Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Latihan


__ADS_3


EPISODE SEBELUMNYA


"Aih, udah dah kumat lagi mereka," kata para sahabatnya menatap datar Fikram dan Manda.


 ----------------


SYUTTT! CTAKK!


Anak panah kecil dan satu biji karet telah bertabrakan sebelum berhasil mengenai sasaran.


"Heeegh! Kenapa sih aku harus dipasangkan denganmu! Heran aku," pekik Dina pada Gamma.


"Kau tahu, bukan kau saja yang bertanya-tanya. Akupun tidak mengerti, kenapa aku harus berlatih bersama makhluk seperti MU!" balas balik Gamma.


Mereka saling menatap sengit.


"Lagian ngapain juga kita harus berlatih dulu," gerutu Dina melipat tangannya di depan dada.


"Setuju, bukannya tinggal ke kerajaan saja, kok repot-repot latihan ngga jelas begini," timpal Gamma.


FLASHBACK


"Ok, Ini adalah peta wilayah-wilayah di negeri ini," Putri Maple mengeluarkan sebuah kertas. Tergambar sebuah pulau berbentuk lingkaran. "Ini wilayah Kerajaan, ini wilayah Pertanian, ini Perternakan. Ini wilayah Hutan Hitam atau sekarang dikenal dengan Beautiful Dark, ini Invisible World, ini wilayah Perairan dan ini wilayah Suku Tanaman, kita berada di sini sekarang." Jelasnya sambil menunjuk satu persatu wilayah di peta.


"Tunggu, bagaimana kau tahu sekarang ini menjadi Beatiful Dark? Apa kau juga ada di sana waktu itu?" tanya Rio.


"Ooh, tidak," Putri Maple tersenyum. "Peta ini akan menuliskan nama wilayahnya sendiri, nama itu pun otomatis akan berganti jika pemimpin sahnya sudah menganti nama tersebut," katanya.


"Tapi aku bukan pemimpin wilayah it-" perkataan Rio terpotong.


"Ooh, jadi ini ada namanya!" Rio membalas dengan tatapan datar kepada sahabatnya ini. "Tapi kok... aku tidak melihat tulisan apapun," sambung Fikram.


"Hanya mata-mata tertentu yang bisa melihatnya," kata Ibu Albert.


"Whut?" Mereka menatap datar Ibu Albert.


"Tunggu, ini wilayah apa? Apa hutan hitam juga, kenapa lambangnya ada ...?" tanya Manda menunjuk ke salah satu bagian peta berlambang bulan sabit berwarna ungu namun terdapat bentuk seperti palang kayu bersilangan yang menutupinya.


"Emm, itu tadinya memang wilayah Hutam Hitam juga, tapi sekarang... itu sudah jadi ...," Putri Maple kebingungan bagaimana mengatakannya.


"Sudah jadi wilayah terlarang dalam negeri ini," sahut Trigo.


"Kenapa?" Manda bertanya kembali.


"Nanti saja ceritanya. Sekaranag kita harus cepat-cepat menemukan kristal terakhir," kata Ibu Albert.


"Ya dimana? Apa kau tahu?" tanya Dina.


"Kita sudah ke wilayah Hutan Hitam, Invisible World, wilayah Perairan dan wilayah Suku Hutan, yang tersisa hanya tinggal tiga wilayah ini. Jadi yang mana?" ucap Nadia.


"Aku berharap di hutan terlarang itu, hehehe," ujar Dina tersenyum miring.


Gamma menggampar lengan Dina keras. "Huss, jangan sembarangan!"


"Auww," Dina melirik tajam ke arah Gamma sambil mengelus lengannya.


"Pusat alam semesta bagi rakyatnya, Apakah kerajaan? Secara pusat alam semesta bisa kita gambarkan sebagai pusat pemerintahan negeri ini, yaitu kerajaan," simpul Nadia.

__ADS_1


"Benar juga," kata Fikram.


Putri Maple mengangguk. "Ya benar, jadi lokasi kristal terakhir itu ada di wilayah Kerajaan," katanya.


"Bagus, ayo kita kesana!" semangat Manda.


"Ayo!"


"Nanti dulu," jawaban halus Ibu Albert membuatnya di tatap. "Kalian akan berlatih sebelum ke sana. Kerajaan itu tempat berbahaya jadi persiapkan diri kalian," katanya.


"Yah~" kecewa mereka.


FLASHBACK END


"Ya itu bagian yang paling menyebalkan. Dia sangat pintar menghancurkan harapan orang," kata Dina kemudian melemparkan senjatanya.


SYUTTT!


"Ya," timpal Gamma yang juga melemparkan biji karet lewat ketapelnya.


SYUTTTT!


Mereka melemparkan senjatanya berbarengan dengan harapan salah satu dari mereka mengenai sasaran.


CTAKK!


Apa yang terjadi? Yah kalian tahu bunyi itu. Lemparan mereka lagi-lagi saling bertabrakan.


"Haaah, KAU!"


 ----------------


"Hey Manda, ayo berlatih lagi. Kita dari tadi belum mengenai sasaran payah itu."


"Manda kau mendengarku atau tid-"


"Fikam," panggil Manda.


Fikram terkesiap, "Emm, ya," jawabnya.


"Aku ingin bertanya padamu."


"Ok, silakan. Hey kenapa kau sangat serius sih," Fikram merasa Manda tidak pernah seserius ini sebelumnya, Manda bergeming. "Man-" ia mencoba memanggil Manda untuk mendapat jawaban namun gadis itu malah menyela.


"Fikram," Fikram menelan ludah, ia bersiap apa saja yang akan di tanyakan Manda. "Fikram... apa... APA RASA ITU MASIH ADA UNTUKKU!?" Manda mendekat ke arah Fikram secara spontan.


Fikram pun kaget bukan main, ia mencoba mencerna apa yang Manda tanyakan. "A-a-apa?"


Manda mundur, ia menggigit bibir bagian bawahnya, matanya berkaca-kaca. "Huwaaaa Fikram JAHAAAATTT!" suara tangisnya bergemuruh di seluruh hutan, mengejutkan kawanan burung yang sedang hinggap tenang di pohon.


Fikram yang melihat hal itu menjadi panik, "Aduh Manda...  apa salahku? Jangan menangis dong," kata Fikram mencoba menenangkan.


"Hiks-hiks, Fikram jahat! Fikram jahat!"


"Iya-iya apa salahku? Cup-cup udah ya jangan nangis," Fikram kembali mencoba menenangkan.


"Pokoknya kau jahat! Jahat! Aku tahu aku salah! Aku tahu, tapi bisakah kau menjaga rasa itu untuk! Aku-aku huwaaaaaaaa!"


"Rasa? Rasa apa?" Fikram bingung. " Tunggu, apa dia menangis karena permen waktu itu aku rebut, aah, itu kan sudah lama. Lagipula dia juga tidak tahu," batin Fikram.

__ADS_1


"Hiks-Hiks! Pokoknya kau jahattt! Huwaaaa!"


"Kau itu kenapa sih? Aku sama sekali tidak mengerti, Manda."


"HUWAAAA TUH KAN KAU MEMANG TIDAK PEKA! KENAPA BISA ADA MAKHLUK SEPERTI MU SIH!"


Makian itu bak menusuk pendengaran Fikram, "Aku tidak peka, makhluk sepertiku, kejamnya T_T"


"APA KAU TIDAK MENGERTI JUGA! CINTA! AKU MEMBICARAKAN PENGAKUAN CINTA DARIMU WAKTU ITU!"


Mata Fikram melebar seketika itu juga.


"NIATNYA AKU AKAN MENERIMA MU SEKARANG! TAPI KAU- huwaaaa!"


"Ahahaha!" tawa Fikram pecah. Manda pun berhenti menangis dan menatap Fikram kebingungan. "Kau ini sok tahu ya," katanya.


Manda menggebungkan pipinya, kesal.


"Siapa bilang rasa itu telah hilang," kata Fikram sontak membuat Manda melebarkan mata, menganga tidak percaya dengan apa yang Fikram katakan. "Entah kenapa perasaan ini tidak bisa hilang, Manda. Pernah ku berpikir untuk membuang jauh-jauh perasaan ini. Tapi nyatanya, aku tak bisa," Fikram menatap Manda.


Mata Manda berkaca-kaca. 


"Jadi, apa jawabanmu? Maukah kau mendapingi ku, wahai calon kekasih?"


 ----------------


SRINGG! SRINGG!


Belati Nadia hampir saja menggores tempat urat nadi Rio berada. Ia pun segera menarik belatinya, lagi-lagi pertarungan latihan ini dimenangkan olehnya.


"Haah, selalu saja begini. Ayolah Rio, setidaknya kau harus menang satu kali," kata Nadia memasukan belati itu ke sakunya.


"Ah, itu aku hanya memberi kesempatan padamu," jawab Rio.


"Memberi kesempatan apanya."


"Sudahlah, kita istirahat dulu, ya?"


"Hmmm ya, aku akan ambil air," Nadia hendak pergi namun dicegah oleh Rio.


"Eh, biar aku saja," Nadia pun mengalah dan membiarkan Rio pergi mengambil air untuk mereka.


KRESEK! KRESEK!


"Seperti ada orang mengobrol," Nadia mendengar ada suara dibalik semak-semak. "Apa ada penduduk lain di sini," Ia bangkit dan mendekati semak-semak itu.


Suara itu semakin jelas dan semakin jelas. Ia membuat celah di semak-semak itu, mengintip karena penasaran. Terlihat ada tiga orang dan satu orang di arah sebaliknya.


"Kenapa aku merasa pernah mengalaminya ya." Ya Nadia, kejadian ini pernah terjadi sebelumnya.


"Hei, panglima kalian itu jadi ke sini?" kata salah satu dari mereka yang langsung diangguki tiga orang itu. "Haaah, merepotkan saja," sosok dengan rambut digelung itu berkacak pinggang.


Nadia terperanjat, "Ibu Albert!" gumamnya.


"Kau ini tidak ada senang-senangnya dikunjungi atasan ya," kata seseorang muncul dari balik bayangan.


Nadia melebarkan matanya, wajah itu sangat ia kenali, tergambar jelas di pikirannya. "KAU! Apa yang kau lakukan di sini?!" tanpa sadar ia langsung keluar dari persembunyiannya.


Sontak ia menjadi pusat perhatian, ia pun menelan salivanya dengan susah payah.

__ADS_1


GLUP!


Bersambung ....


__ADS_2