
EPISODE SEBELUMNYA
"AKU MENYUKAI REMBULAN!" Nadia memejamkan mata,
Puncak!
Nadia mencapai puncak suaranya. Rio tertegun, langkahnya terhenti seketika. Ia berbalik dan menatap Nadia dengan tatapan berkaca-kaca.
"Kumohon berhenti dan datanglah kemari," harap Nadia menunduk. "Apa dia akan ke sini?" batinnya.
"Bagaimana aku bisa percaya jika kau tidak masuk ke dalam pikiran Nadia lalu membodohiku, hah!?"
Rio, suara Rio terdengar jelas di telinga Nadia. Ia pun mendongak.
"Kau …."
"Jelaskan."
----------------
"Aku tidak ingat setelah itu, tiba-tiba saja aku ada di tengah pertarungan. Aku… aku juga bingung," ujar Nadia.
"Jadi makhluk yang kau lihat itu berwujud semacam drakula begitu?" tanya Rio.
"Aku tidak tahu pasti, dia berdiri di depanku dengan wajahnya tertutupi jubah lalu saat ia membuka dan menampakkan wajahnya ... aku tidak ingat lagi setelah itu."
Rio nampak berpikir sejenak. Tak terasa semburat sinar oranye mulai memekat. Rio pun bangkit dari duduknya.
"Hari sudah menjelang malam, sebaiknya kita kembali," melangkah pergi.
"Tunggu," ikut bangkit.
Rio berhenti.
"Apa kau sudah percaya aku Nadia, sekarang?"
Rio melirik, tanpa membalik badannya. Ia menghela napas namun tetap diam, lalu kembali melangkah pergi.
"Hmm," Nadia hanya bisa pasrah dan kembali menuju gubuk.
----------------
Tap ... Tap ....
"Haha, kau tidak perlu mengantarku seperti ini. Kita kan tidak saling kenal," gurau seorang gadis berstyle rambut kuncir kuda, bercelana drawstring hitam, memakai kaos putih yang ia lapisi dengan jaket biru navy-nya, ditambah sepatu sneakers berwarna putih polos.
"Ah, tidak apa, tidak baik perempuan pulang sendiri malam-malam begini." Jawab pemuda yang berjalan bersama gadis tersebut.
Memakai hodie merah, bercelana training hitam dengan garis tepi putih, dan sepatu sneakers merah diselingi warna putih. Terlihat juga ia membawa kantong kresek hitam. Jangan tanya apa isi kresek itu pada author, karena author ngga mau jawab (wkwkwk, canda all✌️).
"Ya ampun, ini baru jam sembilan kali. Aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri," kata gadis itu menilik jam tangannya.
"Tetep aja bahaya dong," balas pemuda itu. "oh, ya sedang apa kau di luar malam-malam begini?"
Ia mengelus tengkuknya. "Seperti yang kau lihat, aku berada di toko buku untuk membeli buku tentunya."
"Malam-malam begini? Kenapa kau membeli buku di jam selarut begini, apakah tidak bisa tadi sore atau besok sekalian. Dan satu lagi, kenapa orang tuamu memperbolehkan anak gadisnya keluar malam-malam begini?" cerocosnya.
"Wo-wo-wo, tenanglah. Buku ini sangat, sangat, sangatlah penting," penuh penekanan. "aku tidak bisa membelinya besok karena buku cetak plus tanda tangan penulis ini hanya terbit hari ini dan lagi aku tidak bisa membelinya tadi sore karena aku lupa. Aku baru ingat saat aku ingin tidur tadi, makanya aku buru-buru ke toko buku deh. Dan kau tahu, orang tuaku sama sekali tidak tahu aku keluar malam-malam begini," sedikit berbisik di kalimat terakhir.
"Hah! Ckckck, kau ini. Bagaimana kalau mereka sekarang tahu dan panik mencarimu?"
"Tenang aku sudah melakukan ini bertahun-tahun. Sudah pasti aman," gadis itu mengedipkan satu matanya ke arah si pemuda.
__ADS_1
Pria pun membatin, "Ya ampun, gadis ini..." tersenyum heran.
\~Hening sesaat\~
"Emm, kalau boleh aku tahu buku apa sampai kau bela-bela keluar malam begini?" tanya pemuda itu memecah keheningan.
"Kau benar mau tahu?" tanya gadis itu yang hanya dijawab anggukan oleh si pemuda. "Baiklah, kemari" ia mendekatkan dirinya ke arah telinga pemuda.
Awalnya pemuda itu kaget, tapi ia perlahan merendah mengerti maksud si gadis. Gadis itupun membisikkan sesuatu di telinga si pemuda.
"Oooh, buku itu. Lalu kau mendapatkannya?" ia menarik badan kembali ke posisinya semula.
"Huhu, tidak. Bukunya sudah habis lima menit sebelum aku datang. Heeh, aku kesel banget, itu sangat berharga, huhuhu," gadis itu menunduk lesu. "ditambah lagi, aku dengar isi buku itu sangat seru. Benar-benar buku limited edition, huwaaa! Aku ingin membacanya."
Si pemuda hanya tersenyum kikuk. Netranya kemudian melirik ke arah barang yang ia tempatkan di kantong kresek.
"Emm, kasihan juga sih, apa aku kasih pinjam saja?" mengangkat kresek dan menilik isinya, benar isinya adalah sebuah buku yang di bicarakan si gadis.
"Benar-benar menyebalkan! Kalau aku tahu siapa orang terakhir yang menyebabkan semua ini, aku akan **********, menendang, dan menjadikannya dendeng manusia!" kata sang gadis berapi-api.
Mendengar hal itu si pemuda mematung, ya dia adalah orang terakhir yang membeli buku itu.
"Oh, ya. Lalu kau, kenapa keluar malam-malam begini?" tanya gadis itu.
Si pemuda tidak menjawab, ia tetap mematung.
"Heh," gadis itu memanggilnya lagi.
"Eh, iya," ia tersadar.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" mengulang pertanyaanya. "Eh, itu apa?" menunjuk ke arah kantong kresek.
Pria itu menjadi gugup, "Ah ini, b-bukan… bukan apa-apa kok, iya." Cepat-cepat ia menyembunyikannya.
Gadis itu menaikkan satu alisnya, tanda ia kebingungan.
Pemuda itu menghela napas lega. "Selamat aku."
Ckit ....
"Hemm?"
Merasa gadis yang ia antar pulang berhenti ia menoleh ke arah belakang. Benar saja, gadis itu terpaku sambil mendongak ke arah sungai.
"Hey, kau kenapa?"
Bukannya menjawab, gadis itu malah berjalan menuju sungai. Terus berjalan menatap lurus ke depan lalu berhenti di pagar pembatas.
"Hey kau mau apa? Jangan bunuh diri!" Menyusul gadis itu.
"Bunuh diri, bapak kau! Aku masih punya iman."
"Terus kau mau apa?"
Dia menunjuk ke arah sungai, pria itu melihat ke arah yang di tunjukkan.
"Rembulan. Aku menyukainya." gadis itu tersenyum lalu mengadah. Melihat ke arah rembulan yang sesungguhnya.
"Kau menyukai rembulan?" dengan nada yang sedikit meremehkan jika di dengar. "Kalau aku menyukai matahari."
"Ya-ya. Eh tunggu, kau meremehkan rembulanku, ya! Kau tidak suka, hah! Apa masalahmu!" tiba-tiba ia tidak terima dengan nada bicara si pria.
Pria itupun terkesiap, "Eh, bukan seperti itu. aku tidak ...."
__ADS_1
gadis itu mengerucutkan bibirnya. "Kau berani-beraninya meremehkan rembulanku. Memang apa yang bisa di banggakan dari matahari, saat melihatnya saja matamu bisa buta!" ketusnya melipat tangan di depan dada.
Mendengar itu si pria tidak terima. "Heh, apa-apaan kau! Kalau tidak ada matahari kau bisa mati! Matahari itu penting, memberi kita kehangatan lah bulan … apa yang bisa di banggakan darinya?! Tidak berguna!" ia tak kalah kesal, melipat tangannya di depan dada.
Mendengar itu gadis itu semakin meluap. "Tidak berguna kau bilang! Heh, rembulan memberi kita ketenangan. Dia indah, enak dipandang, sementara mataharimu… mataharimu panas dan membakar, tahu!"
"Hey! Asal kau tahu, sinar bulanmu itu juga dari matahariku!" menunjuk ke depan wajah gadis itu.
"Hey!" gadis itu tak mau kalah, ia menunjuk balik pemuda itu. "Setidaknya sinar yang mematikan itu diolah oleh bulanku menjadi indah, kau mengerti!"
"Dengar ini, dia hanya memantulkan. Memantulkan!" penuh penekanan. "Kalau tidak ada Matahariku bulan mu tidak akan punya sinar!"
"Kau!"
"Apa!"
Mereka saling berselisih.
Tiba-tiba ....
"Ekhem, kalau ada masalah rumah tangga, harap selesaikan di rumah. Tidak usah pamer begitu," sela seorang pejalan kaki.
Mereka menoleh ke arah si penganggu. "Diam kau!" kompak mereka.
Pejalan kaki itu pun terkejut, lalu menaruh kedua tangannya ke belakang kepala seraya berjalan pergi. "Dasar suami istri ribut tapi ujung-ujungnya kompak."
"Tunggu. Suami?" gadis itu melirik ke arah sang pemuda.
"Istri?" pemuda itu melirik balik.
Kedua mata mereka bertemu, perlahan pipi mereka bersemu dengan sendirinya. Dengan cepat, mereka membuang muka ke arah lain untuk menyembunyikan wajah merah mereka itu.
"Uhuk, Uhuk! Emm, sepertinya aku harus pulang sekarang." Gadis itu dengan cepat segera pergi melangkah.
"Hey, tunggu aku akan mengantarkanmu sampai rumah!" teriak sang pemuda.
"T-tidak, tidak usah rumahku sudah dekat kok dari sini!" balas gadis itu dengan langkah cepat ia segera pergi.
Sepertinya pertengkaran orang asing yang memperdebatkan masalah bulan dan matahari itu sudah mereka lupakan dalam sekejap.
"Duh apa yang terjadi tadi memalukan," batin sang pemuda bersandar di pagar pembatas sungai. "Eh aku ngapain di sini, aku harus pulang, haah." dia jadi salah tingkah sendiri.
Sementara si gadis? Hemm, mari kita dengar isi hatinya.
"Bodoh, bodoh! Bertengkar dengan orang asing. Memalukan! Semoga dia melupakan aku dan tidak pernah bertemu lagi. Eh tapi aku belum mengucapkan terimakasih. Haah sudahlah!" ia kembali fokus berjalan.
----------------
"Hemmh, bulan." Rio tersenyum di atas ranjangnya seraya menatap langit-langit.
Sementara itu secara bersamaan dan sangat kebetulan.
"Haha, matahari ya." senyum Nadia ikut merekah ketika mengingat kejadian itu.
"My Moon/ My Sun," ucap mereka dari berbeda tempat.
"Woy tidur, malah senyum-senyum sendiri. Hayo ngaku mikirin apa?" tegur Gamma dan Ibu Albert.
Masing-masing dari mereka pun terkesiap, dan gelagapan cepat-cepat membalik. Gamma dan Ibu Albert bangkit dan mengubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk.
"Tidurlah ini sudah malam. Jangan senyum-senyum sendiri kesambet baru tahu lu/ kau," mereka kembali tidur.
Sementara Nadia dan Rio? Apakah mereka sudah tidur?
__ADS_1
"Hemmh, ada-ada saja." Mereka tersenyum kemudian terlelap mengunjungi alam mimpi.
Bersambung .…