Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Melawan Fikram


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Ini akan seru," batinnya.




Dug!



Fikram menghentakkan kakinya ke lantai. Air menjalar menuju Ibu Albert dan kemudian naik dengan cepat membentuk tali yang akhirnya mencekik lehernya. Reflek, Ibu Albert menggeliat tanda pemberontakan.



Fikram melepas pegangannya pada Marine, bangkit, dan mendekati Ibu Albert. Fikram menggerakkan salah satu tangannya. Ia menggerakkan tali itu untuk lebih mencekik serta mengangkat Ibu Albert.



"Apa yang kau lakukan, Anak Muda!" Ibu Albert mencoba melonggarkan tali yang melingkar di lehernya.



"Hei, apa yang kau lakukan! Ibuku bisa mati!" cemas Gamma.



"Haha, kalian bahkan cemas pada dia yang jelas-jelas sudah melukai seorang ibu disana! Tapi tidak dengan ibuku yang tidak berdosa?"



"Ibumu tidak berdosa? Justru dia yang paling berdosa dalam hal ini!" tegas Gamma.



"Pembohong!" bantah Fikram.



Dug!



Satu panah kecil yang Dina lontarkan menancap pada dinding air yang tiba-tiba berada di samping Fikram. Dina bermaksud ingin mengenai tangan Fikram agar Ibu Albert bisa bebas.



"Usaha yang bagus," ucap Fikram melirik Dina dari ekor matanya.



"Hah!" Dina terperanjat serangannya gagal.



"Dasar!"



BRUAK!



Ibu Albert, Fikram lempar hingga membentur dinding dengan keras. Air yang semula mencekik Ibu Albert kini malah melilit tubuhnya. Ia pun menempatkan Ibu Albert untuk tetap menempel di sana.


Ia berjalan mendekati Dina.



Tap ... tap ....



"Hemmh, mencoba menyelamatkannya? Ide yang buruk!" Fikram mendekat, Dina terpojok.



Melihat hal itu, timbul rasa cemas di hati Gamma, ia ingin kesana menyelamatkan Dina, namun pikirannya tidak bisa diajak bekerja sama. Entah apa yang dipikirannya hingga ia mematung dan tidak bisa memerintahkan tubuhnya untuk bergerak kesana.



"Dina, ak ... ak ... aku harus ...." pikir Gamma gelisah.



Fikram semakin mendekat, di tangannya mulai mengeluarkan gumpalan air. Sepertinya ia bersiap menyerang Dina.



"Fikram, kau mau apa?" Dina bergidik ngeri.



"Hehehe," Fikram malah membalas dengan tawa yang mengerikan.



"DINA!"



ZRING! SREK! JLEB!



Satu belati kecil melesat melewati Fikram dan berhasil menggores leher jenjangnya. Belati itu menancap tepat di sebelah Dina. Nadia memang sengaja melempar belatinya untuk memberikan Dina senjata.


Fikram memegang lehernya yang tergores.



"Hanya goresan lemah," Ia menyeringai dan perlahan luka goresan itu sembuh dengan sendirinya. Menghilang, menyisakan kulit mulus tanpa goresan.



Ia berbalik dan menatap Nadia, "Lalu bagaimana kau menghadapiku, hah?" tanyanya menantang.



"Fikram... s ... s ... sadarlah...." Nadia memundurkan langkahnya beberapa langkah.



"Sadar?" mengeluarkan air membentuk tali panjang, menatap tajam Nadia.



"Kalian yang harusnya sadar!" Fikram mengayunkan tali airnya.



HIAAAA!



Namun, dari arah belakang Dina melompat bersiap menyerang Fikram dengan belati Nadia.



Fikram membaca pergerakan Dina. Tali yang ia ayunkan kini mengikat erat tubuh Dina. Dina terperanjat, ia pikir Fikram akan menyerang Nadia, hal itu ia gunakan sebagai kesempatan untuk menyerang Fikram secara diam-diam dan menghentikannya.

__ADS_1



SYUT!



"Fikram!" pekik Dina terangkat ke atas.



"Jangan coba-coba ikut campur!" Fikram melemparkan Dina ke dinding tepat di samping Ibu Albert serta menempelkannya di sana pula.



BRUAK!



Belati yang dipegang Dina terlempar tidak jauh di sebelah kaki kiri Fikram saat ini.



"Aku tidak akan membuang waktu lagi!" Fikram mengayunkan talinya kembali seperti \*\*\*\*.



Ia kembali bersiap menyerang Nadia. Nadia tampak berpikir, netranya lalu menangkap belati miliknya. Ia pun mendapat ide yang akan sia-sia jika Fikram bisa membaca rencananya.



HIA!



Tali air itu melesat ke arah Nadia.



SYUT!



Dengan meyakinkan dirinya ia mengambil ancang-ancang, mendekati tali itu.



SRETTT!



Nadia turun menyusuri tanah, melewati tali air tersebut dengan cepat hingga mendekati belati dan mengambilnya. Ia kemudian bangkit dan langsung menodongkan mata belati itu di depan leher Fikram. Mengunci pergerakannya dari arah belakang.



"Sadarlah Fikram! Kami sahabatmu tidak mungkin kami membohongimu!" kata Nadia.



"Kau pikir ini akan menghentikanku?" tanyanya melirik Nadia dari ekor matanya. "Tentu saja TIDAK!"



BUGH!



Fikram memukul perut Nadia dengan sikunya. Alhasil, Nadia meringis kesakitan. Cengkramannya pada Fikram pun melonggar, hal ini menjadi kesempatan untuk Fikram. Ia memutar tubuh menghadap Nadia.



BUGH!




"Nadi!" cemas Gamma.



"Hemmh, setidaknya penipu ini diberi pelajaran," batin Rio yang masih berpikiran sama.



"Kita harus membantunya!" kata Gamma.



"Membantunya? Jangan harap," ketus Rio.



"Apa yang kau katakan! Kau sehat?"



"Dengar, sudah kubilang kan dia itu penipu, PE.NI.PU! aku tidak mau membantunya, palingan dia hanya berakting," ucap Rio penuh penekanan.



Rio memang sosok yang perhatian dan peduli namun, tidak dengan penipu atau seseorang yang berani menipunya apalagi sampai-sampai menipu dirinya menjadi Nadia itu kesalahan besar.



"Kau ini ... dia Nadi, tidak ada yang namanya penipu di sini!" debat Gamma.



"Kau yang tidak tahu, Burung Beo! Biar ku katakan padamu, kemarin aku melihat wujud aslinya dengan mata kepalaku sendiri! Dia itu seor-"



Perkataan Rio dipotong oleh suara gaduh yang menggelegar.



"Kau ingin gunakan pisau? Mari kita gunakan pisau!" Fikram mengayunkan talinya ke atas, tali itu berubah bentuk menjadi pedang mengkilat yang panjang nan runjing.



Nadia tercengang, ia melihat ke arah belatinya yang kecil. "Curang," batinnya menatap datar Fikram.



"Takut?" cibir Fikram menaikkan salah satu alisnya.



Nadia menggeleng kuat, "Kalau ini bisa membuatmu sadar, baiklah!" kata Nadia.



"Baiklah, lebih baik aku mulai dulu, biasanya pemain kedua yang menang karena bisa membaca serangan lawan. Siapa tahu itu akan membantu mengurangi kemungkinan kekalahanmu, Makhluk Lemah!" Fikram meremehkan.



Hal itu membuat Nadia geram.



"Aku terlalu membuang waktu!"

__ADS_1



SETT!



Fikram langsung melesat seraya menyodorkan pedang runcingnya ke arah Nadia. Ia menyabetkan pedangnya.



TINK!



Satu sabetan Fikram bisa Nadia tangkis dan tahan dengan belati kecilnya.



SET! SET!



Dia mencoba menancapkan pedangnya pada pinggang Nadia, beruntunglah ia bisa menghindar. Fikram kembali menyerang kepala Nadia. Reflek, Nadia menunduk menghindari sabetan yang mungkin bisa membelah kepalanya itu.



"Sejak kapan dia mahir bermain pedang? Darimana ia belajar? Setahuku, memotong apel saja ia tidak bisa, ini malah ingin membelah kepala orang, dengan pedang lagi! Perubahan yang drastis!" batin Manda memerhatikan dari kejauhan bersama Rio dan Gamma yang mengangkatnya.



"Apa kau hanya akan menghindar dan tidak akan menyerang? Lemah," remeh Fikram mengelap peluh di wajahnya.



"Aku pasti menyerangmu di saat yang tepat," jawab Nadia.



"Kalau begitu kau tidak akan dapat kesempatan!"



HIAA!



Fikram kembali melesat menuju Nadia. Kali ini Nadia ingin menyerang, dan melawan Fikram.



TINK! TINK! SET!



Nadia mendarat dengan berlutut. Ia bangkit, mengatur napasnya yang tersengal-sengal.



"Hemmh, lumayan" Fikram tersenyum miring.



TES!



Satu tetes darah segar mengalir dari luka di punggung tangan kanan Fikram.



"Senjata lemah seperti itu tidak akan mampu membuatku merasakan sakit sedikitpun!" menatap tajam Nadia.



Sebenarnya luka yang Nadia hasilkan cukup dalam. Namun, luka itu kembali menghilang, sembuh dalam sekejap.



Nadia terperanjat, "Ini kedua kalinya, dia bisa menyembuhkan luka di tubuhnya dengan cepat, kesurupan setan apa Fikram ini?" Nadia terheran-heran dalam hati.



Nadia menjadi sedikit lengah, ini adalah kesempatan emas bagi Fikram. Ia langsung melesat dan menyerang Nadia dengan pedangnya. Nadia tentu terperanjat, beruntunglah ia berhasil menahan dengan belatinya walau ia terlihat kewalahan.



"Kau akan mati!" seru Fikram.



"Fikram sadarlah! Ini bukan dirimu!" Nadia mencoba menyadarkan Fikram yang tentu akan sia-sia saja.



"Banyak omong!" Fikram semakin menekan pedangnya.



Hal itu membuat Nadia semakin tidak kuat menahan pedang Fikram dan bisa-bisa ia akan habis oleh Fikram. Ia semakin tertekan ke arah bawah hingga ia sudah dalam posisi berlutut saat ini, hal itu membuatnya semakin kesulitan.



"Menyerahlah, mungkin kematianmu akan sedikit aku ringankan," Fikram tersenyum miring.



Ia semakin menekan pedangnya. Keringat mengalir deras bak air terjun di wajah Nadia. Ia bingung bagaimana caranya membalikkan keadaan atau setidaknya ia bisa lolos.



"Kau akan mati!" Fikram menekan dengan sekuat tenaga.



"Eugh!" Nadia masih mencoba menahannya walau ia sudah tidak kuat lagi.



Nadia memutar otak. Mendadak ada sebuah ide terlintas di pikirannya. "Itu dia!" batinnya.



"Masih bertahan ya? Kuat juga," ucap Fikram. "HEEH!" Fikram sudah tidak sabar melihat gadis di depannya itu meregang nyawa.



Fikram tidak mau mengalah, Ia terus menekan pedangnya. Nadia masih menahan seraya salah satu tangannya meraba bagian kakinya di atas tumit seperti menjangkau sesuatu.



"Hiaaa!" Ini adalah penekanan terakhir dari Fikram.



"Dapat!"



SREK!


__ADS_1


**Bersambung** ....


__ADS_2