakukan hal itu.
DEG! DEG!
Jantungnya berdebar tak karuan, melebihi kecepatan biasanya. Pandangan mereka sempat bertemu. Nadia yang melihat hal itu tidak tinggal diam, dan menghampiri mereka.
"Sayang, apa yang kau lakukan! Kau tidak boleh dekat-dekat dengannya!" marah Nadia menarik-narik lengan Gamma.
"Sayang!" kaget Rio dalam hati mendengar Nadia lagi-lagi memanggil Gamma dengan kata 'Sayang'. "Lagi-lagi dia ... tidak bisa dipercaya," batinnya menaruh curiga.
"Nadi, Nadi, Nadi ... ak ... ak ... tidak," Gamma tidak bisa mengatakan kalimatnya karena tubuhnya ditarik-tarik oleh Nadia.
Sedangkan dia sedang memegangi lipatan rompi untuk menutupi luka Dina.
"Ah, sudah-sudah. Sebaiknya kita segera pergi, nanti takutnya ada sesuatu yang tidak diinginkan," tiba-tiba Rio memisahkan paksa Nadia untuk berhenti menarik Gamma dan membawanya keluar dari labirin.
"Tidak, tidak!" Nadia terseret.
Ibu Albert hanya diam dan menyusul keluar. Sementara Gamma dan Dina ....
"Sudah jalan, kenapa melihatku terus? Ganteng ya?" goda Gamma.
"Hah! S ... S ... siapa yang melihatmu," Dina memalingkan wajahnya.
"Ya sudah ayo jalan," Gamma menarik Dina untuk berjalan.
"Eh, tapi ... tapi."
"Apa?"
Dengan malu-malu Dina mengatakan, "Nanti rompimu kotor, mending tidak usah saja," Dina ingin melepaskan pegangan Gamma namun ditahan.
"Tidak. Sudahlah tidak usah dipikirkan, ayo kita segera keluar dari sini."
Akhirnya Dina menurut. Iapun berjalan keluar labirin bersama Gamma yang membantunya berjalan.
\~\~\~\~\~\~\~
"Jaga baik-baik ini, Nak,"
Belum sempat melihat sesuatu benda yang samar tersebut, mendadak seluruh penglihatan diselimuti cahaya putih.
"Apa!"
Fikram terbangun dari mimpi aneh yang menurutnya terjadi akhir-akhir ini.
"Apa itu tadi? Aku terus memimpikannya, apa yang dia berikan sebenarnya?" Fikram terus bertanya-tanya dalam pikirannya.
Iapun mengatur nafasnya agar lebih tenang.
"Aku tidak bisa menahannya lagi! Aku harus mencari tahu kebenarannya! Aku lelah harus dihantui rasa penasaran terus!" Fikram mengacak rambutnya frustrasi. "Tapi dimana? Hah, ya ... Ibu Albert!"
Dia pun beranjak dari tempat tidur, dan keluar kamar.
__ADS_1
~Saat sedang berjalan~
"Ibu Albert harus memberiku jawaban dan penjelasan yang lengkap!" gumam Fikram pada dirinya sendiri.
"Hiks, hiks ...."
Langkah Fikram terhenti ketika ia mendengar suara isak tangis seseorang. Iapun celingukan mencari pemilik suara itu. Hingga ia mendapati sang Ibu sedang duduk di kursi panjang mewahnya seraya mengalirkan cairan bening dari pelupuk matanya.
"Ibu!" kaget Fikram melihat ibunya menangis.
Tanpa basa-basi, ia langsung menghampiri sang Ibu dan bersimpuh dengan perasaan khawatir.
"Ibu menangis? Kenapa, kenapa?" tanya Fikram cemas.
Mendengar suara anaknya, Marine menghapus kasar air matanya.
"Tidak. Ibu tidak menangis," bohong Marine.
"Bohong! Ibu bohong, jelas-jelas Ibu menangis!"
"T ... t ... tidak, Nak. Ibu, hiks, hanya kelilipan tadi, kau salah paham" kilah Marine.
"Ibu, tolong ... jangan berbohong, jujur padaku. Ada apa?" bujuk Fikram.
Tak bisa berbohong lagi, Marine pun jujur, "Hiks ... hiks ... kau benar, Nak. Ibu tidak bisa menutupinya darimu, Ibu tidak kuat." tangisnya pecah berlanjut memeluk Fikram.
"Ada apa, Ibu. Kenapa ibu Menangis?" Fikram berusaha menenangkan sang Ibu.
"Ayah ... ini hari peringatan kematian ayahmu, Nak."
Sontak mata Fikram pun membulat mendengarnya.
"Ayah?"
Belum pertanyaannya dijawab, Marine melepaskan pelukannya.
"Hah, sudahlah. Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak mau membuatmu sedih," Marine bangkit dan beranjak pergi meninggalkan Fikram.
"Mungkin, Ibu tahu sesuatu tentang pemberian Ayah. Ya, aku akan coba bertanya" batin Fikram.
"Tunggu, Ibu!"
Marine menghentikan langkahnya.
"Ceritakan tentang ayah, siapa dia, bagaimana wajahnya, dan ...." Fikram menunduk menjeda kalimatnya
Fikram menarik napas lalu membuangnya. "Apa Ibu tahu apa yang Ayah berikan padaku?"
Marine mendengar tak percaya dan mendekat ke arah Fikram.
"K ... k ... kau!"
"Ceritakan padaku, Ibu" pinta Fikram.
"Huffft, baiklah" Marine menduduki dirinya di kursi panjang, begitu pula dengan Fikram.
"Ibu sudah tidak bisa merahasiakannya lagi. Sudah saatnya kau tahu," ucapnya. "Ayahmu, ia adalah suami Ibu."
"Aku tahu itu, Bu" batin Fikram.
"Sebentar," Marine bangkit dan mengambil sesuatu di dalam ruangan pribadinya, kemudian keluar dan menduduki dirinya.
Ia membuka buku itu, yang tampak seperti album foto. Terpampang jelas sesosok pria dan wanita berwajah bahagia di sana. Netra Fikram lebih berfokus pada wajah pria yang berpakaian baju kerajaan tersebut.
"Ini ... jadi benar dia Ayah ..." pikir Fikram.
"Dia ... pada awalnya dia sangat baik, perhatian, dan sangat hangat. Tapi ... kau ingat 'kan, Ibu pernah bercerita kalau ayahmu ingin membunuhmu."
Fikram mengingat-ingat dan mengangguk pelan.
"Jadi, apa Ibu tahu kenapa Ayah menjadi berubah?" tanya Fikram kemudian.
Marine menghela napasnya. "Pada saat itu, tepat tiga hari setelah acara penamaanmu. Terjadi sesuatu pada kerajaan kita. Kejahatan merajalela dan keseimbangan telah terganggu. Dikabarkan waktu itu, ayahmu memiliki batu kristal yang mematikan." Jelas Marine dengan raut wajah serius.
"Lalu?" Fikram bertanya.
"Kristal itu ... kristal yang akan membuat ayahmu semakin kuat dan hidup abadi. Namun, dia memerlukan tubuhmu, untuk mencapai tujuannya."
"Kenapa? Untuk apa?"
Marine berubah sendu. "Untuk ia makan hidup-hidup bersama kristal itu."
Sontak, Fikram yang mendengarnya, terperanjat.
"Kristal itu tidak bisa ia masukan dalam tubuhnya begitu saja, ia perlu perantara tubuh darah dagingnya. Kristal itu akan melebur dan menyatu kedalam darah seseorang yang dimasuki kristal itu. Ayahmu tidak bisa melakukannya, tapi dia tahu kau bisa."
__ADS_1
"Kristal ... apakah itu yang ayah berikan padaku dalam mimpi, tapi kenapa dari pernyataan Ibu berbeda dengan semua yang ayah katakan di mimpiku ...." pikir Fikram bingung.
"Pada saat Ibu mengetahui kristal itu sudah ada dalam dirimu, Ibu berniat menyelamatka dirimu agar tidak dimangsa ayahmu sendiri, namun ..."
"Apa Ibu?"
"Ayahmu tahu Ibu ingin melarikan dirimu. Dia sempat menghentikan dan menyeret Ibu. Tetapi beruntunglah Ibu bisa menyelamatkanmu, Nak" Marine mengelus lembut pipi Fikram.
"Lalu Ayah, akhirnya tiada Ibu?"
Marine mengangguk. "Walaupun raganya telah tiada, tapi jiwa terkutuknya akan menghantuimu hingga akhirnya menguasai tubuhmu," ucap Marine berkaca-kaca.
"Mengusaiku?"
"Ya, dan akibatnya mungkin akan sangat fatal."
"Katakan, Ibu! Apa, apa akibatnya?"
Marine masih diam dan malah bangkit, membelakangi Fikram.
"Ibu, katakanlah" desak Fikram ikut bangkit.
"Akibatnya adalah ... mungkin kau bisa kehilangan kendali, menghancurkan seluruh negeri ini, dan ..." Marine menjeda dengan menunduk sendu.
"Ibu, katakanlah kumohon," desaknya lagi, membalik tubuh Ibunya untuk menghadap dirinya.
"Kau ... kau ... bisa ... bisa ... membunuh semua orang termasuk ... ibumu ini, Nak" Air mata tak bisa Marine bendung lagi.
Hati Fikram bagai tertusuk ratusan duri saat mendengarnya.
"Tidak! Pasti ada cara, Ibu. Ibu tahu 'kan caranya? Apa Ibu? Aku akan melakukan apapun, asalkan aku tidak akan membunuhmu!" desak Fikram.
"Kau harus turuti semua perkataan Ibu dan lakukan semua sesuai perintah Ibu," Marine mendongak.
Fikram agak ragu, tetapi demi wanita yang ia panggil 'Ibu' itu dia akan melakukannya. "Ya, Ibu. Aku akan lakukan sesuai perintah Ibu," jawabnya yakin.
"Apapun?" tanya Marine memastikan.
"Ya ap-"
"Tidak!"
Tiba-tiba kalimat Fikram terpotong oleh sosok perempuan yang mendadak muncul. Betapa terkejutnya ia melihat siapa sosok yang muncul itu.
ZRING!
"Tidak akan aku biarkan kau melakukan hal licik itu, Perempuan Licik!" Manda menarik Marine dan mengarahkan mata pisau dapur yang tajam ke leher Marine.
"F ... F ... Finn ...." rintih Marine gemetar.
"Manda! A ... apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!" panik Fikram melihat aksi Manda.
"Tidak! Dia harus mau mengatakan yang sebenarnya dulu! Aku tidak akan membiarkan dia memanfaatkanmu, Fikram" kata Manda tegas.
"Memanfaatkan?" bingung Fikram dengan apa yang Manda katakan.
"Ya memanfaatkan, dia memanfaatkanmu! Percayalah, Fi. Wanita Licik ini memperdayamu!"
"Tidak! Jaga bicaramu, Manda. Dia ibuku, dia tidak mungkin melalukan itu!"
"Itu kenyataannya Fikram! Aku sahabatmu, aku juga tidak akan tega membohongimu!"
Fikram yang mendengar itu mulai luluh. Iapun menatap ibunya dengan tatapan ragu. "Ibu, apakah ..."
"It ... it ... itu-"
"Itu tidak mungkin, Kak! Jangan percaya dia!" Siera muncul seraya mengacungkan pedangnya dengan sikap siaga.
"Sahabatmu ini pasti hanya ingin memisahkanmu dari keluarga baru karena dia takut berpisah denganmu, Kak!" ucapnya memengaruhi.
"Hah!" Fikram semakin bingung.
"Wah, wah! Ibu dan anak sama saja. sama-sama LICIK!" sindir Manda.
"Jaga bicaramu, Perempuan!" Siera tidak terima.
Fikram pun semakin bingung dengan keadaan ini. Kenapa Manda menjadi seperti ini, ia tidak pernah melihat Manda seperti ini sebelumnya.
"Hemm, di mana ini? Eh!"
Di tengah-tengah kejadian aneh ini, mendadak netra mereka semua menangkap segerombol orang muncul, entah dari mana asalnya. Sontak mereka semua membeku dan terkejut bukan main.
"Kalian!" Manda terperanjat melihat segerombol makhluk hidup di depannya.
"Manda! Fikram!"
__ADS_1
Bersambung ....